Kamis, 10 November 2011

How Social Media Impacts Brand Marketing


Sosial media memainkan peran penting dalam bagaimana konsumen menemukan, meneliti, dan berbagi informasi tentang merek dan produk. Studi yang dilakukan Nielsen yang dipublikasikan beberapa waktu lalu menunjukkan, lebih dari 60 persen konsumen meneliti produk melalui beberapa sumber online untuk mempelajari merek atau pengecer tertentu melalui situs jejaring sosial. 

Temuan itu menunjukkan bahwa media sosial menjadi tool yang makin penting dalam  mendekatkan merek kepada konsumen, terutama dalam konteks publisitas, sebab -- seperti yang didapatkan dari studi ini -- pengguna media sosial yang aktif lebih cenderung membaca review produk melalui online. Yang lebih menarik, 3 dari 5 pembaca itu membuat ulasan tentang produk dan layanan sendiri. 

Studi ini juga menemukan bahwa wanita lebih memiliki kecenderungan untuk memberitahu tentang produk yang mereka sukai kepada temannya dari pada lelaki (81% perempuan vs 72%  laki-laki). Secara keseluruhan, ulasan dan pemeringkatan produk yang dilakukan oleh konsumen merupakan sumber informasi yang paling disukai oleh pengguna pengguna media sosial.

Penelitian menunjukkan bahwa konsumen menggunakan platform media sosial untuk mengekspresikan loyalitas mereka terhadap
produk dan merek. Banyak diantara mereka yang mencari keuntungan dari merek yang mereka bantu dalam mempromosikan produk. Di antara mereka yang berbagi pengalaman melalui media sosial, setidaknya 41 persen mengatakan bahwa mereka melakukannya untuk mendapatkan diskon. 

Ketika meneliti produk, pengguna media sosial cenderung mempercayai rekomendasi dari teman-teman dan keluarga. Dua dari 3 responden mengatakan bahwa mereka sangat atau agak dipengaruhi oleh iklan dalam konteks sosial ketimbang komersial.
Sosial Media juga memainkan peran penting dalam melindungi merek
. Temuan studi ini menunjukkan 58 persen dari pengguna media sosial mengatakan mereka menulis ulasan produk untuk melindungi orang lain dari pengalaman buruk. Satu diantara empat  mengatakan bahwa mereka berbagi pengalaman negatif mereka untuk "menghukum perusahaan". 

Yang juga menarik, banyak diantara pelanggan yang menggunakan media sosial berharap bahwa ketika menyampaikan keluhan itu, mereka mendapat dukungan dari pelanggan lainnya. Sekitar 42 persen pelanggan berusia 18 – 34 tahun mengakui bahwa mereka mengharapkan keluhan mereka mendapat dukungan dari pelanggan lainnya dalam waktu 12 jam.
 
Di sisi lain, tren lain yang menarik adalah kepentingan konsumen untuk bertindak sebagai duta besar dan pendukung merek melalui media sosial. Mayoritas networkers sosial yang aktif (53%) mengikuti merek. Sementara itu, merek itu sendiri berusaha untuk terus merekrut semakin banyak penggemar dan pengikut. Tujuannya agar bisa  menyebarkan informasi tentang produk dan layanan yang baik atau rekomendasi melalui word of mouth.

Diantara media sosial tersebut, Twitter kini menjadi alat  yang sangat kuat untuk mendongkrak merek, bila digunakan dengan benar dan orang yang tepat,. Sebuah studi menunjukkan, 50% dari follower suatu merek dalam akun Twitter berkecenderungan  membeli merek tersebut. Yang lebih menarik,  60% dari follower merek itu lebih mungkin untuk merekomendasikan merek ke teman setelah mem-follow-nya. .


Sekitar 50 persen dari perempuan yang aktif mengakses jaringan sosial melalui perangkat mobile. Jumlah ini merupakan 39 persen perempuan pengguna internet atau  37 persen dari keseluruhan populasi pada umumnya. Sekitar 86 persen diantara perempuan pengguna media social itu cenderung meng-update status, dan berkomentar atau mengirim konten (84 persen).

Mereka juga lebih cenderung berbelanja utuk kebutuhan sehari-hari secara online  dibandingkan kategori produk lainnya. Studi ini menunjukkan bahwa 86 persen  berbelanja kosmetik, produk perawatan kulit (85%), perawatan rambut (74%) dan wewangian (68%) secara online. Yang perlu diperhatikan pemasar adalah bahwa 56% diantara perempuan pengguna media sosial itu cenderung men-download kupon diskon.
.
.