Minggu, 08 Januari 2012

SAMBEL BU RUDY YANG SUKSES MEMBANGUN MEREK LEWAT MEDIA SOSIAL


Semua orang kini berbicara tentang media sosial. Apa yang pada awalnya pernah menjadi pembicaraan di kalangan siswa SMA itu kini telah menjadi elemen penting dalam rencana pemasaran untuk semua jenis usaha, termasuk usaha kecil. Makanan cepat saji raksasa memiliki halaman di Facebook, jaringan toko grosir membicarakan bagaimana menggunakan Twitter untuk menghaslkan penjualan, hingga perusahaan memperkenalkan mobil baru dan iklan TV melalui YouTube.
Kini media social menjelma menjadi perangkat baru yang memungkinkan bukan hanya "pemain besar" yang bermain di media sosial. Banyak usaha kecil yang memulaui kampanye mereka dengan kampanye nelalui sosial media. Jejaring social gratis seperti Facebook dan Twitter adalah alat yang kuat dalam bersaing “melawan” perusahaan ayau merek besar (dari sisi anggaran, red).
Ini karena jejaring social memberi peluang kepada pebisnis kecil dan menengah untuk bersaing di arena yang relatif sama dengan bisnis yang jauh lebih besar. Lihat saja, apakah depot Bu Rudy di Surabaya maupun jaringan restoran Solaria, KFC maupun McD memiliki peluang yang sama dalam memanfaatkan media social.
Namun demikian, meskipun alat ini bebas, mereka tetap membutuhkan biaya karena berpartisipasi dalam media sosial membutuhkan waktu, organisasi, kesediaan untuk mencoba ide-ide baru, dan kesabaran. Berpartisipasi dalam media sosial juga mengharuskan Anda untuk menggeser pesan mind-set pemasaran Anda dari penyampaian pesan satu arah ke percakapan yang interaktif. Kedengarannya agak mudah, namun pergeseran ini lebih mudah dilakukan merek atau perusahaan bisnis skala kecil daripada perusahaan besar karena perusahaan besar  seringkali harus melewati berlapis-lapis persetujuan ketika akan mencoba sesuatu yang baru.
Pada 15 Desember 2011 lalu, saya mengupdate status Facebook dan tweep saya dengan mengatakan “‎Otak-otak bandeng, sambel Bu Rudy.. Kakak ganteng ke Jakarta kembali," kata Alaric, anak bungsuku..” Tak ada mention ke akun Twitternya Bu Rudi. Namun, beberapa menit kemudian di Twitter saya muncul pesan “@BuRudy: @edhy_aruman jangan lupa.. ta enteni.. “ Yang yang terjadi di akun saya itu menunjukkan bahwa Bu Rudi – yang akun Twitternya memiliki 1039 – monitor percakapan yang muncul di Twitter dan segera meresponnya.



Depot Bu Rudy merupakan salah satu contoh sukses sebuah usaha yang tidak terlalu mengandalkan iklan. Dia hanya mengandalkan promo dari mulut ke mulut (word-of-mouth) dengan mengandalkan keramahtaman layanan dan variasi makanan yang agak nyeleneh. Sambelnya nendang pedasnya, ada kulit udang goring, dan makanan lainnya sebagainya yang mungkin jarang Anda jumpai di tempat lain.
Keramahan Bu Rudy ternyata bukan isapan jempol. Saat berkunjung di depotnya yang terletak di Jalan Darmahusada, Surabaya, wanita itu sangat ramah melayani pertanyaan-pertanyaan bawel kami sembari tangannya tetap mengiris tahu di depan penggorengan besar. Dapur depot itu memang terletak di bagian depan—semacam open kitchen, sehingga bu Rudy masih bisa memantau dan menyapa setiap pengunjung yang bertandang kendati tangannya sibuk memasak.


Usai menggoreng tahu, Bu Rudy beranjak masuk ke toko menuju depot makan yang terletak di bagian paling belakang. Dari meja ke meja, Bu Rudy menyapa pelanggannya dan mengajak ngobrol seputar makanan yang dipesan. Dia meminta pendapat bagaimana rasa masakannya, bagaimana keempukan empalnya, bahkan cerita ringan mengapa ia enggan mem-franchise-kan depot makan miliknya. Tak lupa juga menawarkan minuman kesehatan yang dijual di tokonya.
Rasanya, tidak ada yang tak terkesan dengan keramahan bu Rudy. “Ngobrol sama bu Rudy-nya, nggak?” tanya seorang teman ketika menerima oleh-oleh sambal superpedas Bu Rudy yang saya ulurkan usai kepulangan dari Surabaya awal Desember lalu. Terbukti, cerita mengenai keramahan Bu Rudy pun telah menjadi oleh-oleh tersendiri bagi yang pernah mampir ke depotnya.
Bu Rudy juga tanggap terhadap keluhan konsumen. Jika ada yang bersisa di piring sang pelanggan, ia pasti akan bertanya mengapa makanannya tidak dihabiskan. “Jual jasa seperti ini berat sekali. Harus siap di-complaint kapan saja,” tegasnya. Dengan prinsip seperti itu pula ketika menantunya membuka satu cabang baru di suatu tempat, Bu Rudy justru mengabarkan kepada para pelanggannya bahwa sang menantu belum berpengalaman. Dari keterusterangan tersebut ia berharap mendapat masukan jujur yang sangat berharga untuk membangun bisnis sang mantu.
Yah, dengan caranya yang bersahaja, Bu Rudy telah menjadikan pelayanan konsumen sebagai salah satu positioning depot makannya yang tidak seberapa besar. Customer service itu terbukti telah menjadi keunggulan kompetitif Bu Rudy yang tidak mudah ditiru dan intangible. Boleh jadi, keunggulan itu pulalah yang membekas di hati para pelanggannya sehingga betah menjadi pelanggan tetap selama puluhan tahun. Keramahan ini pasti juga sengaja ditularkan kepada para karyawan di tokonya yang tidak pernah lupa tersenyum kepada setiap pembeli.
Di Surabaya, depot makan Bu Rudy sangat dikenal dengan nasi udangnya. Sepiring nasi hangat, serundeng, empal suwiran serta udang kecil-kecil yang dibalut tepung kering dan digoreng garing. Cocok dipadukan dengan sambal bawang putih khas Bu Rudy yang pedasnya menggigit. Sambal inilah yang membuat nasi udang Bu Rudy berbeda dengan rumah makan lain. Satu piring nasi udang empal dijual dengan harga Rp14.000. Sangat terjangkau bahkan oleh kantong pegawai kantor dengan gaji pas-pasan. Di luar itu tentu banyak variasi menu Jawa Timuran yang dijual dalam paket harga Rp14.000-Rp18.000. “Prinsip saya, tidak usah untung banyak tapi tidak pernah rugi,” tegas wanita 53 tahun ini.
Tak hanya menu matang, para pengunjung juga dimanjakan dengan berbagai jajanan dan kue basah di toko oleh-olehnya yang dibangun sejak tiga tahun silam. Ratusan jenis makanan kering pasokan sekitar 300 orang supplier seperti menggoda untuk dimasukkan ke dalam keranjang belanja para pelancong. Di antara ratusan jenis produk oleh-oleh kering, Bu Rudy menyelipkan paket udang goreng dan sambal botolan sebagai produk unggulan yang bisa dibawa pulang.
Untuk setiap barang titipan, Bu Rudy mengaku mengambil fee rata-rata 10% dari harga jual. Kendati popularitas pertamanya didapat dari depot makan, toko oleh-oleh inilah yang sekarang memberikan omset terbesar. “Lha, kalau orang makan di depot kan paling banyak habis Rp50.000. Tapi kalau beli oleh-oleh rata-rata sekitar Rp200-300 ribuan,” jelasnya.
Popularitas depot makan Nasi Udang Bu Rudy ditandai dari pajangan foto-foto wanita berambut ikal tersebut bersama artis-artis dan orang-orang ternama yang pernah mampir. Depot pertama Bu Rudy berada di kawasan Jalan Darmahusada. Setelah itu ia membuka cabang di Kupang Indah dan Pasar Atom Mall Surabaya. Setahun terakhir, Bu Rudy juga membuka cabang di Jakarta yaitu di kawasan Kelapa Gading dan Kebayoran Baru.
Bu Rudy mengaku sama sekali tidak melakukan promosi untuk bisnisnya. Namun sejak maraknya program-program kuliner di berbagai stasiun televisi, bisnisnya mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Cukup sering depotnya dijadikan lokasi shooting acara kuliner di televisi, dan tak terhitung review yang beredar di jagad maya. Depotnya pun makin sering dijadikan tujuan rombongan tamu yang datang melalui travel-travel. Sejak itu Bu Rudy mengaku sedikitnya harus menyediakan 400 kg udang setiap hari.
Sambalnya Berkibar di Jakarta
Di Jakarta, merek Bu Rudy berkibar melalui sambal super pedasnya yang rutin dijadikan oleh-oleh. Penulis menyaksikan sendiri, beberapa orang yang antri di depan kasir, menenteng puluhan botol sambal tanpa tempelan merek itu di keranjang belanjaan. Seolah sudah sangat paham bahwa para sambal itu akan dijadikan oleh-oleh, karyawan bagian pengemasan langsung bertanya apakah belanjaannya akan dibawa masuk kabin atau dititipkan ke bagasi jika sang pembeli naik pesawat.
Jawaban atas kedua pertanyaan itu menghasilkan perlakuaan berbeda. Untuk oleh-oleh yang masuk bagasi, kardus dibiarkan pada bentuk aslinya dengan pegangan tetap tegak yang siap direnggut. Sementara yang akan dimasukkan dalam kabin, pegangan kardus itu dilipat, dan sebagai gantinya diberikan pegangan dari tali kokoh yang otomatis terlipat jika terdesak barang lain. “Yang penting bagaimana caranya agar pembeli lebih nyaman membawa,” ujar wanita yang bernama asli Lanny Siswadi tersebut.



Dikisahkan, desain packaging oleh-olehnya merupakan hasil otak-atik setelah mengalami pengalaman tidak enak saat membawa sambal berkunjung ke pulau Bali beberapa tahun lalu. Ketika itu, katanya, ikatan tali raffia pada kardus bawaannya lepas sehingga semua sambal botolnya berantakan di bandara. ”Saya mikir, bagaimana ya kalau ini terjadi kepada para pembeli,” kisahnya dengan logat Suraboyo-an yang khas. Kardus kemasan oleh-oleh bu Rudy memang tidak terlihat mewah. Hanya satu warna, tanpa gambar yang rumit, namun memudahkan untuk ditenteng. “Buat apa mewah-mewah kalau hanya mubazir. Yang penting irit dan tidak nambah di harga,” tambahnya lagi.
Sebagai oleh-oleh, sambal bu Rudy memiliki ciri khas dengan tingkat kepedasan yang sangat menggigit. Ada yang memberi testimoni setelah makan sambal bu Rudy rasanya seperti habis “ditempeleng”. Namun justru, ternyata, sambal seperti itulah yang selalu dicari orang.
Di tokonya, sambal Bu Rudy dijual dalam tiga varian: sambal bajak/terasi, sambal bawang dan sambal ijo. Sambal bawang dijual seharga Rp12.500 per botol ukuran 100 ml, sementara yang lainnya dibanderol Rp15.000-an. Menurut Bu Rudy, dari tiga jenis sambal tersebut, yang paling laris adalah sambal merah/bawang dengan kontribusi sekitar 60%. Mengapa tidak membuat sambal kecap yang juga banyak digemari orang? “Kalau sambel kecap, kan kecapnya tidak saya bikin sendiri,” tukasnya kukuh.
Yah, Bu Rudy memang serupa seniman kuliner. Ketika memasak, ia mengibaratkan dirinya tak ubahnya pelukis. “Tidak pake belajar atau nyontoh dari buku-buku. Saya setengah mati senang sama kerjaan ini sehingga Pak Rudy (suaminya—Red) pun tidak bisa melarang saya,” ujarnya sambil tertawa lepas.
Karena merasa benar-benar dikerjakan dari hati, Bu Rudy mengaku sampai saat ini tidak tergoda untuk mem-franchise-kan bisnisnya. Alasannya, jika diwaralabakan ia pasti harus bekerja lebih keras dan tidak ada jaminan terhadap kualitas produk. “Kalau yang beli orang kaya yang tidak bisa merawat, kualitas dagangan saya bisa turun. Apa iya ia akan turun langsung ke dapur,” begitu argumennya.
Dalam sehari bu Rudy mengaku bisa menjual 2.000-3.000 botol sambel dengan kebutuhan bahan baku sekitar 200 kg cabe per hari. Seluruh produk itu dipasok ke seluruh cabang, termasuk yang ada di Jakarta. Di Jakarta saja, setiap minggu ia mengirim 500-1000 botol yang bisa habis cuma dalam waktu 5 hari.(Majalah MIX-Marketing Commnunications, Januari 2012)