Jumat, 30 Desember 2016

KONTROL MEDIA


Dalam teori pers otoriter, control terhadap media dilakukan melalu mekanisme perizinan dan sensor. Pers bisa dimiliki oleh publik atau perorangan. Namun demikian tetap dianggap sebagai alat untuk menyebarkan kebijakan pemerintah. Dalam teori pers liberal, John Locke (1632–1704), John Stuart Mill (1806–1873), dan Milton Friedman (1912–2006) mengilhami gagasan bahwa pers harus mendukung fungsi membantu menemukan kebenaran dan mengawasi pemerintah sekaligus sebagai media yang menyampaikan informasi, menghibur, dan mencari keuntungan.
Dalam lingkungan seperti itu, control pemerintah bergeser. Pemerintah bukan lagi sebagai pemegang control utama. Namun demikian realitasnya pemerintah tetap bisa menjadi pemegang control utama melalui mekanisme control terhadap isu. Pada 1978, Stuart Hall dan kawan-kawan memunculkan gagasan tentang Primary Definition. Menurut Hall dkk, kelompok elit, berkat kemudahan aksesnya alam menggunakan saluran komunikasi massa, memperoleh status sebagai pendefinisi utama dalam wacana publik tentang persoalan terkini.
Interpretasi mereka tentang peristiwa dan kerangka penjelasan mereka dalam memahami peristiwa menjadi semacam konsensus, sedangkan penjelasan dan keterangan lain dikesampingan atau dipinggirkan dan dianggap tidak absah. Teoritis penyandang status ini banyak, relaitasnya pemerintah mendominasi status tersebut. Penelitian Bennet dan kawan-kawan (2007) tentang perang Irak menunjukkan bahwa dari 414 berita tentang alasan dan rasionalisasi perang yang disiarkan ABC, CBS dan NBC dari September 2002 hingga Maret 2003, hanya 34 berita yang berasal dari luar Gedung Putih.
Ini memperkuat teori Indexing News yang diajukan Benet (1990) sebelumnya yang menunjukkan bahwa media massa berita cenderung menggunakan elit pemerintah sebagai sumber-sumber resmi. Mereka cenderung mengindeks berita berbagai perdebatan resmi. Liputan terhadap suatu isu menurun seiring dengan makin meredanya konflik antar elit pemerintah. Hal ini penting karena menurunnya liputan atas suatu isu karena telah dicapai  kesepakatan, atau isu tersebut menghilang dari agenda formal.
Intinya, hipotesis pengindeksan berita memprediksi bahwa konten berita tentang isu-isu kebijakan politik dan publik pada umumnya akan mengikuti parameter perdebatan elit. Ketika elit politik (seperti Istana, dan para pimpinan dewan, dsb) mencapai kesepakatan umum tentang suatu masalah, liputan berita atas suatu isu cenderung menurun atau berhenti sama sekali. 
Sebaliknya, ketika elit politik tidak setuju, liputan berita cenderung memblow-up ketidaksetujuan mereka. Karenanya ketika pemerintah menahan diri untuk tidak "berpendapat" tentang isu tersebut, interpretasi yang muncul adalah pembiaran. Ketika pembiaran berlangsung, yang muncul adalah prasangka.   
Dengan kata lain, isu dan pandangan media tunduk pada debat politik tingkat tinggi yang paling besar peluangnya untuk mendapatkan liputan berita yang luas. Isu-isu yang tidak diperdebatkan kurang mendapatkan perhatian secara kritis. Dengan kata lain, ketika pemerintah mendefinisikan suatu isu, selesai sudah isu tersebut. 

Berita Bohong


Suatu ketika seorang wartawan yang datang ke Kuba, pulang tanpa membawa berita. Dia mendatangi dan minta saran William Randolph Hearst, orang dianggap sebagai pelopor jurnalisme kuning atau jurnalisme got (comberan). Hearst cuma memberi saran singkat, “Kamu poles citranya, saya poles tentang perangnya.” Itu euphoria ketika AS berseteru dengan Kuba. Pemerintah butuh citra Kuba yang “jahat” sebaga alasan untuk “mengintervensi” Kuba.

Sekarang seperti yang dilaporkan The Washington Post, beberapa orang menciptakan situs berita palsu untuk mengeruk penghasilan lebih  $ 10.000 per bulan melalui Google AdSense, sebuah program yang dijadikan tolok ukur keberhasilan media online karena mengkonversi pengunjung menjadi dolar berdasarkan perolehan iklan. Washington Post menurunkan tuliisan itu berdasarkan wawancaranya dengan beberapa remaja di Macedonia yang menjalankan situs-situs berita palsu. Sebagian besar diantara mereka mengatakan bahwa cara yang mereka lakukan itu sebagai cara termudah dan  menguntungkan untuk mendapatkan uang ditengah ekonomi yang berat. https://www.washingtonpost.com/world/europe/in-macedonias-fake-news-hub-teen-shows-ap-how-its-done/2016/12/02/98bce38e-b88d-11e6-939c-91749443c5e5_story.html?utm_term=.4884c4954ff5

Penyajian berita palsu itu tidak selalu sama. George Orwell, seorang novelis, esais, wartawan dan kritikus asal Inggris pernah mengatakan bahwa “beberapa berita lebih palsu daripada yang lain”. Jadi bagaimana Anda tahu bedanya? Menurut Dr. John Johnson, penulis buku EVERYDATA: The Misinformation Hidden in the Little Data You Consume Every Day, ada lima jenis berita palsu yang mungkin kita lihat dalam kehidupan sehari-hari:

Pertama, ada berita yang 100% palsu. Beberapa waktu lalu, sempat beredar kabar bahwa Sri Edi-Swasono meninggal, atau Paul McCartney meninggal. Sri Edi dan Paul hanyalah contoh dari banyak selebriti yang menjadi korban laporan kematian secara online. "RIP Paul McCartney" menjadi trending di Twitter. Padahal, siapapun yang berada di sampingnya tahu bahwa Paul jelas-jelas masih hidup.

Kedua, berita dengan _slanting_ (miring) dan bias. Baru-baru ini The Washington Times menerbitkan daftar berita bohong. Dalamdaftar itu termasuk antara lain cerita yang menyebutkan bahwa perubahan iklam menyebabkan makin banyak badai seperti Katrina. Sekilas mungkin pernyataan bahwa perubahan iklm tadi tidak benar, dan untungnya, sejak Katrina yang menghancurkan itu memang tidak ada lagi badai serupa. Tapi apakah benar kesimpulan tersebut? Nampaknya, Washington Times menggunakan fakta ketiadaan badai paska Katrina tersebut untuk mendongkrak argumentasi tentang realitas perubahan iklim. Hanya karena perubahan A (perubahan iklim dapat menyebabkan badai besar) dan B (tidak ada badai besar) tidak berarti bahwa perubahan C (perubahan iklim) tidak ada.

Ketiga, propaganda murni. The Washington Post baru-baru ini melaporkan tentang kampanye propaganda canggih yang dibuat Rusia. Washington Post menulis bahwa Rusia banyak menyebarkan artikel menyesatkan secara online selama kampanye pemilu presdiden beberapa waktu lalu. Sementara itu tuduhan itu masih perlu pembuktian, mungkin lebih adil bila ada yang mengatakan bahwa beberapa berita palsu yang dimunculkan memang khusus dirancang untuk mempengaruhi opini pembaca dalam menentukan pilihannya.

Keempat, menyalahgunakan Data. "Have a Beer, It’s Good for Your Brain," itu bunyi salah satu laporan yang dimuat di majalah Inc (http://www.inc.com/will-yakowicz/beer-improves-brain-function.html). Tapi Anda harus menunggu beberapa menit terlebih dulu sebelum Anda mengambil setengah liter (atau dua) berikutnya. Itu merupakan tulisan yang didasarkan pada hasil pada tikus - bukan pada manusia. Jumlah bir yang dikomsusi agar pikiran membuat pikiran jadi bagus itu  setara dengan 28 tong pada manusia. Ini adalah contoh yang bagus tentang bagaimana media sering salah menafsirkan penelitian, menawarkan dan menampilkan suatu temuan semenarik meski tidak benar-benar berlaku untuk Anda. Parahnya, tulisannya sering tidak didukung keilmupengetahuanan.

Kelima, apa yang disebut dengan Imprecise and Sloppy. Misalnya, ada tulisan menyebutkan bahwa 1 diantara 5 CEO itu Psikopat. Judul tulisan ini bisa dijumpai di banyak media mulai dari the Telegraph (http://www.telegraph.co.uk/news/2016/09/13/1-in-5-ceos-are-psychopaths-australian-study-finds/) hingga Washinton Post (https://www.washingtonpost.com/news/on-small-business/wp/2016/09/16/gene-marks-21-percent-of-ceos-are-psychopaths-only-21-percent/?utm_term=.568bc28d3355).


Karena dia seorang CEO, Dr. John Johnson menyebut kesimpulan itu salah, karena dia (akunya) bukanlah seorang psikopat. Penelitian itu didasarkan pada survei pada  profesional di industri rantai pasokan, bukan CEO. Sebuah headline tentang professional di rantai pasokan mungkin tidak seksi, tapi berbicara tentang CEO memberikan kesan yang salah.

Senin, 28 November 2016

Eksotis dan Uniknya Pasar Asia



                                                 Judul Buku          : Going East
                                                 Penulis                 : Rudolf Tjandra
                                                 Penerbit               : Afterhours Books
                                                 Tebal Buku          : 215 halaman

Melihat Selintas judul dan warna sampul buku ini, sempat terlintas dalam pikiran buku itu membahas tentang pasar China. Sebab bagaimana pun China kini telah menjadi raksasa dunia yang mungkin telah mengambil posisi Amerika Serikat sebagai lokomotif bisnis dunia. Pertanyaan yang muncul dalam pikiran adalah kenapa China? Masih adakah peluang bagi perusahaan Indonesia untuk masuk ke pasar China. Saya baru menyadari kalau buku ini tidak sekadar membahas pasar China, melainkan bisnis negara-negara Timur Jauh setelah membaca Bab II buku ini.
Ini juga yang menarik perhatian saya karena penulis buku ini juga memasukkan pasar ASEAN. Menurut penulis buku ini, perkembangan ekonomi negara-negara Asia Timur kini membuat kawasan ini menjadi yang paling sukses di dunia. Tidak hanya perusahaan-perusahaan di China, Hongkong, Macau, Taiwan, Jepang dan Korea Selatan yang berkembang, perusahaan-perusahaan di kawasan ASEAN juga tumbuh melesat. 
Banyak juga perusahaan mutinasional yang telah memanfaatkan peluang yang ada Asia. Unilever, Nestle, Samsung, Lenovo, Lo’oreal telah memperluas kantor regionalnya dan menjadikannya sebagai unsur penting dalam mengembangkan bisnis mereka. Keberhasilan yang telah dinikmati para pioneer ini bukanlah sesuatu yang berlaku umum. Artinya setiap perusahaan multinasional berhasil ketika masuk ke pasar lokal. 
Banyak faktor pendukung yang membuat ekonomi Asia berkembang. Iklim politik yang kondusif untuk industri dan perdagangan, ketersediaan sumber daya alam, dan ketersediaan tenaga kerja mulai dari yang kelas pekerja hingga yang memiliki keahlian dengan biaya yang relative rendah. Dalam masyarakat modern, tingginya tingkat diferensiasi structural, makin terspesialisasi fungsi-fungsi dalam masayarakat, dan otonomi sistem ekonomi dari pemerintah merupakan kontribusi besar bagi perkembangan perdagangan dan industri serta kesejahteraan.
Dalam situasi yang kondusif tersebut, bagaimana perusahaan lokal mampu tumbuh dan berkembang meski tidak memiliki kekayaan sumber daya yang tidak sebesar perusahaan multinasional yang juga pesaing mereka. Bagaimana perusahaan-perusahaan lokal itu mampu menghasilkan, setidaknya dalam negeri, pasar merek terkemuka. 
Bagi saya pertanyaan itu relatif, sebab bagaimanapun saat ini pasar global didominasi oleh perusahaan-perusahaan multinasional (MNC) yang berasal dari berbagai belahan dunia, termasuk negara-negara dunia ketiga. Keragaman budaya merupakan tantangan utama sekaligus peluang yang dihadapi perusahaan multinasional dan lokal dalam menerapkan strategi dan praktek pemasaran mereka.
Dalam situasi seperti itu wajar bila kemudian muncul perdebatan apakah yang menjadi dasar bagi praktek pemasaran internasional. Dalam konteks ini, pemasar internasional dihadapkan pada pertentangan sehubungan dengan budaya di berbagai belahan di dunia. Pada tingkat politik dan sosial, semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa subkultur di banyak bagian dunia kini mulai diekpresikan untuk menyatakan politik dan identitas sosial mereka. Ini dapat dilihat dari sering terjadinya berbagai konflik etnis.
Dalam konteks pola konsumsi, ada bukti yang berkembang bahwa kini muncul dan berkembang pola pasar dunia. Ini setidaknya ditunjukkan oleh tren produk dan merek menyebar global yang mendominasi pasar dunia. Beberapa kritikus khawatir tentang efek samping dari pemasaran global pada identitas budaya mereka sendiri. Perkembangan ini menimbulkan tantangan bagi pemasar, yang harus mampu mengembangkan pasar global sementara pada saat yang sama mempertahankan identitas budaya lokal, menghindari cap sebagai 'perusahaan asing', polusi beragam budaya dan memaksakan imperialisme budaya.
Para pebisnis berbagi keyakinan dan nilai-nilai tertentu, tetapi sangat menyesatkan bila Anda percaya bahwa mereka selalu lebih kuat daripada pengaruh budaya lain (misalnya, budaya nasional). McDonalds, yang mencoba untuk menstandarisasi produknya, harus menyesuaikannya dengan selera lokal. Di India, McDonalds melayani burger domba, dan tidak burger sapi. Tekanan globalisasi juga dapat menyebabkan  penguatan identitas lokal. Di Eropa misalnya, pertumbuhan Uni Eropa bisa dibilang mengarah ke penguatan identitas daerah (seperti dalam kasus Skotlandia). Gagasan bahwa orang-orang dari budaya yang berbeda dapat digabungkan bersama adalah jantung dari konsep 'melting pot', yang secara luas diyakini di Amerika Serikat sampai pertengahan abad ke-20. Hal digantikan oleh konsep pluralisme budaya, atau 'mangkuk salad', di mana unsur-unsur individu mempertahankan identitas mereka sendiri.
Melting pot adalah sebuah metafora untuk menggambarkan masyarakat yang heterogen berubah  menjadi lebih homogeny. Unsur-unsur yang berbeda "mencair bersama-sama" menjadi satu kesatuan yang harmonis dengan budaya umum atau sebaliknya. Untuk masyarakat yang homogen menjadi lebih heterogen melalui masuknya unsur-unsur asing dengan latar belakang budaya yang berbeda yang bisa berakibat pada munculnya potensi disharmoni dengan budaya sebelumnya. Secara historis, fenomena itu sering digunakan untuk menggambarkan asimilasi imigran ke Amerika Serikat.
Globalisasi ekonomi diyakini telah banyak mengurangi hambatan yang pernah ada sebelumnya yang yang memisahkan satu negara dengan negara lainnya. Perdagangan lebih bebas daripada sebelumnya sehingga menciptakan saling ketergantungan yang lebih besar. Akibatnya, selama beberapa tahun terakhir laju konvergensi politik dan ekonomi meningkat secara dramatis sehingga kemiripan struktur politik dan ekonomi negara seakan muncul. Selain itu, banyak ahli percaya bahwa globalisasi ekonomi telah melemahkan kontrol negara. Globalisasi melonggarkan cengkeraman negara atas kebebasan populer dengan memungkinkan warga untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut masalah politik dan ekonomi penting yang dihadapi negara.
Namun, beberapa sarjana politik internasional, menolak klaim mengenai efek universal globalisasi ekonomi politik. (Brown dan Jones, 1995; Dupont, 1996; Fukuyama, 1989 dan 1995; Haggard, 1990; Huntington, 1991; Jones, 1995; Kaushikan, 1993; Scalapino, 1989; Tai, 1993; Tamney, 1991; Zakaria, 1994). Mereka berpendapat bahwa budaya politik yang unik di negara-negara Asia melemahkan efek globalisasi. Dengan demikian, dampak globalisasi dirasakan berbeda di Asia dibandingkan yang dirasakan oleh kawasan di belahan dunia lainnya.
Ada hal lain yang membuat pasar Asia unik. Para pakar menunjukkan pengaruh Konfusianisme dalam membangun sikap masyarakat terutama masyarakat Asia Timur. Norma-norma perilaku masyarakat di banyak negara Asia Timur masih sangat didasarkan pada cita-cita Konfusianisme. Selain itu selama bertahun-tahun, kolusi antara bisnis dan pemerintah yang melanggengkan struktur kekuasaan yang ada dalam masyarakat telah muncul dan dilembagakan di banyak negara Asia Timur. Akibatnya, kontrol negara-negara Asia terhadap warga mereka tetap kuat dibandingkan dengan warga di belahan dunia lainnya, membuat dampak dari globalisasi ekonomi menjadi berkurang.
Keunikan pasar Asia yang membuat perusahaan multinasional yang bergerak di barang-barang konsumen (consumer goods) berhasil di Amerika Serikat atau Eropa misalnya, tidak serta merta mengekspor model bisnis, produk dan rumus pemasaran mereka di kawasan Asia seperti Indonesia, Myanmar atau Thailand. Pasar yang berkembang ini berbeda dalam hal kebijakan pemerintah, peraturan perundang-undangan, perilaku ekonomi, sistem distribusi, kebutuhan dan perilaku konsumennya. Sebagian besar produsen dunia barang konsumsi yang mencoba menjual produk satu produk untuk seluruh dunia menemui kegagalan di pasar Asia.
Selama bertahun-tahun Procter & Gamble menjalankan bisnis diapers sekali pakai mereka seakan tanpa gairah. Salah satu hal yang membuat tak bergairah karena mereka menempatkan label ekonomi sebagai variabel utama dalam keputusan mengembangkan atau menghentikan bisnisnya itu. Karakteristik konsumen Indonesia adalah menginginkan barang-barang dengan harga murah tapi di sisi lain mereka tidak ingin menggunakan barang yang dicap murahan.  Dalam situasi seperti itu, P&G lebih suka mengimpor produk diapers dan menjalankan kampanye pemasarannya di luar Indonesia.
Untuk menggarap pasar Inndonesia dan negara Asia Timur membutuhkan pendekatan baru. Agar berhasil dibutuhkan pemahaman karakter dan budaya konsumen Asia. Yang diperlukan disini bukan sekadar pendekatan etic atau keilmuan, yang juga penting adalah pendekatan emic atau berdasarkan sudut pandang budaya. Keberhasilan pendekatan emic yang dilakukan Unilever dan kekuranggairahan P&G dalam memasarkan diapers menunjukkan kevalidan pendekatan emic. Unilever selalu membangun merek didasarkan pada akar budaya setempat. Itu juga yang dilakukan McD setelah beberapa tahun masuk ke asar Indonesia dengan menambahkan nasi dan sambal pada menu yang ditawarkan.

Pandangan-pandangan yang dikemukakan penulis -- yang telah bertahun-tahun menekuni dunia pemasaran produk konsumen -- dalam buku ini membuat buku ini menjadi perlu untuk dibaca oleh para praktisi yang ingin memperluas pasar poduknya di kawasan Asia Timur dan akademisi yang selalu ingin mengetahui perubahan yang terjad di lingkungan pemasaran dan ekonomi ekonomi. Seperti yang dikatakan Dato Ahmad Fasisal Jaafar saat mengomentari buku ini, Going East membetrikan perspektif kekinian dan pemikiran baru pada topic pasar masyarakat ekonomi ASEAN dan implikasinya pada semua pemimpin bisnis. 

UNFRIENDING



Musim panas 2008, Anna Mayer bersiap-siap untuk memulai kuliah semester pertamanya di sebuah sekolah pascasarjana di kotanya. Saat luang, dia menulis blog pseudonim tentang perjuangannya agar bisa masuk ke perguruan tempat dia akan mengikuti pendidikan S2-nya yang berat, dan masalah pribadi lainnya. Dia sangat menikmati interaksinya dengan pembaca dan komentar pada blognya. Dia juga makin menikmatinya manakala mendapati dukungan atas ide-idenya dari para pembaca yang muncul di papan dukungan blognya.
Tiba-tiba suatu hari, sebelum sekolah dimulai, saat dia mencari namanya, dia menemukan postingan yang menggambarkan dirinya sebagai "bodoh, pelacur gemuk dan jelek" yang "tidak bisa memanfaatkan arahan dari seorang laki-laki." Pengirim pesan tak bernama (anonymous) itu mencantumkan alamat e-mail, nomor telepon, dan profil situs kencannya. Dia juga menerima e-mail peringatan yang mengatakan bahwa penulis mengetahui dimana dia tinggal. Pengirim pesan itu juga mengejek Mayer sebagai penulis blog pseudonym yang dalam tulisannya cenderung melebih-lebihkan diri.  
Hari-hari berikutnya, komentar blognya makin seru. Di blognya muncul berbagai nama seperti "Anna Mayer Fat Ass Chronicles" dan "Anna Mayer Keeps Ho'Ing It Up." Pesan-pesan dalam tulisan itu  mengingatkan orang lain dengan mengatakan bahwa Mayer mengidap herpes yang harus segera diobati. Pengirim pesan lainnya mengklaim bahwa dia memiliki gangguan bipolar dan catatan kriminal sehingga tak layak mengekspos diri di depan umum.
Komentar rasis yang selama ini tidak pernah menimpanya itu kini seakan tak mau lepas darinya. Bahkan sebuah tulisan yang mencantumkan alamat e-mail profesornya, jelas-jelas meminta pembaca untuk memberitahu mereka tentang Mayer sebagai seorang rasis yang memuakkan. Seseorang menyetel  account Twitter di nama Mayer, mengklaim Mayer sedang mengkhayalkan sebuah pemerkosaan dan seks yang kasar.
Ratusan posting seakan khusus ditujukan untuk menyerangnya. Mayer tidak bisa menebak identitas orang yang mempost pesan tersebut. Dia bertanya-tanya apakah pelecehan itu sebagai pembalasan karena membela teman sekelas yang membuat blog tentang fantasi seksualnya. Dalam sebuah komentar anonim, Mayer memang telah menunjukkan dukungan untuk teman sekelasnya. Lalu apakah ada yang salah atau tidak biasa bila ada seseorang yang memiliki fantasi. Mungkinkah orang yang tersendiri Mayer yang marah? (Citron, Danielle Keats. 2014. Hate Crimes in Cyberspace. President and Fellows of Harvard College).
Itu fenomena di blog dimana setiap orang bisa mengakses dan membacanya. Di edia sosial, seperti Facebook dimana tidak semua orang bisa mengaksesnya, fenomenanya mirip-mirip dengan fenomena diatas.  Selama beberapa bulan persiapan pemilihan presiden AS, Facebook seakan menjadi tong “kemarahan” dan amukan pendukung baik Hillary maupun Trump. Kedua kubu pendukung dan penentang salah satu calon saling unfriending.
Jaringan sosial terbesar di planet itu mengatakan bahwa pemilihan presiden 2016 menghasilkan lebih dari 5,3 miliar postingan, suka, komentar dan _share_. Selama Januari-Oktober 2016, lebih dari 110 juta orang Amerika terlibat dalam perdebatan online tentang kedua calon. Tak ada data resmi dari Facebook tentang jumlah orang yang diunfriend. Namun diperkirakan sekitar 0,02% pengguna Facebook diunfriend temannya. Unfriending merupakan tindakan pencoretan atau penghapusan nama seseorang dari daftar nama teman yang mencoret atau menghapusnya.

Postingan soal politik, agama dan ras cenderung membuat dunia seakan terpolarisasi, bahkan terbelah. Ketika pandangan dan dunia terpolarisasi, maka pernyataan atau komentar apapun dalam media sosial baik itu menentang, menduku, bahkan yang netrakl sekalipun, cenderung “diprotes.” Ketika seseorang mendukung suatu kelompok, kelompok lainnya memprotes dan sebaliknya. Ketika seseorang yang mungkin berusaha netral pun cenderung dicari narasi yang menegasikan kenetralan itu.
Christopher Sibona, A PhD dari University of Colorado Denver Business School pernah melakukan penelitian dengan mensurvei lebih dari 1.500 pengguna Facebook dan pengikut twitter tentang alasan mengapa orang melakukan _unfriend_. Dari survey itu dia menyimpulkan ada 3 alasan orang untuk unfriending.
Pertama, seseorang akan diunfriend karena sering memposting hal-hal yang tidak penting, memposting hal-hal yang tidak pantas, dan ketiga, memposting topic yang cenderung membuat terpolarisasi seperti agama dan politik. Topik ini cenderung membuat orang merasa tidak nyaman, jengkel, dan terprovokasi terutama jika postingan itu dilakukan terus-menerus.
Sedikit tanda-tanda bahwa sikap ekstrim terhadap orang memiliki sikap politik dan ideology yang berbeda menurun. Para peneliti malah memprediksi bahwa fenomena tersebut cenderung memburuk (Baldassarri & Gelman, 2008; Smerconish, 2011).
Para peneliti kini banyak yang tertarik melakukan penyidikan tentang fenomena polarisasi sikap ini, termasuk dalam hal bagaimana pola komunikasi yang terjadi selama perdebatan misalnya, dan bagaimana ideologi, ketakutan, geografi, dan media mempengaruhi cara orang membangun konsep dan memposisikan isu-isu saat mereka melakukan perdebatan di media sosial atau media pesan instan.  Temuan menunjukkan bahwa semakin sering seorang individu dan kelompok berbicara tentang suatu isu, politik misalnya, pandangan mereka menjadi semakin ekstrim (Mackie, 1986; Sia, Tan, & Wei, 2002; Sunstein, 2009).
Selain itu, pada saat dihinggapi rasa ketakutan, seperti setelah peristiwa 11 September 2001, individu cenderung untuk membagi dunia menjadi dua kubu -- yakni mereka dan lainnya – sebagai upayanya untuk memulihkan rasa kepastian, keamanan, dan kesopanan. Ketika perasaan itu muncul, prang cenderung membuat stereotip _kami_ dan _mereka_ dan makin membekukan keyakinan sehingga muncul sikap dogmatism. Konsekuensinya, karena stereotip itu maka orang makin susah mengadopsi atau menerima gagasan yang berbeda dengan gagasannya.
Polarisasi geografi kini juga makin marak. Warga Amerika yang selama ini merasa bahwa budaya masyarakat homogen (Bishop, 2004), isolasi geografis yang cenderung menurunkan akses ke pandangan yang berbeda, bisa jadi dapat meningkatkan pandangan yang sudah ekstrim. Dalam konteks pemerataan pembangunan misalnya, ketika akses informasi tentang pebagunan wilayah makin susah, orang cenderung memiliki pandangan yang ekstrim tentang ketimpangan karena ketidaktahuan atau ketiadaan data tentang pemerataan pembangunan

Selain itu, media juga ikut  berkontribusi mengintensifkan polarisasi. Bukan hanya karena semakin banyaknya media, perkembangan teknologi juga semain memudahkan seseorang atau kelompok  mengekspresikan pandangannya. Di sisi lainnya, individu cenderung mencari dan mengkonsumsi media yang memperkuat, menonjolkan, dan selanjutnya mempolarisasi keyakinan mereka (Abramowitz, 2011). Akibatnya, saling balas cacian bukan lagi sesuai yang tabu, bahkan semakin sering muncul ketika orang-orang yang berada di salah satu posisi yang terpolarisasi itu menjelek-jelekkan lawannya dengan menyebut mereka salah informasi, bodoh, dan jahat (Pearce & Littlejohn, 1997). Jadi, bagaimana sebaiknya menurut Anda?

Minggu, 20 November 2016

Street Marketing


Empat tahun silam, Tipp-Ex - merek cairan koreksi terlaris dari Eropa --- memposting serangkaian video The Tipp-Ex (perience) dengan fitur beruang dan pemburu di Youtube. Di salah satu videonya,  ditampilkan seorang pemburu meminta pengunjung untuk memilih apakah dia harus menembak beruang tersebut atau  tidak. Jika pemirsa memilih "menembak beruang itu," pemburu menolak. Pemburu kemudian mengambil Tipp-Ex dan menghapus kata "menembak."
Pemirsa kemudian diberi kesempatan menuliskan kata kerja apapun untuk mengganti kata "menembak" tersebut. Jika pemirsa menulis "tarian" misalnya, pada video tersebut pemirsa akan melihat sang pemburu menari dengan beruang. Menarik. Untuk memberikan keleluasaan kepada pemirsa memilih kata kerja, Tipp-Ex memproduksi empat puluh skenario video yang berbeda dengan empat puluh pilihan kata kerja.
Dalam kampanye lain, pemburu dan beruang berada dalam sebuah pesta ulang tahun. Tiba-tiba sebuah rudal masuk dan mengancam mengganggu pesta. Lagi-lagi dalam video itu pemirsa diberi alternative untuk memilih frasa "mengakhiri pesta" atau "tidak mengakhiri pesta." Video tersebut merupakan video kampanye yang banyak diperbincangkan selama 2011. Video tersebut menghasilkan lebih dari 20 juta hits di YouTube dalam waktu kurang dari dua tahun.
Itulah yang disebut dengan Marcel Saucet, penulis buku Street Marketing sebagai kampanye pemasaran alternative. Pemasaran alternatif merupakan respon langsung terhadap perubahan harapan baik konsumen dan perubahan sosial. Tapi seperti halnya dengan pendekatan konvensional, bagi merek,  kampanye alternative ada kondisi seperti sekarang menjadi suatu keharusan.
Pendekatan kampanye seperti ini memiliki dua keuntungan. Pertama, operasionalisasi dan biaya pengembangannya, pada  umumnya jauh lebih rendah daripada kampanye berbasis media tradisional. Juga, karena mereka begitu asli, mereka juga memberi merek kesempatan untuk menghasilkan banyak buzz tentang strategi komunikasi mereka.
Kelesuan ekonomi yang dihadapi dunia saat ini telah memaksa perusahaan untuk menjadi sangat kreatif dalam hal mencari tahu bagaimana mempertahankan afeksi pelanggannya. Sebab seperti diketahui, konsumen modern cenderung kurang mengkonsumsi suatu merek atau produk tanpa berpikir tentang apa yang mereka lakukan. Mereka juga cenderung memiliki keahlian dan pengetahuan yang lebih tinggi tentang produk. Bahkan mereka mengetahui  bisa jadi mengetahui lebih rinci dari atribut yang membedakan antara suatu produk dengan produk lainnya.
Pertanyaannya adalah mengapa konsumen kurang enggan meninggalkan produk dari satu merek ke merek lain yang memenuhi harapan mereka lebih baik. Buku ini mencoba memberikan jawabannya sehingga ketika pemasar menghadapi persoalan yang sama, alternative yang disosorkan penulis bisa menjadi pertimbangan.  
Pemasaran alternative juga makin penting karena saat kelesuan ekonomi atau pada situasi normal perusahaan juga harus bersaing dengan makin meningkatnya multi-kompetisi, sesuatu yang telah menjadi masalah bagi banyak bisnis. Dalam upaya mereka untuk meningkatkan pangsa pasar, mereka harus beradaptasi dengan semua hal-hal baru, termasuk ketika mereka mencoba untuk meningkatkan penjualannya.
Sebuah kampanye komunikasi selalu berusaha untuk mengejar salah satu dari dua gol: meningkatkan pengakuan dari konsumen atau mempromosikan produk, layanan, atau merek. Kampanye pemasaran konvensional dapat menawarkan respon terhadap beberapa kendala kontekstual yang dibahas di atas karena beberapa alasan.
Pertama, operasi baru tersebut - baik yang baru karena mereka menggunakan teknologi digital atau karena mereka melakukannya di tempat di luar point of sales – membantu merek untuk membuat kontak langsung dengan konsumen, yang saat ini cenderung mengharapkan transparansi yang lebih besar dari perusahaan. Kedua, kampanye tersebut dapat menghasilkan keuntungan yang signifikan atas investasi jika perusahaan mampu menghasilkan buzz besar. Hal ini karena mereka umumnya biaya kamanye tersebut lebih rendah dari biaya kampanye tradisional. Tapi jika berhasil, mereka bisa sama-sama efektif.
Ketiga, operasi ini tidak hanya optimal secara finansial tetapi juga meningkatkan citra merek perusahaan. Orisinalitas adalah sesuatu yang perusahaan dapat gunakan untuk menunjukkan kepada  konsumen bahwa mereka bersedia untuk memberikan sesuatu yang mengejutkan buat mereka. Mereka juga bersedia untuk bekerjasama, bahkan saat mereka menekankan inovasi dan kreativitasnya. Konsumen dengan cepat menjadi sadar - dan berterima kasih atas upaya yang – telah dilakukan perusahaan.
Tujuan utama dari penulisan  buku ini adalah untuk memperlihatkan kepada para praktisi pemasaran/komunikasi pemasaran  dan mahasiswa bahwa dalam beberapa waktu belakangan ini banyak sekali perubahan. Salah satu efek dari perubahan tersebut adalah munculnya pendekatan komunikasi pemasaran baru, yang dimulai pemasaran jalanan dan buzz lainnya yang berhubungan itu.
Setelah menuntaskan buku ini, pembaca diharapkan memperoleh pemahaman tentang berbagai macam pendekatan baru dalam pemasaran dan komunikasi pemasaran antara lain pendekatan pemasaran jalanan dan pembicaraan dari mulut ke mulut yang dihasilkannya. Dengan demikian, bila Anda seorang manajer pemasaran, Anda akan melihat pendekatan ini meruakan suatu peluang nyata untuk meningkatkan keakraban perusahaan dengan masyarakat. Ini menjadi semakin penting karena di era seperti sekarang ini mempromosikan produk atau jasa secara langsung kepada pelanggan yang kini semakin menuntut cukup sulit.
Bagian pertama buku ini menjelaskan berbagai teknik marketing konvensional seperti viral, stealth, ambush, dan sebagainya. Bagian kedua, berkonsentrasi pada munculnya budaya jalanan di mana sejumlah isyarat-isyarat atau kode tertentu bermunculan. Kode-kode itu secara tidak langsung dapat secara luas mereplikasi komunikasi mereka. Yang ketiga menunjukkan kepada pembaca organisasi kampanye pemasaran jalanan, yang selalu disebarkan melalui pendekatan pemasaran buzz. Bagian keempat dan terakhir menawarkan panorama dari daerah di mana teknik-teknik seperti itu  diterapkan

Tiga ide kunci yang dikembangkan dalam kaitannya dengan teknik pemasaran yang tidak konvensional tersebut, khususnya yang melibatkan jalanan dan buzz marketing, yakni mereka merupakan respon langsung terhadap perubahan social, secara jelas mereka berubah menjadi pemasaran masa depan, dan mereka memberikan kesempatan besar bagi sebagian besar perusahaan. Jadi Anda pilih yang mana? Atau ketiganya?


Kamis, 17 November 2016

Menjadi Influencer Sukses


Influencer kini menjadi kata yang banyak disebut di industri pemasaran. Mengapa? Dengan memanfaatkan pengaruh orang melalui cara yang benar, Anda dapat mengarahkan seseorang memiliki kesadaran merek, mendorong orang “melihat dan mencoba” dan penjualan merek Anda. Influencer kini seakan menjadi lokomotif perubahan yang signifikan dalam industry pemasaran. Intinya, jika Anda adalah seorang influencer, atau katakanlah menguasai ketrampilan sebagai influencer di bidang pemasaran influencer, dengan perjalanan yang begitu mudah Anda dapat mencapai tujuan Anda.
Pada saat yang sama, konsumen belajar makna dari temuan baru yang muncul di jaringan sosial dan mengeksplorasi kemungkinan terkait dengan seberapa besar pengaruh mereka, apa artinya, dan juga cara untuk meningkatkannya. Merek juga mencari cara untuk memahami angka-angka yang muncuk dalam model pengukuran penagruh untuk mengidentifikasi apakah orang itu tepat dan cara mereka untuk menghubungkannya. Apakah itu melalui kegiatan advokasi atau promosi, membangun hubungan, atau melalui peristiwa penting, segala sesuatunya dimulai dengan pemahaman tentang apakah mereka bisa mempengaruhi atau tidak. Sekali pengaruh dan cara kerjanya dipahami, merek akan terus mengembangkan strategi dan prosesnya untuk berkawan dengan konsumen terhubung agar menjadi orang “berpengaruh” di jaringan mereka.
Kenapa bisa begitu? Saat ini orang bisa menjadi influencer, meski mungkin hanya sebagai mikro-influencer, atau orang yang dapat mempengaruhi perubahan dalam kelompok yang kecil. Kalau orang itu memang mendedikasikannya sebagai influencer dan mengetahui langkah-langkah yang tepat menuju kearah itu, orang dapat mencapai tingkat berikutnya, yakni sebagai seorang influencer yang ahli untuk subjek tertentu. Tingkatan mikro tersebut, menurut John Lincoln, penulis buku Digital Influencer, A Guide to Achieving Influencer Status Online, biasanya bisa dicapai dalam dalam waktu 1 sampai 5 tahun, tergantung darimana dan dimana mereka mulai.
Yang sudah tinggi dikenal sebagai sebagai influencer makro. Mereka ini umumnya seseorang yang sudah  besar seperti Oprah, Michael Jordan atau Tony Robbins. Untuk mencapai tingkat ini, umumnya membutuhkan waktu yang jauh lebih banyak dan lama. Tingkatan ini yang tertinggi. Namun, untuk pebisnis tak perlu sampai ke tingkatan yang ahli seperti Oprah tadi. Anda tak perlu menjadi Oprah, tapi Anda mungkin bisa memanfaatkannya. Anda tak perlu memiliki yang penting adalah akses ke tingkatan itu. Itu saja mampu  mengantarkan Anda sebagai seorang yang ahli dan top di industri dan bisnis Anda seperti yang orang inginkan.
Menjadi influencer membtuhkan dedikasi sehingga terus tumbuh. Ini berarti mereka harus mendidik, berkontribusi untuk inovasi industri, membantu orang lain, membangun hubungan, memperbaiki diri dan mengambil semua ini serta tahu cara menggabungkannya secara efektif dalam pemasaran online. Lincoln mendefisikan digital influencer sebagai sebuah persona online dengan kekuatan untuk merangsang pola pikir dan mempengaruhi keputusan orang lain melalui hal-hal nyata atau dirasakan publik memiliki otoritas, pengetahuan, posisi, distribusi atau hubungan."
Jadi, pada dasarnya digital influencer itu adalah orang yang memiliki kekuasaan secara online untuk membuat sesuatu terjadi. Banyak orang berbicara tentang influencer. Tetapi, mereka gagal menyebutkan perbedaan antara influencer biasa dan digital influencer. Perbedaan utamanya adalah bahwa ada elemen online digital influencer. Persolannya, banyak influencer yang tidak mengetahui bahwa mereka dapat menggunakan status mereka untuk mengembangkan saluran pemasaran online yang signifikan untuk bisnis mereka.
Digital influencer mengetahui dan faham benar tentang saluran online serta menggunakannya untuk mendorong statusnya sebagai influencer ke tingkatan berikutnya. Misalnya, influencer digital tahu bahwa dia harus menghabiskan sebagian besar waktu mereka di Reddit. Mereka juga akan tahu bagaimana menggunakan LinkedIn untuk mendapatkan pelanggan.

Buku ini bisa membantu Anda memecahkan masalah terkait dengan digital influencer. Buku ini bisa dianggap sebagai suatu karya yang jenis dan model influencer klasik yang bisa memberikan pedoman di banyak hal terkait influencer dan memberikan kunci untuk menjadi influencer sukses. Mungkin karena itu, Forbes menganggapnya sebagai salah satu buku marketing terbaik untuk dibaca tahun ini

Minggu, 13 November 2016

Sekarang, Trump Butuh Rebranding atau Reposisitoning?


Pemilihan Presiden Amerika Serikat menjadi dramatis beberapa jam setelah pemilih menentukan pilihannya, 9 November lalu. Calon dari Republik, Donald Trump, memenangi pemilihan dengan suara mayoritas luar biasa, mengalahkan opini yang selama itu diciptakan oleh hasil jajak pendapat yang menempatkan pesaingnya favorit Demokrat, Hillary Clinton.
Trump memenangi pemilihan dengan perolehan 276 electoral treshold, sementara lawannya Hillary Clinton dari Partai Demokrat hanya mengantongi 218. Trump meraih 57.059.713 suara (48 persen), sedangkan Hillary hanya 56.060.334 suara (47 persen). Perolehan suara Trump 276 melebihi batas maksimal 270 untuk menang. Sementara Hillary masih jauh dari angka 270.
Inilah akhir dari kerja keras kampanye kedua kandidat selama kira-kira 18 bulan, setelah Clinton mengumumkan pencalonan dirinya sebagai presiden pada April 2015 dan Trump Juni 2015. Tidak hanya menang Pilpres, Partai Republik juga memenangi pemilu dengan dengan merebut 51 kursi di senat dan Demokrat hanya 47 kursi. Sementara parlemen atau DPR AS, juga menang dengan 235 kursi, sementara Demokrat hanya 183 kursi.
Jajak pendapat paling akhir baik yang dikutip BBC, Bloomberg dan CBS News, menunjukkan rata-rata akhir 48% untuk Clinton dan 44% untuk Trump. Tapi semua itu berubah pada pagi hari tanggal 9 November di 05:00 GMT (00:00 EST), setelah Trump memenangkan negara bagian Ohio dan Florida. Ini menunjukkan bahwa jajak pendapat tidak selalu bisa dipercaya. Pada 07:34, Trump terpilih sebagai presiden ke-45 Amerika Serikat, dan memunculkan riak global besar karena sebagian besar orang kaget.
Di akhir masa kampanye, dua-duanya diterpa cerita negative. Clinton mendapat pemberitaan negative sekitar penggunaan server email pribadi untuk email resmi, sementara Trump menimbulkan kontroversi sendiri melalui penolakannya untuk menjelaskan sekitar pajaknya - yang kemudian bocor – dan komentar menghinanya terhadap kaum imigran dan perempuan.
Ribuan pengunjukrasa yang anti Donald Trump turun ke jalan-jalan di berbagai kota di seantero Amerika Serikat pada Sabtu untuk memprotes presiden yang baru terpilih itu. Ribuan demonstran berbaris ke Trump Tower di kota New York Sabtu sore dengan berbagai poster dan seruan termasuk "Black Lives Matter (Hidup Orang Kulit Hitam Berarti" dan "Not My President" (Bukan Presiden Saya)."
Sebagai seorang pebisnis dan dipilih sebagai Presiden AS, Donald Trump tampaknya memahami kebutuhan untuk rebranding. Ini setidaknya telah ditunjukkan saat Agustus lalu ketika dua tertinggal dalamjajak pendapat, kehilangan pangsa pasar, mengkhawatirkan pendukung keuangannya, dan pencitraan yang dilakukan rival utamanya sebagai produk beracun yang menghasut kebencian dan kefanatikan, dari perspektif bisnis, tidak ada keraguan bahwa yang dibutuhkan Trump adalah rebranding.
Agustus lalu, dia mereshuffle tim kampanyenya. Tone kampanyenya juga berubah. Dia terus berorasi tapi dia juga mengatakan menyesali beberapa ucapan offensifnya. Dalam pertemuannya di New York, dia mengulurkan tangannya kepada pemimpin Hispanik. Dia juga mengisyaratkan bahwa dia juga menyatakan akan mengkaji ulang usulannya untuk mengumpulkan dan mendeportasi jutaan imigran gelap.
Proses rebranding itu mendapat hambatan. Beberapa pendukung yang paling vokal – diantaranya Ann Coulter dan Sarah Palin - menyatakan kemarahan atas saran bahwa Trump mungkin mengusulkan kemungkinan mengizinkan beberapa pendatang illegal untuk bisa tinggal di Amerika Serikat secara hukum. Trump tampaknya bimbang.
Berbicara dalam acara Fox News Bill O'Reilly beberapa waktu lalu, Trump tampaknya secara perlahan akan mengadopsi kebijakan deportasi tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan Pemerintahan Obama. “Apa yang orang tidak tahu adalah bahwa Obama telah mengeluarkan sejumlah orang ke luar negeri,” katanya. “Banyak orang yang dibawa ke luar negeri berdasarkan hukum yang ada. Yah, aku akan melakukan hal yang sama.” Kemudian, berbicara dengan CNN beberapa hari kemudian, dia mundur dengan mengatakan bahwa di bawah pemerintahan Trump, semua imigran gelap harus meninggalkan negara itu sebelum mengajukan permohonan status hukum.
Persoalan yang dihadapi Trump, seperti yang ditulis John Cassidy di www.newyorker.com, Agustus lalu sebenarna – seperti yang dihadapi pebisnis yang bermasalah dan konsultan branding – adalah menu sehari-hari mereka. Dalam konteks ini, ketika muncul ketegangan antara kebutuhan yang mendesak untuk mengubah persepsi publik terhadap perusahaan mereka dan risiko “diasingkan” pelanggan dan stakeholdernya – dalam hal Trump adalah pendukungnya – pilihannya bukan melakukan demo tandingan. "Pembalasan" tentu akan menghasilkan pembalasan baru. Bila demikian persoalan akan berlarut shingga energi sosial menjadi tidak produktif. Karenanya, bagi Trump, pilihannya adalah melakukan rebranding.
Dalam konteks produk atau organisasi, rebranding adalah pilihan yang paling popular terutama ketika sebuah merek yang ingin membuang  citra sebelumnya yang negatif. Misalnya, Philip Morris mengubah namanya sendiri menjadi Altria. Atau ketika merek menghadapi tekanan persaingan seperti yang dilakukan McDonald. Rebranding hanya mengubah identitas merek. Ini biasanya dilakukan dengan mengubah sebagian besar atau semua elemen identitas merek seperti nama, ikon, warna, jenis huruf (font) dan tagline. Perubahan identitas juga dapat disertai dengan reposisi merek tapi bisa juga tidak.
Berbeda dengan rebranding, reposisi bisa dilakukan tanpa mengubah identitasnya. Reposisi berfokus pada mengubah asosisiasi merek yang menempel di benak pelanggannya atau kadang-kadang pesaingnya. Ini biasanya memerlukan perubahan janji dan kepribadian merek. Dalam reposisi, slogan sering diubah untuk mengkomunikasikan janji baru. Bahkan kadang-kadang identitas itu sendiri diperbarui atau disegarkan untuk memperkuat perubahan positioning merek. Namun, sebagian besar reposisi merek tidak menghasilkan identitas benar-benar berubah.
Sebuah kampanye rebranding yang sukses bisa dilihat dari dua hal. Pertama, mengejutkan sehingga menarik perhatian orang. Menarik perhatian orang tidak harus dilakukan dengan mengadakan demo tandingan. Kedua, membuat mereka berpikir lagi tentang perusahaan atau produk. Ini membutuhkan penyampai pesan -- dalam hal ini Trump atau orang terdekatnya -- pesannya sendiri dan medianya harus kredibel.