Kamis, 13 Oktober 2011

How China’s Leaders Think

Saat mengikuti acara Mix-MarketingClub Gathering bulan lalu, Handojo Soetanto, Product manager Marketing Department PT Hartono Istana Teknologi, mengatakan kepada saya, saat ini terjadi kekurangan pasokan kompresor untuk produk AC. “Produksi dari China turun dastis,” katanya. “Kok bisa?” tanya saya.
Menurut Handojo, pabrikan China kini kekurangan tenaga kerja. Sebagian besar tenaga kerja mereka kini pulang kampung dan tidak kembali lagi ke pabrik. Ceritanya, saat terjadi krisis di Amerika Serikat dua tahun lalu, pesanan kompresor dari Amerika Serikat turun drastis. Akibatnya, banyak pabrikan di China yang mengurangi tenaga kerja. Sebagian besar tenaga kerja tersebut pulang lagi ke desa dan bertani atau bekerja di sektor pesedaan lainnya. Sekarang, ekonomi Amerika Serikat pulih. Pesanan kompresor dan produk lainnya pun berdatangan. Namun, China tak sanggup memenuhi kebutuhan itu. Industri China kini kekurangan tenaga kerja. “Rupanya, pekerja yang telah kembali ke desa itu tak mau lagi balik ke kota,” kata Handojo.
Rupanya, setelah selama bertahun-tahun bank-bank besar di China enggan menyalurkan kreditnya ke sektor UKM di pedesaan, pada 2008 pemerintah China turun tangan. Pemimpin China sekarang mengakui pentingnya UKM. Karena itu, pada 2008 pemerintah mengeluarkan paket stimulus ekonomi, memperkenalkan kebijakan baru untuk mendukung dan memperkuat UKM (terutama untuk mereka yang terlibat dalam ekspor dan menyediakan banyak pekerjaan di daerah pnggiran). Pemerintah juga mengambil langkah-langkah untuk mendorong bank memberikan pinjaman kepada UKM. Pada pertengahan 2009, empat bank besar milik negara menyalurkan pinjaman untuk UKM mendekati US$ 1 triliun.
Selama tiga dekade, sejak Mao Zedong mendirikan Republik Rakyat China pada 1949 sampai awal reformasi Deng Xiaoping di tahun 1978, perekonomian Cina mengalami stagnasi. Selama dekade itu,  negara yang dimiliki semua alat-alat produksi menetapkan dimana orang harus tinggal dan bekerja,.. rakyat hampir tidak memiliki hak-hak sipil atau manusia,  bahkan ekspresi keyakinan pribadi.
China kini mengejutkan dunia. Dua data statistik bisa dijadkan indikator kemajuan kebebasan. Pertama, telepon dan kedua, pengguna Internet. Dalam bahasa pakar ilmu komunikasi Stephen W Littlejohn, internet dan telepon seluler menciptakan budaya interaksi. Ketika budaya interaksi menguat, sulit bagi siapapun untuk membetasi seseorang untuk menyapa dan berdiskusi.
Pada tahun 1980, hanya ada sekitar dua juta ponsel di China. Semuanya sambungan tetap. Pada tahun 2009, kurang dari 30 tahun kemudian, China memiliki lebih dari satu miliar telepon, sekitar dua-pertiga diantaranya adalah mobile. Selama tahun 2008, orang-orang Cina terkirim 700 miliar pesan singkat melalui ponsel, dan selama 2009, jumlah pengguna internet di China melebihi 350 juta. Angka ini menyalip Amerika sebagai pengguna internet terbesar di dunia.
Ia telah berhasil mengubah dirinya menjadi ekonomi negara adidaya. Sektor perdagangan, bisnis dan keuangan, pertahanan dan keamanan, ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi untuk budaya, media dan olahraga China telah tumbuh dan berimplikasi global. “Ini barangkali merupakan perubahan yang terbesar dalam sejarah manusia,” tutur Li Yuanchao, Ketua Departemen Organisasi Partai Komunis China, kepada Robert Lawrence Kuhn. 
Dalam bukunya, How China’s Leaders Think: The Inside Story of China’s Reform and What This Means for the Future (Singapore : John Wiley & Sons (Asia) Pte. Ltd., 2010)Kuhn menulis, banyak orang Amerika percaya bahwa China tidak hanya pesaing ekonomi yang rakus, tapi juga penantang politik dan militer. Persepsi mereka adalah China lebih banyak bertindak   untuk kepentingan sendiri, bahkan merugikan tatanan internasional (misalnya, menjual senjata ke Iran dan mendukung negara-negara seperti Korea Utara). China juga dipandang sebagai pedagang predator yang hanya menjaga mata uangnya tetap rendah secara artifisial untuk meningkatkan ekspor. Lebih jauh lagi, China dipersepsikan sebagai penginjak hak-hak asasi manusia untuk mempertahankan kontrol Partai Komunis.
Pemimpin Cina, menurut Kuhn, tidak menyangkal bahwa kebijakan mereka adalah untuk kepentingan mereka sendiri. Tapi mereka menegaskan bahwa, dalam perekonomian global yang terintegrasi, stabilitas dan pembangunan China sangat penting artinya bagi perdamaian dan kemakmuran dunia. Para pemimpin China mengingatkan – seperti dikutip Kuhn -- bila kepentingan China terganggu, negara-negara lain juga terganggu. Mereka menekankan bahwa aturan partai telah mengariskan bahwa menjaga stabilitas dan pembangunan adalah penting.
Salah satu cara untuk mengurangi kesalahpahaman dan mengurangi distorsi dalam melihat apa yang terjadi di China, menurut Kuhn, adalah dengan mengetahui bagaimana para pemimpin China berpikir. “Ini adalah tujuan saya. Fokus buku ini tidak hanya pada para pemimpin negara yang paling senior, tetapi juga pada pejabat dan intelektual yang membentuk landasan berpikir di China hari ini,” kata Kuhn (halaman xix).
Kuhn adalah seorang ahli perbankan khususnya di bidang investasi internasional. Sejak 1989, dia bekerja menjadi penasehat pemerintah dan pejabat senior China. Dia juga tenaga ahli untuk perusahaan-perusahaan multinasional di China dan perusahaan China khususnya di bidang transaksi pasar modal, di samping profesinya sebagai penasehat senior Citigroup dan parner CCTV-IMG – sebuah perusahaan management sport di China. Penulis buku biografi Presiden (waktu itu) Jiang Zemin (The Man Who Changed China: The Life and Legacy of Jiang Zemin) yang menjadi buku pertama tentang biografi pemimpin China yang masih hidup dan beredar di China daratan, ini juga menjadi orang asing pertama yang mengajar tentang Perspektif Ilmu Pengetahuan dari  Pembangunan-nya Presiden Hu Jintao – penerus Jiang Zeminn. 
Karena pekerjaannya itu, Khun dekat dengan para politisi senior PKC. Untuk penulisan buku ini, selain mewawancarai para politisi dan pejabat senior PKC, termasuk Presiden Hu Jintao, Kuhn juga mengunjungi hampir seantero wilayah China. Selama 2005 dan 2006, Kuhn mengunjungi sekitar 35 kota (22 provinsi, daerah, dan kota besar) di China, mengadakan pertemuan dengan para pemimpin lokal (Partai, pemerintah, bisnis, akademik) dan orang-orang biasa (petani, mahasiswa, prajurit, pekerja, buruh migran, pekerja di-PHK, pensiunan, wartawan, polisi). Perjalanan ini sebagian besar dilakukan dengan mengemudi lima sampai enam jam antara kota ke kota lain sehingga dia bisa menyerap informasi dari tangan pertama dan menyaksikan apa yang terjadi di lapangan, apa yang rakyat dan pemimpin katakan.
Kuhn menyebut bukunya ini bukan sebuah deskripsi yang komprehensif Cina, ataupun sejarah tiga dekade terakhir. Dia lebih senang menyebutnya sebagai sebuah eksplorasi masa kini dan proyeksi masa depan. “Sesuai dengan judulnya, saya ingin memfokuskan pada pemimpin China. Saya berusaha menguji apakah yang mereka (para pemimpin China) pikirkan itu sebaik yang mereka katakan dan lakukan,” tulis Kuhn. Salah satu topik yang dia kupas adalah bagaimana pemerintah China mengatasi masalah korupsi.
Buku ini terdiri empat bagian. Bagian pertama membahas tentang prinsip-prinsip yang dijadikan landasan regormasi China. Kedua, tentang pemikiran reformasi. Ketiga, melakukan reformasi, dan keempat, reformasi ke depan. “Untuk memahami bagaimana kami merevitalisasi negara, seseorang harus faham bahwa orang Cina masih menghargai peradaban kuno kami, " kata Wakil Presiden Cina Xi Jinping. "Secara historikal, ini merupakan pendorong dan menginspirasi orang China hari ini untuk membangun bangsa, "jelasnya.
Ketika buku ini diterbitkan, China Baru memasuki usia 60 tahun. Selama periode tersebut, reformasi ekonomi China telah memasuki lima tahapan utama (halaman 135). Yang pertama, dimulai pada 1978 -- dan berlangsung sampai sekitar tahun 1985 -- terfokus pada reformasi ekonomi pertanian. Hasilnya adalah ambigu, bahkan yang mengejutkan pendukung - efisiensi produksi pertanian meningkat secara dramatis dan standar hidup petani meningkat.
Tahap kedua, berlangsung dari 1985 sampai tahun 1989. Pada periode ini, reformasi bergeser ke kota-kota, sehingga memicu masalah yang kompleks. Nyatanya, reformasi di perkotaan tidak semudah yang diharapkan, karena reformasi ini melibatkan sektor tenaga kerja, keuangan, perumahan, reformasi perusahaan negara, dan penyesuaian sistem harga. Masalah datang dengan cepat. Yang pertama adala melambungnya inflasi. Kedua, korupsi yang meluas sebagai dampak dari aliansi antara pejabat pemerintah dan manajer perusahaan, suap sebagai salah satu bentuk transaksi  ilegal untuk mendapatkan perlakuan istimewa.
Sebagian besar kaum konservatif menyalahkan sistem ekonomi pasar yang mengakibatkan maraknya korupsi. Namun, banyak pula yang menyalahkan sistem yang ditinggalkan Mao sebagai penyebab korupsi. Dalam wawancaranya dengan Kuhn, He Qinglian -- ekonom dan wartawan—yang menulis buku The Pitfalls of Modernization mengatakan bahwa akar dari maraknya korupsi adalah gerakan politik yag dilakuka pada era Mao. “Saya tidak pernah merasa bahwa kerusakan moral dimulai dari regormasi ekonomi.” (Halaman 189)
Pada tahap ketiga, berawal dari tragedi Tiananmen pada bulan Juni 1989 sampai awal
1992. Ini ditandai dengan bangkitnya konservatifnya yang berakibat pada melambatnya reformasi. Pada tahap ini para pemimpin China lebih memfokuskan pada masalah stabilitas sosial. Laju pertumbuhan ekonomi China juga melambat sebagai akibat dari boikot internasional yang memprotes terjadinya penumpasan berdarah serta pengekangan kebijakan domestik.
Tahap keempat, dimulai pada pertengahan - 1992 setelah Deng Xiaoping menghidupkan reformasi kembali. Petumbuhan ekonomi kembali menjadi tujuan dengan pengendalian inflasi ke tingkat sewajarnya. Fase ini terus berlanjut hingga masa Pesiden Jiang Zemin berkuasa selama dua periode. Pada tahap ini makro ekonomi dikontrol ketat, sementara di sisi mikro dilakukan restrukturisasi kelembagaan perusahaan-perusahaan.
Pada periode inilah gerakan anti korupsi dikampanyekan pemerintah secara gencar. Baik Presiden Hu Jintao dan yang digantikannya, Jiang Zemin sama-sama bersikap keras terhadap koruptor. Baik Jintao dan Zemin keras melawan korupsi. Mereka melihat korupsi tidak hanya sebagai tak bermoral, merusak dan bertentangan dengan sosialisme, tetapi juga sebagai hambatan terbesar dan menghalangi upaya China untuk mencapai potensi penuh sebagai bangsa yang besar.
Tak pandang bulu, koruptor dari kalangan manapun ditindak tegas. Selama beberapa dekade, beberapa anggota politbiro ditempatkan sebagai anggotal Central Commission for Discipline Inspectionn (CCDI) yang bertanggungjawab untuk mencabut akar korupsi di tubuh partai. Baru pada akhir 1990-an, Perdana Menteri Zhu Rongji menginstruksikan penyelidik untuk “menjaring yang besar dan melepas yang kecil.”, menawarkan imunitas kepada siapa saja yang melakukan penyuapan kecil jika mereka setuju untuk mengungkap kejahatan bos besar mereka. Ini merupakan salah satu program perlindungan bagi informan yang jarang terjadi di sistem hukum China. “Saya memiliki 99 makam. 99 makam untuk pejabat korup dan satu lagi buat saya sendiri,” kata Zhu.
Sejak itu banyak pengungkapan kasus korupsi. Misalnya pada 1999, penyalahgunaan dana untuk mengatasi kemiskinan, resettlement atau proyek air besih senilai US$ 15 miliar. Kemudian pada 200 seorang Deputi Gubernur Provinsi Jiangxi yang terbukti menerima suap sebesar US$ 650 ribu dijatuhi hukuman mati, dan kasus-kasus lainnya. Kampanye anti korupsi terus berlanjut sehingga pada 2005 110 ribu anggota aprtai ditindak, 97 eibu pada 2005, dan 3500 pejabat partai – termasuk diantaranya tujuh pejabat setingkat gubernur dan menteri dihukum.
Menurut Liu Fengyan, wakil sekretaris wakil Central Comission for Discipline Inspection (CCDI), praktek-praktek korupsi pejabat pada 2007 meliputi pembelian perumahan komersial di jauh di bawah harga pasar; menggunakan rumah pinjaman dan kendaraan tetapi tidak mengembalikan ke negara kebali, perjudian atau mencari keuntungan dari perjudian gelap; dan menggunakan orang lain untuk berinvestasi secara ilegal di pasar saham.
Tahap kelima reformasi dimulai pada tahun 2002 ketika Presiden Hu Jintao berkuasa. Dia meletakkan dasar tentang tujuan nasional selain pertumbuhan ekonomi, dalam usahanya untuk mengatasi problematika  yang muncul. Kebijakan-kebijakan baru difokuskan pada ketidakseimbangan ekonomi, pencemaran lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan.

Tahap petama, kedua dan empat fokus pada upaya untuk meningkatkan kuantitas, sedangkan tahap kelima menekankan pada peningkatan nilai. Pada tahap awal, reformasi yang dikembangkan di luar sistem yang ada dimana hasilnya adalah munculnya perusahaan-perusahaan di kota dan daerah, pemantapan perusahaan-perusahaan swasta tanpa mengganggu cara-cara lama atau mencabut akar ekonomi sosialis China. Reformasi tahap empat tersebut berhasil mengatasi masalah penting dari yang sistem tradisional. Sedangkan tahap kelima dengan segala kompleksitas masalahnya mungkin yang paling menantang. Namun yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa hanya karena keberhasilan luar biasa yang dicapai sebelumnya, China kini telah berada di posisi yang sekarang ini.
Saat awal membaca buku ini terus terang saya curiga. Ini karena begitu dekatnya penuisdengan para pemimpin China. Kedekatan itu bisa membuat tulisannya menjadi partisan, namun di sisi lain bisa sangat mendalam. Namun, setelah menuntaskan buku ini, kesimpulan saya, buku ini perlu dibaca karena begitu banyak mengungkapkan pikiran-pikiran para pemimpin China. Seperti yang dikatakan Kuhn, untuk mengetahui lebih dalam tentang China – termasuk nantinya bagaiamana berbisnis dengan China – seyogyanya kita mengetahui apa yang ada di benak pemimpin China sekarang dan mendatang.
Sayangnya, meski Kuhn banyak berdialog dengan warga biasa, namun sedikit sekali Kuhn mengungkap pembicaraan itu. Sehingga buku ini tidak secara mendalam menguji apakah yang diungkapkan para pemimpin China itu benar-benar dirasakan dan membawa manfaat bagi rakyatnya. Namun, Kuhn bukan jurnalis. Dia adalah seorang penasehat investasi.