Rabu, 02 November 2011

MEMASUNG IMC


Tahun 2008 diwarnai dengan makin maraknya komunitas, word of mouth dan  media sosial. Tiga fenomena itu menjadi trilogi yang saling berhubungan. Lalu benarkah IMC telah mati?

Pertumbuhan komunitas yang luar biasa belakangan ini menciptakan word of mouth. Sementara itu suara positif atau negative melalui word of mouth menjadi semakin cepat menjalar berkat kemajuan teknologi internet dan telepon seluler. Implikasinya kejatuhan atau melejitnya suatu merek atau produk semakin cepat.

Teknologi internet dan telepon seluler yang berkembang pesat menciptakan media social yang luar biasa cepat perkembangannya pula. Kalau Anda pecandu internet, pasti kenal Facebook, MyPlace, Multiplly, dan sebagainya. Melalui media ini, publisitas terjadi semakin cepat. Di telepon seluler, Blackberry yang makin marak makin mempercepat penyebaran isu melalui fasilitas emailnya. Demikian pula dengan teknologi sms dan sebagainya.

Di Indonesia pemanfaatan media sosial memang mulai marak. Lihat saja banyak tokoh-tokoh politik – yang punya ambisi menjadi presiden atau setidaknya ingin memperoleh banyk suara untuk partainya – gambar dirinya nongol di media sosial seperti Facebook, MySpace, YouTube atau Frienster dan sebagainya. Tapi apakah media itu sudah dikelola secara benar, masih menjadi pertanyaan.

Sebab banyak media sosial yang dirancang tidak secara interaktif. Artinya, pengelola media pasif dan hanya mengandalkan popularitasnya. Bukannya media alternatif dileverage untuk merangkul akrab pemilih dan menjadikan pemilihnya sebagai bagian dari tokoh politk tersebut. Boro-boro menyapa, menjawab atau merespon sapaan dari yang meng-add saja tidak.

Padahal, keunggulan salah satu keunggulan media internet atau kemampuannya untuk menjadikan si pemakai berinteraksi dan menjadi bagian dari pemakai lainnya. Ketidakprofesionalan atau kecongkakan pengelola media sosial milik pemimpin partai membuat kemampuan teknologi utnuk membangun engagement  dan encouragemen terpasung. Kesan yang muncul seolah-olah media sosial hanya sebagai pelengkap, sarana untuk menunjukkan bahwa dia mampu menjaring suporter atau sekadar kelatahan teknologi.
Saya ingin bertanya kepada Anda, pernahkah Anda, pernahkah Anda mendapat balasan atau komentar atas tulisan atau komentar yang Anda sampaikan melalui Facebook tokoh politik? 

Tidak adanya jawaban atau respon dari para pengelola media sosial tokoh politik atau bahkan pemilik merek produk komnersial lainnya, membuat kita bertanya-tanya, apakah benar media sosial itu dimiliki oleh yang bersangkutan. Sebab pada dasarnya media sosial bersifat terbuka. Semua orang boleh membuka katakanlah situs Soetrisno Bachir – ketua umum Partai Amanat Nasional- atau PAN di Facebook, termasuk orang yang tidak suka pada Soetrisno Bachir atau PAN. Tinggal siapa duluan, ialah yang dapat. Pertanyaannya, apa jadinya kalau orang yang tidak suka pada PAN atau Soetrisno Bachir yang membuka situs tersebut?   
Ini yang terjadi saat pemilihan pendahuluan antara Obama dan Hillary Clinton. Sementara Obama melenggang dengan Facebokk-nya, Hillary juga masuk Facebook. Bedanya, saat itu Hillary harus berjuang melawan kampanye negatif yang ditujukan, juga melalui Facebook dengan ngroup “Stop Hillary Clinton.”

Itu sebabnya, interaksi paling tidak menjawab pertanyaan atau mengomentari tulisan yang dikirim “para sahabatnya” dalam Facebok merupakan indikator legitimasi dari situs tersebut. Sebab hanya orang yang menguasai kebijakan partai atau dirinya yang mampu menjawab atau mengomentari opini dari para pengirim pesan.

Masih ingat Posko PDIP yang marak pada Pemilu 1999? Staregi mendekati pemilih dengan mendirikan posko-posko ketika itu sangat jitu dalam menggalang pemilih. Meski kesan pertama yang mucul saat itu, posko hanya sekadar membangun awareness. Kenapa? Idealnya posko dibangun menjadi tempat untuk berdialog atau paling tidak menjadi juru penerang tentang apa itu PDIP dan perjuangannya. Yang terjadi adalah bukan dialog tentang visi dan misi PDIP, karena ketika bertanya kepada salah seorang yang berada di Posko PDIP di Rawamangun Jakarta, mereka tidak bisa menjelaskannya.

Beruntung saat itu kondisi masih dalam transisi. Artinya, meski bukan tempat berdialog dan sosialisasi propgram PDIP, keberadaan Posko sangat membantu warga paling tidak menciptakan rasa aman. Harap dimaklumi saat itu orang masih trauma dengan kerusuhan Mei 1998. Pada Pemilu 2004, posko-posko jarang dijumpai. Bisa jadi karena ini perolehan kursi PDIP melorot kalah oleh Golkar.

Saat ini PDIP mencoba menghidupkan kembali Posko-posko seperti pada Pemilu 1999. Namun kesan saya, dialog antara pemimpin dan konstituennya masih belum terjadi. Saya pernah bertanya ke salah seorang yang ada di Posko di Kawasan Bintaro, Jakarta, apakah pernah tokoh PDIP yang menyambangi mereka? Jawabnya hampir tidak pernah.
Inilah maksud saya bahwa IMC telah mati atau terpasung karena konsep komunikasi yang sejatinya dilakukan dua arah tidak diaplikasikan secara penuh. Dengan kata lain, konsep itu kurang mengandung unsur engagement dan encouragement. Berdialog dengan pendukungnya paling tidak akan menciptakan engagement yang selanjutnya memunculkan loyalitas.

Seperti diketahui, IMC adalah proses pengembangan dan implementasi berbagai bentuk program komunikasi persuasif kepada pelanggan dan calon pelanggan secara berkelanjutan. Tujuannya, mempengaruhi atau memberikan efek langsung kepada perilaku khalayak sasaran yang dimilikinya. Asumsinya aalah bahwa seluruh sumber yang dapat menghubungkan pelangan atau calon pelanggan dengan produk atau jasa dari suatu merek atau perusahaan merupakan jalur yang potensial untuk menyampaikan pesan di masa datang.

Lebih jauh lagi, IMC menggunakan semua bentuk komunikasi yang relevan serta yang dapat diterima oleh pelanggan dan calon pelanggan, kemudian berbalik ke perusahaan untuk menentukan dan mendefinisikan bentuk dan metode yang perlu dikembangkan bagi program komunikasi yang persuasif. (Don E. Schultz dalam Shimp A. Terrence. Advertising, Promotion, and Aspect of Integrated Marketing Communications. Harcout, Inc. 2000)   
Sekarang ambil contoh bagaimana Barack Obama – Presiden terpilih Amerika Serikat memanfaatkan media sosial tersebut. Tom Gensemer, managing partner Blue State Digital, agency internet yang membantu kampanye Obama, mengatakan bahwa salah satu hal yang sangat penting adalah bagaimana perangkat online “dari tetangga ke tetangga lain” mengidentifikasi dan membujuk pemilih yang masih belum memiliki pilihan dengan mendatangi ke rumahnya oleh relawan atau telepon.

Ini barangkali seperti yang pernah dilakukan Tim Sukses dari PKS untuk Cagub Adang Dorodjatun. Komunikasi mereka adalah melakukan survey tentang apa saja yang harus dilakukan untuk membenahi DKI. Tapi sejatinya, ini merupakan taktik untuk memperkenalkan calon yang diusungnya dengan mendatangi satu persatu rumah pemilih.  

Tim Sukses Obama tidak hanya membuat site di Facebook atau media sosial lainnya titik. Tetapi mereka juga melakukan gerilya dengan melakukan riset dan strategi penjualan langsung. Seorang reporter bercerita dan mengaku pada Jeff Smith dari Rocky Mountain News bahwa dia memang mendapat telepon dari beberapa pendukung McCain selama pilpres. Akan tetapi, dia mendapat lusinan email dari Tim Kampanye Obama dan setengah lusin lebih banyak mendapat kunjungan relawan Obama. Sementara itu, Tim Kampanye McCain hanya mengunjunginya sekali. Selama minggu terakhir kampanye, seorang relawan Obama masih mendatangi reporter tadi. Kali ini relawan tadi tidak hanya ingin mengetahui apakah dia telah memiliki pilihan, dia juga mencari isterinya dan menanyakan hal yang sama.

Dalam pidato kemenangannya, Obama sempat menyebut sejumlah warga Amerika yang mendonasikan uangnya antara US$5 atu US $10 untuk membantu kampanyenya. Dia bisa menyebutkan nama penyumbang karena sumbangan itu disampaikan melalui internet. Artinya, dia tahu siapa yang menyumbang. Ini berarti dia juga membaca email atau sms yang masuk ke Tim Suksesnya. Bahkan pada saat terpilih, sebelum dia berpidato, dia menyempatkan menulis ucapan terima kasih di salah situs pendukung di Facebook.

Obama sadar benar, sumbangan-sumbangan itulah yang membuat dana kampanye Obama lebih banyak ketimbang McCain. Itu sebabnya, Obama lebih banyak membelanjakan dana kampanyenya di iklan online. Iklan online Obama dapat dilihat dimanapun selama masa kampanye, termasuk situs-situs social-networking dan YouTube yang empat tahun lalu masih belum ada. Ini bedanya dengan McCain. Calon dari Republik ini sibuk mengerojok informasi di YouTube dengan harapan media-media mengutipnya.

Tabel 1. Perbandingan Teman-Teman Obama Vs McCain di Media Sosial.
* = The Candidates Sites on Flickr, Youtube, Facebook, MySpace and Twitter      
Sumber: http://adultaddstrengths.com/2008/11/05/obama-vs-mccain-social-media/              

Iklan TV memang masih bisa menciptakan kesan yang paling kuat. Tetapi, iklan-iklan Obama sangat efektif dalam membuat orang untuk bergabung ke dalam milist  atau penggalangan dana dan gerakan untuk membangun komunitas relawan yang membuat orang terlibat aktif
Salah satu contohnya adalah situs tentang penghitungan pajak di Web yang dibangun kubu Obama untuk menjawab rencana kebijakan pajak yang ditawarkan McCain. Situs ini dibuat pada sesi terakhir masa kampanye. Dalam kaitan ini kubu Obama memasang iklan TV dan online yang mengarahkan pemirsa untuk melihat situs TaxcutFacts.org atau taxcut.barackobama.com.

Di situs ini, orang bisa mengetik informasi seperti pendapatan kotor, jumlah orang yang bebas pajak dalam keluarga, kredit yang masih harus dibayar dan informasi keuangan pribadi lainnya untuk mengetahui berapa pajak yang harus dibayar baik di bawah kebijakan Obama atau McCain. Dengan kata lain, melalui situs ini Obama ingin menunjukkan bahwa kebijakan pajaknya masih lebih baik dibandingkan dengan McCain. Di situs itu juga ditampilkan video penjelasan kebijakan pajak berdurasi 30 detik, jawaban-jawaban atas pertanyaan dan lebih banyak lagi detail yang membandingkan rencana kebijakan pajak Obama dan McCain.

Social networking telah mengukuhkan momentumnya pada 2008. Orang makin dibukakan matanya oleh Obama yang berhasil menggunakan situs-situs jaringan sosial seperti MySpace, Facebook, Twitter dan media khusus seperti  MiGente.com, BlackPlanet.com dan AsianAve.com. Trend ini menjanjikan bahwa media-media sosial semakin powerful dalam tahun 2010 dan 2012 sebab orag akan selalu belajar untuk bagaimana membangun jaringan sosial ke dalam kehidupannya. Internet mempunyai peranan makin penting baik di untuk marleting maupun politik karena pada dasarnya Web akan terus berkembang dan terinovasi. Jadi cerita tentang internet tidak akan ada akhirnya.


Rempoa, Juni 2008

 Tabel 2. Hasil Mesin Pencari for Obama Vs McCain.