Kamis, 20 Oktober 2011

Ada Apa dengan Agency?


Passion dan kreativitas agency di bidang komunikasi pemasaran sungguh luar biasa. Inilah awarding pertama untuk mereka berdasarkan pilihan marketer.   


Hani, seorang media buyer bagi perusahaan periklanan di Jakarta mengeluhkan masalah kliennya yang super rewel, maunya harus cepat padahal kliennya itu jika memberi materi pasti selalu mepet. Dia jadi blingsatan memasukkan iklan itu. Masalahnya, iklan sekarang harus antri!!! Apalagi di program khusus atau program-program prime-time. Berebut! Bisa bonyok-bonyok karena baku hantam dengan pemasang iklan yang lain.

Ribuan umpatan dan caci-maki keluar dari mulut tipisnya. “Dasar pengusaha! Iklan bagus harus di media besar! Ah... omong kosong!”. Jika tak mau repot, ya dipasang saja di media seadanya. Murah dan nggak perlu capek-capek antri! Impact-nya pun seadanya. Mungkin. Atau kalau tetap mau di media besar tanpa harus antri, ya bayar lebih mahal atau manfaatkan hubungan personal.
(http://dhanan.blogspot.com/2008/02/saat-udara-semakin-ruwet.html)

Penggalan tulisan itu sengaja saya kutip sebagai pembuka tulisan ini. Sebab dari tulisan itu kita mengetahui bagaimana repotnya seorang pekerja agency periklanan meladeni kliennya.

Service bagi pemasang iklan adalah segala-segalanya. Sebab saat ini semakin banyak dan berkembang agency-agency periklanan. Mereka sangat kreatif, termasuk dalam membaca trend dan memanfaatkan media. Mereka faham bahwa promo melalui periklanan kini banyak mendapatkan pesaing. Media untuk mempublikasikan iklan semakin banyak dan beragam. TV misalnya, selain stasiunnya semakin banyak, ada sebaran program-program yang seringkali berbenturan waktunya antara satu progfram unggulan dengan program unggulan lainnya. Ini membuat para media placement harus memutar otak.

Intinya, tumbuhnya pemancar komersial di segenap penjuru tanah air, masing-masing dengan gaya dan cara pendekatan yang berbeda memaksa mereka untuk menjadi semakin cerdas dalam memilih merdia. Terbitnya puluhan majalah-majalah baru mulai dari yang bersifat umum hingga majalah yang khusus bicara soal rambut, mobil, konstruksi dan komputer. Terbitnya surat kabar yang berdomisili di ibu kota negara, ibu kota propinsi atau ibu kota kabupaten, masing-masing dengan garapan berita yang beda ruang lingkupnya. Juga mempunyai implikasi yang sama bagi pengelola agency.


Selain itu, iklan sendiri kini mendapat pesaing berupa event dan aktivitas pemasaran lain seperti public relations, dan sebagainya. Belum lagi dengan semakin berkembangnya teknologi seperti intenter dan telepon seluler serta piranti komunikasi lainnya, hal-hal negatif dan positif pada sebuah merek bisa menyebar dari satu pihak ke pihak lainnya dengan kecepatan dan daya sebar yang belum sempat kita bayangkan lima sepuluh tahun lalu.

Di sisi lain, tuntutan pemilik merek kini bukan lagi sekadar meningkatkan awareness. Pemilik merek selalu berhitung bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan untuk promosi harus meningkatkan penjualan sekian. Itu sebnabnya dewasa ini perpindahan account pemilik merek dari satu agency ke agency lainnya cukup tinggi.
Beberapa agency kini mengembangkan diri menjadi apa yang disebut dengan one stop service. Lo mau apa, gua ada. Lo belum minta sudah gua sediain. Sebuah agency periklanan yang mendukung predikat ini adalah agency yang mempunyai kapasitas untuk memberi pelayanan di tiga bidang yaitu, pertama, konsultasi komunikasi pemasaran, kedua pelayanan perencanaan dan pemesanan media, dan ketiga pelayanan kreatif. ”Tanpa diminta klien, kami turut merumuskan strategi komunikasi merek klien, brand development, hingga consumer insight. Itu semua bagian dari layanan  Dwi Sapta, dan tidak dikenakan biaya,” President Director Dwi Sapta A. Adji Watono.


Pelayanan konsultasi pemasaran merupakan barisan terdepan yang berhadapan langsung dengan pihak pemilik merek sebagai pemakai jasa periklanan. Para pemilik merek selalu mempersepsikan bahwa di dalam agency periklanan terdapat sekumpulan para ahli dalam komunikasi pemasaran. Para “tenaga ahli” inilah yang diharapkan membawa pengetahuan, keahlian, pengalaman serta efisiensi yang tidak dimiliki perusahaan ke dalam perusahaan pemilik merek.

Para pemilik merek memiliki ekspektasi bahwa para agency ini memiliki kemampuan untuk menemukan solusi dari berbagai masalah bisnis kliennya yang kompleks. Dengan menghemat sejumlah besar uang klien atau merekomendasikan peluang pendapatan yang atraktif, para agency menampilkan fungsi yang nilainya luar biasa.

Ada beberapa alasan sebuah perusahaan menggunakan jasa agency? Pertama, perusahaan berharap memperoleh pengetahuan yang mendalam tentang periklanan misalnya, serta memperoleh wawasan dan ketrampilan komunikasi pemasaran yang terkini. Kedua, memperoleh kekuatan negosiasi dengan media, ketiga, mampu mengkoordinasikan berbagai kekuatan periklanan, promosi penjualan, publisitas, desain kemasan, perencanaan pemasaran strategik dan aktivitas pemasaran lainnya.

Di sisi lain,  ada beberapa kelemahan bila menggunakan jasa agency. Pertama, beberapa kontrol terhadap fungsi aktivitas pemasaran hilang. Kedua, Agency seringkali cenderung mengutamakan pada klien-klien yang besar. Ketiga, sering agency tersebut malah tidak efisien dalam belanja media misalnya. “Ada agency yang berbasis integrated marketing communications (IMC) memberikan price yang kadang tidak masuk akal. Sebab setelah kita tinjau lebih dalam ternyata IMC tersebut tidak bisa diterima oleh pasar karena mungkin segmentasinya terlalu tinggi. Hal ini lah yang terkadang menjadi pemborosan,” Niluh Putu Ayu Setiawati, Brand Management OTC KalbeFarma.

Itu sebabnya, untuk mengapresiasi kerja para agency tersebut, Majalah MIX-MarketingXtra memberikan award bagi mereka. Inilah awarding pertama untuk para agency di bidang marketing communications yang pertama di Indonesia berdasarkan pilihan para marketer.