Jumat, 02 September 2011

TRIK SUKSES JARINGAN OUTLET

Jaringan outlet bisnis kecil kini menggurita. Adamodel franchise ada pula yang bukan. Ada yang berhasil, tapi ada juga yang gagal. Bagaimana supaya berhasil?

Pernahkan Anda mampir ke outlet Bakmi Gajah Mada -- dimana pun lokasinya -- langsung mendapat meja? Apalagi bila pas jam-jam makan siang, Anda tentu sering terpaksa mengunggu.

Dari situ Anda tentu berpikir, kalau selalu penuh kenapa Bakmi Gajah Mada tak membuka cabang baru seperti Es Teller 77 yang gampang dijumpai di setiap mal. Kenapa Bakmie Gajah Mada (GM) sampai kini hanya memiliki beberapa outlet -- seperti Jl. Gajah Mada, Jl. Melawai, dan Mal Pondok Indah?

Logika awam benar bahwa kalau permintaan selalu tinggi kenapa tidak seagresif Es Teller 77 tadi misalnya. Padahal, bisa saja GM membuka cabang melalui sisten franchise seperti Es Teller 77. Tidak. GM memilih membangun outlet terbatas dengan ukuran luas. Sebaliknya Es Teller 77, membuka outlet di hampir semua mal meski dengan ukuran kecil-kecil.

Itu pilihan strategis. Seperti juga yang dilakukan Jana Taylor ketika membuka outlet bakery di Oregon, AS. Dari tahun 1996 sampai 1997 akhir, toko Taylor tumbuh dari hanya tujuh karyawan menjadi 35 orang. Pejualannya juga meningkat dari US$5 juta menjadi US$ 8,6 juta. Bahkan dua tahun lalu, karyawan Taylor telah mencapai 100 orang dengan penjualan US$ 13 juta. Tahun ini dia mentargetkan penjualan US$18 juta.

Apakah Taylor membuka toko baru? Tidak. Untuk mencapai target itu, menyulap produknya dengan inovasi baru. Setiap tahun dia memperkenalkan 40-60 produk baru. Ragam produk itu menambah perbendaharaan produk Taylor yang kini mencapai lebih dari 400 macam, mulai dari kue, adonan, dan produk yang berkaitan.  

Selain itu, dia juga ekspansi bisnis mulai dari menjual adonan beku yang memasok pembuat kue hinga es krim, perusahaan permen, restoran, pembuat desert beku dan supermarket di seluruh Amerika.

Menurut study yang dilakukan the Kauffman Center for Entrepreneurial Leadership -- lembaga riset organisasi dan pendidikan entrepreneur di Missouri, AS, strategi pertumbuhan cepat yang dilakukan Taylor sungguh cerdas.

Studi studi yang dilakukan terhadap 672 pemenang Ernst & Young Entrepreneur of the Year, menunjukkan bahwa strategy memaksimalkan penjualan dengan menekankan pada penciptaan produk dan pasar baru menghasilkan keuntungan 25 % lebih tinggi. Juga meningkatkan tiga kali lipat kekayaan perusahaan ketimbang perusahaan yang memfokuskan diri pada keuntungan.

Sukses nampaknya begitu sederhana. Yang sulit adalah mengadaptasikan diri pada kesukseskan itu sendiri. Sebab jika salah beradaptasi bisa kebablasan, kehilangan kontrol dan memalukan. Itu bisa terjadi pada perusahaan besar -- seperti Planet Hollywood. Setelah membenamkan dana US$ 250 juta, perusahaan itu bangkrut dan direstrukturisasi. "Ekspansi kami terlalu cepat," kata Robert Earl, CEO dan salah satu pendiri Planet Hollywood.

Manfaat paling besar memiliki banyak cabang atau outlet adalah kredibilitas. Seorang penjual komputer yang memiliki banyak outlet tentu dilihat sebagai bonafide. Ini beda bila pengusaha hanya mempunyai satu toko. Yang ditanyakan pelanggan pertama kali pada penjaga toko itu mungkin, "Akankah toko ini masih buka bila komputer saya perlu diperbaiki tahun depan?"

Yang pasti, sebelum memutuskan memperluas jaringan outlet, Anda harus bisa menjawab beberapa pertanyaan kritis. Apakah sudah mempunyai infrastruktur, peralatan, sumber daya dan personel yang siap menghandle ekspansi bisnis Anda? Kalau pun Anda memiliki semuanya bukan berarti Anda bisa tancap gas. Jawabannya masih mungkin.

Lalu kapan dan bagaimana caranya agar tetap sukses, ikutilah segmen utama  Marketing nomor ini.(Tabloid Marketing 07/2001)