Senin, 19 Desember 2011

THE NEW KOREA - KENAPA KOREA BISA MAJU


Satu dekade sejak krisis ekonomi 1997-1998, Korea Selatan berhasil menempatkan dirinya masuk ke dalam 15 kelompok negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Kini, Korea berambisi mencapai Korea 3.0 yang menjadikannya secara ekonomi sejajar dengan Amerika Serikat.


Tahun 2009 merupakan tonggak baru bagi industri mobil Korea. Untuk kali pertamanya sejak Korea memulai membuat mobil, mereka memenangkan North American Car of the Year Award, penghargaan yang diberikan oleh 50 wartawan otomotif terkemuka di Amerika. Penerima penghargaan adalah Hyundai Genesis, pendatang baru relative murah ($ 40.000) dan berhasil menyaingi Lexus, Mercedes, dan BMW.

Sementara itu, Samsung Electronics yang bercikal bakal sebagai pedagang beras, kini berhasil menjual Samsung Galaxy Tab sebanyak 2 juta unit. Ini merupakan merupakan pencapaian yang hebat bagi Samsung sebab angka penjualan dicapai hanya dalam waktu 3 minggu setelah produk ini pertama kali diluncurkan. Dengan pencapaian ini, Samsung Galaxy Tab bisa memproklamirkan diri sebagai tablet Android terlaris di dunia, meski untuk pasar tablet secara keseluruhan Apple masih memegang pasar dengan iPad mereka. Di Indonesia, raksasa elektronik asal Korea Selatan itu mengklaim mendominasi pasar tablet PC Indonesia dengan meraih 71 persen market share.

Menurut Myung Oak Kim dan Sam Jaffe – penulis The New Korea – An Inside Look At South Korea’s Economic Rise, etos kerja dan semangat kolektif yang dimiliki oleh bangsa Korea benar-benar menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi negara itu sejak 1960-an. Keduanya, menurut laporan Bank Dunia 2008, telah menghantarkan pertumbuhan ekonomi yang spektakuler selama empat puluh tahun dan transformasi ekonomi yang berhasil melambungkan status Korea sebagai negara dengan perekonomian terbesar ke lima belas dunia.

Etos kerja dan semnagt kolektif itu diimplimentasikan ke dalam strategi perencanaan terpusat, penekanan pada ekspor, industrialisasi yang tergolong ambisius, dan dedikasi dari angkatan kerja terdidik. Mempelajari perkembangan ekonomi Korea ini, Myung Oak Kim dan Sam Jaffe  membagi pertumbuhan Korea menjadi tiga tahap. Tahap pertama atau yang disebut Kim dan Jaffe sebagai Korea 1.0 digulirkan sejak Park Chung-hee berkuasa pada awal 1960-an. Tanda-tanda Korea 1,0 menjadi bagian dari raksasa ekonomi dunia mulai kelihatan setelah Korea membangun industry mobil dan perkapalan. Prestasi itu dicapai karena industry Korea berhasil mengambil keuntungan dari etos kerja yang disiplinkan oleh negara dan upah rendah.

Paska krisis 1998, ekonomi negara ginseng itu memasuki era Korea 2.0. Pada era ini, etos kerja masih menjadi andalan, akan tetapi upah yang rendah hilang. Perekonomian Korea sekarang didominasi oleh industri-industri baru, seperti hiburan, perangkat lunak, dan manufaktur peralatan telekomunikasi. Bisnis di industry ini menjanjikan upah rata-rata lebih tinggi. Pendapatan Korea Selatan saat ini lebih besar dari $ 20.000 per orang. Ini menempatkan Korea ke dalam jajaran negara-negara industry Eropa dan mendekati Jepang ($ 38,000) dan bahkan membuka pintu untuk bersaing dengan Amerika Serikat ($ 47,000).

Tantangan Korea sekarang adalah bagaimana untuk terus meningkatkan kemajuan dan pendapatan pekerja dari $ 20.000 menjadi $ 40.000. Di sisi lain, Korea harus bersaing dengan negara-negara berupah rendah seperti China dan India. Mereka juga tak dapat mencapainya dengan model dekrit Presiden seperti yang terjadi di era Korea 1.0 yang berhasi menyulap industry baja dan otomotifnya.

Korea saat ini mirip posisi Jepang tiga puluh tahun yang lalu. Pada 1980an, Jepang berhasil memasukkan dirinya ke dalam kelompok nyaman sebagai pemimpin ekonomi dunia. Demikian juga, pada tahun 2010, Korea berhasil menempatkan dirinya ke dalam kelompok lima belas negara ekonomi terbesar di dunia. Jadi, bagaimana bisa Korea terus tumbuh dan menghindari dekade yang hilang seperti yang dialami Jepang sekarang?

Selama dua puluh tahun terakhir, Jepang tetap menekankan keselamatan dalam kebijakan ekonomi dengan mengandalkan pertumbuhan dan dukungan konglomerat multinasional. Menurut sifatnya, seperti halnya bila perusahaan besar, pertumbuhannya jarang yang berlangsung sangat cepat. Seyogyanya, Korea dapat menghindari dua kesalahan yangdilakukan Jepang tersebut,  karena memiliki pengalaman bagaimana mereka memperbarui strategi pertumbuhan ekonominya saat dilanda resesi pada 1998 silam.

Selama 1998 akibat runtuhnya keuangan, Korea Selatan merupakan salah satu negara yang menghadapi krisis yang mengerikan. Namun, Korea Selatan berhasil mengubah krisis menjadi kesempatan melalui kampanye "Hallyu” yang artinya Gelombang Budaya Korea (Kim, 2008). Hallyu sebagai alat soft power berhasil mengantar Korea Selatan melewati krisis dan bahkan meningkatkan status ekonomi mereka (The Economist, 2010).

"Hallyu" atau :Korean Wave" digunakan untuk menggambarkan popularitas budaya populer Korea (K-popped, 2007). Jutaan orang di Cina, Hong Kong, Taiwan, Singapura, Jepang, Filipina dan Thailand dipengaruhi oleh budaya pop Korea. Mereka menonton Drama TV Korea, film dan mendengarkan musik pop mereka. Sebagai suatu fakta, media merupakan awal dari sebuah gelombang besar.

Konsekuensi dari semua itu adalah perubahan luar biasa ketika orang yang melihat produk-produk media itu bersedia menghabiskan uang mereka untuk membeli produk-produk – mulai dari kosmetik hingga ponsel yang ditampilkan dalam drama TV, atau yang disajikan oleh aktor atau peyanyi favorit mereka. Selain itu, semakin banyak orang yang tertarik untuk makan masakan Korea dan bepergian ke Korea Selatan, terutama mengunjungi lokasi-lokasi pengambilan gambar drama TV atau film Korea terkenal. Yang luar biasa, beberapa perkembangan itu kemudian menjadi norma, terutama bagi yang fanatik. (Huang, 2009).

Ketika ditayangkan pertama kali pada 2002, Winter Sonata menyajikan sesuatu yang baru, yakni gambaran tentang keluarga Korea modern dan percintaan. Sebelumnya, selama puluhan tahun, tayangan drama TV Korea bergenre sejarah Korea kuno dan cerita-cerita tentang keluarga di perkotaan. Format ini memiliki sukses meraih pemirsa Korea, terutama pemirsa dewasa dan ibu rumah tangga yang melihat pertunjukan ini sebagai cara bersantai yang menyenangkan setelah seharian sibuk menjalankan tugas rumah tangga seperti memasak, mengurus suami dan anak-anak.
Kesuksesan Winter Sonata mendorong drama Korea ini ke panggung internasional. Pada tahun 2003, ditayangkan di Jepang dan menjadi sensasi seketika. Acara ini lebih populer dari acara dari luar negeri apa pun. Rating point-nya melebihi rating gabungan serial TV US blockbuster ER, Ally McBeal, dan Friends. Sementara itu peluncuran pertama DVD-nya terjual habis dalam empat jam. Dari Jepang, kesuksesan Winter Sonata terus ke China dan Asia Tenggara, kemudian ke belahan dunia lainnya termasuk Amerika Latin dan sebagian Afrika. Serial drama TV ini menjadi lambang dari Hallyu dan kesuksesan film dan program TV Korea ini mendorong banyak bintangnya menjadi semacam pemandu sorak untuk industri pariwisata Korea.
Budaya Korea telah menjadi salah satu produk ekspor yang menyebar ke negara-negara di seluruh Asia. Ini berarti budaya menghasilkan pendapatan untuk negara. Pada 2005 saja, Korea memperoleh pendapatan total dari ekspor "barang-barang budaya" dengan jumlah lebih dari US $ 1 miliar atau dua kali lipat dibandingkan tahun 2002 yang hanya US $ 500. Keberhasilan Korean Wave memiliki dampak signifikan pada berbagai sektor di negaranya seperti kenaikan di bidang pariwisata dan masakan, negara "citra dalam persepsi negara-negara lain. Ini menghasilkan rasa ingin tahu yang kuat dalam pikiran kita tentang bagaimana hal ini bisa terjadi.
Keberhasilan Korea Selatan dalam memperluas budaya pop mereka ke negara-negara lain  memiliki dampak positif yang signifikan dalam meningkatkan PDB (Produk Domestik Bruto) pariwisata dan industri budaya (Dator & Seo, 2004). Namun di balik keberhasilan ekspor budaya itu, beberapa peristiwa yang menimpa para artis Korea kini juga banyak mendapat sorotan. Tekanan untuk menjadi sempurna begitu terasa di industri hiburan Korea. Operasi plastik menjadi isu yang lumrah demi kesempurnaan fisik sang bintang. Atau juga masa training selama bertahun-tahun dan belum tentu calon bintang tersebut bakal debut jika tidak benar-benar berbakat, membuat mereka depresi yang berakhir dengan bunuh diri. Banyak artis Korea yang tidak tahan dengan depresi yang dialami, dan jalan pintas dengan melakukan bunuh diri.

Budaya dan masyarakat Korea Selatan telah berubah secara signifikan dalam sepuluh tahun terakhir. Homogenitas etnis negara telah digantikan oleh bentuk multikulturalisme sebagai konsekuensi dari makin banyaknya pekerja dan eksekutif asing dan pasangan buruh asing yang merasa Korea telah rumah mereka. Selain itu, semakin banyak perempuan yang masuk ke sector tenaga kerja sehingga laju pertumbuhan meninggalkan peran mereka sebagai ibu rumah tangga. Konsekuensinya, struktur sosial tradisional runtuh cepat.

Namun demikian, etos kerja yang disiplinkan pemerintah berdasarkan ajaran Konfusius masih melekat pada mereka. Konfusianisme didasarkan pada keyakinan bahwa orang perlu bekerja untuk kebaikan kelompok dan bangsa. Ini mengimplikasikan pandangan bahwa kebutuhan, ambisi, dan kekhawatiran pribadi menjadi kurang penting. Filsafat ini sangat mempengaruhi dan telah  bekerja dengan baik dalam bisnis di Korea.

Semangat kerja sebagai team dan loyalitas pekerja sangat berperan dalam meningkatkan kinerja ekonomi negara itu. Para pekerja Korea, umumnya bekerja beberapa jam lebih panjang dari negara maju lainnya, bahkan ada kecenderungan terus meningkat. Pada tahun 2007 – berdasarkan laporan tahun 2008 Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), rata-rata pekerja Korea bekerja 2.261 jam per tahun atau 200 jam lebih tinggi dibandingkan tahun 1994. Ini jauh melampui sebagian besar dari dua puluh dua negara maju yang tergabung dalam OECD. Rata-rata pekerja Jepang misalnya, hanya sekitar 1.800 jam per tahun. Sementara pekerja di Amerika Serikat berada jauh di bawah itu.

"Perbedaan utamanya terletak pada falsafah kerja mereka. Mereka menghabiskan seluruh hidup mereka di kantor. Mereka tidur di sana. Semuanya berhubungan dengan pekerjaan mereka," kata Rahul Prabhakar, warga negara India yang telah bekerja untuk Samsung Electronics sejak 2005.  "Di Barat, itu terjadi sampai batas tertentu, tapi masih ada pemisahan antara kerja dan kehidupan pribadi. Di sini, ada tidak ada pemisahan." (Halaman 178).

Buku ini terbagi menjadi lima bagian. Bagian pertama buku ini menyoroti tentang sejarah, karena bagaimana pun sejarah ikut membentuk dan melanggengkan ekonomi Korea. Bagian kedua dari buku ini berkaitan dengan masalah ekonomi dan perdagangan. Buku ini mencoba menggali le dalam bencana ekonomi yang menimpa Korea pada 1997-98 dan mengeksplorasi hubungan Korea Selatan dengan Jepang, Cina, dan Amerika Serikat.

Kemudian, di bagian buku ini menyoroti perkembangan industri tertentu, seperti sektor otomotif, dan perusahaan swasta, seperti LG dan Samsung. Bab-bab ini memusatkan perhatian pada subjek jauh lebih kecil dalam rangka untuk mempelajari sesuatu yang lebih besar agar dapat memberikan pemahaman tentang Korea secara keseluruhan.

Bagian empat dari buku ini mengeksplorasi gaya hidup masyarakat Korea modern, termasuk obsesi dengan golf, bagaimana rasanya bekerja di sebuah perusahaan Korea, dan bagaimana Konfusianisme mendominasi lanskap budaya negara. Bab terakhir dari buku ini menjelaskan tentang lompatan lebih lanjut yang harus dilakukan untuk mencapai Korea 3.0. Pada tahap ini, pengembangan perekonomian Korea berada pada titik dengan pijakan ekonomi yang sama dengan Amerika Serikat.

Thesis yang diajukan penulis dalam menyongsong Korea 3.0 itu, tools kebijakan yang membuat Korea 2,0 sukses tidak akan selalu bekerja untuk Korea 3.0. Perencanaan ekonomi terpusat bukanlah jawaban untuk pertumbuhan di masa depan. Demikian pula system jaringan dan komunikasi yang rigid seperti yang erlangsung selama ini, kecil kemungkinan bekerja efektif.  Terlalu general memang, namun bagaimana pun buku ini bisa membuka wawasan pembaca dalam konteks pembangunan nasional.