Rabu, 19 Oktober 2011

Bangga pada Diri Sendiri


“I’ve seen you silent at meetings. I’ve seen you eating lunch alone. And I’ve even seen your louder, less talented colleagues promoted over you. Yet I know you have something to say. What stops you from saying what you want to say, especially when it’s about you? Perhaps you don’t want to brag or draw too much attention to yourself.”
                                               
Paragraf itu terdapat di halaman pertama dari buku Self-Promotion for Introverts. Bila dicermati, ada beberapa point yang menjelaskan karakter seorang introvet. Pendiam, penyendiri, bersuara keras, tidak suka (atau malu) menonjolkan diri. Akhirnya karirnya kalah dibandingkan dengan rekan-rekannya yang punya karakter sebaliknya. “Itulah karakter orang introvert,” kata Nancy Ancowitz, penulisnya.

Ancowitz nampaknya tak mau dengan sengaja larut dalam penjelasan tentang gejala dari karakter introvert. Ancowitz menulis buku ini juga bukan untuk menunjukkan kelemahan karakter introvert. Dia ingin menunjukkan bahwa bila Anda memiliki karakter seperti itu, bukan berarti karir Anda kiamat. Tak ada yang lebih baik apakah introvert atau ekstrovert. Sebab meski memeiliki kelemahan, karakter ini juga memiliki kelebihan. Buktinya, tokoh-tokoh sukses seperti Bill Gates, Warren Buffett, Charles Schwab, Steven Spielberg, dan CEO Sara Lee Corporation Brenda Barnes adalah orang-orang yang memiliki karakter introvert.

Menurut Ancowitz, orang penyendiri bukan karena tidak ingin bergaul atau tidak memiliki jiwa sosial. Dia lalu menunjukkan bukti. Dalam sebuah wawancara dengan Oprah Winfrey, komedian Jerry Seinfeld mengakui bahwa dia memiliki pribadi introvert. Namun dia menambahkan hal penting tentang karakternya. "Saya mencintai orang-orang, tapi saya tidak bisa berbicara dengan mereka. Di atas panggung, baru saya bisa."

Ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh Ancowitz, kenapa Seinfeld bisa berbicara saat di atas panggung. Padahal, "Introvert mendapatkan lebih banyak stimulasi mereka secara internal, sedangkan ekstrovert mencari sumber-sumber di luar," kata Debra L. Johnson, Ph.D., seorang psikolog fisiologis dan peneliti utama di Universitas Iowa yang melakukan studi terhadap aktivitas otak berkaitan dengan introvert dan extroversion. Logikanya, karena ditonton banyak orang (faktor eksternal), Ancowitz jadi berani berbicara.

Namun Ancowits memang bukan psikolog. Dia seorang pelatih komunikasi bisnis khususnya dalam pengembangan karir dan keahlian dalam presentasi. Karena itu, ketika membahas tentang karakter introvert, Ancowitz mengambil rujukan dari para pakar, terutama psikologi. Dalam hal perbedaan biologi misalnya, seperi di paragraf sebelumnya, Ancowitz mengutip pendapat Johnson.

Menurut Johnson, introversi berkaitan dengan aktivitas di daerah otak yang bertanggung jawab untuk belajar, memori, perencanaan, dan produksi bahasa. Sementara itu, ekstroversi berkaitan dengan pemrosesan sensorik. Ekstrovert mungkin didorong untuk mencari rangsangan sensorik dari orang atau situasi lain karena mereka tidak dapat menyediakan tingkat stimulasi internal secara optimal. Hipotesis ini mendukung gagasan bahwa introvert cenderung lebih berfokus pada internal dan ekstrovert cenderung lebih dikendalikan oleh lingkungan eksternal. "

Melalui buku ini, Ancowitz berbagi pengalaman dan membantu orang sebanyak mungkin - terutama introvert - untuk mempromosikan diri mereka lebih mendalam. Dalam menyusun buku ini, Ancowitz melakukan serangkaian wawancara dengan banyak orang ternama termasuk Cathie Black (Hearst Majalah); Warren Buffett, Bill Presiden Clinton; guru pemasaran Seth Godin; Earvin "Magic" Johnson; Katharine Myers (Myers-Briggs Trust); Craig Newmark (pendiri dari craigslist), Leonard Nimoy, dan Chita Rivera. Dari searngkain wawancara tersebut, Ancowitz bekesimpulan bahwa mereka berhasil karena keberanian mereka untuk tetap memiliki visibilitas yang tinggi. Melalui buku ini, Ancowitzberharap Anda bisa belajar tentang visibilitas dari kebijaksanaan kolektif mereka.

Jadi apakah lebih baik menjadi introvert atau ekstrovert? "Keduanya memiliki kekuatan dan jebakan," kata Daniel jelatang, Ph.D., dalam sebuah artikel berjudul The Science Behind Personality yang dia tulis untuk the Independent Inggris."Scoring kepribadian tidak akan memberitahu Anda apapun yang Anda tidak tahu. Ini didasarkan pada bagaimana Anda melihat diri sendiri, sehingga secara logis tidak bisa. Tetapi hal itu dapat mengungkapkan kepada Anda bagaimana Anda dibandingkan dengan orang lain, dan [itu] juga dapat menekan Anda menjadi akumulasi kekayaan pengetahuan psikologis tentang kekuatan dan beban orang lain yang memiliki penglaman serupa dengan Anda.” Teknik scoring inilah yang banyak ditampilkan Ancowitz dalam buku ini sehingga memudahkan pembaca untuk mengevaluasi diri.

Mengenali kelebihan Anda, menurut Ancowitz, merupakan suatu usaha yang penting karena pada dasarnya tidak ada satu resep yang berhasil untuk satu orang dipastikan bisa dipakai untuk orang lain dengan hasil yang sama. Banyak faktor yang berpengaruh di dalamnya. Karena itu, orang yang berhasil memperoleh visibilitas - dari Whoopi Goldberg hingga Donald Trump - melakukannya dengan berbagai cara. Sesuatu yang bekerja dengan baik bagi mereka tidak dapat bekerja untuk Anda, terutama jika Anda seorang introvert.

Sebagai seorang yang introvert juga, melalui buku ini, Ancowitz mengajak para intovert lainnya untuk membangun skill yang dibutuhkan untuk meningkatkan visibility para introvert. Tak ada penjelasan apa yang dimasud dengan visibility. Menurut Irving Rein, Philip Kotler, Michael Hamlin, dalam Martin Stoller dalam buku High Visibility (McGraw-Hill, 2006), visibility berarti membedakan antara seseorang dengan orang lainnya dan seperti apa visibility tersebut tergantung pada sektor, audiens potensial, dan tujuan pribadi.

Mekanisme visibilitas tinggi menjelaskan bagaimana seseorang menciptakan dan mempertahankan dirinya menjadi dikenali publik. Dalam pasar yang semakin kompetitif, visibilitas merupakan faktor tunggal yang menjelaskan perbedaan antara seorang yang memiliki kompeten tertentu dengan seseorang lainnya. Memahami bagaimana proses visibilitas menjadi tinggi juga dapat menjelaskan mengapa beberapa selebriti msalnya mendapat sorotan dan kemudian pudar seketika sementara yang lain muncul kembali dalam bentuk baru.
 
Melalui buku ini, Ancowitz hanya menuntun Anda menemukan jalan yang cocok untuk apa yang Anda miliki. Intinya, jika Anda memiliki sesuatu yang berbeda dengan orang lain, Ancowitz merekomendasikan Anda untuk segera meningkatkan visibility Anda. Sebab begitu Anda memiliki keunikan, kenapa Anda tidak mempromosikan diri Anda ?

Ambil contoh Hillary Clinton. Anak perempuan dari sebuah keluarga kelas menengah dari Park Ridge, Illinois, ini berhasil menciptakan profil image yang bertentangan yang sempurna. Dia cerdas, penuh kasih, sosok ibu yang memahami, berarti, hingga politikus. Masalahnya, dalam proses tranformasinya itu, dia memiliki terlalu banyak Pygmalions - seorang pemuda yang membenci perempuan. 

Penasehatnya berusaha keras untuk melunakkan citranya sesuai dengan keinginan dari jajak pendapat terbaru. Karena itulah diciptakan kegiatan untuk memperlunak citranya dengan kegiatan yang terkait dengan aktivitas sosial. Misalnya, pada suatu hari dia adalah First Lady yang memanggang kue di pagi hari, minum teh dengan Pramuka putri pada sore harinya, dan kemudian menghabiskan malam dengan Martha Stewart di acara Natal.

Sebaliknya, pada hari berikutnya dia menunjukkan kepiawaiannya dalam berbicara soal kekerasan rumah tangga, memberikan ceramah untuk wartawan seputar isu keadilan dalam liputan urnalistik, dan memberi saran kepada Presiden tentang konflik Bosnia. Penampilannya, tidak seperti Eliza, juga berubah setiap hari sesuai dengan perannya, sebagai rias wajah, rambut, dan pakaian untuk anak perempuannya, dan sebagainya.

Lalu bagaimana cara orang introvert meningkatkan visibility, Ancowitz memberi tips:  
- Seimbangkan waktu yang Anda habiskan untuk melakukan sesuatu dengan waktu yang Anda gunakan untuk berpikir berpikir atau berbicara tentang apa yang Anda lakukan.
- Kumpulkan semua yang Anda lakukan dengan baik dengan menulis prestasi Anda, termasuk di dalamnya  file ucapan selamat melalui e-mail, testimonial, dan evaluasi kinerja cemerlang yang Anda terima.
- Berlatihlah untuk mengartikulasikan prestasi Anda, dan sampaikan hal itu kepada rekan senior, mentor, atau pelatih yang Anda percayai untuk mendapatkan umpan balik.
-  Dapatkan agenda rapat untuk membangun platform bagi ide Anda.
-  Setelah rapat, tindak lanjuti dengan menulis e-mail untuk mengkonfirmasi poin-poin yang Anda sampaikan dalam meeting. 
-  Tetap berkomunikasi dengan rekan kerja, manajer, dan klien sepanjang karir Anda. Biarkan mereka tahu kedatangan dan kepergian Anda. 
-  Jika Anda adalah seorang introvert yang suka bergaul, berbicaralah pada pertemuan, konferensi, dan acara sosial lainnya untuk meningkatkan kredibilitas Anda dan visibilitas.

Bagi introvert, mencapai visibility merupakan tantangan terbesar. Kaum introvert sering
membenamkan diri ke dalam tugas-tugasnya, terperosok ke kedalaman dunianya, dan lalai untuk muncul guna mendapatkan semnagat untuk menemukan dunia baru. Apa yang introvert perlu lakukan? Legenda Broadway Chita Rivera menawarkan nasihat untuk Anda: "Jadilah orang yang bangga pada diri sendiri," katanya.