Senin, 28 November 2016

Eksotis dan Uniknya Pasar Asia



                                                 Judul Buku          : Going East
                                                 Penulis                 : Rudolf Tjandra
                                                 Penerbit               : Afterhours Books
                                                 Tebal Buku          : 215 halaman

Melihat Selintas judul dan warna sampul buku ini, sempat terlintas dalam pikiran buku itu membahas tentang pasar China. Sebab bagaimana pun China kini telah menjadi raksasa dunia yang mungkin telah mengambil posisi Amerika Serikat sebagai lokomotif bisnis dunia. Pertanyaan yang muncul dalam pikiran adalah kenapa China? Masih adakah peluang bagi perusahaan Indonesia untuk masuk ke pasar China. Saya baru menyadari kalau buku ini tidak sekadar membahas pasar China, melainkan bisnis negara-negara Timur Jauh setelah membaca Bab II buku ini.
Ini juga yang menarik perhatian saya karena penulis buku ini juga memasukkan pasar ASEAN. Menurut penulis buku ini, perkembangan ekonomi negara-negara Asia Timur kini membuat kawasan ini menjadi yang paling sukses di dunia. Tidak hanya perusahaan-perusahaan di China, Hongkong, Macau, Taiwan, Jepang dan Korea Selatan yang berkembang, perusahaan-perusahaan di kawasan ASEAN juga tumbuh melesat. 
Banyak juga perusahaan mutinasional yang telah memanfaatkan peluang yang ada Asia. Unilever, Nestle, Samsung, Lenovo, Lo’oreal telah memperluas kantor regionalnya dan menjadikannya sebagai unsur penting dalam mengembangkan bisnis mereka. Keberhasilan yang telah dinikmati para pioneer ini bukanlah sesuatu yang berlaku umum. Artinya setiap perusahaan multinasional berhasil ketika masuk ke pasar lokal. 
Banyak faktor pendukung yang membuat ekonomi Asia berkembang. Iklim politik yang kondusif untuk industri dan perdagangan, ketersediaan sumber daya alam, dan ketersediaan tenaga kerja mulai dari yang kelas pekerja hingga yang memiliki keahlian dengan biaya yang relative rendah. Dalam masyarakat modern, tingginya tingkat diferensiasi structural, makin terspesialisasi fungsi-fungsi dalam masayarakat, dan otonomi sistem ekonomi dari pemerintah merupakan kontribusi besar bagi perkembangan perdagangan dan industri serta kesejahteraan.
Dalam situasi yang kondusif tersebut, bagaimana perusahaan lokal mampu tumbuh dan berkembang meski tidak memiliki kekayaan sumber daya yang tidak sebesar perusahaan multinasional yang juga pesaing mereka. Bagaimana perusahaan-perusahaan lokal itu mampu menghasilkan, setidaknya dalam negeri, pasar merek terkemuka. 
Bagi saya pertanyaan itu relatif, sebab bagaimanapun saat ini pasar global didominasi oleh perusahaan-perusahaan multinasional (MNC) yang berasal dari berbagai belahan dunia, termasuk negara-negara dunia ketiga. Keragaman budaya merupakan tantangan utama sekaligus peluang yang dihadapi perusahaan multinasional dan lokal dalam menerapkan strategi dan praktek pemasaran mereka.
Dalam situasi seperti itu wajar bila kemudian muncul perdebatan apakah yang menjadi dasar bagi praktek pemasaran internasional. Dalam konteks ini, pemasar internasional dihadapkan pada pertentangan sehubungan dengan budaya di berbagai belahan di dunia. Pada tingkat politik dan sosial, semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa subkultur di banyak bagian dunia kini mulai diekpresikan untuk menyatakan politik dan identitas sosial mereka. Ini dapat dilihat dari sering terjadinya berbagai konflik etnis.
Dalam konteks pola konsumsi, ada bukti yang berkembang bahwa kini muncul dan berkembang pola pasar dunia. Ini setidaknya ditunjukkan oleh tren produk dan merek menyebar global yang mendominasi pasar dunia. Beberapa kritikus khawatir tentang efek samping dari pemasaran global pada identitas budaya mereka sendiri. Perkembangan ini menimbulkan tantangan bagi pemasar, yang harus mampu mengembangkan pasar global sementara pada saat yang sama mempertahankan identitas budaya lokal, menghindari cap sebagai 'perusahaan asing', polusi beragam budaya dan memaksakan imperialisme budaya.
Para pebisnis berbagi keyakinan dan nilai-nilai tertentu, tetapi sangat menyesatkan bila Anda percaya bahwa mereka selalu lebih kuat daripada pengaruh budaya lain (misalnya, budaya nasional). McDonalds, yang mencoba untuk menstandarisasi produknya, harus menyesuaikannya dengan selera lokal. Di India, McDonalds melayani burger domba, dan tidak burger sapi. Tekanan globalisasi juga dapat menyebabkan  penguatan identitas lokal. Di Eropa misalnya, pertumbuhan Uni Eropa bisa dibilang mengarah ke penguatan identitas daerah (seperti dalam kasus Skotlandia). Gagasan bahwa orang-orang dari budaya yang berbeda dapat digabungkan bersama adalah jantung dari konsep 'melting pot', yang secara luas diyakini di Amerika Serikat sampai pertengahan abad ke-20. Hal digantikan oleh konsep pluralisme budaya, atau 'mangkuk salad', di mana unsur-unsur individu mempertahankan identitas mereka sendiri.
Melting pot adalah sebuah metafora untuk menggambarkan masyarakat yang heterogen berubah  menjadi lebih homogeny. Unsur-unsur yang berbeda "mencair bersama-sama" menjadi satu kesatuan yang harmonis dengan budaya umum atau sebaliknya. Untuk masyarakat yang homogen menjadi lebih heterogen melalui masuknya unsur-unsur asing dengan latar belakang budaya yang berbeda yang bisa berakibat pada munculnya potensi disharmoni dengan budaya sebelumnya. Secara historis, fenomena itu sering digunakan untuk menggambarkan asimilasi imigran ke Amerika Serikat.
Globalisasi ekonomi diyakini telah banyak mengurangi hambatan yang pernah ada sebelumnya yang yang memisahkan satu negara dengan negara lainnya. Perdagangan lebih bebas daripada sebelumnya sehingga menciptakan saling ketergantungan yang lebih besar. Akibatnya, selama beberapa tahun terakhir laju konvergensi politik dan ekonomi meningkat secara dramatis sehingga kemiripan struktur politik dan ekonomi negara seakan muncul. Selain itu, banyak ahli percaya bahwa globalisasi ekonomi telah melemahkan kontrol negara. Globalisasi melonggarkan cengkeraman negara atas kebebasan populer dengan memungkinkan warga untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut masalah politik dan ekonomi penting yang dihadapi negara.
Namun, beberapa sarjana politik internasional, menolak klaim mengenai efek universal globalisasi ekonomi politik. (Brown dan Jones, 1995; Dupont, 1996; Fukuyama, 1989 dan 1995; Haggard, 1990; Huntington, 1991; Jones, 1995; Kaushikan, 1993; Scalapino, 1989; Tai, 1993; Tamney, 1991; Zakaria, 1994). Mereka berpendapat bahwa budaya politik yang unik di negara-negara Asia melemahkan efek globalisasi. Dengan demikian, dampak globalisasi dirasakan berbeda di Asia dibandingkan yang dirasakan oleh kawasan di belahan dunia lainnya.
Ada hal lain yang membuat pasar Asia unik. Para pakar menunjukkan pengaruh Konfusianisme dalam membangun sikap masyarakat terutama masyarakat Asia Timur. Norma-norma perilaku masyarakat di banyak negara Asia Timur masih sangat didasarkan pada cita-cita Konfusianisme. Selain itu selama bertahun-tahun, kolusi antara bisnis dan pemerintah yang melanggengkan struktur kekuasaan yang ada dalam masyarakat telah muncul dan dilembagakan di banyak negara Asia Timur. Akibatnya, kontrol negara-negara Asia terhadap warga mereka tetap kuat dibandingkan dengan warga di belahan dunia lainnya, membuat dampak dari globalisasi ekonomi menjadi berkurang.
Keunikan pasar Asia yang membuat perusahaan multinasional yang bergerak di barang-barang konsumen (consumer goods) berhasil di Amerika Serikat atau Eropa misalnya, tidak serta merta mengekspor model bisnis, produk dan rumus pemasaran mereka di kawasan Asia seperti Indonesia, Myanmar atau Thailand. Pasar yang berkembang ini berbeda dalam hal kebijakan pemerintah, peraturan perundang-undangan, perilaku ekonomi, sistem distribusi, kebutuhan dan perilaku konsumennya. Sebagian besar produsen dunia barang konsumsi yang mencoba menjual produk satu produk untuk seluruh dunia menemui kegagalan di pasar Asia.
Selama bertahun-tahun Procter & Gamble menjalankan bisnis diapers sekali pakai mereka seakan tanpa gairah. Salah satu hal yang membuat tak bergairah karena mereka menempatkan label ekonomi sebagai variabel utama dalam keputusan mengembangkan atau menghentikan bisnisnya itu. Karakteristik konsumen Indonesia adalah menginginkan barang-barang dengan harga murah tapi di sisi lain mereka tidak ingin menggunakan barang yang dicap murahan.  Dalam situasi seperti itu, P&G lebih suka mengimpor produk diapers dan menjalankan kampanye pemasarannya di luar Indonesia.
Untuk menggarap pasar Inndonesia dan negara Asia Timur membutuhkan pendekatan baru. Agar berhasil dibutuhkan pemahaman karakter dan budaya konsumen Asia. Yang diperlukan disini bukan sekadar pendekatan etic atau keilmuan, yang juga penting adalah pendekatan emic atau berdasarkan sudut pandang budaya. Keberhasilan pendekatan emic yang dilakukan Unilever dan kekuranggairahan P&G dalam memasarkan diapers menunjukkan kevalidan pendekatan emic. Unilever selalu membangun merek didasarkan pada akar budaya setempat. Itu juga yang dilakukan McD setelah beberapa tahun masuk ke asar Indonesia dengan menambahkan nasi dan sambal pada menu yang ditawarkan.

Pandangan-pandangan yang dikemukakan penulis -- yang telah bertahun-tahun menekuni dunia pemasaran produk konsumen -- dalam buku ini membuat buku ini menjadi perlu untuk dibaca oleh para praktisi yang ingin memperluas pasar poduknya di kawasan Asia Timur dan akademisi yang selalu ingin mengetahui perubahan yang terjad di lingkungan pemasaran dan ekonomi ekonomi. Seperti yang dikatakan Dato Ahmad Fasisal Jaafar saat mengomentari buku ini, Going East membetrikan perspektif kekinian dan pemikiran baru pada topic pasar masyarakat ekonomi ASEAN dan implikasinya pada semua pemimpin bisnis. 

UNFRIENDING



Musim panas 2008, Anna Mayer bersiap-siap untuk memulai kuliah semester pertamanya di sebuah sekolah pascasarjana di kotanya. Saat luang, dia menulis blog pseudonim tentang perjuangannya agar bisa masuk ke perguruan tempat dia akan mengikuti pendidikan S2-nya yang berat, dan masalah pribadi lainnya. Dia sangat menikmati interaksinya dengan pembaca dan komentar pada blognya. Dia juga makin menikmatinya manakala mendapati dukungan atas ide-idenya dari para pembaca yang muncul di papan dukungan blognya.
Tiba-tiba suatu hari, sebelum sekolah dimulai, saat dia mencari namanya, dia menemukan postingan yang menggambarkan dirinya sebagai "bodoh, pelacur gemuk dan jelek" yang "tidak bisa memanfaatkan arahan dari seorang laki-laki." Pengirim pesan tak bernama (anonymous) itu mencantumkan alamat e-mail, nomor telepon, dan profil situs kencannya. Dia juga menerima e-mail peringatan yang mengatakan bahwa penulis mengetahui dimana dia tinggal. Pengirim pesan itu juga mengejek Mayer sebagai penulis blog pseudonym yang dalam tulisannya cenderung melebih-lebihkan diri.  
Hari-hari berikutnya, komentar blognya makin seru. Di blognya muncul berbagai nama seperti "Anna Mayer Fat Ass Chronicles" dan "Anna Mayer Keeps Ho'Ing It Up." Pesan-pesan dalam tulisan itu  mengingatkan orang lain dengan mengatakan bahwa Mayer mengidap herpes yang harus segera diobati. Pengirim pesan lainnya mengklaim bahwa dia memiliki gangguan bipolar dan catatan kriminal sehingga tak layak mengekspos diri di depan umum.
Komentar rasis yang selama ini tidak pernah menimpanya itu kini seakan tak mau lepas darinya. Bahkan sebuah tulisan yang mencantumkan alamat e-mail profesornya, jelas-jelas meminta pembaca untuk memberitahu mereka tentang Mayer sebagai seorang rasis yang memuakkan. Seseorang menyetel  account Twitter di nama Mayer, mengklaim Mayer sedang mengkhayalkan sebuah pemerkosaan dan seks yang kasar.
Ratusan posting seakan khusus ditujukan untuk menyerangnya. Mayer tidak bisa menebak identitas orang yang mempost pesan tersebut. Dia bertanya-tanya apakah pelecehan itu sebagai pembalasan karena membela teman sekelas yang membuat blog tentang fantasi seksualnya. Dalam sebuah komentar anonim, Mayer memang telah menunjukkan dukungan untuk teman sekelasnya. Lalu apakah ada yang salah atau tidak biasa bila ada seseorang yang memiliki fantasi. Mungkinkah orang yang tersendiri Mayer yang marah? (Citron, Danielle Keats. 2014. Hate Crimes in Cyberspace. President and Fellows of Harvard College).
Itu fenomena di blog dimana setiap orang bisa mengakses dan membacanya. Di edia sosial, seperti Facebook dimana tidak semua orang bisa mengaksesnya, fenomenanya mirip-mirip dengan fenomena diatas.  Selama beberapa bulan persiapan pemilihan presiden AS, Facebook seakan menjadi tong “kemarahan” dan amukan pendukung baik Hillary maupun Trump. Kedua kubu pendukung dan penentang salah satu calon saling unfriending.
Jaringan sosial terbesar di planet itu mengatakan bahwa pemilihan presiden 2016 menghasilkan lebih dari 5,3 miliar postingan, suka, komentar dan _share_. Selama Januari-Oktober 2016, lebih dari 110 juta orang Amerika terlibat dalam perdebatan online tentang kedua calon. Tak ada data resmi dari Facebook tentang jumlah orang yang diunfriend. Namun diperkirakan sekitar 0,02% pengguna Facebook diunfriend temannya. Unfriending merupakan tindakan pencoretan atau penghapusan nama seseorang dari daftar nama teman yang mencoret atau menghapusnya.

Postingan soal politik, agama dan ras cenderung membuat dunia seakan terpolarisasi, bahkan terbelah. Ketika pandangan dan dunia terpolarisasi, maka pernyataan atau komentar apapun dalam media sosial baik itu menentang, menduku, bahkan yang netrakl sekalipun, cenderung “diprotes.” Ketika seseorang mendukung suatu kelompok, kelompok lainnya memprotes dan sebaliknya. Ketika seseorang yang mungkin berusaha netral pun cenderung dicari narasi yang menegasikan kenetralan itu.
Christopher Sibona, A PhD dari University of Colorado Denver Business School pernah melakukan penelitian dengan mensurvei lebih dari 1.500 pengguna Facebook dan pengikut twitter tentang alasan mengapa orang melakukan _unfriend_. Dari survey itu dia menyimpulkan ada 3 alasan orang untuk unfriending.
Pertama, seseorang akan diunfriend karena sering memposting hal-hal yang tidak penting, memposting hal-hal yang tidak pantas, dan ketiga, memposting topic yang cenderung membuat terpolarisasi seperti agama dan politik. Topik ini cenderung membuat orang merasa tidak nyaman, jengkel, dan terprovokasi terutama jika postingan itu dilakukan terus-menerus.
Sedikit tanda-tanda bahwa sikap ekstrim terhadap orang memiliki sikap politik dan ideology yang berbeda menurun. Para peneliti malah memprediksi bahwa fenomena tersebut cenderung memburuk (Baldassarri & Gelman, 2008; Smerconish, 2011).
Para peneliti kini banyak yang tertarik melakukan penyidikan tentang fenomena polarisasi sikap ini, termasuk dalam hal bagaimana pola komunikasi yang terjadi selama perdebatan misalnya, dan bagaimana ideologi, ketakutan, geografi, dan media mempengaruhi cara orang membangun konsep dan memposisikan isu-isu saat mereka melakukan perdebatan di media sosial atau media pesan instan.  Temuan menunjukkan bahwa semakin sering seorang individu dan kelompok berbicara tentang suatu isu, politik misalnya, pandangan mereka menjadi semakin ekstrim (Mackie, 1986; Sia, Tan, & Wei, 2002; Sunstein, 2009).
Selain itu, pada saat dihinggapi rasa ketakutan, seperti setelah peristiwa 11 September 2001, individu cenderung untuk membagi dunia menjadi dua kubu -- yakni mereka dan lainnya – sebagai upayanya untuk memulihkan rasa kepastian, keamanan, dan kesopanan. Ketika perasaan itu muncul, prang cenderung membuat stereotip _kami_ dan _mereka_ dan makin membekukan keyakinan sehingga muncul sikap dogmatism. Konsekuensinya, karena stereotip itu maka orang makin susah mengadopsi atau menerima gagasan yang berbeda dengan gagasannya.
Polarisasi geografi kini juga makin marak. Warga Amerika yang selama ini merasa bahwa budaya masyarakat homogen (Bishop, 2004), isolasi geografis yang cenderung menurunkan akses ke pandangan yang berbeda, bisa jadi dapat meningkatkan pandangan yang sudah ekstrim. Dalam konteks pemerataan pembangunan misalnya, ketika akses informasi tentang pebagunan wilayah makin susah, orang cenderung memiliki pandangan yang ekstrim tentang ketimpangan karena ketidaktahuan atau ketiadaan data tentang pemerataan pembangunan

Selain itu, media juga ikut  berkontribusi mengintensifkan polarisasi. Bukan hanya karena semakin banyaknya media, perkembangan teknologi juga semain memudahkan seseorang atau kelompok  mengekspresikan pandangannya. Di sisi lainnya, individu cenderung mencari dan mengkonsumsi media yang memperkuat, menonjolkan, dan selanjutnya mempolarisasi keyakinan mereka (Abramowitz, 2011). Akibatnya, saling balas cacian bukan lagi sesuai yang tabu, bahkan semakin sering muncul ketika orang-orang yang berada di salah satu posisi yang terpolarisasi itu menjelek-jelekkan lawannya dengan menyebut mereka salah informasi, bodoh, dan jahat (Pearce & Littlejohn, 1997). Jadi, bagaimana sebaiknya menurut Anda?

Minggu, 20 November 2016

Street Marketing


Empat tahun silam, Tipp-Ex - merek cairan koreksi terlaris dari Eropa --- memposting serangkaian video The Tipp-Ex (perience) dengan fitur beruang dan pemburu di Youtube. Di salah satu videonya,  ditampilkan seorang pemburu meminta pengunjung untuk memilih apakah dia harus menembak beruang tersebut atau  tidak. Jika pemirsa memilih "menembak beruang itu," pemburu menolak. Pemburu kemudian mengambil Tipp-Ex dan menghapus kata "menembak."
Pemirsa kemudian diberi kesempatan menuliskan kata kerja apapun untuk mengganti kata "menembak" tersebut. Jika pemirsa menulis "tarian" misalnya, pada video tersebut pemirsa akan melihat sang pemburu menari dengan beruang. Menarik. Untuk memberikan keleluasaan kepada pemirsa memilih kata kerja, Tipp-Ex memproduksi empat puluh skenario video yang berbeda dengan empat puluh pilihan kata kerja.
Dalam kampanye lain, pemburu dan beruang berada dalam sebuah pesta ulang tahun. Tiba-tiba sebuah rudal masuk dan mengancam mengganggu pesta. Lagi-lagi dalam video itu pemirsa diberi alternative untuk memilih frasa "mengakhiri pesta" atau "tidak mengakhiri pesta." Video tersebut merupakan video kampanye yang banyak diperbincangkan selama 2011. Video tersebut menghasilkan lebih dari 20 juta hits di YouTube dalam waktu kurang dari dua tahun.
Itulah yang disebut dengan Marcel Saucet, penulis buku Street Marketing sebagai kampanye pemasaran alternative. Pemasaran alternatif merupakan respon langsung terhadap perubahan harapan baik konsumen dan perubahan sosial. Tapi seperti halnya dengan pendekatan konvensional, bagi merek,  kampanye alternative ada kondisi seperti sekarang menjadi suatu keharusan.
Pendekatan kampanye seperti ini memiliki dua keuntungan. Pertama, operasionalisasi dan biaya pengembangannya, pada  umumnya jauh lebih rendah daripada kampanye berbasis media tradisional. Juga, karena mereka begitu asli, mereka juga memberi merek kesempatan untuk menghasilkan banyak buzz tentang strategi komunikasi mereka.
Kelesuan ekonomi yang dihadapi dunia saat ini telah memaksa perusahaan untuk menjadi sangat kreatif dalam hal mencari tahu bagaimana mempertahankan afeksi pelanggannya. Sebab seperti diketahui, konsumen modern cenderung kurang mengkonsumsi suatu merek atau produk tanpa berpikir tentang apa yang mereka lakukan. Mereka juga cenderung memiliki keahlian dan pengetahuan yang lebih tinggi tentang produk. Bahkan mereka mengetahui  bisa jadi mengetahui lebih rinci dari atribut yang membedakan antara suatu produk dengan produk lainnya.
Pertanyaannya adalah mengapa konsumen kurang enggan meninggalkan produk dari satu merek ke merek lain yang memenuhi harapan mereka lebih baik. Buku ini mencoba memberikan jawabannya sehingga ketika pemasar menghadapi persoalan yang sama, alternative yang disosorkan penulis bisa menjadi pertimbangan.  
Pemasaran alternative juga makin penting karena saat kelesuan ekonomi atau pada situasi normal perusahaan juga harus bersaing dengan makin meningkatnya multi-kompetisi, sesuatu yang telah menjadi masalah bagi banyak bisnis. Dalam upaya mereka untuk meningkatkan pangsa pasar, mereka harus beradaptasi dengan semua hal-hal baru, termasuk ketika mereka mencoba untuk meningkatkan penjualannya.
Sebuah kampanye komunikasi selalu berusaha untuk mengejar salah satu dari dua gol: meningkatkan pengakuan dari konsumen atau mempromosikan produk, layanan, atau merek. Kampanye pemasaran konvensional dapat menawarkan respon terhadap beberapa kendala kontekstual yang dibahas di atas karena beberapa alasan.
Pertama, operasi baru tersebut - baik yang baru karena mereka menggunakan teknologi digital atau karena mereka melakukannya di tempat di luar point of sales – membantu merek untuk membuat kontak langsung dengan konsumen, yang saat ini cenderung mengharapkan transparansi yang lebih besar dari perusahaan. Kedua, kampanye tersebut dapat menghasilkan keuntungan yang signifikan atas investasi jika perusahaan mampu menghasilkan buzz besar. Hal ini karena mereka umumnya biaya kamanye tersebut lebih rendah dari biaya kampanye tradisional. Tapi jika berhasil, mereka bisa sama-sama efektif.
Ketiga, operasi ini tidak hanya optimal secara finansial tetapi juga meningkatkan citra merek perusahaan. Orisinalitas adalah sesuatu yang perusahaan dapat gunakan untuk menunjukkan kepada  konsumen bahwa mereka bersedia untuk memberikan sesuatu yang mengejutkan buat mereka. Mereka juga bersedia untuk bekerjasama, bahkan saat mereka menekankan inovasi dan kreativitasnya. Konsumen dengan cepat menjadi sadar - dan berterima kasih atas upaya yang – telah dilakukan perusahaan.
Tujuan utama dari penulisan  buku ini adalah untuk memperlihatkan kepada para praktisi pemasaran/komunikasi pemasaran  dan mahasiswa bahwa dalam beberapa waktu belakangan ini banyak sekali perubahan. Salah satu efek dari perubahan tersebut adalah munculnya pendekatan komunikasi pemasaran baru, yang dimulai pemasaran jalanan dan buzz lainnya yang berhubungan itu.
Setelah menuntaskan buku ini, pembaca diharapkan memperoleh pemahaman tentang berbagai macam pendekatan baru dalam pemasaran dan komunikasi pemasaran antara lain pendekatan pemasaran jalanan dan pembicaraan dari mulut ke mulut yang dihasilkannya. Dengan demikian, bila Anda seorang manajer pemasaran, Anda akan melihat pendekatan ini meruakan suatu peluang nyata untuk meningkatkan keakraban perusahaan dengan masyarakat. Ini menjadi semakin penting karena di era seperti sekarang ini mempromosikan produk atau jasa secara langsung kepada pelanggan yang kini semakin menuntut cukup sulit.
Bagian pertama buku ini menjelaskan berbagai teknik marketing konvensional seperti viral, stealth, ambush, dan sebagainya. Bagian kedua, berkonsentrasi pada munculnya budaya jalanan di mana sejumlah isyarat-isyarat atau kode tertentu bermunculan. Kode-kode itu secara tidak langsung dapat secara luas mereplikasi komunikasi mereka. Yang ketiga menunjukkan kepada pembaca organisasi kampanye pemasaran jalanan, yang selalu disebarkan melalui pendekatan pemasaran buzz. Bagian keempat dan terakhir menawarkan panorama dari daerah di mana teknik-teknik seperti itu  diterapkan

Tiga ide kunci yang dikembangkan dalam kaitannya dengan teknik pemasaran yang tidak konvensional tersebut, khususnya yang melibatkan jalanan dan buzz marketing, yakni mereka merupakan respon langsung terhadap perubahan social, secara jelas mereka berubah menjadi pemasaran masa depan, dan mereka memberikan kesempatan besar bagi sebagian besar perusahaan. Jadi Anda pilih yang mana? Atau ketiganya?


Kamis, 17 November 2016

Menjadi Influencer Sukses


Influencer kini menjadi kata yang banyak disebut di industri pemasaran. Mengapa? Dengan memanfaatkan pengaruh orang melalui cara yang benar, Anda dapat mengarahkan seseorang memiliki kesadaran merek, mendorong orang “melihat dan mencoba” dan penjualan merek Anda. Influencer kini seakan menjadi lokomotif perubahan yang signifikan dalam industry pemasaran. Intinya, jika Anda adalah seorang influencer, atau katakanlah menguasai ketrampilan sebagai influencer di bidang pemasaran influencer, dengan perjalanan yang begitu mudah Anda dapat mencapai tujuan Anda.
Pada saat yang sama, konsumen belajar makna dari temuan baru yang muncul di jaringan sosial dan mengeksplorasi kemungkinan terkait dengan seberapa besar pengaruh mereka, apa artinya, dan juga cara untuk meningkatkannya. Merek juga mencari cara untuk memahami angka-angka yang muncuk dalam model pengukuran penagruh untuk mengidentifikasi apakah orang itu tepat dan cara mereka untuk menghubungkannya. Apakah itu melalui kegiatan advokasi atau promosi, membangun hubungan, atau melalui peristiwa penting, segala sesuatunya dimulai dengan pemahaman tentang apakah mereka bisa mempengaruhi atau tidak. Sekali pengaruh dan cara kerjanya dipahami, merek akan terus mengembangkan strategi dan prosesnya untuk berkawan dengan konsumen terhubung agar menjadi orang “berpengaruh” di jaringan mereka.
Kenapa bisa begitu? Saat ini orang bisa menjadi influencer, meski mungkin hanya sebagai mikro-influencer, atau orang yang dapat mempengaruhi perubahan dalam kelompok yang kecil. Kalau orang itu memang mendedikasikannya sebagai influencer dan mengetahui langkah-langkah yang tepat menuju kearah itu, orang dapat mencapai tingkat berikutnya, yakni sebagai seorang influencer yang ahli untuk subjek tertentu. Tingkatan mikro tersebut, menurut John Lincoln, penulis buku Digital Influencer, A Guide to Achieving Influencer Status Online, biasanya bisa dicapai dalam dalam waktu 1 sampai 5 tahun, tergantung darimana dan dimana mereka mulai.
Yang sudah tinggi dikenal sebagai sebagai influencer makro. Mereka ini umumnya seseorang yang sudah  besar seperti Oprah, Michael Jordan atau Tony Robbins. Untuk mencapai tingkat ini, umumnya membutuhkan waktu yang jauh lebih banyak dan lama. Tingkatan ini yang tertinggi. Namun, untuk pebisnis tak perlu sampai ke tingkatan yang ahli seperti Oprah tadi. Anda tak perlu menjadi Oprah, tapi Anda mungkin bisa memanfaatkannya. Anda tak perlu memiliki yang penting adalah akses ke tingkatan itu. Itu saja mampu  mengantarkan Anda sebagai seorang yang ahli dan top di industri dan bisnis Anda seperti yang orang inginkan.
Menjadi influencer membtuhkan dedikasi sehingga terus tumbuh. Ini berarti mereka harus mendidik, berkontribusi untuk inovasi industri, membantu orang lain, membangun hubungan, memperbaiki diri dan mengambil semua ini serta tahu cara menggabungkannya secara efektif dalam pemasaran online. Lincoln mendefisikan digital influencer sebagai sebuah persona online dengan kekuatan untuk merangsang pola pikir dan mempengaruhi keputusan orang lain melalui hal-hal nyata atau dirasakan publik memiliki otoritas, pengetahuan, posisi, distribusi atau hubungan."
Jadi, pada dasarnya digital influencer itu adalah orang yang memiliki kekuasaan secara online untuk membuat sesuatu terjadi. Banyak orang berbicara tentang influencer. Tetapi, mereka gagal menyebutkan perbedaan antara influencer biasa dan digital influencer. Perbedaan utamanya adalah bahwa ada elemen online digital influencer. Persolannya, banyak influencer yang tidak mengetahui bahwa mereka dapat menggunakan status mereka untuk mengembangkan saluran pemasaran online yang signifikan untuk bisnis mereka.
Digital influencer mengetahui dan faham benar tentang saluran online serta menggunakannya untuk mendorong statusnya sebagai influencer ke tingkatan berikutnya. Misalnya, influencer digital tahu bahwa dia harus menghabiskan sebagian besar waktu mereka di Reddit. Mereka juga akan tahu bagaimana menggunakan LinkedIn untuk mendapatkan pelanggan.

Buku ini bisa membantu Anda memecahkan masalah terkait dengan digital influencer. Buku ini bisa dianggap sebagai suatu karya yang jenis dan model influencer klasik yang bisa memberikan pedoman di banyak hal terkait influencer dan memberikan kunci untuk menjadi influencer sukses. Mungkin karena itu, Forbes menganggapnya sebagai salah satu buku marketing terbaik untuk dibaca tahun ini

Minggu, 13 November 2016

Sekarang, Trump Butuh Rebranding atau Reposisitoning?


Pemilihan Presiden Amerika Serikat menjadi dramatis beberapa jam setelah pemilih menentukan pilihannya, 9 November lalu. Calon dari Republik, Donald Trump, memenangi pemilihan dengan suara mayoritas luar biasa, mengalahkan opini yang selama itu diciptakan oleh hasil jajak pendapat yang menempatkan pesaingnya favorit Demokrat, Hillary Clinton.
Trump memenangi pemilihan dengan perolehan 276 electoral treshold, sementara lawannya Hillary Clinton dari Partai Demokrat hanya mengantongi 218. Trump meraih 57.059.713 suara (48 persen), sedangkan Hillary hanya 56.060.334 suara (47 persen). Perolehan suara Trump 276 melebihi batas maksimal 270 untuk menang. Sementara Hillary masih jauh dari angka 270.
Inilah akhir dari kerja keras kampanye kedua kandidat selama kira-kira 18 bulan, setelah Clinton mengumumkan pencalonan dirinya sebagai presiden pada April 2015 dan Trump Juni 2015. Tidak hanya menang Pilpres, Partai Republik juga memenangi pemilu dengan dengan merebut 51 kursi di senat dan Demokrat hanya 47 kursi. Sementara parlemen atau DPR AS, juga menang dengan 235 kursi, sementara Demokrat hanya 183 kursi.
Jajak pendapat paling akhir baik yang dikutip BBC, Bloomberg dan CBS News, menunjukkan rata-rata akhir 48% untuk Clinton dan 44% untuk Trump. Tapi semua itu berubah pada pagi hari tanggal 9 November di 05:00 GMT (00:00 EST), setelah Trump memenangkan negara bagian Ohio dan Florida. Ini menunjukkan bahwa jajak pendapat tidak selalu bisa dipercaya. Pada 07:34, Trump terpilih sebagai presiden ke-45 Amerika Serikat, dan memunculkan riak global besar karena sebagian besar orang kaget.
Di akhir masa kampanye, dua-duanya diterpa cerita negative. Clinton mendapat pemberitaan negative sekitar penggunaan server email pribadi untuk email resmi, sementara Trump menimbulkan kontroversi sendiri melalui penolakannya untuk menjelaskan sekitar pajaknya - yang kemudian bocor – dan komentar menghinanya terhadap kaum imigran dan perempuan.
Ribuan pengunjukrasa yang anti Donald Trump turun ke jalan-jalan di berbagai kota di seantero Amerika Serikat pada Sabtu untuk memprotes presiden yang baru terpilih itu. Ribuan demonstran berbaris ke Trump Tower di kota New York Sabtu sore dengan berbagai poster dan seruan termasuk "Black Lives Matter (Hidup Orang Kulit Hitam Berarti" dan "Not My President" (Bukan Presiden Saya)."
Sebagai seorang pebisnis dan dipilih sebagai Presiden AS, Donald Trump tampaknya memahami kebutuhan untuk rebranding. Ini setidaknya telah ditunjukkan saat Agustus lalu ketika dua tertinggal dalamjajak pendapat, kehilangan pangsa pasar, mengkhawatirkan pendukung keuangannya, dan pencitraan yang dilakukan rival utamanya sebagai produk beracun yang menghasut kebencian dan kefanatikan, dari perspektif bisnis, tidak ada keraguan bahwa yang dibutuhkan Trump adalah rebranding.
Agustus lalu, dia mereshuffle tim kampanyenya. Tone kampanyenya juga berubah. Dia terus berorasi tapi dia juga mengatakan menyesali beberapa ucapan offensifnya. Dalam pertemuannya di New York, dia mengulurkan tangannya kepada pemimpin Hispanik. Dia juga mengisyaratkan bahwa dia juga menyatakan akan mengkaji ulang usulannya untuk mengumpulkan dan mendeportasi jutaan imigran gelap.
Proses rebranding itu mendapat hambatan. Beberapa pendukung yang paling vokal – diantaranya Ann Coulter dan Sarah Palin - menyatakan kemarahan atas saran bahwa Trump mungkin mengusulkan kemungkinan mengizinkan beberapa pendatang illegal untuk bisa tinggal di Amerika Serikat secara hukum. Trump tampaknya bimbang.
Berbicara dalam acara Fox News Bill O'Reilly beberapa waktu lalu, Trump tampaknya secara perlahan akan mengadopsi kebijakan deportasi tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan Pemerintahan Obama. “Apa yang orang tidak tahu adalah bahwa Obama telah mengeluarkan sejumlah orang ke luar negeri,” katanya. “Banyak orang yang dibawa ke luar negeri berdasarkan hukum yang ada. Yah, aku akan melakukan hal yang sama.” Kemudian, berbicara dengan CNN beberapa hari kemudian, dia mundur dengan mengatakan bahwa di bawah pemerintahan Trump, semua imigran gelap harus meninggalkan negara itu sebelum mengajukan permohonan status hukum.
Persoalan yang dihadapi Trump, seperti yang ditulis John Cassidy di www.newyorker.com, Agustus lalu sebenarna – seperti yang dihadapi pebisnis yang bermasalah dan konsultan branding – adalah menu sehari-hari mereka. Dalam konteks ini, ketika muncul ketegangan antara kebutuhan yang mendesak untuk mengubah persepsi publik terhadap perusahaan mereka dan risiko “diasingkan” pelanggan dan stakeholdernya – dalam hal Trump adalah pendukungnya – pilihannya bukan melakukan demo tandingan. "Pembalasan" tentu akan menghasilkan pembalasan baru. Bila demikian persoalan akan berlarut shingga energi sosial menjadi tidak produktif. Karenanya, bagi Trump, pilihannya adalah melakukan rebranding.
Dalam konteks produk atau organisasi, rebranding adalah pilihan yang paling popular terutama ketika sebuah merek yang ingin membuang  citra sebelumnya yang negatif. Misalnya, Philip Morris mengubah namanya sendiri menjadi Altria. Atau ketika merek menghadapi tekanan persaingan seperti yang dilakukan McDonald. Rebranding hanya mengubah identitas merek. Ini biasanya dilakukan dengan mengubah sebagian besar atau semua elemen identitas merek seperti nama, ikon, warna, jenis huruf (font) dan tagline. Perubahan identitas juga dapat disertai dengan reposisi merek tapi bisa juga tidak.
Berbeda dengan rebranding, reposisi bisa dilakukan tanpa mengubah identitasnya. Reposisi berfokus pada mengubah asosisiasi merek yang menempel di benak pelanggannya atau kadang-kadang pesaingnya. Ini biasanya memerlukan perubahan janji dan kepribadian merek. Dalam reposisi, slogan sering diubah untuk mengkomunikasikan janji baru. Bahkan kadang-kadang identitas itu sendiri diperbarui atau disegarkan untuk memperkuat perubahan positioning merek. Namun, sebagian besar reposisi merek tidak menghasilkan identitas benar-benar berubah.
Sebuah kampanye rebranding yang sukses bisa dilihat dari dua hal. Pertama, mengejutkan sehingga menarik perhatian orang. Menarik perhatian orang tidak harus dilakukan dengan mengadakan demo tandingan. Kedua, membuat mereka berpikir lagi tentang perusahaan atau produk. Ini membutuhkan penyampai pesan -- dalam hal ini Trump atau orang terdekatnya -- pesannya sendiri dan medianya harus kredibel.

Sabtu, 12 November 2016

Membangun Komunitas Melalui Game Twitter


Judul Buku       : #tweetsmart: 25 Twitter Projects to Help You Build Your Community
Penulis              :  J. S. McDougall
Penerbit            : O’Reilly Media, February 2012
Tebal buku       : 106 halaman termasuk cover

Media sosial bisa menjadi sarana perusahaan untuk berkontak sosial dengan pelanggan mereka.dengan kata lain, media sosial menyediakan ruang pertemuan antara perusahaan dengan pelanggan maupun antarpelanggan sendiri. Di sisi lain, pertemuan adalah sesuatu yang paling berharga bagi manusia. Ini mempunyai makna bahwa media sosial tidak hanya dipandang sebagai saluran baru untuk mencapai dan berinteraksi dengan pelanggan, melainkan juga secara fundamental mengubah cara perusahaan dalam mengidentifikasi, mengembangkan, mengedukasi, dan mendukung pelanggan.

Sebagai media kampanye, media sosial memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan dengan interaksi langsung gaya lama. Saat ini, di mana-mana orang memperbincangkannya, entah itu pelayan, sopir taksi, pemilik toko, penjual, maupun orang yang duduk di samping meja makan Anda. Bahkan media sosial kini menjadi trend setter sehingga ketika seseorang tidak memiliki satu akun merasa tertinggal. Karena itu, wajar setiap muncul satu bentuk media sosial baru orang, termasuk perusahaan,  berbondong-bondong mengaplikasinya. Salah satu alasannya adalah kita takut didahului oleh orang lain. 

Media sosial adalah sarana, bukan tujuan. Dalam konteks ini, media sosial seringkali disalahkan ketika tujuan yang diharapkan tidak tercapai. Orang atau perusahaan sering membuat akun di setiap situs media sosial yang baru muncul, menghabiskan sedikit waktu berharga yang mereka miliki, tetapi kemudian meninggalkannya sampai mati sendiri jika tidak ada hasil yang segera dinikmati.

Buku #tweetsmart  – seperti yang dikatakan penulisnya J.S. McDougall -- adalah jawaban penulis kepada siapa saja yang pernah bertanya, "OK. Aku punya akun Twitter ... sekarang apa yang harus saya lakukan?" # tweetsmart memberikan jawabannya dengan menampilkan 25 proyek kreatif untuk membantu bisnis, atau organisasi Anda agar terus tumbuh. Dengan kata lain, buku ini bukan sekadar buku pemasaran media sosial. Buku justru anti-pemasaran yang biasanya  menjelsskan tentang bagaimana meningkatkan keterlibatan public.

Buku ini ditulis dengan asumsi bahwa Twitter adalah sebuah komunitas. Orang-orang bergabung dengan Twitter untuk bertemu teman baru dan mendiskusikan kepentingan mereka dengan berbagai macam orang-yang sebagian besar dari mereka tidak pernah bertemu di dunia nyata. Tak seorang pun akan mengatakan bahwa mereka bergabung dengan Twitter untuk membuat diri mereka lebih tersedia bagi pengiklan. Iklan di Twitter-mengirimkan satu arah, tidak menarik, iklan yang sangat singkat untuk hal-hal-akan mengganggu Anda orang dan Anda akan diblokir, dilaporkan, dan tidak akan diikuti.

Rwitter bukanlah saluran pemasaran (dan tidak boleh digunakan seperti). Twitter adalah sebuah komunitas orang-orang yang memiliki kepentingan, engage, dan orang-orang berpengaruh. Bertemu dan mengenal orang-orang dapat membantu Anda membangun komunitas Anda sendiri. Dalam panduan yang berguna, Anda akan menemukan proyek-proyek untuk membantu Anda mendekati audiens melalui Twitter dengan cara yang strategis, terukur, dan menyenangkan.

Buku ini bukan manual media pemasaran sosial. Dalam buku ini terdapat 25 proyek yang bertujuan untuk membangun komunitas yang tertarik dan terlibat untuk bisnis Anda. Ini hasil yang berasal dari memiliki seperti komunitas di sekitar bisnis Anda meningkat penjualan, arahan, dan kesempatan untuk umpan balik dan perbaikan. Sangat penting untuk memahami perbedaan antara tujuan dan hasil yang Anda capai.

Ide proyek meliputi cara yang kreatif untuk menyelenggarakan kontes dengan mengandalkan tweet dan  retweet tentang hal-hal tertentu sebagai cara untuk ikut kontes. Dalam beberapa kasus, Anda dianjurkan untuk menggunakan Twitter untuk menawarkan kupon atau penjualan dan diskon khusus ketika orang mentweet dengan hashtags atau informasi tertentu kepada Anda.

Ini adalah proyek yang cukup sederhana dengan memberikan petunjuk langkah demi langkah, Link yang disertakan untuk memeriksa sumber daya lebih lanjut atau menemukan HTML jika tidak termasuk dalam instruksi proyek. Misalnya, Anda bisa menjalankan permainan hashtag pada sebuah konferensi sebagai ice-breaker dan  sebagai cara untuk melibatkan pelanggan Anda dalam melakukan sesuatu selain duduk di ruang rapat. Idenya adalah untuk bersenang-senang dengan berbagai macam ide. Proyek lainnya, seperti Tweet & Eat, yang terbukti berhasil dalam menggiring produk atau layanan. 

Setiap proyek mengandung bagian strategi lanjutan yang menawarkan hal-hal ekstra yang dapat Anda lakukan setelah Anda menguasai dasar-dasarnya. Ada juga beberapa strategi brainstorming yang besar yang akan membuat Anda berpikir tentang cara-cara yang berbeda untuk mempromosikan dan terlibat dengan komunitas Anda. Semoga Andapun berhasil

Selasa, 08 November 2016

Berdagang dan Beribadah


Sabtu, sekitar dua tiga bulan lalu, saya belanja di Pasar Bintaro 2 Tangerang Selatan. Seperti biasa yang pertama saya tuju adalah warung langganan saya suami isteri Farid – sebut saja demikian. Sebelumnya, saya juga punya tempat langganan juga di Pasar Bintaro 2, di warung Fatimah. Namun karena pelanggan di Warung Fatimah banyak, cukup lama harus antri menunggu giliran dilayani.
Saya lalu pindah ke warung Farid. Yang melayani pembeli sebenarnya isterinya, sementara Farid menata barang dagangan, membetulkan kalau-kalau ada sayur atau buah yang letaknya berpindah atau jatuh. Cukup sabar dai menemani isterinya di warung. Dia tak pernah duduk. Selalu saja ada dagangannya yang dibetulkan posisinya.
Suatu Sabtu, sekitar pukul 07.00, saya datang ke warung Farid. Saya lihat Farid tak ada. “Kemana Mas Farid?,” tanyaku sambil memilih buah tomat.
“Lagi pulang dulu Pak,” jawab isteri Farid.
“Kok?”
“Mandi dan shalat dhuhah.”
Setiap sekitar pukul 00.00 dini hari, Farid pergi dari rumahnya di sekitar stasiun Pondok Ranji, untuk berbelanja (kulakan) di Pasar  Kebayoran Lama. Dia belanja sampai pukul 04.30 dan langsung dibawa ke Pasar Bintaro untuk dijual kembali. Habis menata dagangannya, Farid pulang dengan motor shalat shubuh lalu balik ke pasar. Itu laku Farid – yang kebetulan belum dikarunia anak -- setiap hari 
Suatu sekitar dua tiga bulan lalu itu, saya membeli nenas dua buah seharga Rp 4,5 ribu per buah. Seperti biasa, habis pesan saya meninggalkannya untuk berbelanja ke tempat lain. Farid yang memilihkan nenasnya. 
Tiga puluh menit kemudian saya balik ke tempat Farid untuk mengambil nenas yang saya pesan. “Sudah Mas?” tanya saya.
“Belum Pak….Maaf Pak yang tadi agak busuk,” katanya sambil menunjukkan dua buah yang hamper selesai dikupas. Saya lihat nenas itu memang busuk.
Mendengar pernyataan itu, saya agak kaget. “Lho kenapa bagian yang busuk nggak dipotong dan dibuang?”
Farid tersenyum. “Yang saya jual kan nenas utuh seperti yang Bapak lihat saat belum dikupas, bukan nenas yang sudah terpotong.”
Farid lalu mencoba menceritakan sesuatu ke saya……

Pada suatu hari, seorang saudagar perhiasan di zaman tabi'in bernama Yunus bin Ubaid, menyuruh saudaranya menjaga tokonya karena ia akan keluar shalat. Ketika itu datanglah seorang Badui yang hendak membeli perhiasan di toko itu.
Sang Badui berniat membeli satu perhiasan permata yang harganya tidak lebih dari empat ratus dirham. Saudara Yunus bin Ubaid itu lalu menunjukkan suatu barang yang sebenarnya seharga dua ratus dirham, tapi oleh saudara Yunus barang itu tetap ditawarkan dengan harga empat ratus dirham.
Sang Badui tadi tertarik dan membelinya. Barang tersebut dibeli oleh Badui tadi tanpa meminta pengurangan harga. Maka terjadilah jual beli di antara Badui itu dan penjaga toko yang dipercayakan Yunus bin Ubaid.
Di tengah jalan, dia bertemu dengan Yunus bin Ubaid. Yunus bin Ubaid lalu bertanya kepada si Badui yang membawa perhiasan yang dibeli dari tokonya tadi. Memang dia mengenali barang tersebut adalah dari tokonya. Saudagar Yunus bertanya kepada Badui itu, "Berapakah harga barang ini kamu beli?"
Badui itu menjawab, "Empat ratus dirham."
"Tetapi harga sebenarnya cuma dua ratus dirham saja. Mari ke toko saya agar saya dapat kembalikan uang lebihnya kepada saudara," kata saudagar Yunus lagi.
"Biarlah, tidak perlu. Aku telah merasa senang dan beruntung dengan harga yang empat ratus dirham itu, sebab di kampungku harga barang ini paling murah lima ratus dirham."
Tetapi saudagar Yunus itu tidak mau melepaskan Badui itu pergi. Didesaknya juga agar Badui tersebut balik ke tokonya dan bila tiba dikembalikan uang baki kepada Badui itu. Setelah Yunus dan Sang Badui itu sampai di tokonya, berkatalah saudagar Yunus kepada saudaranya dengan marah, "Apakah kamu tidak merasa malu dan takut kepada Allah atas perbuatanmu menjual barang tadi dengan dua kali lipat?"
"Tetapi dia sendiri yang mau membelinya dengan harga empat ratus dirham," jawab saudaranya yang mencoba mempertahankan bahwa dia di pihak yang benar.
"Ya, tetapi di belakang kita terpikul satu amanah untuk memperlakukan saudara kita seperti memperlakukan terhadap diri kita sendiri," kata Yunus.

“Nggak rugi,” tanya saya.
“Rugi untung itu memang risiko pedagang. Yang penting bagaimana caranya saya tidak membohongi pembeli.” katanya sambil tetap tersenyum. “Naggak apa-apa Pak saya rugi. Saya dagang kan juga untuk ibadah dan mencari ridlo Allah.”
Itu bukan sekali dua kali saya alami saat membeli di warung Farid. Suatu kali, saya membeli alpukat. Dari luar alpukat yang saya beli kelihatan mulus. Namun sesampai di rumah saat saya potong, ternyata alpukatnya busuk. Saya lalu menceritakan itu ke Farid keesokan hari. Farid langsung menggantinya dengan yang baru.
Seminggu setelah kejadian buah nenas itu, saya datang lagi ke warung Farid. Namun kali ini saya lihat warung Farid tutup. Minggu berikutya juga tutup dan selanjutnya sampai minggu ke lima. Minggu keenam, warung Farid buka kembali. Farid dan isterinya saya lihat tetap sibuk.
“Woo…. Buka? Saya kira sudah nggak jualan lagi. Pada kemana kok lama nggak jualan?” Tanya saya,
“Alhamdulillah….Minggu kemarin kami baru pulang dari haji,” kata Farid….
“Hah……subhanallah…Alhamdulillah “ kata saya.
“Iya Pak…..Keuntungan yang kami dapat dari Bapak dan pembeli lainnya kami tabung sedikit demi sedikit sehingga akhirnya kami bisa berhaji.”
“Kok nggak dipakai untuk buka warung baru atau dagang yang lain?”
“Alhamdulillah pak…. Ini saya sudah cukup. Yang penting dari hasil penjualan ini saya bisa makan, bisa beli baju, dan kontrak rumah. Dan yang lebih penting lagi, saya tetap bisa beribadah.”