Kamis, 27 Oktober 2011

ENGAGE OR DIE


Apa rahasia untuk perusahaan yang sukses? Sampai beberapa tahun lalu, pelaku bisnis tahu bahwa perusahaan berhasil merupakan buah dari kombinasi antara kepemimpinan yang kuat dan produk yang unggul. Tapi sekarang, itu saja tidak cukup. “Pemimpin masa depan butuh hubungan dengan pelanggan masa depan kapanpun, dimanapun, dan bagaimanapun pelanggan menginginkannya,” kata Scott Monty, Global Digital Communications, Ford Motor Company.

Hari ini, tak ada bisnis yang bisa mengabaikan revolusi media sosial. Jika Anda tidak menggunakan media sosial untuk menjangkau pelanggan Anda dan orang-orang yang mempengaruhi mereka, Anda akan tergilas pesaing Anda. Pilihannya adalah Engage! (terlibat) atau mati. Seyogyanya taka ada lagi keraguan bahwa social jutsru membuat produktivitas menurun dan sebagainya.

Mungkin kesalahan terbesar yang dilakukan pebisnis, perorangan, merek di media sosial terjadi ketika orang melompat ke jaringan sosial secara membabi buta tanpa pedoman, rencana tindakan, dan tidak mengetahui apa yang dicari orang, bagaimana dan mengapa mereka berkomunikasi, Juga kurangnya pemahaman tentang fenomena orang-orang berkumpul melalui social media, dan segala hal terkait dengan partisipasi lainnya.

Taka ada yang membantah, sosial media seakan memberikan kepada siapapun sebuah kunci penyadaran bahwa siapapun berhak bersuara. Melalui melalui demokratisasi konten dan ide-ide suara mereka, kita, atau saya dapat menjadi pemersatu, menginspirasi gerakan, atau bahkan memicu perubahan.

Selama beberapa minggu terakhir, begitu banjir di beberapa provinsi di Thailand memburuk sehingga tidak tertutup kemungkinan menjadi bencana nasional, media social menjadi saluran utama dalam menyampaikan pesan kepada public dan sebaliknya. Para pejabat pemerintah, wartawan, wartawan citizen, organisasi bantuan dan relawan terus mengikuti perkembangan daerah terkena bencana secara real-time melalui Twitter, Facebook dan lainnya.

Untuk berkomunikasi dengan warganya, Pemerintah mendirikan sebuah situs resmi, floodthailand.net. Situs tersebut memberikan up-to-date informasi mengenai situasi terkini dan ke daftar nomor telepon darurat. Situs tersebut memungkinkan orang untuk mengirim pesan mencari bantuan, dengan mengisi rincian apa saja yang mereka butuhkan dan di lokasi mereka.

Sementara itu, melalui Kementerian Informasi dan Teknologi Komunikasi Kementerian  membuat account Twitter resmi untuk melacak bencana banjir di @ FloodThailan. Akun ini  menawarkan informasi yang up-to-date dan rincian bantuan pemerintah. Pemerintah juga  mendirikan sebuah pusat panggilan dengan nomor darurat 1111. Pemerintah Pusat juga membantu menjaga komunitas Twitter menyampaikan informasi dengan pesan instan @ gcc_1111.

Di tingkat local, Gubernur Bankok Sukhumbhand Paribatra secara pribadi memanfaatkan media sosial untuk mengawasi dan mengelola krisis akibat banjir. The Bangkok Metropolitan Administration (BMA) muncul di Twitter di akun @ bangkokgovernor dan  @ bkk_best, sementara di Facebook dibuka  www.facebook.com / bkk.best yang dipergunakan memantau situasi banjir dan berkomunikasi langsung dengan staf BMA dan lain-lain.

Sebuah organisasi swasta, Thai Flood, disebut-sebut sebagai pelopor penggunaan internet untuk mengkomunikasikan situasi banjir terkini. Melalui Kapook.com, Poramate Minsiri – sang pendiri – berkomunikasi dan menjadi salah satu sumber utama informasi terkini dari menit ke menit tentang situasi banjir di seluruh negeri.

Kelompok ini juga membantu untuk mengkoordinasikan bantuan dari pihak lain. Sementara Thaiflood.com menjadi pusat informasi, berkomunikasi dengan kelompok relawan dan yang lain melalui jaringan sosial di facebook.com / thaiflood dan di twitter.com / thaiflood (@ thaiflood dan # thaiflood).(BERSAMBUNG)