Minggu, 20 November 2011

Redefining Public Relations in the Age of Social Media


Organisasi public relations terbesar di Amerika, Public Relations Society of America (PRSA), saat ini berupaya untuk mengembangkan definisi baru tentang public relations yang lebih baik. Menurut mereka, denikian dikutip the New York Time, Senin (21/11/2011) langkah ini yang terbaik di abad ke 21 ini. Upaya ini dimulai pada hari Senin (21/11/2011), dengan meminta saran dari publik, termasuk kalangan PR profesional, akademisi dan mahasiswa.
Yang mendorong upaya pencarian definisi baru tersebut antara lain karena adanya perubahan mendasar yang terjadi dalam hubungan masyarakat sejak definisi tentang public relations terakhir kali diperbarui oleh PRSA, pada tahun 1982. Pada 2003 dan 2007 pernah diupayakanuntuk menulis definisi baru tentang PR, namun tidak memperoleh kemajuan yang signifikan. Saat itu muncul definisi, “Public relations helps an organization and its publics adapt mutually to each other.” (Public relations membantu organisasi dan public untuk satu sama lain saling beradaptasi secara saling menguntungkan).
Nah, sekarang terjadi perubahan lingkungan yang sangat signifikan dengan kehadiran  Internet dan media sosial seperti blog, Facebook dan Twitter. Kehadiran mereka telah mengubah hubungan antara anggota masyarakat dan orang-orang yang berkomunikasi dengan mereka. Sebuah proses yang selama puluhan tahun berlangsung -- salah satunya pross komunikasi dari atas ke bawah dan biasanya bersifat monolog – mulai ditinggalkan dan beralih ke komunikasi dua arah yang biasanya ditandai dengan adanya dialog. Perubahan-peruahan itu menghasilkan serangkaian istilah baru yang digunakan dalam  public relations, hubungan antara praktisi PR dengan media, word-of-mouth, dan buzz marketing. 
Upaya menemukan definisi baru tersebut juga didorong oleh terjadinya beberapa peristiwa yang memalukan kalangan pelaku public relations. Ini terjadi setelah kehadiran media baru yang membuat konsumen lebih mudah untuk belajar sehingga mampu menilai perusahaan, produk, atau merek dan mencoba mempengaruhi konsumen lain setelah apa yang mereka reka mendapatkan pengalaman tentang yang merek beli dan percayai.
Di antara contoh memalukan yang terkenal adalah kesalahan BP dalam menangani kasus  setelah kecelakaan di Teluk Meksiko; langkah Facebook yang mempekerjakan agency PR  untuk menghasilkan artikel yang mengkritik praktik pesaingnya - Google, bagaimana meningkatnya keluhan terhadap kampanya terbaru Chapstick yang meminta konsumen berinteraksi, “Be heard at facebook.com/ChapStick,” tapi malah berulang kali menghapus komentar negatif tentang iklan mereka di halaman Facebook, dan bagaimana Netflix yang sengaja menghilangkan ratusan ribu anggotanya, kemudian membatalkannya, untuk kemudian memisahkan bisnisnya.
Ingin berpartisipasi? Klik  http://prdefinition.prsa.org/