Kamis, 22 September 2011

Akankah Mobile Marketing Menggeliat Lagi?


Data AdMob menunjukkan bahwa permintaan mobile advertising di Indonesia turun. Tapi, optimisme masih kuat. Pertama,  banyak provider mobile marketing asing yang mulai menggarap pasar Indonesia. Kedua, ada medan baru, yakni mobile public relations.

Ketika Majalah MIX-MarketingXtra tahun lalu menurunkan menu (laporan) utama tentang mobile marketing, ada harapan bahwa tool marketing ini akan berkembang pesat. Namun, selama setahun pula, tidak ada tanda-tanda yang memberikan isyarat bahwa mobile marketing bergerak maju. Ada memang berapa aktivitas mobile marketing yang dilakukan beberapa perusahaan, namun karena lingkupnya terbatas, publisitasnya memang teratas.
Data AdMob menunjukkan bahwa pada Februari 2009, permintaan mobile Advertising di Indonesia mencapai hampir 950 juta atau berada di peringkat dua dunia. Namun, setahun kemudian, permintaan itu melorot hingga pada level 625 juta sehingga peringkat Indonesia anjlok dari dua ke empat tergeser oleh India dan Inggris.
Kesenyapan aktivitas mobile marketing di tanah air tersebut terpecahkan manakala membaca advertorial Telkomsel yang dimuat di halaman 21 Harian Kompas edisi 25 Februari lalu. Inti dari isi advertorial itu adalah bahwa Telkomsel kini menyediakan jasa mobile advertising. Dalam hal ini Telkomsel menyediakan jasa pengiriman pesan iklan baik berupa SMS, MMS, NSP, outbound call, sell broadcast, dan sebagainya.
Sebelumnya, pada Januari 2010, AdMob mengumumkan bahwa pihaknya menjalin kerjasamanya dengan Telkomsel dalam memberikan layanan iklan bergerak yang tertuju (targeted mobile advertising) untuk jutaan pengguna mobile internet.
Seperti diketahui, AdMob adalah salah satu layanan jaringan iklan bergerak terbesar di dunia, dan telah memuat lebih dari 7.1 miliar mobile banner dan text ads per bulan melalui berbagai macam aplikasi dan mobile website ternama. AdMob membantu pengiklan berhubungan dengan konsumen melalui piranti mobile dan memberikan penerbit kemampuan untuk memantau mobile traffic mereka dengan cara efektif. AdMob, yang didirikan pada tahun 2006, menyediakan alat, data dan business model sesuai perkembangan pesat di industri mobile media di lebih dari 160 negara di seluruh dunia. Di Indonesia, AdMob telah memuat lebih dari 400 juta iklan untuk jutaan pelanggan uniknya.
Fenomena itu menunjukkan bahwa pemanfaatan mobile advertising memang luar biasa. Betapa tidak, saat ini – dihitung dari nomor yang beredar – di Indonesia, menurut Andi S. Budiman, Chief Innovation Officer Metranet, terdapat 120 juta orang. Ini merupakan database tentang karakter orang yang luar biasa.
Tabel 1. Permintaan Mobile Advertising Dunia (Januari 2010)
Sumber:
Tabel 2. Permintaan Mobile Advertising Dunia (Februari 2009)
 Sumber:

Kedua, mobile marketing mempunyai keunggulan antara lain, sangat targetted. Artinya, pesan yang ingin kita sampaikan peluang untuk sampai ke konsumen atau pelanggan yang dituju sangat besar. Konsumen dengan karakter seperti apa yang ingin dituju tersebut, semuanya tersedia di database provider. Dengan demikian kemungkinan salah target dari kampanye produk atau merek kita kecil kemungkinan terjadi.
Ketiga, kemampuan interactive yang dimiliki mobile, yang tidak dimiliki TV. “Ketiga faktor itulah yang menurut saya yang akan men-drive mobile marketing di Indonesia. Dan mobile marketing di Indonesia akan tumbuh luar biasa di tahun ini dan tahun depan.
Di sisi lain, melihat fenomena yang berkembang belakangan, sejatinya ada peluang baru mobile marketing, yakni untuk pemanfaatan fungsi public relations. Berkembangnya teknologi smartphone, provider layanan seluler, dan masih dominan sms dan komunikasi data belakangan ini membuat orang mulai melirik aktivitas mobile PR. Sampai setahun lalu, public Indonesia mengetahui yahoo, google, facebook, twitter, dan sebagainya. Kini public Indonesia sangat kecanduan dengan uber twitter, mobile facebook, BlackBerry Messenger, dan sebagainya.
Seperti diketahui, aplikasi mobile marketing kini berkembang luar biasa. Kalau beberapa tahun lalu publik – terutama di Indonesia -- hanya mengetahui sms dan web banner ads, di beberapa negara terutama di Amerika Serikat dan belahan Eropa berbagai ragam bentuk mobile marketing telah berkembang. Untuk mobile advertising misalnya, public bias melhat model visual ads, text based ads, voice based ads hingga on device portal (ODP). “Mobile marketing saat ini bukan sekadar layanan seperti ring tones, tapi bisa digunakan untuk brand advertiser menjangkau audience yang lebih luas seperti consumer goods, keuangan dan entertainment,” kata Lynn Tornabene, Chief Marketing Officer Quattro Wireless New York pada mobilemarketer.com.
Perkembangan ini juga melanda Indonesia. Sebagai contoh Coca Cola baru-baru ini melakukan kegiatan launching Buka Coca Cola Buka Semangat baru dengan menambahkan unsur digital berupa digital merchandize di event mereka dengan  mengirim wallpaper via  bluetooth blast  dan memberikan aplikasi mobile Coca Cola berisi game dan digital campaign-nya. Brand lain seperti Sony menggunakan augmented reality browser saat pameran. Dengan teknologi ini pengunjung dapat merasakan keunggulan notebook Sony Vaio yang dapat menampilkan augmeted reality saat mengakses internet.

WIRU sebuah Web portal baru yang diperkenalkan oleh ICON+ (pemilik jaringan fiber optic terbesar di Indonesia) memanfaatkan mobile marketing dengan cara membuat microsite yang dapat diakses menggunakan wifi  sehingga pengemudi dan penumpang yang menggunakan smart phone dapat mengakses Internet  dengan mudah. Hl ini dimungkinkan karena jaringan wifi nya ditempatkan di tiang listrik. “Mereka yang pertama di Indonesia menggunakan augmented reality browser sebagai sarana tambahan di web portal mereka,” kata Amiranto Adi Wibowo, Chief Innovation Officer
JSPOT mobile.   .

Banyak bukti bahwa mobile marketing efektif. Penelitian yang dilakukan oleh InsightExpress. Jay Liuzzo, Senior Director Marketing dan Mobile Research InsightExpress, Stamford, Connecticut, menyebutkan  bahwa kampanye mobile lima kali lebih efektif dibandingkan online. Selain itu, pada beberapa kategori seperti consumer goods, travel, retail, dan entertainment, mobile marketing meningkatkan minat pembelian lebih besar dibandingkan dengan online konvensional. “Intinya, kampanye online perlu diperkuat dengan mobile,” kata Liuzzo.
Hasil penelitian ini sekaligus untuk menjawab keraguan para praktisi marketing terhadap teknik pengukuran pencapaian dari mobile marketing. Menurut Tornabene, saat ini pemasar yakin bahwa respon publik terhadap mobile marketing lebih mudah diukur. Caranya adalah dengan mengukur tingkat CTR (click through rate). CTR didapatkan dengan membagi jumlah pengguna yang mengklik sebuah iklan dengan seberapa sering iklan tersebut di-deliver. Misalnya jika sebuah banner ads di-deliver 100 kali, dan satu orang mengklik iklan itu, maka CTR-nya adalah 1%.
Atas dasar itu, Tornabene menekankan bahwa apapun tujuan marketer, entah itu brand awareness, penjualan DVD, kunjungan ke showroom mobil, mobile advertising adalah medium yang efektif dan efisien. “Contohnya adalah kampanye RockBand PSP yang menghasilkan CTR 20 kali lebih besar dibandingkan iklan online-nya,” kata Tornabene.
Lalu bagaimana di Indonesia? Kalau dilihat dari sisi user (pengguna mobile) dan perangkat (gadget) yang ada, perkembangannya jelas cukup pesat. Saat ini hampir setiap orang – mulai remaja hinga dewasa dan orang tua -  pasti memiliki handphone. Dari gadget sederhana sampa yang canggih. Begitu juga operator yang ada, jumlah operator sekarang meningkat pesat dibandingkan 5 tahun lalu. Ini menunjukkan bahwa perkembangan mobie di Indnesia cukup pesat.
”Namun, kalau dilihat dari sisi aplikasi, dalam hal ini aplikasi untuk mobile marketing, saya bisa katakan bahwa di Indonsia pada tahap baru mau mulai berkembang,” kata Abdul Rahman, President Director PT Agranet Multicitra Siberkom (Detikcom). ”Saya presiksi,  4-5 tahun ke depan, penerapannya mulai banyak.” 
Harus diakui bahwa meski potensi pasarnya sangat besar di Indonesia, namun dalam aplikasi mobile marketing Indonesia agak telat. Kenapa? Tidak seperti di Amerika Serikat atau Eropa dimana teknologi internet berkembang pesat, di Indonesia sepertinya pemasar masih menunggu. Mereka baru melakukan kalau sudah ada yang berhasil. “Di AS atau Eropa, pemasarnya justru berani mencoba. Meski banyakjuga yang gagal, namun banyak pula yang berhasil,” kata Yoris Sebastian, CCO OMG. “Sampai hari ini belum ada satu model atau mainstream model yang diadopsi secara massal,” kata Andi S. Budiman, Chief Innovation Officer Metranet.
Kenapa? Dari sisi teknologi, infrastruktur yang tersedia tidak mendukung. Coba Anda cek, seberapa lancarkah Anda menyaksikan video yang Anda download dari situs internet terentu melalui gadget mobile? Kedua, dari sisi infrastruktur lainnya, pihak provider masih belum siap. Misalnya, saat ini operator belum bersedia investasi menyuguhkan data akurat tentang pelanggannya, mulai dari pengunaan mobilenya, kemana saja dia menghubungi, tingkat download rata-rata per hari, apa saja yang di-download, dan data-lain seputar aktifitas mobile pelanggan.
Sampai tulisan ini dibuat, baru Telkomsel yang secara terbuka menyatakan menyediakan fasilitas tadi kepada calon kliennya. Lewat advertorialnya di sebuah media 25 Februari, Telkomsel menyediakan jasa layanan mobile advertising. Disini pengiklan dapat bekerjasama dengan media seler yang menjadi mitra Telkomsel untuk menyusun materi iklan. Sementara tu, Telkomsel menyediakan jasa untuk menyampaikan materi iklan terebut kepada calon pelanggan.

Rempoa, 1 Maret 2010