Senin, 24 Oktober 2011

Implementing word of mouth marketing


Blog dan jejaringan sosial begitu populer. Ke depan, banyak perkiraan atau bahkan bisa dipastikan, orang akan berlomba-lomba untuk mengejar dan menciptakan serta memanfaatkan platform online yang lebih maju. Dengan kata lain, tools-nya mungkin terus berubah sehingga modus komunikasinya pun tetap terbuka. Karena itu, mereka yang memahami keunggulan dan manfaat berbagi sumber daya terus berusaha merekrut fans dan membangun komunitas yang cukup besar.

Perusahaan yang cerdas akan memanfaatkan percakapan online dan menawarkan produk dan jasa untuk meningkatkan kualitas hidup orang. Perusahaan ini akan tumbuh dan terus beruaha mencapai tujuan mereka, karena mereka percaya bahwa dengan menggunakan Web, akan dipeoleh kepercayaan dan dukungan masyarakat.

Dalam buku Implementing word of mouth marketing: online strategies to identify influencers, craft stories, and draw customers, Idil Miriam Cakim menunjukkan bagaimana menjadikan sebuah konten website atau media sosial bermakna dan mendistribusikan pesan secara efektif melalui saluran media sosial. Kenapa? Dalam ruang internet semakin ramai, menerbitkan blog atau meluncurkan halaman di jaringan sosial tidak lagi cukup untuk menjangkau audiens. Pada kondisi seperti itu, konten perlu disusun dan dirancang sedemikian rupa sehingga menjadi lebih bersifat sosial, untuk dihubungkan ke wide web informasi, dan menonjol di mesin pencari agar menjangkau ke audiens yanglebih luas.

Menurut Cakim, adalah mustahil bila kita menginginkan video kita dilihat banyak orang bila video itu hanya diposting di YouTube. Demikian pula, tidak mungkin video itu bisa menjadi sensasi semalam hanya karena tercantum pada halaman Web. Sebab seperti diketahui, kebanyakan blog tidak lebih hanya sebagai pengumpul beberapa pengikut acak. Posting sebuah konten online dapat menjadi langkah pertama dalam menghasilkan word of mouth baik online maupun offline. Akan tetapi, tetapi perlu banyak langkah tambahan untuk menghasilkan suatu eforia sekitar berita.

Bisa jadi kita merasa, mengubah sebuah blog menjadi sebuah fenomena virus seperti sebuah tugas yang berat. Namun, sejatinya, perusahaan dapat membangun eksistensi dirinya di media sosial dengan meniru apa yang dilakukan pemimpin opini publik.

Online influencer selalu berburu informasi, berbagi cerita, menyelami percakapan online, melibatkan audiens mereka, dan mengenal banyak orang di berbagai jaringan. Orang atau public butuh dan mencari pendapat mereka serta mengikuti nasihat mereka. Kita atau perusahaan Anda juga dapat bertindak dengan cara yang sama. Bagaimana bisa? Sebab  ada cara untuk bergabung suatu percakapan online, membangun jaringan online, dan menulis cerita yang bias menyentuh khalayak online.

Menurut  Cakim, Implementing Word of Mouth Marketing adalah panduan komprehensif untuk merancang program pemasaran online yang menghasilkan percakapan otentik dan positif. Buku ini memberikan kerangka strategis dan tips praktis untuk mempersiapkan, memulai, dan mempertahankan program pemasaran word of mouth. Melalui studi kasus paling akhir, best practice, dan saran yang bisa diaplikasikan, buku ini diharapkan bisa menjadi acuan dalam menyusun rencana dan taktik media sosial dengan biaya yang efektif menyebarkan pesan-pesan kita dengan segera.

Buku ini berisi dasar-dasar untuk mengidentifikasi online influencer, teknik mengembangkan pesan yang bias menarik perhatian, dan memilih Web - alat berbasis yang dapat mendorong percakapan - online dan offline. Buku ini juga menguraikan point-point tersebut dengan ilustrasi berbagai contoh dari perusahaan besar seperti PepsiCo dan Ford Motor Company, organisasi kreatif seperti Veer dan Smarthome, dan organisasi nirlaba seperti Greenpeace Internasional.

Di Bagian I buku ini, Cakim seakan mengukuhkan pendapat bahwa siapapun yang mengetahui bagaimana cara menggunakan Web untuk menemukan, mengumpulkan, dan menyebarkan informasi, dia tidak hanya akan bertahan hidup, tetapi akan berkembang. Di Bagian II, Cakim seakan memberi gambaran kepada pembaca suatu pendekatan untuk menentukan makna  online influencer bagi merek-merek kita. Pada bab ini, Cakim menawarkan berbagai cara untuk menemukan pemimpin percakapan online, mendapatkan kepercayaan dari influencer ini , dan memulai hubungan jangka panjang dengan mereka.

Bagian III membahas tantangan terbesar yang dihadapi pemasar saat launching program word of mouth. Bagian ini menekankan pentingnya pengamatan pada tren sosial dan budaya, terutama pada saat menyusun dan menyampaikan pesan. Bagian ini juga  menunjukkan kepada pembaca tentang bagaimana menambahkan nilai untuk percakapan online influencer.

Disini, Cakim menjelaskan bahwa inisiatif online yang berhasil yang diukur dari tingginya volume pembicaraan dari mulut ke mulut yang melibatkan dialog berkelanjutan antara organisasi dan khalayak mereka. Juga ditunjukkan tentang bagaimana hubungan langsung antara kualitas produk dan word of mouth yang positif. Yang lebih menarik, Cakim juga menunjukkan bagaimana menepati janji kepada online influencer yang bias membangun kepercayaan dan mengubah cybercitizens ini menjadi pendukung.

Bagian IV menunjukkan bagaimana membangun kampanye word of mouth melalui  online yang dapat membuat influencer meneruskan dan memperkaya pesan kita. Disini Cakim memberikan gambaran kepada pembaca dengan kerangka kerja rinci untuk mendefinisikan keberhasilan pada tahap perencanaan, standar yang ditetapkan, dan mengukur dampak dari word of mouth selama dan setelah program komunikasi.

Meski tidak menjelaskan secara teknis pengukuranya, Cakim menunjukkan beberapa indicator keberhasilan dar suatu program word of mouth melalui online. Indikator itu meliputi Visibilitas (apakah peringkat situs Web Anda di situs mesin pencari mengalami perbaikan), Kesadaran (Appakah target pemirsa Anda lebih mengetahui tentang merek Anda?), Affinity (apakah orang-orang di antara audiens Anda suka dan
lebih suka merek Anda dibandingkan pesaing?), Kepuasan Pelanggan (apakah pelanggan Anda puas? Apakah mereka merasa lebih puas dibandingkan 6 sampai 12 bulan yang lalu?), Niat Bertindak (apakah audiens Anda siap untuk meng-klik, bersuara, atau membeli?), Tindakan (apakah audiens yang telah mengunjungi anda secara online,
mengklik,  atau melakukan pembelian?)

Pada akhirnya, cara terbaik untuk belajar tentang media sosial dan memahami bagaimana kerja saluran komunikasi yang partisipatif adalah dengan bergabung dalam komunitas dan platform blogging. Maksudnya, mudah-mudahan dengan membaca buku ini program kampanye word of mouth yang Anda rancang menjadi lebih efektif.