Kamis, 29 September 2011

Buzz Public Relations


Buzz kini semakin penting bagi perusahaan. Tugas public relations adalah menciptakan buzz positif. Namun demikian, bila muncul buzz negatif hal itu bukanlah karena kegagalan PR, melainkan kegagalan etika perusahaan.

Buzz? Ini adalah sesuatu yang bisa mempengaruhi apa yang kita pikirkan tentang sesuatu, kita bicarakan, kita baca dan sebagainya. Intinya, buzz adalah menjadi perhatian dan perbincangan publik. Dalam era media-centric modern, buzz bisa disejajarkan dengan publisitas.

Bedanya, media sekarang makin bekembang dengan munculnya media sosial yang dikelik-kelik oleh perkembangan internet dan telepon seluler. Sekarang media massa konvensional (koran, majalah, radio, dan televisi) mempunyai saudara bernama Youtube, Facebook, Twitter, dan sebagainya. Luar biasanya, mereka seakan-akan bahu membahu sehingga keberadaan media sosial seakan membuat apa yang kita lihat, dengar, baca, dan rasakan menyebar luas dengan cepat seperti virus.

Siang, seorang artis tertangkap kamera bermesraan dengan cowok yang bukan pasangannya, siang itu juga gambarnya tersebar kemana-mana melalui Youtube, handphone, milist dan sebagainya. Beberapa menit atau jam kemudian televisi, koran, majalah, dan radio ikut menyebarkan informasi itu. Orang ingin menonton televisi atau membaca tabloid, majalah atau koran seakan beralasaningin mengkonfirmasikan atau memperjelas informasi tersebut.    

Kenapa buzz? Perusahaan membutuhkan buzz karena pesaing kita siang dan malam berusaha menciptakan hal yang sama. Bayangkan minggu lalu produk kita memiliki diferensiasi yang tinggi. Bulan depan – karena produk kita laku – sudah muncul produk lain yang sama persis dengan produk kita, bahkan mungkin kualitasnya lebih baik. Dalam keadaan seperti itu, buzz lah yang menjadi andalan karena buzz yang membuat produk kita tetap beda.

Buzz yang membuat apakah produk kita tetap dianggap sebagai biangnya minuman berenergi atau sekadar sirup biasa. Beberapa penelitian menyatakan buzz jauh lebih dipercaya dibandingkan iklan. Bila iklan dianggap khalayak sebagai suatu keniscayaan,  buzz dianggap sebagai suatu yang bukan kebohongan.   

Kenapa buzz public relation ? Public relations bisa diterjemahkan sebagai pengelolaan komunikasi untuk menciptakan opini publik ke arah seperti yang diinginkan oleh organisasi atau individu. Organisasi disini bisa perusahaan, negara atau kelompok lainnya seperti LSM. Bila pengertian ini diterima, berarti menempatkan segala sesuatu yang disampaikan kepada masyarakat melalui media massa atau langsung untuk mempersuasi audiense sebagai bagian dari kampanye public relations.

Media merupakan ritual komunikasi untuk para anggota dari suatu budaya karena media memberikan atau menawarkan cara pandang untuk memahami diri kita sendiri. Dengan kata lain media mempengaruhi cara pandang karena media massa telah berhasil membingkai pikiran kita. Apa yang kita lihat dan kita baca, bisa menimbulkan persepsi dan sikap positif atau negatif, hal itu sangat tergantung pada bagaimana media membingkainya.

Di sisi lain, kita sulit menghindari media karena media telah menjadi bagian dari budaya kita. Media disini bisa konvensional, bisa pula internet dan handphone. Mereka menjadi bagian budaya karena setiap hari kita selalu bersentuhan dengan mereka. Apakah kita pernah ada hari tanpa membuka internet? Apakah kita pernah sehari tanpa handphone? Mungkin pernah tapi kita merasakan ada sesuatu yang “kurang”. Sebab, bila tidak ada orang yang meng-sms, pemegang handphone sepertinya kehilangan informasi.

Menciptakan buzz bukan perkara sulit, kata Richard Laermer – penulis buku Full Frontal PR: Building Buzz About Your Business, Your Product, or You. Kita bisa menciptakan buzz dari faktor-faktor yang ada pada diri kita. Setiap nafas perusahaan (merek dan atau termasuk kita), gerak gerik perusahaan dan sebagainya berpotensi menciptakan buzz. Seseorang pindah kerja atau dipromosikan, laporan keuangan perusahaan, pertumbuhan laba perusahaan, kantor pindah, dan termasuk musibah yang dialami kantor bisa menjadi buzz.

Artinya, dalam semua gerak-gerik itu, peluang untuk menciptakan buzz. Tak ada sesuatu yang misterius dalam seni menciptakan buzz yang benar-benar tajir bila dipahami secara benar apa itu buzz dan mana yang bukan buzz. Bila relasi kita dengan media (konvensional) cukup baik, kita bisa memberi mereka cerita yang mereka inginkan.

Lalu kenapa menyebarkan informasi melalui buzz lebih bernilai ketimbang iklan? Alasan sebenarnya adalah liputan media lebih powerful. Membayar untuk menyebarkan informasi dalam masyarakat yang kejenuhan media belakangan ini membuat informasi itu kurang diperhatikan. Ini berbeda dengan bila informasi tersebut disebarkan secara gratis oleh media. Orang akan lebih dipercaya bila informasi itu ditulis oleh jurnalis atau bloger. Lebih dari 70% masyarakat – menurut survey – lebih mempercayai tulisan mereka dibandingkan dengan informasi yang muncul melalui iklan.

Itu sebabnya, keakraban dengan media itu perlu. In merupakan langkah efektif untuk menciptakan interest dan antuasiasme publik terhadap produk kita. Tanyakan kepada sesorang yang membaca media atau menonton TV, apakah mereka mempercayai berita atau iklan.

Proses menciptakan publisitas melalui media – televisi, radio, koran, majalah,  newsletters, dan internet — sangat krusial bagi dunia usaha. Dalam hal ini penting bagi perusahaan atau individu untuk mempersiapkan secara cepat apa yang ingin perusahaan jelaskan. Pendekatan melalui hubungan dengan media penting karena secara praktis pendekatan ini jah lebih kredibel ketimbang membayar melalui iklan atau kampanye marketing lainnya. Dalam konteks ini, eksposure yang dilakukan media bisa menjadi iklan atau kampanye marketing tanpa harus mengeluarkan biaya.

Untuk menciptakan buzz yang efektif, organisasi atau individu harus mengetahui bagaimana bekerja sama dengan media. Sangat penting untuk memahami bagaimana berbicara dengan jurnalis sehingga perusahaan atau individu dapat menjawab pertanyaan atau memberikan jawaban atas persoalan yang ingin diungkap oleh semua jajaran media 

Jurnalis yang bekerja dalam tekanan deadline atau dipelototi penuh kecurigaan oleh redakturnya, selalu mencari berita yang baik. Mereka membutuhkan Anda sebagaimana Anda membutuhkan mereka.

Kuncinya adalah Anda perlu menarik perhatian mereka (para jurnalis atau blogger). Cari reporter yang tepat untuk menulis cerita tentang perusahaan Anda. “Jual” cerita Anda kepada mereka setelah melakukan wawancara, dan yakinkan bahwa Anda melanjutkan dan meningkatkan kerjasama yang telah terjalin dengan mereka.

Akan tetapi, exposure atau publisitas atau buzz tidak selalu tentang hal-hal yang positif. Tidak seperti iklan, Ada tidak bisa mengontrol publisitas. Di sisi lain, PR ditutntut untuk menciptakan, meningkatkan dan mempertahankan image positif. Disinilah belajar tentang crisis communication menjadi penting.  Namun yang mesti diingat adalah publisitas negatif yang sering terjadi di dunia bisnis bukanlah karena kegagalan dari public reltions. Publisitas negatif terjadi karena kegagalan dari etik perusahaan.

Rempoa, 27 Maret 2009