Jumat, 02 September 2011

Academia 2.0



Suka tidak suka, Web 2.0 akan mengubah model pendidikan – termasuk pendidikan tinggi. Ini karena perilaku siswa dan mahasiswa – sebut mereka sebagai bagian dari generasi jejaring (net generation) --  sekarang telah berubah karena perkembangan handphone, (komputer), dan internet. Lalu bagaimana perguruan tinggi harus bersaing?



Dalam pertemuan dosen di sebuah perguruan tinggi swasta, seorang profesor mengemukakan kekhawatirannya bila perguruan tinggi tersebut menerapkan standar kualitas kelulusan yang lebih tinggi. Kenapa? Dia menceritakan tentang pengalaman perguruan tinggi lainnya – sang profesor menyebut sebuah perguruan tinggi swasta – yang tahun lalu mampu menyedot mahasiswa baru sebanyak 1500 orang, kini tinggal 500 orang.
Profesor tadi tidak mendapatkan informasi kenapa terjadi penurunan sedrastis itu. Apakah benar karena standard kelulusan perguruan tersebut tinggi atau karena penyebab yang lain. Namun apapun penyebabnya, yang pasti mereka kalah bersaing dalam merebut jumlah lulusan SLA di tanah air. Jumlah perguruan tinggi yang kalah bersaing tersebut relatif tinggi.
Tahun lalu, menurut data Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi), sebanyak 30 persen atau 800-an perguruan tinggi swasta (PTS) di Indonesia gulung tikar.  Perguruan tinggi itu tidak mampu bersaing dengan perguruan tinggi lainnya sehingga calon mahasiswa baru tidak tertarik menimba ilmu di lembaga pendidikan tinggi itu. "Akibatnya, sekolah swasta yang mengandalkan dana masyarakat tersebut tidak mampu membiayai operasional pendidikan," kata Sekretaris Jenderal Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Pusat Wayah S Wirot pada Seminar Nasional: Peran dan Tanggung Jawab Pemerintah dan Masyarakat dalam Meningkatkan Mutu PTS dan Antisipasi Persaingan Global (31/7/2008).
Banyak faktor yang membuat suatu perguran tinggi menjadi pilihan. Salah satu faktor yang sangat penting, menurut Brian Fidler dalam Strategic Management for School Development (London: SAGE Publication, 2002), adalah reputasi. Inilah faktor mendasar bagi orang tua atau calon mahasiswa dalam menentukan pilihan sekolahnya.

Dalam konteks teori, reputasi merupakan bangunan dari respon kognitif dan afektif oleh publik. Disini ada dua dua hal penting yang mempengaruhi bentukan bangunan itu. Pertama adalah stumulusnya sendiri berupa input (calon mahasiswa), proses pengolahan (sarana dan prasarana belajar sekolah) dan outputnya. Kedua, pribadi dari si penerima stimulus baik melalui pengalaman melihat langsung atau mendengar.

Dalam kaitannya dengan stimulus, marketing atau branding pada dasarnya adalah merupakan proses transfer nilai antara merek dan target marketnya. Dalam perspektif komunikasi pemasaran, setiap unsur yang terkandung dalam usaha marketing itu mengkomunikasikan sesuatu. Gedung dan sarana dukungan proses belajarnya misalnya menyampaikan pesanan kualitas dari sekolah tersebut.

Sementara pribadi dibangun dari dimensi motivasi, pengetahuan, dan harapan. Ketika stimulus dirasakan relevan (berguna untuk memenuhi kebutuhan pribadi) pemrosesan yang lebih teliti terjadi. Disini pribadi mencocokkan dengan konsep dirinya misalnya. Menurut kaedah ini, ketika menerima stimulus berupa bangunan gedung kampus lengkap dengan tempat ngobrol berupa kafetaria, panggung ekspresi diri dan talenta, calon mahasiswa akan membandingkan dengan evaluasi tentang siapa dia sebenarnya. Hasil dari dialog ini adalah apakah suasana itu cocok dengan dirinya.

Demikian pula dengan ketika melihat calon lainnya. Siapa pesaing masuk dan proses seleksi masuk perguruan tinggi itu seakan mengkomunikasikan kualitas perguruan tinggi tersebut. Segmen calon mahasiswa tertentu yang bersedia mendaftar sekolah tersebut, akan mencerminkan reputasi sekolah itu. Disini, seorang calon mahasiswa akan berkontemplasi apakah mereka yang bakal menjadi temannya itu cocok dengan saya, apakah mereka akan membuat ”saya” seakan menjadi lebih pintar, lebih bodoh atau bertambah pintar karena proses diskusi yang bakal terjadi diantara mereka.

Persoalan menjadi lebih kompleks karena dalam memilih perguruan tinggi, calon mahasiwa tidak sealu mandiri. Ada pihak lain, yakni orang tua, yang ikut mempengaruhi kalau tidak mau dikatakan menentukan. Peliknya adalah seringkali kepentingan orang tua bertabrakan dengan kepentingan sang anak.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perguruan tinggi dianggap para remaja sebagai jalan untuk meningkatkan kesejahteraan pribadi (John W Moore, 2000. Education: Commodity, Come-On, or Commitment? Journal of Chemical Education 77, no. 7 (2000), 805.). Disini masih ada koherensi antara persepsi orang tua dan anak.

Terlepas dari adanya pengkerdilan dari makna pendidikan, persepsi masyarakat yang berkembang saat ini adalah kuliah di sekolah yang lebih baik merupakan jawaban atas harapan untuk mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang lebih baik. Dengan kata lain, ijazah adalah komoditi. Beberapa diantaranya dianggap sebagai bermanfaat dan dapat menciptakan keunggulan komersial. Para orang tua berharap anaknya menjadi orang yang bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih dari dirinya dan sukses. Itu sebabnya mereka berharap anaknya mendapatkan sekolah yang prestisius.

Ketika menentukan pilihan sekolahnya, disini mulai terjadi perbedaan. Misalnya, orang tua – yang sebagian besar dilahirkan pada era televisi – memiliki pandangan bahwa sesuatu harus fokus. Jadi kalau kuliah ya kuliah saja hingga selesai. Di sisi lain, calon mahasiswa sekarang pada umumnya lahir ketika era internet menjadi andalan dalam berkomunikasi sehari-hari dan besar pada era media sosial yang membuat komunitas begitu mudah terbangun. ”Anda kini bisa melihat remaja yang bisa melakukan lima aktivitas dalam satu kesempatan,” tulis Don Tapscott dalam bukunya, Grown Up Digital (McGraw Hill, 2009).

Ketika berbicara pada event penghargaan distribusi yang diselengarakan Majalah Mix-MarketingExtra, Juni 2009, Prof. Eko Indradjit, PhD., menceritakan pengalamannya saat melakukan penelitian terhadap mahasiswanya. Menurut Eko, saat memberikan kuliah, dia membagi kelasnya menjadi dua kelompok. Kelompok pertama, mahasiswa yang mendengarkan kuliahnya sambil memaikan handphone atau iPod-nya, 

Menurut Tapscott, remaja -- usia 11- 31 tahun -- kini secara mudah berinteraksi dengan beragam media hanya melalui alat berlayar ukuran dua inchi. Mereka menggunakan handphone-nya untuk beragam aktivitas. Kita bisa berbicara dengan mereka, mengecek serta membalas email kita. Mereka menggunakan handphone untuk kirim pesan, berselancar di dunia maya, bermain game, mencari arah atau jalan, mengambil gambar dan membuat video. Mereka Facebook-an setiap saat, termasuk saat bekerja atau belajar, atau memberitahukan status mereka melalui Twitter kapanpun dia mau.

Situasi ini membangun generasi yang norma-normanya menjadi berbeda dengan sebelumnya. Menurut Tapscott, kebebasan, customization, kecermatan, integritas, kolaboratif, entertainment, kecepatan, dan inovasi selalu melekat pada diri remaja generasi jejaring itu (net generation). Implikasinya bai dunia pendidikan, Tapscott mengutip video hasil penelitian dilakukan oleh Michael Wesch – dosen antropologi budaya – pada Kansas State University.

Melalui video itu ditunjukkan bagaimana keluhan mahasiswa terhadap sistem pendidikan yang berlaku. Misalnya, mereka mengeluhkan soal hanya 18 persen dosennya yang mengenal nama-nama mahasiswanya, kelas yang sesak – karena diisi oleh 115 orang, mereka beli buku senilai $100 tapi tidak pernah dibuka, ”Saya akan membaca delapan buku tahun ini, 2300 halaman Web, dan 1.281 profil halaman Facebook.”    

Bagaimana membangun reputasi tersebut itulah tantangan sekolah. Dalam kaitan ini penentuan strategi branding yang tepat akan sangat membantu.