Jumat, 20 Oktober 2017

Cara Cerdik Alibaba dan Anaknya, Taobao, Berbagi Pasar Belanja Online


Alibaba berhasil mengubah cara bagaimana bisnis global harus dilakukan. Perusahaan B2B yang berkembang pesat ini mendapat manfaat dari ledakan teknologi informasi dan kemampuannya  mengembangkan model bisnis yang unik. Saat ini, penduduk China merupakan pengguna internet terbesar di dunia dan Alibaba adalah perusahaan e-commerce terbesar di China (23 persen dimiliki oleh Yahoo dan 36 persen dimiliki oleh SoftBank Jepang).

Pada tahun 2014, ketika Alibaba menuntaskan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) di New York Stock Exchange, nilai transkasinya jauh lebih besar daripada gabungan Amazon dan eBay dan memiliki kapitalisasi pasar yang lebih besar dibandingkan Walmart. Pada 2002, transaksi barang di situs Alibaba mencapai lebih dari 2 persen dari PDB China.

Bandingkan dengan penjualan Walmart yang mencapai 0,03 persen dari PDB AS pada 2012. Kehadiran Alibaba telah mengubah China menjadi pasar e-commerce terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Konsumen China membeli produk di Tmall, sebuah situs belanja konsumen di Alibaba yang serupa dengan department store dan mirip dengan Amazon.

Karena ukurannya yang luas dan pasar konsumen yang sedang berkembang, China hanya memiliki beberapa mal besar atau rantai toko brick and mortir. Dengan demikian, kehadiran Alibaba merangsang konsumsi yang belum berkembang tersebut. Dalam perkembangannya, kehadiran Alibaba mengubah kebiasaan konsumen melakukan pembelian, terutama di kota-kota kelas tiga dan empat (misalnya, kota-kota yang lebih kecil dan secara geografis lebih jauh) karena memberi konsumen akses ke barang-barang yang sebelumnya tidak mereka dapatkan secara lokal.

Taobao adalah situs lain yang dimiliki oleh Alibaba dan sebanding dengan eBay di Amerika Serikat. Di Taobao, Alibaba tidak menjual atau menjual barangnya sendiri, melainkan menyediakan platform di mana produsen, reseller, dan pria menengah lainnya membuka etalase online. Produk-produk konsumen bermerek yang lebih besar lebih memilih Tmall karena kebijakan Alibaba yang lebih mempromosikan situs ini dan merek-merek palsu jarang ditemukan di situs ini. Misalnya, bila ada penjual merek populer seperti tas Prada, mereka harus memberikan bukti bahwa mereka adalah distributor berlisensi sebelum mereka diizinkan untuk menjual produknya di Tmall. Taobao lebih fokus pada penjual kecil dan memiliki 6 juta penjual terdaftar dengan ukuran yang luas. 

Dalam perspektif gobal, Alibaba merupakan saluran alternatif termudah bagi pengecer asing untuk memasuki pasar China karena memiliki jangkauannya yang luas. Penjualan online di China menyumbang 90 persen dari penjualan pasar di China, dibandingkan dengan 24 persen untuk Amerika Serikat pada tahun 2014. Dengan demikian, Alibaba menyediakan cara termudah untuk memasuki pasar Cina bagi pengecer asing karena banyaknya akses ke konsumen yang tersedia melalui situs Alibaba.

Situs Alibaba juga memberi kesempatan kepada produsen yang lebih kecil China untuk meningkatkan penjualan dalam negeri karena jangkauan Alibaba. Weighing Apparatus Group (WAG) misalnya, awalnya merupakan pemasok timbangan rumah tangga dan industri untuk Bed Bath & Beyond. WAG lalu membuat situs web di Taobao pada tahun 2009. Pada tahun 2014, seperlima dari penjualan domestiknya mengalir melalui etalase Taobao secara online, sehingga memungkinkannya untuk bergerak ke pasar yang lebih besar dan menjadi pemasok produk bermerek perusahaan lainnya.

Alibaba melalui sistem Alipay-nya berpatungan dengan Apple untuk menyediakan layanan back-end untuk sistem pembayaran Apple Pay yang memungkinkan pengguna iPhone di China membayar barang dengan Apple Pay melalui akun Alipay mereka. Pendekatan ini mendorong strategi mobile online yang lebih baik untuk Alibaba. Ini juga memudahkan layanan pengguna iPhone Apple yang lebih baik yang ingin menjelajah dan membeli di situs Alibaba.

Barang palsu memang menjadi isu strategis penting di China karena tuntutan produk sebelumnya dari barang terlarang atau barang yang dijual ke konsumen AS. Untuk mengatasi masalah tersebut, Alibaba berkolaborasi dengan Komisi Keamanan Produk Konsumen Amerika Serikat meningkatkan kredibilitasnya di antara konsumen A.S. dengan membantu melarang penjualan barang bermerek palsu. Ini juga memfasilitasi strategi akses global Alibaba.

Alibaba juga beralih ke konten media online dan layanan video streaming. Pada tahun 2014, perusahaan ini mengumumkan akuisisi China Vision Media, produsen atau produsen film termasuk "Crouching Tiger, Hidden Dragon" dan "Breaking the Silence". Sama seperti Amazon dan Netflix yang memproduksi konten media mereka sendiri, Alibaba masuk ke bisnis ini dan bersaing dengan penyedia layanan lain seperti Tencent dan Baidu dalam komunikasi dan penyiaran web di China. Jadi bagaimaimana strategi Alibaba sehingga berhasil menjadi besar seperti sekarang ini? Strategi yang menggarap  pasar domestik maupun internasional merupakan kunci keberhasilan Alibaba.


Rabu, 18 Oktober 2017

Public Relations Adverserial


Kaget tak kaget ketika saya membaca berita dengan judul “DigeledahPolri Terkait Korupsi, Begini Tanggapan Manajemen Bank BJB’ yang dimuat Tribunnews.com, Rabu, 18 Oktober 2017, pukul 10:13 WIB. Kaget karena di atas judul berita tersebut ada tulisan Advertorial, yang merupakan gabungan antara advertising dan editorial.

Karena advertising sudah tentu untuk pemuatan berita tersebut, perusahaan harus membayarbesaran uang tertentu kepada media sehingga ketika saya share ke beberapa grup, mereka juga kaget bahkan ada yang menilai aneh. “Imho, itu hak jawab, hak klarifikasi utk berita awalan, memang jadi terasa aneh klo harus bayar,” kata seorang teman.


Advertorial merupakan salah satu bentuk periklanan yang ada di media massa dengan menggunakan gaya bahasa jurnalistik. Dalam praktik konvensional, advertorial dimanfaatkan untuk memperkenalkan serta mempromosikan kegiatan, produk, atau jasa dari suatu perusahaan kepada khalayaknya. Dalam konteks tersebut, advertorial biasanya untuk pendamping, penerjemah, sekaligus penafsir iklan display yang terdapat di media massa.  

Saya tidak kaget karena dua hari lalu saya membaca membaca salah satu topik bahasan dalam buku Teori Komunikasi Massa yang ditulis oleh John Vivian tentang public relations adversarial. Di bagian itu ditulis cerita tentang sepak terjang Vice President Public Relations Mobil Oil yang melakukan taktik agresif ketika pada 1970an Mobil Oil memutuskan untuk tidak menerima begitu saja keritikan media.  Tahun 1960an hingga pertengahan 1980an dianggap sebagai zaman keemasan public relations ketika profesi PR seakan mendapat mandat, keterampilan dan amunisi menghadapi kritik yang ditujukan kepada organisasi atau perusahaan dan orang-orang yang mereka wakili.

Herb Schmertz yang menjadi pemandu ujung tombak public relations Mobil Oil Corps yang saat itu di bawah kepemimpinan Rawleigh Warner, Jr, sebagai Chairman dan CEO, “melawan” kritik media yang sering ditujukan kepada perusahaannya. Bisa jadi ini karena latar belakang Schmertz yang mendapatkan gelar sarjana hukum dari Columbia. Tahun 1968 dia sempat cuti dan bekerja sebagai Tim Sukses  Presiden Robert F. Kennedy. Sebelas tahun kemudian, dia juga cuti lagi dan bergabung dalam Tim kampanye Calon Presiden Edward M. Kennedy sebagai konsultan media.

Selama masa jabatan Warner, Mobil beroperasi pada tingkat nol saat krisis energi tahun 1970an, dan merupakan target utama masyarakat Amerika yang frustrasi atas ketersediaan dan harga minyak. Selama lebih dari satu dekade, Mobil terus dibidik media dan sering dianggap sebagai perusahaan yang serakah dan dilabelkan sebagai perusahaan kapitalis yang tak terkendali.

Herb Schmertz membalas kritik publik terhadap Mobil dengan taktik PR hardball. Alasannya, jika perusahaan tidak berpartisipasi secara proaktif dalam wacana atau pembicaraan negatif misalnya,  wajar bila reputasi mereka terganggu. Di bawah rezim "konfrontasi kreatif," Schmertz menerapkan sejumlah taktik inovatif dan kontroversial, seperti:

Memperkenalkan iklan advokasi modern, atau "advertorial", yang untuk pertama kalinya muncul di halaman OpEd New York Times pada tahun 1970. Komentar mingguan Mobil, yang oleh Schmertz disebut sebagai "tindakan pamflet yang terhormat," mencakup serangkaian tema-tema terkait dengan energi secara luas – seperti masalah lingkungan, cadangan minyak, perpajakan, peraturan - dan juga menghadapi para pencela. Advertorial Mobil akhirnya diterbitkan secara berkala mingguan di beberapa surat kabar terkemuka selama tiga dekade, dan berfungsi sebagai template untuk profesi PR.

Selain membuat advertorial, Mobil di era Schmertz juga selalu merespon media yang memberitakan Mobil secara negatif. Mobil tak segan-segan mengirimkan keluhan resmi ketika media meliput pandangan perusahaan secara tidak adil. Bahkan pada tahun 1984 Mobil memboikot Wall Street Journal dengan menolak memberikan informasi bisnis utama negara tersebut, merespon permintaan wawancara wartawan dan beriklan di WSJ sebagai balasan atas tulisan tentang WSJ yang dianggap tidak akurat dan tidak tepat. 

Meskipun taktik over-the-top dianggap kekanak-kanakan oleh banyak eksekutif PR dan media, namun tindakan Mobil tersebut seakan memberikan sinyal kuat kepada publik dan editor Wall Street Journal bahwa mereka tidak tinggal diam. Dalam buku 'Good-Bye to the Low Profile: The Art of Creative Confrontation,' yang ditulisnya bersama William Novak, pada 1986, Schmertz berpendapat bahwa perusahaan harus menarik dukungan finansial mereka dari kelompok yang mengkritik mereka dan iklan mereka dari surat kabar dan stasiun televisi yang cakupannya dianggap tidak adil.

Mobil juga mengirimkan perwakilan perusahaan untuk melakukan tur media guna menyebarkan pandangan mobil ke konstituen mereka sebanyak mungkin. Di luar itu, Mobil menjadi sponsor kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan Mobil secara langsung seperti mensponsori serial acara televisi di PBS, Masterpiece Theatre. Herb Schmertz menyebut ini sebagai "pemasaran yang bertujuan mendapatkan  tujuan", di mana khalayak mengaitkan usaha yang sukses dengan perusahaan yang mensponsori mereka.

Herb Schmertz bukanlah koboi PR yang ceroboh. Filosofi komunikasinya sesuai dengan prinsip demokrasi, dan taktiknya masuk akal dan efektif. Dalam klip berdurasi dua menit di YouTube, Schmertz yang sekarang berusia 84 tahun dengan fasih menggambarkan bagaimana strategi PR yang mencolok dan kadang-kadang abrasif itu merupakan cerminan dari kewajiban perusahaan, sebagai penjaga sumber daya  fisik, manusia dan ekonomi yang signifikan, untuk mempertahankan perannya sebagai salah satu pilar kebebasan.

Berbeda dengan manajemen merek era Schmertz, sebagian besar praktisi PR saat ini terbelenggu oleh pemikiran penasihat hukum perusahaan, yang menganjurkan strategi PR yang tidak konfrontatif, menasihati para CEO untuk duduk dan menunggu badai berlalu. Fokus satu sisi yang bertahan lama terhadap keengganan risiko hukum ini tidak hanya menghalangi banyak organisasi merebut peluang untuk mengelola reputasi merek mereka secara efektif, namun juga melemahkan profesi public relations. 

Sabtu, 14 Oktober 2017

Kalau Orang Bisa Buat Publikasi Sendiri, Apakah Press Release Masih Dibutuhkan?


Selebriti -- dan juga perusahaan -- tidak asing dengan Instagram atau Snapchat, terlepas apakah tujuan mereka menggunakannya semata-mata untuk memasarkan keuntungan atau tidak. Mereka secara pribadi menggunakan aplikasi semacam itu untuk membangun hubungan interpersonal atau publik dengan penggemar dan sponsor korporat mereka. Selebriti memposting foto keluarga, video perjalanan pribadi, jadwal konser, dan komentar tentang masalah sosial secara online dengan harapan penggemar atau media mereka bereaksi terhadap kejadian tersebut.

Instagram dan Snapchat melayani kebutuhan mereka ini dengan menyediakan dirinya sebagai outlet komunikasi yang mudah dan efektif. Penyanyi seperti Beyoncé dan Taylor Swift memposting foto dari lokasi liburan atau di balik layar acara tur mereka, setiap hari di Instagram. Bintang reality TV show seperti Kendall dan Kylie Jenner memposting video keluarga pendek, termasuk mengintip di balik layar acara mereka di Snapchat.

Yang lebih penting, selebriti (atau perusahaan) semacam itu memiliki jutaan pengikut di akun Instagram atau Snapchat mereka, yang mengarahkan pada pembangunan budaya selebriti yang memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat umum, terutama pada kaum muda. Selebriti fokus untuk memasukkan diri mereka ke dalam percakapan online agar tetap relevan dengan penampilan mereka, yang bertujuan untuk menjaga agar pengikut tetap up to date dengan konten "tampilan di panggung, tur, berakting di acara televisi, menyiapkan lagu untuk film" (Rosenbaum, 2015, para.2).

Rosenbaum menunjukkan bahwa selebriti menyadari aplikasi semacam itu menjadi bisnis besar (2015). Beberapa dari mereka mempekerjakan pakar media sosial profesional untuk membuat tulisan cerdas dan video yang menarik untuk dilibatkan dengan pengikut mereka. Tindakan melibatkan diri dengan penggemarnya faktor paling penting aktivitas media sosial seorang selebriti karena para pengikutnya cenderung membeli produk atau layanan saat selebriti memiliki keterlibatan setia dengan mereka (2015).

Dalam lanskap media di mana pengikut media sosial dianggap jauh melebihi sirkulasi media berbayar, selebriti memiliki kontrol lebih besar atas liputan media daripada sebelumnya. Pernyataan atau pengumuman resmi mereka tidak dikirim ke editor di media utama, publikasi diterbitkan dengan mengupload  guntingan informasi, foto, bahkan video ke Twitter atau Instagram. Dengan kata lain, apakah selebriti sekarang tidak lagi membutuhkan siaran pers yang biasa dibuat jurnalis atau praktisi
public relations?

Pasangan selebriti – bila digabung -- memiliki lebih banyak follower di Instagram daripada hampir semua publikasi. Para follower tersebut bisa jadi sebagian besar merupakan penggemar sebenarnya. Follower seorang selebriti bisa mencapai dua juta lebih. Bandingkan dengan media terbesar yang memiliki sirkulasi kurang dari 500 ribu. Karena itu wajar bila ketika seorang selebriti, seperti Chrissy Teigen,  mengumumkan kehamilannya, informasi itu tersebar keluar ke 4.1 juta orang karena followernya lebih dari 4.1 juta. Itu belum ditambah dengan follower pasangannya, John Legend, yang memiliki 2,7 juta follower.

Seperti yang ditulis oleh John Herrman di Awl in Access Denied: "Mereka, bukan publikasi yang mengirimkan kepada mereka, adalah filter utama yang digunakan orang di Internet untuk menemukan dan mengkonsumsi berita dan hiburan." Praktik yang dulu membutuhkan tim humas yang berpengalaman, sekarang bisa mereka lakukan hanya dalam waktu 30 detik melalui ponsel mereka. Dengan kata lain, saat ini banyak selebriti tampaknya memiliki kepercayaan diri bahwa mereka telah menemukan cara mereka mempublikasikan diri sendiri.

Siaran pers adalah tulisan yang dikeluarkan oleh perusahaan atau institusi untuk menyampaikan  informasi yang layak diberitakan ke komunitas media dan kepada masyarakat umum (secara tidak langsung melalui pemberitaan surat kabar, atau, secara langsung, dengan membuat siaran pers yang tersedia di situs web perusahaan) di sisi lain. Meskipun seolah-olah informatif, secara implisit, siaran pers juga memuat tujuan mempromosikan diri sendiri, sejauh informasi yang dikandungnya berasal dari sumber internal organisasi yang merupakan tujuan dari siaran itu sendiri.

Tahun 2016 lalu jagad media sosial sempat diramaikan dengan perseteruan Taylor Swift dan Kanye West. Ini berawal dari lagu baru West dengan judul 'Famous' yang liriknya meyinggung Swift. "Saya merasa seperti saya dan Taylor mungkin masih berhubungan s*ks / Mengapa saya membuat pel*c*r itu terkenal?" Kanye mengklaim bahwa dia telah meminta persetujuan Taylor sebelum merilis lagu tersebut: "Saya menelepon Taylor dan memiliki satu jam pembicaraan dengan dia tentang lirik itu dan dia pikir itu lucu dan memberinya berkah."

Kubu Taylor langsung membantahnya dalam sebuah pernyataan dengan mengklaim bahwa Kanye merilis liriknya tanpa seizing Taylor. West mengklaim bahwa mereka memiliki rekaman keseluruhan percakapan tentang persetujuan Taylor  tersebut. Dia menyukainya, kata West. Namun, menurut kubu Taylor, dalam pembicaraan telepon yang dimaksud West, West hanya meminta Taylor mempromosikan lagunya. "Kanye tidak meminta persetujuan, tapi  meminta Taylor memposting single 'Famous' itu di akun Twitter-nya. Dia menolak dan memperingatkan dia tentang merilis sebuah lagu dengan pesan misoginistik yang begitu kuat. Taylor tidak pernah menyadari akan lirik yang sebenarnya, "Saya membuat jalang itu terkenal. '" Sementara Taylor sendiri tetap diam, beberapa anggotanya #squad bergerak melakukan membelanya. Sementara kakak Taylor,  Austin memposting sebuah video di mana dia melempar Yeezys-nya di tempat sampah.

Publik mungkin masih bertanya-tanya tentang siapa yang harus dipercaya diantara mereka. Namun kemudian, dalam percakapan telepon yang telah diedit dan dipost melalui twitter dan Sanpcahat oleh pasangan West, Kim Kardashian, diperoleh gambaran bagaimana curahan kesenangan Taylor disertakan dalam lagu itu, meskipun seperti yang ditunjukkan Swift, dia tidak pernah membaca lirik lagu yang menyebut sebagai "pelacur itu." West benar dan image Taylor sebagai Good Girl turun. Beberapa hari setelah kejadian itu,  tabloid seperti In Touch memberi label kepadanya, "LIAR!" di satu sampul majalahnya dan banyak orang dengan suara bulat menyalahkan bintang pop tersebut.

Ketika seorang selebriti menjadi orang PR mereka sendiri, seringkali tidak ada yang menghentikannya.Demi Lovato melewati wawancara eksklusif Us Weekly dan menggunakan Snapchat dan twitter untuk mengumumkan perpisahannya dengan Wilmer Valderrama, Briana Jungwirth menggunakannya untuk meminta kerahasiaan setelah kelahiran anaknya dengan One Direction, Louis Tomlinson, Ruby Rose menggunakannya untuk membela temannya yang baru, Taylor Swift. Semua catatan ini - yang dikirim ke Instagram atau tweeted - menggantikan siaran pers tradisional atau penyebaran dua halaman di majalah People. 

Mereka seakan tidak membutuhkan barang-barang itu lagi, dan banyak selebriti favorit  sepakat. Di sisi lain, media yang membutuhkan konten mulai kehilangan beberapa akses berharga mereka. Mereka menemukan cara lain untuk melaporkan orang kaya dan terkenal dengan melihat ke tempat-tempat di mana selebriti sekarang muncul, yakni Facebook, Twitter, Instagram, Snapchat.

Pada tahun 2016, meskipun Rob Kardashian dan Blac Chyna memiliki kerjasama dengan E!, Snapchat  Chyna bisa dibilang menceritakan sebuah cerita yang lebih menarik. Bisa jadi ini karena sifat Snapchat yang tidak kekal sehingga terasa lebih mendesak daripada yang bisa Anda lakukan hanya DVR. Banyak selebriti yang memanfaatkannya. Snapchat DJ Khaled tentang kelahiran anaknya; atau Kate Hudson yang bersepeda. Di Instagram, Selena Gomez menjadi selebriti yang paling banyak diikuti; Anne Hathaway secara tidak sengaja melemparkan naungan, menghapusnya, dan kemudian mengirimkan permintaan maaf; dan Mohamed Hadid mengikuti jejak anak perempuannya yang terkenal dengan menjadi bintang Instagram kecil. Di Twitter, Katy Perry menggunakan khalayaknya yang besar untuk melakukan kampanye baik untuk calon presiden favoritnya dan selebriti Taylor Swift (dan juga Harry Styles); Khlo√© Kardashian mencerca Blac Chyna; dan Chrissy Teigen memulai perang dengan seterunya.

Tapi tahun ini memberikan gambaran lain. Apa yang terjadi ketika bintang media sosial terbesar Anda dan berhenti berinteraksi dengan media sosial? Apakah sistem kembali? Apakah kita kembali ke majalah eksklusif, kembali ke siaran pers yang pengap? Ketika Kim Kardashian West benar-benar offline setelah insiden penculikan yang menyeramkan di Paris, publik hanya menyadari kehebatan kehebatan sosial-media tanpa mempertimbangkan risikonya, sebab bagaimanapun karakter media sosial yang memungkinkan komunikasi dua arah memunculkan gap. Mungkin seseorang menginformasikan tentan dirinya, tapi yang respon yang dia dapat tidak seperti yang diharapkan.

Justin Bieber menghapus akun Instagram karena dia sangat kesal pada penggemarnya. "Saya akan membuat Instagram saya pribadi jika kalian tidak menghentikan kebencian ini semakin tidak terkendali, jika kalian benar-benar penggemar, Anda tidak akan begitu jahat terhadap orang-orang yang saya sukai," tulisnya mengacu pada kicauan negatif para penggemarnya terhadap pacarnya yang baru, Sofia Richie. Mereka tidak berhenti, karena itu Bieber menghapus akunnya. Bieber kemudian berkata: "Instagram adalah untuk iblis ... Kami dikirim ke neraka, kami terkunci di server Instagram Seperti saya terjebak di DM." Kini Bieber dan Richie dikabarkan tidak lagi pacara lagi.

Pada akhirnya, platform yang membantu munculnya selebriti, baik mendorong mereka menaiki tangga atau memberi tempat tersendiri bagi penggemarnya untuk mengungkapkan kebenaran mereka - juga sangat berbahaya. Dalam komunikasi diperlukan strategi untuk mengurangi risiko negatif terhadap pesan yang disampaikannya. “Tidak ada yang tahu lebih baik bagaimana memposisikan pernyataan daripada praktisi PR atau jurnalis. Ketika Anda memilih untuk memotongnya, Anda mungkin akan kehilangan kendali atas apa yang Anda dapatkan dalam keasliannya. Atau Anda terpilih sebagai presiden,” tulis Lindsey Weber dan Bobby Finger di www.vanityfair.com tahun lalu. 

Minggu, 08 Oktober 2017

Wartawan Sekarang Lebih Berat dari Wartawan Dahulu?


Dalam lanskap media di mana pengikut media sosial dianggap jauh melebihi sirkulasi media berbayar, selebriti memiliki kontrol lebih besar atas liputan media daripada sebelumnya. Pernyataan atau pengumuman resmi mereka tidak dikirim ke editor di media utama, publikasi diterbitkan dengan mengupload guntingan informasi, foto, bahkan video ke Twitter atau Instagram. Dengan kata lain, apakah selebriti sekarang tidak lagi membutuhkan siaran pers yang biasa dibuat jurnalis atau praktisi
public relations?

Pasangan selebriti – bila digabung -- memiliki lebih banyak follower di Instagram daripada hampir semua publikasi. Para follower tersebut bisa jadi sebagian besar merupakan penggemar sebenarnya. Follower seorang selebriti bisa mencapai dua juta lebih. Bandingkan dengan media terbesar yang memiliki sirkulasi kurang dari 500 ribu. Karena itu wajar bila ketika seorang selebriti, seperti Chrissy Teigen,  mengumumkan kehamilannya, informasi itu tersebar keluar ke 4.1 juta orang karena followernya lebih dari 4.1 juta. Itu belum ditambah dengan follower pasangannya, John Legend, yang memiliki 2,7 juta follower.

Seperti yang ditulis oleh John Herrman di Awl in Access Denied: "Mereka, bukan publikasi yang mengirimkan kepada mereka, adalah filter utama yang digunakan orang di Internet untuk menemukan dan mengkonsumsi berita dan hiburan." Praktik yang dulu membutuhkan tim humas yang berpengalaman, sekarang bisa mereka lakukan hanya dalam waktu 30 detik melalui ponsel mereka. Dengan kata lain, saat ini banyak selebriti tampaknya memiliki kepercayaan diri bahwa mereka telah menemukan cara mereka mempublikasikan diri sendiri.

Fenomena ini menggambarkan betapa wartawan sekarang juga harus bersaing dengan selebriti dalam mempublikasikan informasi. Bila dulu untuk mempublikasikan dirinya, mereka bikin jumpa pers atau menyebarkan siaran pers, kini hal itu tidak butuh itu. Siaran pers adalah tulisan yang dikeluarkan oleh perusahaan atau institusi untuk menyampaikan informasi yang layak diberitakan ke komunitas media dan kepada masyarakat umum (secara tidak langsung melalui pemberitaan surat kabar, atau, secara langsung, dengan membuat siaran pers yang tersedia di situs web perusahaan) di sisi lain. Meskipun seolah-olah informatif, secara implisit, siaran pers juga memuat tujuan mempromosikan diri sendiri, sejauh informasi yang dikandungnya berasal dari sumber internal organisasi yang merupakan tujuan dari siaran itu sendiri.

Dalam beberapa kali diskusi, saya selalu mengatakan bahwa menjadi wartawan jaman sekarang jauh lebih berat daripada jaman saya semasih sering berburu berita dahulu. Semasih saya berburu berita, kontrol media begitu ketat. Namun para wartawan saat itu mengetahui berita-berita yang harus dihindari, seperti jangan memberitakan tentang hal-hal negatif bisnis keluarga penguasa atau urusan internal keluarga lainnya. Yang paling aman saat itu adalah memberitakan peristiwa luar negeri, meski itupun harus dipilah-pilah karena terkadang ada berita yang ada sangkut pautnya dengan urusan “internal”.

Wartawan jaman dulu kesulitan mencari, mengakses informasi. Wartawan sekarang kebanjiran informasi, Ini bukan berarti wartawan sekarang tidak lebih berat dari era dulu. Wartawan sekarang justru lebih berat tanggungjawabnya karena selain yang dilakukan wartawan dulu itu tadi juga lebih berat dalam memilah dan mengemasnya karena saking banyaknya informasi yang mungkin simpang siur karena semua orang pingin bicara. 

Wartawan jaman sekarang dituntut jauh lebih bekerja lebih keras dan kreatif. Tantangannya jauh lebih besar manakala bekerja di media – mohon maaf – kecil atau kurang bernama. Kalau dulu untuk mendapatkan berita eksklusif lebih mudah karena ada saja narasumber yang ingin memanfaatkan media untuk menciptakan publisitas. Perlu diketahui bahwa saat itu berlaku adegium, No Source No News. Memberitakan tanpa mencantumkan narasumber yang jelas sangat-gangat rawan menjadi bidikan penguasa.

Persoalannya, Informasi eksklusif sering diberikan narasumber kepada media-media menengah. Mengapa? Media besar terlalu berisiko bila menyebarkan informasi negatif tentang penguasa misalnya. Kalaupun mau memberitakannya harus dikemas sedemikian rupa sehingga penguasa tidak tersinggung. Baru informasi yang sangat sensitive misalnya, narasumber yang sudah benar-benar ingin membuat publisitas, mendekati media menengah atau media kecil yang lebih leluasa ruang geraknya karena bisa jadi penguasa kirang menaruh perhatian pada media kelas ini.  

Pengalaman saya selama bekerja di Harian Republika membuktikan hal itu. Anda mungkin masih ingat pada awal-awal Republika berdiri, banyak berita-berita eksklusif yang muncul di Republika. Bagaimana ceritanya kok bisa begitu, ya seperti yang saya ceritakan di atas. Karena saking seringnya mendapatkan informasi eksklusif sampai-sampai di rumah saya pasang mesin fax, media pengiriman yang lagi “penting” jaan itu.   

Sekarang, jamannya berubah. Yang namanya breaking news, pengaruhnya terhadap media itu sendiri nyaris kurang nggreget. Ini karena media lain yang dalam hitungan menit bahkan detik, media juga memberirakan masalah atau topik yang sama. Seperti diketahui, breaking news adalah penyampaian informasi penting oleh media sehingga penyiar, misalnya, merasa perlu menyela jadwal pemrograman dan/atau berita saat itu untuk melaporkan rinciannya.

Saat ini jumlah wartawan dan media semakin besar. Persaingan antar media meningkat karena kue iklan yang diperebutkan juga belum bertambah secara signifikan bahwa untuk media konvesional menyusut. Wartawan sekarang dituntut jauh lebih produktif. Bila dulu seorang wartawan cuma, misalnya, menyusun dua berita per hari, sekarang – apalagi sekarang terjadi konvergensi media -- dituntut membuat minila 5 ata lebih lebih setiap hari. Apakah sutuasi ini peluang bagi kegiatan public relations?

Hal lainnya, tuntutan publik sekarang juga berubah. Untuk segmen audience tertentu, berita yang sifatnya langsung kurang diminati. Mereka memang mempunyai keterbatasan waktu yang mereka sisihnya untuk mengamati berita, namun mereka selanjutnya butuh informasi ada apa di balik berita yang mereka dapatkan tadi. Dalam kondisi seperti ini, wartawan memang dituntut untuk lebih kreatif menemukan informasi yang berada di balik berita tadi.

Wartawan sekarang juga dituntut bekerja lebih cepat, bila tidak cepat bekerja misalnya dalam menuliskan beritanya, dia akan ketinggalan dengan media lain. Bila beritanya ketinggalan dengan media lain, karena media tempat dia bekerja tidak prominence, bisa jadi beritanya tidak dibaca orang karena publik cenderung membaca berita dari media utama.

Kreatif saat ini menjadi tantangan tersediri karena ada sebagian publik yang merasa awam dengan isu-isu yang ditampilkan media. Kreatif wartawan terkadang menjadi tantangan tersendiri bagi karyawan sehingga jurnalisme objektif mulai ditinggalkan. Media sekarang banyak yang menganut jurnalisme interpretatif. Apa dampaknya bagi praktik public relations?

Sabtu, 07 Oktober 2017

How to be More Trusted


Bagi Ana Gomes Ferreira, pertama kali mengunggah (up-load) video ke YouTube adalah sekadar untuk kesenangan. Itu terjadi pada Januari 2007 ketika dia sedang duduk di tempat tidurnya dengan gitar di pangkuannya. Bersama temannya yang  memegang kamera video, dia merekam versinya sendiri dari lagu  Sheryl Crow yang berjudul Strong Enough to Be My Man. Dia kemudian mengunggahnya ke YouTube dengan nama panggungnya, ''Ana Free.”

Bila Anda menyaksikan video tersebut, kelihatan betapa Ana tidak sepenuhnya nyaman di depan kamera. Apalagi selama rekaman, kamera zoom in dan keluar sering terjadi secara acak. Tak banyak yang merespon video pertamanya. Tapi hal itu tak masalah bagi Ana.Namun hal itu merupakan langkah awal dalam membuat sesuatu yang luar biasa lima tahun kemudian.

Sebagai orang Portugal, Ana tidak berkeinginan menjadi penyanyi. Semasih kecil, dia pergi ke sekolah internasional, belajar keras, berbicara lima bahasa, dan belajar perdagangan internasional dan game theory sebagai major di jurusan ekonomi di University of Kent di Inggris. Dia memang memiliki latar belakang yang biasanya membuat orang menjadi cerdas.

Setiap hari, puluhan musisi pemula melirik internet untuk menemukan dan mungkin menduplikasi fenomena Justin Bieber - dengan meluncurkan diri dan karier musik mereka sendiri. Namun, hampir semuanya tidak berhasil. Ana tidak mulai mengupload video dengan niatan untuk menjadi terkenal. Dia merekam lagu-lagu karena dia mencintai lagu itu. Dia membaginya ke audience dengan jujur dengan memainkan lagu-lagu bukan dengan tujuan untuk menjadi popular.

Meski telah menulis ratusan lagu asli ciptaannya sendiri, beberapa minggu sekali dia merekam video sebuah cover lagu baru yang dikenal orang. Gaya rekamannya khas, memainkan gitar akustik dan menyanyi dengan posisi duduk di tempat tidur di depan kamera.

Awal 2012  sudah 125 lagu yang diposting Ana ke YouTube. Selama itu, hampir setiap lagunya ditonton 10.000 orang. Lebih dari selusin lagunya memiliki lebih dari viewer sekitar 100.000. Bahkan beberapa lagunya ada yang mencapai 2 juta penonton. Secara keseluruhan, channel Youtibe miliknya telah melewati 31 juta penonton dengan lebih dari 80.000 pelanggan. Pada bulan Juni 2010, kinerja cover lagu  Piala Dunia 2010 Shakira Waka Waka begitu populer sehingga mengilhami tim produksi Shakira untuk mengundang Ana Free tampil sebagai pembuka sebuah konser Shakira di Amerika Selatan.

Apakah yang dilakukan Ana, pengacara yang menjadi agen olahraga sukses, dan penulis buku yang paling populer di dunia memiliki kesamaan? Ana Free memiliki kemampuan membangun hubungan pribadi dengan audiens dengan cara yang bermakna, berbagi kepribadiannya secara otentik dan menyanyikan lagu-lagu yang dikenal dan dicintai orang. Apakah Ana sukses karena You Tube? Sebagai media penyajji, iya. Namun yang sebenarnya adalah passion Anda di dunia music.

Setiap hari selalu ada produk -- yang sebenarnya bagus – gagal. Kandidat yang memenuhi syarat, tidak jadi direkrut dan ide-ide perubahan mati. Faktanya adalah bahwa sesuatu yang memiliki resume terbaik atau daftar fitur terkuat, tidak selalu menjamin kesuksesan. “Selamat datang di dunia Likeonomics,” kata Rohit Bhargava – penulis buku Likeonomics - The Unexpected Truth Behind Earning Trust, Influencing Behavior, and Inspiring Action.

Bhargava adalah salah seorang pendiri kelompok terbesar di dunia strategi media sosial di Ogilvy. Dia  me-lead strategi pemasaran untuk klien seperti Intel, Pepsi, Lenovo, Seiko, Unilever, dan puluhan perusahaan besar lainny. Menurut dia, dalam konteks Likeonomic, kesepakatan yang dibuat di lapangan golf, likeability sering mengalahkan kompetensi dan keterampilan yang paling penting. Implikasinya, hubungan pribadi yang lebih dipercaya.

Likeonomics bukan buku tentang Facebook. Likeonomics adalah buku tentang bagaimana “disukai” sebagai rahasia untuk membangun kepercayaan nyata. Tapi itu berarti lebih dari sekedar bagus. Likeonomics menawarkan argumen yang meyakinkan mengapa disukai adalah kunci nyata untuk berhasil di era media sosial.

Mengapa kepercayaan penting? Saat ini orang-orang di seluruh dunia memiliki kepercayaan yang lebih rendah terhadap semua bentuk institusi daripada sebelumnya. Ini adalah krisis kepercayaan. Lalu apa yang membuat seseorang atau organisasi dipercaya ?

Likeonomics memberikan gambaran tentang hubungan pribadi, pendapat individu, cerita yang kuat, dan modal sosial yang membantu merek serta produk atau jasa menjadi lebih dipercaya. Menurut Bhargava, merek yang dipercaya dapat menginspirasi pembicaraan positif dari mulut ke mulut dan menciptakan pengalaman yang tidak bisa tidak membuat orang berbagi dengan orang lain.

Membangun ide-idenya tentang mengapa perusahaan harus memiliki kepribadian yang kuat, Likeonomics berfokus pada ide yang sederhana, bahwa merek yang paling mereka sukai adalah merek  yang kita percaya, bicarakan dan menginspirasi. Lalu, dalam masyarakat yang serba manipulative seperti sekarang ini, bagaimana konsumen dapat bertahan dari krisis kepercayaan ?

Ada Tujuh Prinsip Likeonomics. Pertama, kejujuran. Kejujuran tidak hanya kebijakan yang terbaik, tetapi keuntungan terbaik atas investasi Anda. Tidak akan ada " Oprah Effect " jika tidak ada Oprah dan reputasinya. Kedua, buat menjadi relevansi. Untuk maju dalam dunia sosial membutuhkan lebih dari strategi pembuatan konten, tetapi juga bagaimana caraya agar menjadi relevan untuk audinese atau target market.

Ketiga, jadilah yang otentik secara egois. Ide Toyota untuk tantangan bagus meminta publik untuk membayangkan ide-ide baru untuk menggunakan teknologi mereka untuk manfaat kemanusiaan. Keempat, menyederhanakan masalah ... dan solusi. Masalah ada dengan solusi yang mudah seperti kelaparan, kemiskinan , atau HIV tampak tidak dapat teratasi bila dipandang sebagai suatu sistem. The Girl Effect menyederhanakan masalah untuk ditindaklanjuti dengan sesuatu yang bisa kita lakukan. Dengan membantu seorang gadis tumbuh lebih sukses, seluruh dunia bisa berubah.

Kelima, mencapai waktu yang sempurna. Upaya virtual atau e-learning telah gagal , namun kini The Khan Academy berhasil sebagian karena datang pada waktu yang tepat. YouTube telah mencapai massa kritis. Siswa aktif menggunakan sumber daya online seperti video sebagai bagian dari sekolah (bukan sebagai selingan) dan guru , serta administrator sekolah, lebih terbuka terhadap ide-ide dan teknologi baru dan bagaimana mereka dapat diterapkan ke model sekolah umum " tradisional." 

Keenam, buat keterlibatan nyata. Sebuah postingan blog sederhana di Harvard Business Review menantang pembaca untuk membayangkan $300, mudah membangun rumah, ramah lingkungan, layak huni bagi masyarakat miskin. Ketujuh, jadilah yang benar-benar menyenangkan. The Coca Cola Machine  menjadi menyenangkan bukan karena fokusnya pada produk, tetapi karena berbagi Coke dengan teman tentang kebahagiaan

Mengapa Kita Harus Lari Dua Kali Lebih Cepat?


Lingkungan bisnis berubah dengan sangat cepat. Agar tidak tertendang, untuk beradaptasi dengan perubahan itu, perusahaan kini seakan harus dua kali lebih cepat dari lima tahun lalu. 

Era digital ditandai dengan adanya jaringan yang tersebar, aliran informasi yang bebas, dan bisnis dengan yang dipercepat. Perkembangan ini menuntut perusahaan secepatnya mengubah cara kerja mereka. Rancangan dan proses bisnis juga harus – bukan hanya infrastrukturnya -- juga menjadi tangkas.

Electronic Arts, sebuah publisher game elektronik yang didirikan pada tahun 1982, pernah menjadi pengembang game terkemuka, pemegang lisensi sebuah tim olahraga dan judul film untuk game yang dimainkan di konsol video. Zynga – sebuah perusahaan game mobile – yang berjaya pada tahun 2007 dianggap sebagai pihak utama yang bertanggung jawab atas kerugian Electronic Arts selama  Juni 2005 sampai Desember 2012.

Kenapa? Ini karena persoalan perubahan. Zynga mengamati bahwa  kenyamanan konsumen dan jaringan sosial adalah fitur yang paling penting dalam sebuah platform game. Pemain lebih suka berperang melawan teman-teman di ponsel daripada duduk di ruang bawah tanah mereka dengan konsol game. "Model deluxe" pengembangan game adalah sesuatu dari masa lalu, dan Zynga percaya bahwa pasar ingin menikmati game online berbasis data.

Contoh lainnya, Zara berhasil karena kemampuannya dalam memanfaatkan pertukaran informasi di seluruh setiap bagian dari rantai pasok Zara -- dari pelanggan ke manajer toko, dari manajer toko spesialis dan desainer, dari desainer ke staf produksi , dari pembeli ke subkontraktor, dari manajer gudang ke distributor. Zara juga melatih karyawan untuk menggali komentar dari pelanggan.

Ketika pelanggan memberitahu karyawan toko bahwa mereka lebih suka celana tanpa resleting atau mereka menyukai  kerah bulat pada blus mereka , staf penjualan memberikan informasi ini kepada manajer toko yang kemudian melaporkannya ke kantor pusat. Di kantor pusat, tim desainer internal dengan cepat mengembangkan desain baru berdasarkan masukan ini dan mengirimkannya ke pabrik-pabrik Zara di mana mereka diproduksi .

Fenomena tersebut membenarkan argumen bahwa kemampuan beradaptasi menjadi lebih penting daripada kualitas lainnya. Ini karena dalam lingkungan bisnis yang berubah begitu cepat, membuat apa yang akan kita kerjakan seolah tidak relevan. Seringkali kita mendapati bahwa ketika kita ingin mengimplementasikan suatu rencana itu, lingkungan telah berubah lagi.

Dalam Transform. How Leading Companies Are Winning with Disruptive Social Technology, penulisnya, Christopher Morace, mengilustrasikan fenomena tersebut dengan mengambil cerita tentang Alice, tokoh utama dalam karya Lewis Carroll Through the Looking – Glass. Disitu Alice mengalami percepatan yang tiada henti dalam petualangannya.  Suatu saat, Alice bertemu dengan Red Queen yang menantangnya berlomba lari di lapangan berbentuk seperti papan catur.  Dalam permainan itu, Alce menemui bagaimana dirinya harus berlari lebih cepat dan lebih cepat lagi hanya untuk tinggal di tempat yang sama. 

Frustrasi dan terengah-engah, Alice berkata ke Red Queen, "Di negara kami, jika berlari cepat dalam waktu yang lama, kita akan berada di tempat yang berbeda.” Mendengar itu, Red Queen mengatakan bahwa, "Negara yang lambat. Di sini,seperti yang  Anda lihat, Anda harus lari hanya untuk berada di tempat yang sama. Jika Anda ingin mencapai atau berada di tempat lain, Anda harus melakukan (lari) setidaknya dua kali lebih cepat dari yang biasa Anda lakukan.”

Bisnis saat ini juga seperti itu. Para pebisnis menjalankan bisnisnys dua kali lebih cepat tetapi hanya menghasilkan sedikit kemajuan. Ibaratnya kita berlari di treadmill dengan percepatan yang bisa kita buat semakin tinggi namun garis finishnya sulit dipahami. Untungnya, dalam bisnis ada alat yang bisa membantu. Ketika proses bisnis membatasi kecepatannya, perangkat seperti smartphone bisa jadi membuat pekerja lebih produktif. Akan tetapi, sekali lagi, itu berarti Anda mengorbankan istirahat malam, akhir pekan, dan liburan Anda.

Sistem komando dan kontrol yang ketat pernah menjadi gaya manajemen yang dominan dalam perusahaan. Namun dalam lingkungan informasi yang  mengalir begitu cepat, pendekatan ini tidak lagi seefektif sebelumnya. Sebaliknya, seperti militer yang mengganti peleton besar dengan pasukan khusus, perusahaan perlu model organisasi adaptif yang responsif terhadap perubahan yang cepat dalam inovasi produk, selera pelanggan , atau lingkungan peraturan.

Ketika perusahaan tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan baru dan tempo perubahan yang begitu cepat, mereka bengkok atau patah. Suatu perusahaan ibaratnya sebuah mesin yang menjalankan seperangkat proses yang besar. Begitu perubahan sering terjadi, perusahaan harus merespon perubahan ini dengan lebih cepat. Hal ini tentu saja membutuhkan kelincahan dan kemampuan beradaptasi. Ketika Anda meningkatkan tingkatan dari sebuah proses, pengecualian untuk proses standar juga harus meningkat.

Di masa lalu, perusahaan teknologi membantu mengelola dan mengotomatisasi proses. Namun hari ini, bisa jadi perangkat lunak tersebut tidak lagi sesuai dengan lingkungan yang terus berkembang. Dengan kata lain, kerja suatu system dibatasi oleh masa. Suatu sistem bisa bekerja sampai sesuatu dalam lingkungan berubah. Ketika masalah muncul dengan produk, selera pelanggan berubah, atau pesaing baru muncul, kemampuan perusahaan untuk bereaksi dengan cepat menjadi lebih penting daripada konsistensi.


Dalam lingkungan yang dinamis, mekanisasi adalah pendekatan yang salah. Mekanisasi ibaratnya membangun perusahaan sehingga menjadi sebuah mesin namun tidak ada kemudi. Bila Anda berlomba adu balap, yang Anda butuhkan adalah bergerak cepat. Tetapi setiap kali Anda ingin mengubah arah, kemudi menjadi kritis. Banyak perusahaan telah menghabiskan jutaan dolar untuk teknologi informasi, namun mereka tidak dapat menavigasi lingkungan yang berubah dengan cepat. Jadi disini yang diperlukan adalah inovasi. Inovasi yang mendukung kemampuan perusahaan untuk bereaksi dengan cepat.

Cara Kreatif untuk Memulihkan Kredibilitas yang Jatuh?


Ketika suatu perusahaan menghadapi situasi yang sulit, integritas seorang pemimpin sangatlah penting. Dalam banyak kasus, ketika karyawan menyaksikan adanya kondisi bahwa keuntungan perusahaan turun, perusahaan mengambil kebijakan pemotongan belanja modal agar arus kas bertahan, pengurangan yang dipaksakan (seringkali banyak), dan manajemen berusaha menjaga kepercayaan, diam-diam sejatinya karyawan juga ragu apakah ada sesuatu yang tersisa untuk bisa bertahan. 

Lingkungan negatif ini menciptakan spiral ketidakpercayaan, kecurigaan, inefisiensi, dan ketakutan. Mendobrak "spiral kematian" adalah salah satu hal utama yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin  dan profesional yang berusaha membalikkan situasi bisnis. Apalagi bila perbaikan bisnis memberikan  kesempatan untuk mendapatkan daya tarik dan memulai siklus yang baik kembali.
Kredibilitas adalah komponen penting dari kepemimpinan.

Suatu saat Dain Hancock, CEO Lockheed Martin Aeronatics, mengambil keputusan yang membuat  karyawan mencemoohnya. Ketika sumber dana perusahaan tidak terlalu banyak, dia malah menginvestasikan dana perusahaan untuk fasilitas pintu masuk dengan teknologi tinggi. Ini membuat karyawan kesal karena sebenarnya yang dibutuhkan karyawannya bukan pintu masuk melainkan AC di ruangan yang mudah panas. Ini yang membuat Dain dinilai karyawannya sebagai lebih mementingkan dinilai orang luar ketimbang memenuhi kebutuhan karyawannya. Sejak itu kredibilitas Dain di mata karyawannya runtuh. Dain mendengar itu dan dia tidak marah.

Sampai suatu ketika situasinya berubah. Suatu hari, saat Dain mengadakan rapat untuk menjaring umpan balik dari karyawannya, lima belas menit dari sesi sembilan puluh menit, sekretarisnya buru-buru menemuinya dan mengumumkan bahwa suami Ratu Belanda, Pangeran Bernard hadir ke kantor Lockheed dua jam lebih awal. Sebelumnya, keluarga kerajaan dijadwalkan datang untuk membahas pemesanan F-16 bernilai puluhan miliar dolar, setelah pertemuan Dain dengan karyawannya itu.

Mendengar kabar dari sekretarisnya itu, Dain berhenti sebentar dan ekspresi wajahnya tak terbaca. Setiap karyawan yang berada di ruangan itu pasti mengerti bila Dain membatalkan pertemuan dengan karyawan itu. Akan tetapi Dain mengambil keputusan lain. Dia justru menugaskan wakilnya  untuk mengirimkan permintaan maaf dan menyambut sang pangeran. Dain terus melanjutkan pertemuannya dengan karyawan.

Keputusan Dain untuk melanjutkan pertemuan guna menjaring umpan balik dari karyawannya daripaa menemui pangeran itu langsung menyebar di lingkungan perusahaan yang memiliki 13 ribu karyawan tersebut. Dalam buku Influencer: The New Science of Leading Change, Joseph Grenny dan kawan-kawannya menulis bahwa dengan mengorbankan apa yang dikira semua orang sebagai prioritasnya (mengesankan orang luar), untuk kepentingan jauh lebih besar, yakni mendengarkan aspirasi karyawannya, Dain mendapatkan kredibilitas yang luar biasa dan menjadi cara untuk mendorong orang lain melakukan hal yang sama.
    
Dalam kepemimpinan, kredibilitas adalah faktor utama apakah seseorang layak menjadi pemimpin atau tidak. Salah satu fungsi kepemimpinan adalah mendeploy yang dalam hal organisasi misalnya kemampuan seseorang untuk menggerakkan anggotanya untuk melakukan sesuatu guna mencapai tujuan organisasi. Ketika kredibilitas sang pemimpin jatuh, sulit diharapkan dapat menggerakkan anggotanya karena kepercayaan mereka kepada sang pemimpin jatuh.