Senin, 03 Oktober 2011

Social Media is Community


Perkembangan teknologi memperbesar peluang dan kesempatan bagi pemasar untuk mempromosikan mereknya. Persoalannya adalah bagaimana memanfaatkan peluang itu untuk melipatduakan penjualan. 

Keponakan saya, Dian – dokter yang kini mengambil spesial mata – mengirim pesan di halaman facebook. Inti pesannya menceritakan, saat belajar dan membaca e-buku kedokterannya di layar laptop pada tengah malam, anaknya yang berusia dua tahun bangun. Sambil membawa buku, anaknya minta diceritakan isinya. Akhirnya, sambil bercerita, Dian – 27 tahun -- mempermainkan BlackBerry-nya untuk berdialog langsung atau melalui Facebook dengan teman-teman kuliahnya dan browsing internet seputar mata kuliah yang saat itu sedang dipelajari.

Dian bisa jadi tidak sendirian. Teman dokter mahasiswa spesialis lawan bicaranya – yang rata-rata usia muda -- bisa jadi melakukan hal serupa. Anak saya, Bayu, yang baru masuk kuliah juga demikian. Semua materi kuliahnya diringkas ke dalam bentuk powerpoint dan disimpan di smartphone-nya. Tengah malam, sambil membaca ringkasan kuliah di smarphone itu tadi, sesekali dia belajar gitar melalui internet dari layar MacBook-nya. ”Anda kini bisa melihat remaja yang bisa melakukan lima aktivitas dalam satu kesempatan,” tulis Don Tapscott dalam bukunya Grown Up Digital  (McGraw Hill, 2009).

Menurut Tapscott, anak muda usia 11- 31 tahun kini secara mudah beriteraksi dengan beragam media hanya melalui alat berlayar ukuran dua inchi. Mereka menggunakan handphone-nya untuk beragam aktivitas. Kita bisa berbicara dengan mereka, mengecek serta membalas email kita. Mereka menggunakan handphone untuk kirim pesan, berselancar di dunia maya, bermain game, mencari arah atau jalan, mengambil gambar dan membuat video. Mereka Facebook-an setiap saat, termasuk saat bekerja atau belajar, atau memberitahukan status mereka melalui Twitter kapanpun dia mau.

Pada 2007, melaluinya buku Join the Conversation, Joseph Jaffe memperkenalkan generasi i atau generasi “aku” yang tidak bisa “diatur” oleh orang lain. Jaffe menyebut bahwa di dalam generasi ini hegemoni telah mati dan dikalahkan oleh kemitraan (partnership). Ahli filsafat politik Italia, Antonio Gramsci, menyebut hegemoni sebagai dominasi suatu kelompok dalam mengontrol kelompok lain dengan damai Berbeda dengan manipulasi atau indoktrinasi, hegemoni terlihat wajar, orang menerima sebagai kewajaran dan sukarela.

Menurut Jaffe, generasi i tidak ada kaitannya dengan umur atau demografis lainnya, melainkan pada mind-set. Generasi i adalah segala sesuatu tentang, ”Apa yang telah kau lakukan buat saya kemudian.” Mereka tidak bisa dikontrol dan dipercayakan. Ini adalah soal kebersamaan dan kesadaran. Dengan kata lain, mereka mencapai tujuan kolektif melalui kontibusi dari individu-individu. Ini mengimplikasikan pemaknaan ulang proses konsumsi dari sebuah produk. 

Menurut Prof. Agus Soehadi yang membedakan antara konsumsi yang bersifat pribadi dan komunal. Ketika mengonsumsi sendiri, menurut Agus, maka pemenuhan kebutuhan dirinya seperti kebutuhan fungsional, hedonis atau simbol menjadi motif utama. Sedangkan ketika mengonsumsi secara bersama-sama maka tidak hanya memenuhi kebutuhan dirinya tetapi juga berusaha untuk memenuhi kebutuhan kelompok atau bagaimana menempatkan dirinya diantara teman-teman dalam kelompoknya.

Landscape marketing kini memang berubah. Kita kini hidup dalam dunia yang penuh skeptisisme. Kenapa skeptisisme? Di Indonesia, populasi remaja yang berusia 15-30 tahun mencapai 28%  dari total penduduk (sekitar 60 juta). Ini merpakan pasar yang sangat besar. Mereka yang sering disebut sebagai generasi Y ini besar di era komputer dan online. Mereka dibesarkan pada era ringkas dan padat, mempunyai waktu luang kurang dari 3 jam. Karakter mereka, menurut riset Nielsen, sangat menginginkan interaktivitas, mencari pengalaman panca indera langsung dalam pemasaran, mendambakan kecepatan (growing impatience), haus akan pengalaman (activation) dan gaya hidup yang bergerak cepat dan selera yang cepat berubah (prosumer). Interaksi mereka dengan media sosial membuat mereka kritis, dan anti pemaksaan 

Bagaimana dengan generasi sebelumnya? Di sebagian besar wilayah, interaksi penduduk dengan media sosial juga cukup besar. Data ihub media – yang mewakili Facebook di Indonesia – per Juni 2009, pengguna Facebook di Indonesia mencapai hampir 7 juta. Data per Oktober mencapai 10 juta pengguna. Sebagian besar penggunanya memang usia 18-24 tahun, namun pengguna usia 25-34 tahun juga besar.

Seorang teman yang mengelola halaman Arek-Arek Gresik di Facebook mendapati bahwa dari 4040-an anggotanya, 40 pesen ternyata usianya diatas 35 tahun. Motif para senior memiliki halaman Facebook umumnya adalah untuk mencari teman-teman lama. Selain sharng idea, mereka juga ingin bernostalgia dengan teman-teman lamanya sambil mencari-cari peluang usaha kerjasama. Hanya sedikit yang mencari teman baru.

Data tersebut belum mencakup media sosial lainnya seperti blogtwitter, flickr, dan sebagainya. Dalam tulisan ini, yang dimaksud dengan sosial media adalah komunitas online yang memungkinkan anggotanya berpartisipasi, berdialog dan terus mengalir. Setiap anggota komunitas juga dapat membuat, mempublikasikan, mengontrol, mengkritik, memeringkat, dan berinteraksi dengan semua ide atau pikiran yang muncul dalam komunitas tersebut. Disini orang ingin berhubungan. Orang ingin berbicara. Orang ingin berbagi.

Dalam konteks marketing, pemasaran sosial media merupakan suatu proses pemberdayaan orang perorang untuk mempromosikan situs, produk barang atau jasa mereka melalui saluran sosial online, dan untuk berkomunikasi dan menyampaikannya kepada kelompok yang lebih besar. Perbedaan mendasar dengan marketing konvensional adalah interaksi yang terjadi antara pengirim pesan dan penerima pesan.

Kedua, batasan waktu dan ruang yang semakin kabur. Suatu pesan bisa tersebar dalam jangkauan yang tidak bisa kita bayangkan dan waktu yang demikian cepat. Sampai-sampai – dan ini perbedaan yang ketiga -- kita sendiri terkaget-kaget oleh efek dari pesan itu sendiri. Berbeda dengan iklan yang sifatnya linear sehingga feknya bisa kontrol, paling tidak kita hindari. Dalam pemasaran media sosial pengirim pesan sulit mengontrol efeknya. Dalam konteks marketing, pelanggan bisa mencela dan menyebarkannya ke komunitas lainnya bila mereka merasa kecewa dengan kita.


            Gambar 1. Pertumbuhan Pengguna Facebook di Indonesia






Gambar 2. Segmentasi Pengguna Facebook di Indonesia Menurut Umur


Popularitas media jejaring sosial seperti MySpace, Facebook, Friendster, Twiter dan sebagainya sangatlah fenomenal. Media sosial itu memudahkan orang untuk membuat profil diri mereka dan menjadikannya untuk membentuk jaringan maya yang terdiri dari teman-teman offline mereka serta mencari teman online baru atau menemukan teman lama yang terlupakan.
  
Media sosial identik dengan komunitas. Sebagai komunitas mereka fokus pada bidang-bidang tertentu. Ada ratusan, bahkan ada ribuan komunitas berdasarkan keminatannya. Ini menunjukkan bahwa pada dasarnya dunia maya tidak bedanya dengan dunia nyata. Hanya bagaimana orang berinteraksi itulah yang membedakan antara dunia maya dan dunia nyata. Bahkan dilihat dari keluasan, jangkauan dunia maya jauh lebih luas ketimbang dunia nyata. Batasan waktu pun semakin kabur karena meski dunia nyata sudah tertidur, dunia maya di kawasan dunia nyata itu orang-orangnya masih terjaga.

Pertumbuhan yang fenomenal dan besarnya jumlah komunitas mengindikasikan bahwa memang tidak semua anggota komunitas tersebut memanfaatkannya untuk pemasaran. Akan tetapi, tidaklah bijaksana bila menganggap hanya kita sendiri yang memanfaatkan media tersebut untuk mempromosikan produk kita. Ada jutaan orang lainnya yang membuat profil mereka masing-masing untuk saling berbagi foto, jurnal, video, musik, dan minat melalui suatu jaringan pertemanan. 

Menurut Ong Hock Chuan, saat ini banyak praktisi public relations yang belum menyadari perubahan yang terjadi dunia mereka. Kendati sebagai  konsumen mereka menggunakan media sosial, namun itu hanya sebagai alat sosialisasi belaka. Sebagai intitusi, mereka belum memanfaatkannya untuk klien dan kepentingan strategik mereka. Karena itu ketika muncul suara negatif tentang kliennya, praktisi public relations belum siap. Sehingga respon yang muncul cenderung kontraproduktif.

Padahal, saat ini memantau isu begitu sulit karena banyaknya media. Idealnya isu perlu dikenali ketika masih belum berkembang menjadi krisis. Persoalannya, tidaklah gampang meantau semua isu yang berkembang di dunia maya. Isu lebih banyak dikenali ketika sudah menjadi besar. Itu sebabnya, pada tahap itu, semestinya PR harus bisa menjelaskan dan membantu klien-kliennya, bagaimana berkomunikasi secara tepat, terpercaya, dan  tepat guna kepada klien. “Inilah tantangan yang dihadapi PR zaman sekarang,” kata Ong.

Rempoa, 2 November 2009