Kamis, 06 Oktober 2011

Welcome to Mobile PR Era


Sampai tahun lalu, publik masih mengenal Youtube, Faceook, Yahoo, Google, Twitter, Online Searching dan sebagainya. Kini publik membutuhkan UberTwitter, Mobile Goggle, Mobile Searching, Mobile Facebook, dan Mobile (BlackBerry?) Massenger  atau mobile-mobile lainnya yang bisa memberikan jawaban akan kebutuhan dan penyampaian informasi kapanpun dan dimanapun publik mau. Apa artinya bagi dunia public relations?

Hari ini, konsumen telah memproklamirkan dirinya sebagai pemberontak. Mereka tidak lagi memperhatikan iklan. Mereka juga tidak lagi mempercayai juru bicara perusahaan, termasuk apa yang mereka katakan. Menurut laporan tahunan ke-9 dari lembaga riset  Edelman Trust Barometer, 60 % responden menyatakan bahwa yang paling mereka percaya sebagai sumber informasi  tentang produk atau perusahaan saat ini adalah seseorang yang mereka sukai.

Serius! Karena meroketnya ketidakpercayaan ini mempunyai konsekuensi yang luas. Sebab, lebih dari 80% respoden tadi menyatakan bahwa mereka akan menolak atau tidak akan membeli produk barang atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaan yang tidak mereka percayai. Riset Edelman yang terbaru itu juga menunjukkan bahwa komentar negatif konsumen yang dipublikasikan melalui blog kini memiliki dampak langsung terhadap brand perusahaan, penerimaan dan harga saham.

Hasil survey ini mengisyaratkan bahwa konsumen sekarang ingin dimasukkan sebagai bagian dalam pengambilan keputusan perusahaan, terutama dalam penentuan pembuatan produk barang, jasa dan media yang mereka konsumsi. Bila tidak, mereka akan menjadi pemberontak. Hasil survey Pew Internet & American Life Project, menunjukkan bahwa separoh dari remaja di AS – dan 57% dari pengguna internet – kini memiliki blog atau Web page, yang setiap harinya rata-rata memposting foto, cerita,  tulisan, dan video online atau kombinasinya.  

Sampai teknologi seluler tidak sepopular sekarang, sampai teknologi media sosial tidak seagresif sekarang, orang masih menyepelekan aplikasi handphone atau teknologi mobile lainnya untuk kepentingan public relations. Sekarang, blog  dan media sosial lainnya diitegrasikan ke dalam mobile. Implikasinya? Literatur tentang mobile memang sangat jarang. Yang banyak adalah Buku-buku yang membahas media sosial, mulai dari marketing hingga public relations. Namun integrasi antara media sosial ke dalam gadget mobile masih jarang. Bisa jadi karena trend ini masih baru.

Mobile Marketing Association (2006, p. 22) mendefinisikan mobile marketing sebagai penggunaan media wireless sebagai kendaraan untuk menyampaikan dan memperoleh tanggapan langsung terhadap isi pesan yang dilakukan dalam kerangka program komunikasi pemasaran secara terpadu. Persepsi banyak orang tentang media mobile setidaknya adalah bahwa mereka hanya bisa dimanfaatkan untuk marketing dan  advertising. Rob Brown dalam Public Relations and the Social Web (London: Kogan Page, 2009 al. 176) masih menyebut Twitter sebagai terlalu awal, meski dia mengakui perkembangan dan gaung Twitter yang luar biasa.

Namun, ketika internet dan teknologi mobile menyatu, ketika media sosial seperti Twitter dan Facebook bisa diakses melalui gadget mobile, ketika mobile internet device seperti netbook, personal media player (seperti iPod) dan kamera terkoneksi melalui WiFi, dunia public relations mau tidak mau harus beradaptasi dengannya. 

Apapun, kata Brown, realitas membuktikan kontribusi Twitter yang sebagian besar diakses publik telepon pintar (smartphone) dalam mempengaruhi opini publik yang luar basa, setidaknya itu terjadi di Indonesia. Kasus Prita Mulyasari, Luna Maya, dan terakhir Kasus Mario Teguh misalnya membuktikan kekuatan dari sebuah media mobile.  Twitter sebagai micro blogging bukan lagi media untuk menyampaikan pesan setuju, tapi juga pesan untuk tidak setuju atau protes, bahkan mencela yang bisa diakses dan direspon orang dalam hitungan detik melalui Uber Twitter misalnya.

Tidak bisa dibayangkan andai Mario Teguh tidak langsung menutup akun Twitternya sehari setelah opininya tentang perempuan yang suka clubbing, merokok dan dugem. Bayangkan, begitu Mario Teguh men”twit” perempuan perokok, dugem dan clubbing, ribuan orang membalas ”godaan” Mario Teguh itu. Seperti banyak diberitakan, Mario Teguh menulis dalam account Twitter-nya, kalau wanita yang pas untuk teman pesta, clubbing, begadang sampai pagi, tidak cocok dijadikan seorang istri. Hal kemudian mengundang reaksi keras masyarakat, terutama kaum perempuan. Sebagian besar bernada marah. Beruntung Mario Teguh cepat mengambil tindakan dengan menutup akun Twitter-nya itu. Itu juga yang dilaukan Luna Maya, meski banyak orang percaya bahwa akunnya Luna Maya ditutup ”paksa” oleh Twitter.

Dalam konteks mobile public relations, gadget mobile tidak lagi dilihat sebagai media untuk menawarkan atau mempromosikan suatu produk, melainkan dipergunakan sebagai pengelolaan image (image management). Pengelolaan image disini dilakukan melalui pemantauan issue terutama yang berkaitan perusahaan, merek, atau personal, dan penyampaikan pesan – baik langsung peer to peer (sms, massanger, dsb) atau melalui media perantara lain seperti sosial media antara lain Twitter dan Facebook.

Melalui web atau media sosial, stakeholder dan pengelola media konvensional bisa menyaksikan apa saja yang ada di benak pikiran orang tentang produk, merek atau pribadinya. Mereka bisa langsung berkomentar nyinyir atau mengejek, bisa pula memujinya secara gratis dan melalui editing pengelola karena pengelolanya ya merek sendiri. Usaha memantau apa yang dibicarakan banyak orang itu, melalui internet menjadi begitu mudah.

Sampai tahun lalu, kebanyakan publik mengakses, memasukkan informasi melalui media yang menempat ruang tertentu, yaitu laptop atau personal kompueter yang akses internetnya belum mobile. Kini, orang bisa mengakses internet dimana pun dan kapanpun dia mau setelah provider mengintegrasikan layanan data ke dalam gadget mobilenya. Mereka tahu bahwa publik kini haus dan tidak ingin ketinggalan informasi.

Publik kini seakan membutuhkan kecepatan, termasuk dalam mencari informasi tertentu. Perspektif inilah yang mendasari kenapa publik percaya bahwa handphone berbasis Android mempunyai peluang yang besar untuk berkembang. Kosakata kita akan bertambah dengan mobile search disamping ada online search. Mobile search akan banyak diigunakan publik yang membutuhkan jawaban segera, sementara online search bisa jadi masih digunakan oleh publik yang membutuhkan jawaban, ”Ah...nanti saja sesampai di kantor atau di rumah saya lihat.” 

Penyedia gadget seakan mengikuti irama orkestra keinginan publik itu dengan menyediakan fitur komunikasi media sosial. Mereka sudah memahami bahwa semua lapisan masyarakat di Indonesia sudah memiliki ponsel dan sudah mengerti fitur – fitur di ponsel tersebut seperti internet browser, terutama di segmen kota besar dan anak muda (SMP – Universitas).

Nokia sudah mengeluarkan produk ponsel dengan harga dari Rp.200.000,- sampai dengan Rp.800.000,- dengan fitur Nokia Life Tool yang menyasar kalangan petani  dengan memberikan layanan harga komoditas, pupuk dan cuaca. Sedangkan untuk kalangan pelajar dengan memberikan contoh soal, pengajaran bahasa Inggris dan lainnya.

Artinya, dalam enam atau bahkan kurang orang – termasuk orang Indonesia – makin familiar dengan gadget mobile. Beberapa survey menunjukkan bahwa publik menggunakan handphone sebagaian besar bukan untuk percakapan, yang paling banyakdilakukan adalah melakukan chatting, sms, atau facebookan. Data resmi mungkin belum ada. Namun indikator ke arah itu susah dibantah, karena saat ini hampir semua jenis handphone apakah itu yang pintar atau low end dilengkapi dengan fitur Facebook, Twitter, Buddy dan sebagainya. Intinya orang makin jarang bercakap. Ada pergesean dari talking ke texting.

Implikasinya, dalam ranah strategic, public relations sulit menghindari untuk tidak memasukkan media mobile ke dalam strategi medianya, meski dalam ranah sebatas cara pemantauannya. Dalam konteks pesan, PR dipaksa untuk memantau pembicaraan publik yang muncul di mobile social media dan mengambil keputusan secara cepat bagaimana meresponnya, termasuk struktur dan isi pesannya.

Rempoa, 1 Maret 2010