Jumat, 28 Oktober 2011

ENGAGE OR DIE (2)


Sebuah  survey pada 2010 lalu mendapati, lebih dari 90% dari perusahaan meningkatkan investasi di media sosial di2009. The New York Times menulis bahwa pada 2010 perusahaan-perusahaan seperti Clorox, Coca-Cola, Kellogg, Kraft Foods,PepsiCo dan Procter & Gamble menjadikan media social sebagai media utama. Penelitian Nielsen menunjukkan bahwa penggunaan media social konsumen global naik 82% dibandingkan tahun lalu. Sementara itu, waktu rata-rata yang dihabiskan setiap warga AS di Facebook dan Twitter pada bulan Desember 2009 naik143% tahun ke tahun.

Namun demikian harus diakui bahwa benar segala sesuatunya kini berubah. Bahkan dalam banyak kasus, benar bahwa segala hal yang lama akhirnya menjadi baru lagi. Namun, dalam perubahan itu, prinsip-prinsip fokus kepada pelanggan dan layanan pada dasarnya tidaklah berubah atau baru. Hanya saja, mungkin perhatian pada elemen-elemen ini mungkin telah berkurang. Sebab begitu bisnis berkembang, kontrak dan penyususnan rencana makin dikembangkan berdasarkan kebutuhan dan tren pasar, laba, dan pengaruh teman, meski tetap selalu mengikuti arahan stakeholder dan pemegang saham.

Sosial media adalah bagian penting dari strategi pemasaran yang lebih besar, penjualan yang lebih lengkap, pelayanan, dan komunikasi pemasaran yang mencerminkan kemampuannya beradaptasi dengan pasar. Oleh karena itu, pelaku bisnis harus realistis tentang bagaimana mengintegrasikan strategi sosial ke dalam mesin yang dikendalikan oleh manusia untuk mendengarkan, belajar dan  terlibat secara aktif dengan pelanggan kita.

Kenapa? Sosial media telah menjukkan pengaruhnya dalam mendemokratisasikan, mengubah cara perusahaan berkomunikasi dengan pelanggan, cara pelanggan mempengaruhi keputusan perusahaan dan kemampuan pelanggan dalam mempengaruhi keputusan perusahaan. Melalui platform seperti Twitter, YouTube, dan Facebook, siapapun kini dapat menemukan dan terhubung dengan orang lain untuk berbagi minat yang sama, tantangan, dan keyakinan – mambangun komunitas yang membentuk dan mengarahkan persepsi merek para anggotanya. Tanpa keterlibatan dalam komunitas ini, perusahaan akan kehilangan kesempatan besar untuk membentuk pesan pemasaran mereka.

Media baru telah menciptakan generasi influencer baru dan menset ulang hirarki otoritas. Dua perubahan itu kini membuat mereka yang selama itu memegang kekuasaan tanpa ada yang berani membantah menjadi benar-benar panik. Selama itu, sebagian besar dari formula dan metodologi penyusunan program pemasaran dan komunikasi pemasaran mengabaikan peran influencer baru. Namun, realitas menunjukkan bahwa mereka ini bisa mengilhami aksi, perubahan, tren, dan merekrut pendukung.

Evolusi media baru juga mendorong sebuah transformasi luar biasa dalam layanan pelanggan, hubungan masyarakat, hubungan masyarakat (PR), dan evolusi komunikasi perusahaan yang paling dramatis dalam beberapa dekade. Dalam dunia pelanggan dan dukungan produk, social media telah menempatkan "pelanggan" kembali kepada pelanggan, layanan mencabut ideologi yang berkaitan dengan taktik pemotongan biaya ketika berinteraksi langsung dengan pembeli  mempengaruhi keputusan pembelian orang lain.

Demikian juga, dalam dunia komunikasi, demokratisasi media telah menempatkan "publik" kembali ke PR. Ini semua menciptakan sebuah  tim baru dalam organisasi untuk secara proaktif mendengarkan, belajar, terlibat, mengukur, dan melakukan perubahan secara real time. Namun bagaimanapun, penggunaan alat tidak menjamin orang mendengarkan. Engagement dibentuk oleh interpretasi dari niatnya. Agar media sosial bisa saling menguntungkan antara  Anda dan pelanggan Anda, Anda harus melibatkan mereka dalam percakapan bermakna dan menguntungkan, memberdayakan mereka sebagai peserta  dalam pemasaran dan layanan Anda.

Rahasia keberhasilan dalam mengendalikan lanskap pemasaran dan layanan baru adalah memahami bahwa media social itu adalah tentang antropologi, sosiologi, dan etnografi, dan bukan tentang teknologi dan alat-alat social. Pemasaran media dan layanan baru membutuhkan baik media baru maupun konvensional. Prosesnya masih melibatkan iklan, PR, layanan pelanggan, komunikasi pemasaran, sumber daya manusia (SDM), penjualan, dan hubungan masyarakat.
Pesan ini jelas. Dalam proses pemasaran maupun komunikasi pemasaran persyaratannya adalah adanya dialog. Sosial media telah menciptakan dan memperbesar lapisan baru influencer di semua industri. Disini mereka yang bermain -- dalam prosesnya -- tidak hanya membaca dan menyebarkan informasi, tetapi juga bagaimana mereka berbagi dan membuat konten. Ini yang memungkinkan kita benar-benar memahami masa depan komunikasi, yang sudah berlangsung saat ini.

Ini juga yang membedakan antara komunikasi baik inbound atau outbound saat ini dan sebelumnya. Sekarang ini, seperti yang lainnya, komunikasi harus didukung percakapan. Dalam konteks kebaruan ini, komunikator terbaik selalu dimulai sebagai pendengar terbaik, dan para pendengar terbaik adalah mereka yang berempati saat mereka mendengarkan.

Sosial media adalah sumber bagi pembelajaran dan perluasan wawasan yang tidak pernah berakhir. Sosial media juga memberikan alat-alat baru komunikasi, dan juga kesempatan baru untuk belajar tentang bagaimana, kapan, dan di mana kita menggunakannya. Sosial media adalah saluran distribusi yang baik untuk pengetahuan, pendidikan, dan pengalaman. Sosial media adalah sarana, bukan tujuan.

Sosial media adalah satu babak dalam evolusi New Media. Ia bukan saluran siaran satu arah, dan para pemainnya bukan lagi sebagi penyiar TV. Perusahaan Anda sekarang bagian dari komunitas yang membuat publik ingin menginformasikan segala hal yang diketahui dan dilakukan. Bagi perusahaan dan perorangan, ini merupakan peluang untuk membangun keunggulan dan mendapatkan pengaruh untuk mendapatkan atensi, menanamkan antusiasme, memberdayakan para pendukung, dan menciptakan sebuah komunitas yang loyal kearah yang lebih bermakna. .

Hirarki pesan yang selama ini dipercaya para pelaku bisnis dan pemasaran dapat mempengaruhi audience, kini runtuh. Sekarang, untuk menarik pelanggan, klien, atau stakeholder potensial, perusahaan harus mendekati mereka dari segala arah; dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, dan dari sisi samping ke sisi samping. Perusahaan harus keluar dari sesuatu yang kurang dipahami dan tidak lagi berpikir pesimistis.

Buku ENGAGE! : The Complete Guide for Brands and Businesses to Build, Cultivate, and Measure Success in the New Web ini bisa menjadi  panduan utama bagi siapa saja yang melakukan branding dan membangun bisnis di era social media.  Dalam ENGAGE!, Brian meneliti lanskap media sosial secara menyeluruh dan memaparkan cara efektif menggunakan media social. Ini membawa Anda melalui langkah-langkah rinci dan spesifik yang diperlukan untuk mengkonseptualisasikan, melaksanakan, mengelola, dan mengukur program pemasaran dan komunikasi pemasaran melalui media sosial. Tujuannya adalah untuk meningkatkan visibilitas, membangun komunitas para pengguna merek yang loyal, dan meningkatkan keuntungan.

Separoh pertama buku ini ibarat seperti buku yang mensurvei dunia media sosial secara umum. Di dalamnya digambarkan semua aspek dari interaksi sosial dan dampaknya terhadap pemasaran dan komunikasi perusahaan, serta bagian layanan pelanggan. Skema pemasaran tradisional yang seakan tak bisa balik lagi, kini luluh  karena tekanan massa dalam bentuk tsunami percakapan. Situasi ini memaksa pemasar untuk mendengarkan.

Bagian kedua dari buku ini terdiri dari empat bagian yang membahas tentang detail tanggung jawab baru pemasar karena munculnya media social. Bagian ini juga lebih berfokus pada pendekatan "pemasaran baru." Salah satu bagian yang paling luar biasa adalah yang terkait dengan "mendefinisikan aturan keterlibatan." Ini jelas menunjukkan kaum skeptis bahwa revolusi media sosial bukan merupakan fenomena yang berlalu didorong atau dikendalikan oleh influencer, tetapi realitas yang terjadi hari ini yang salah satunya adalah hasil inkarnasi dari Web social.

Itu berarti, buku ini mengupas hampir semua yang ingin diketahui para pemasar tentang pemasaran melalui media sosial dan munculnya konsumen sosial baru. Engage! menunjukkan kepada Anda tentang bagaimana cara menyusun strategi yang efektif berdasarkan contoh yang terbukti berhasil.  Bahkan buku ini juga memamaparkan cara untuk  mengukur keberhasilan dan ROI. “Sekali lagi Brian Solis menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang kekuatan media baru. Dia menunjukkan bagaimana media sosial dapat memberikan suara, kredibilitas, dan koneksi baik untuk perusahaan maupun pelanggan mereka,” komentar Price Floyd, Principal Deputy Assistant Secretary of Defense for Public Affairs, tentang buku ini.