Kamis, 29 September 2011

Paradigma Baru Marketing

Pada dasarnya, pendekatan marketing bisa dicirikan oleh dua karakteristik yang berbeda. Pertama, tingkat interaksi suatu medium. Kedua, lokasi dari suatu medium. Media tradisional dicirikan oleh fungsinya sebagai “sandaran”. 

Ketika kita menyaksikan suatu program atau iklan melalui televisi misalnya, kita tidak melakukan tindakan apapun terhadap program itu secara langsung bila ada iklan yang tidak berkenan. Paling-paling kita hanya bisa memindahkan channel atau mematikannya atau kita menelpon ke penyelenggara program. Apakah lalu program itu diganti oleh penyelenggara, sulit memprediksinya. Apalagi kalau hanya kita yang protes. Intinya, kita hanya bisa pasrah atau pasif. Demikian halnya dengan iklan di media cetak atau radio.

Hal kedua adalah lokasi. Baik media televisi, radio atau media, sangat terikat pada lokasi. Jadi iklan di majalah misalnya hanya bisa kita baca di  rumah, kantor atau dalam perjalanan atau penerbangan menuju ke tempat lain. Sementara billboard atau iklan pengecer diskon besar-besaran misalnya, hanya bisa kita lihat dilokasi tertentu seperti di dekat Bundaran HI Jakarta atau tempat lainnya. Di tempat lain mungkin ada kalau sang pengiklan bersedia mengeluarkan biaya lebih besar. 
Ini berbeda dengan media baru yang sifatnya lean-forward yang memerlukan derajat interaksi atau kesadaran untuk terlibat yang lebih besar. Web misalnya. Berbeda dengan bilboard yang meski tanpa kita mau akan terlihat juga. Sebuah situs, harus kita cari. Artinya secara sadar kita memang membuka sebuah halaman web atau situs. Akan tetapi, Web juga masih terikat pada lokasi. Maksudnya, bila kita ingn masuk ke suatu web atau situs, kita masih membutuhkan komputer di rumah atau kantor.

Keunikan dari mobile marketing adalah kita atau konsumen bisa mengaksesnya tanpa terikat pada waktu dan lokasi. Konsumen bisa melakukan interaksi dengan merek atau perusahaan yang menawarkannya tanpa terikat pada waktudan lokasi tertentu. Kelebihan ini yang tidak dimiliki oleh media lainnya. Dengan kata lain, platform mobil marketing menawarkan suatu pengalaman yang berbeda secara mendasar dengan platform lainnya.

Perubahan paradigma ini dapat memberikan kontribusi penting bagi perubahan strategi yang memungkinkan perusahaan mencapai dan berhubungan dengan calon konsumen yang ditarget. Teoritis, pengiklan tentunya akan semakin mudah mencapai calon konsumennya, terutama di kalangan remaja, bila memasang iklan di i-iklan yang disediakan oleh Indosat. Ini karena pelanggan i-klan Indosat yang bersedia menerima pesan iklan setiap hari 90% adalah para pelanggan IM3.

Pelanggan IM3 sebagian besar adalah anak-anak muda. Ditengok dari usia, 57%-nya adalah usia 18-25 tahun dan 33%-nya merupakan mereka yang berusia di bawah 17 tahun. Sementara itu, dilihat dari kota tempat tinggal, 70-80% berasal dari kota Jakarta. “Data 700 ribu pelanggan itu menunjukkan bahwa mobile marketing memang direspon positif oleh pasar anak muda, yang biasanya mau diganggu dengan kiriman SMS, MMS, dan sebagainya,” kata Guntur S. Siboro, Direktur Marketing Indosat. (aruman)

Rempoa, 3 Februari 2009