Jumat, 30 September 2011

Orang-orang Pembuat Revolusi

Orang-orang Pembuat Revolusi

Tahun lalu, banyak top eksekutif di bidang pemasaran yang berpindah perusahaan. Ada Hasnul Suhaimi yang dari Indosat menclok di Excelomindo, Erik Meijer dari Telkomsel ke PT Bakrie Telecom Tbk, Iriana Ekasari Muadz dari Bintang Toedjoe ke ABC-Heinz, dan lainnya. Prestasi apa yang telah mereka capai selama setahun ini?   

Mereka adalah marketer-marketer yang sukses di bisnis sebelumnya. Itu sebabnya, sudah barang tentu mereka di”beli” dengan sekadar tawaran imbalan apa adanya melainkan – mungkin -- melebihi yang mereka bayangkan. Harapannya, pemilik atau pemegang saham ingin mereka segera memperhebat perusahaannya dalam batasan waktu yang ditentukan, meski tak bisa dipungkiri kemungkinan adanya tujuan lain dari akuisisi top manager tersebut. 

Seberapa baik manajer melakukan pekerjaan mereka (prestasi manajerial) merupakan pokok yang banyak diperdebatkan, dianalisis dan membingungkan. Demikian pula prestasi organisasi atau ukuran seberapa baik organisasi melakukan pekerjaan mereka. Sebab hal ini tidak dapat dilepaskan dari motif para pemegang saham untuk merekrut mereka. Dan masing-masing mempunyai motif yang berbeda. Persolannya akan semakin rumit manakala menyangkut perusahaan yang mempunyai keterkaitan politik sangat besar seperti perusahaan BUMN.

Dalam menu utama Majalah MIX-Marketing Extra ini memang tidak semuanya bisa digambarkan secara pasti bahwa mereka berhasil mengangkat kinerja mereka. Namun, dari pengamatan yang muncul di permukaan dan melihat respon dari masyarakat terhadap sepak terjang mereka, ada gambaran bagaimana prestasi di tempat mereka yang baru. Hanya di perusahaan terbuka (yang listing di bursa saham) prestasi mereka bisa diketahui secara transparan.

Ambil contoh Erik Meijer yang menjabat Deputy President Director  PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) sejak Januari 2007 setelah cabut dari Telkomsel. Sejak Erik bergabung, banyak terobosan yang dilakukan oleh BTEL. Salah satunya adalah peluncuran kartu perdana edisi baru Esia Paket Untung dan kerja sama paket dengan vendor telepon selular (ponsel) seperti Huawei dan LG sehingga mampu menyediakan ponsel Esia dengan harga terjangkau. Ponsel Esia baru dengan harga Rp199.999 itu dalam sebulan terjual sekitar 300 ribu unit dari target 500 ribu unit.

Untuk perusahaan seperti ABC-Heinz memang sulit mendapatkan data kinerjanya. Namun, bila dilihat di pasar, ada kemajuan dalam upaya marketing produk kecap yang diproduksi oleh ABC-Heinz. Ketika kecap ABC mendapat tekanan gencar dari pesaingnya, kecap Bango dari Unilever, Iriana yang telah belasan tahun bekerja di Unilever, mengubah label atau kemasan dan produk kecap ABC. Ia melakukan ini agar brand ABC bisa lebih strong.

Pada intinya, tujuan pemegang saham merekrut mereka adalah keinginan pemegang saham atau manajer yang lebih tinggi akan adanya perubahan. Tanda-tanda inilah yang selalu diharapkan pada setiap terjadi pergantian di perusahaan. Asumsi pemegang saham,  masih peluang untuk lebih maju bagi perusahaannya dan kemajuan itu hanya bisa dicapai bila ada perubahan.

Itu sebabnya, diperlukan top manager yang baru. Seorang top manager adalah wiraswasta yang mempunyai kemampuan untuk menetapkan tujuan, perencana strategis, mengorganisasi, pemimpin yang menentukan arah dan pengendali utama (kontrol). Tugasnya adalah mengarahkan perusahaan atau suatu unit bisnis pada wilayah yang tidak terpetakan dalam situasi yang kurang pasti.


Who Really Made the Revolution Happen?

Steve Jobs, CEO Apple Computer, banyak mendapat sebutan sebagai hero. Dia bukan sekadar berhasil men-turn around perusahaan, tapi juga berhasil mengubah wajah bisnis terutama di bidang entertainmen dan teknologi komputer. Ingat iPod, merek digital music player dari Apple Computer? Produk itu melahirkan istilah podcasting yang oleh the New Oxford American Dictionary dinobatkan sebagai Word of the Year, pada 2005 silam.  

Dengan podcasting memungkinkan kita mendownload ribuan lagu memalui internet dalam waktu yang tidak pernah kita bayangkan kecepatannya tanpa takut dituduh illegal. Ini menandai revolusi teknologi dengar musik yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Sejak kelahiran iPod, peta bisnis hiburan musik dengar dan lihat benar-benar berubah. Apalagi ketika orang menyaksikan bagaimana Presiden Bush menikmati iPod saat joging di sekitar istana kepresidenan. Sejak itu wabah iPod seakan tak terbendung. 

Namun, bukan kata itu sendiri yang menarik. Justru orang yang berada di balik iPod dan podcasting itu yang menarik. Dialah Steve Jobs, salah pebisnis yang mempunyai keyakinan, bahwa teknologi merupakan inspirasi bisnis. Beberapa penulis menyebut Jobs sebagai pebisnis paling kharismatik di Amerika Serikat – bahkan di seluruh dunia – sebab apa saja yang dia lakukan selalu menarik perhatian orang.

Bahkan Jobs dianggap sebagai salah satu contoh orang yang selalu berhasil. Tetapi, keberhasilan iPod membuat dia seakan dianggap sebagai pahlawan. Dia berhasil memposisian dirinya sebagai pusat transisi nyata dalam bisnis komputer, elektronik, dan hiburan. Sebab pada kenyataannya, teknologi digital telah mengubah cara produksi dan distribusi, dan komputer telah meningkatkan konvergensi dengan konsumen produk elektronik dalam mendeliver konten hiburan.

Padahal, beberapa sektor industri media sulit beradaptasi perubahan-perubahan yang terjadi di konsumen. Masih ingat soal MP3, konsumen menarima tapi industri menolak. Merebaknya format ini telah menimbulkan kecemburuan bahkan tuduhan dari kalangan industri musik bahwa teknologi ini telah membuat orang bertindak sebagai ”perampok” industri lainnya. Teknologi download (yang nyaris tanpa biaya) dan sharing file lagu yang semakin mudah, membuat penjualan keping CD dan pendapatan industri musik anjlok. Mengatasi kemelut ini, Jobs menawarkan alternatif model bisnis melalui iPod.

Tom Peters – penulis buku manajemen “gila” – menggambarkan Jobs sebagai revolusioneris. ‘There is one guy I take a shine to more than anybody else . . . Steve Jobs.  Steve is... the one who really made the revolution happen’ (Peters, T. (2003). Re-imagined! London: Dorling Kindersley Ltd.). Pada Agustus 2005, Business Week melaporkan bahwa dalam survey yang dilakukan the Boston Consulting Group terhadap 940 senior executives dari 68 negara untuk memilih perusahaan paling innovatif, Apple berada di urutan teratas dengan perolehan 24.84%, sementara urutan kedua diduduki 3M dengan persentase yang jauh di bawah Apple, yakni 11.77%.

Keberhasilan suatu organisasi sejatinya tidak dinilai hanya karena seseorang, orang lain dalam organisasi juga sangat menentukan. Dengan kata lain, keberhasilan suatu organisasi sangat bergantung pada kemampuan Tim bukan kemampuan pribadi orang per orang. Itu sebabnya, tak jarang orang yang sebelumnya berhasil mengembangkan suatu bisnis, belum tentu dia juga berhasil mengembangkan bisnis di tempat lain. 

Itu sebabnya ada teori yang mengatakan bahwa keberhasilan suatu organisasi sangat bergantung pada bagaimana sang menajer memotivasi dan mengarahkan orang-orang yang terlibat dalam organisasi tersebut. Ada teori yang membagi manager menjadi dua jenis. Pertama, manager yang berorientasi pada relationship, dan kedua, menager yang berorientasi pada tugas atau pekerjaan.

Manager yang berorientasi pada relationship sangat concern dengan masalah-masalah seperti persahabatan, saling percaya, penghormatan, dan kualitas hubungan antara sang manager dengan bagian-bagian di bawahnya. Sementara itu, manager yang berorientasi pada tugas, cenderung mengorganisasi dan menentukan hubungan antara dia dan yang lain, serta cenderung berkonsentrasi pada pelaksanaan pekerjaan, jadwal, dan kritik.

Dua jenis manager tersebut mempunyai karakter yang berlawanan. Ambil contoh Jobs tadi. Beberapa media menggambarkan bahwa Jobs sebagai narsis. Jack Welch dan George Soros juga pebisnis yang dianggap memiliki karakter narsis. Umumnya, menurut Maccoby (2000) dalam tulisanya yang berjudul Narcissistic leaders – the incredible pros, the inevitable cons di Harvard Business Review, 82(1), 92-101, meski sering dianggap negatif, namun mereka memiliki visi. Mereka mungkin bukan analis situasi atau pemecah masalah yang hebat. Tetapi, mereka bisa melihat sesuatu yang berbeda dengan orang lain, dan melakukan sesuatu yang belum dilakukan oleh orang lain.

Kedua, kharisma. Mereka umumnya punya kemampuan untuk mendekati atau membujuk orang lain dengan menggunakan kemampuan retoriknya. Yang ketiga,  dan ini negatifnya, umumnya kurang bisa menerima kritik dari orang lain, sebab mereka takut imagenya terganggu. Keempat, orang yang memiliki kepribadian narsis biasanya kurang berempati pada orang lain. Mereka kurang menyukai tatap muka sehingga berusaha menghindari pertemuan langsung. Kelima, mereka akan bertarung membela diri habis-habisan bila ada orang yang mengganggu posisinya, termasuk bila itu dilakukan teman akrabnya sekalipun.

Pada awal kariernya, Jobs diketahui sebagai pribadi yang arogan, kasar, dan pemberontak. Gara-gara kepribadiannya itu, dia sempat disingkirkan dari perusahaan yang dia dirikan bersama temannya, Apple Computer, pada 1985. Untungnya, pada 1997,  Jobs diundang kembali oleh CEO Gil Amelio untuk menjadi penasehatnya. Pada tahun itu juga, Amelio mundur dan minta Jobs menggantikan posisinya. Sejak itu, Jobs tidak pernah meninggalkan Apple dan dia berhasil menturn-around perushaan baik dari sisi penjualan maupun market share.  Nah, siapa top manager Indonesia yang memiliki kepribadian seperti itu? Barangkali juga Anda.
Rempoa, 10 Desember 2007