Rabu, 22 Februari 2012

KAPAN SEBAIKNYA MENGHAPUS TWEET?


Masih ingat saat raja media Rupert Murdoch membuka akun di Twitter, saat pergantian tahun 2011 ke 2012 lalu. Saat itu, tweet yang dilontarkan Murdoch langsung membuat kehebohan karena membuat panas kuping pemerintah dan orang-orang Inggris.
"Maybe Brits have too many holidays for broke country!" demikian tulis tweet Murdoch, yang disebutkan ketika memposting tengah menikmati liburannya.


Kata 'broke country' itulah yang dipermasalahkan. Sebab menyimpan arti sebagai sesuatu yang negatif. Sontak saja, postingan itu merupakan kicauan nyelekit bagi Inggris. Terlebih hal itu dilakukan oleh figur sekaliber Rupert Murdoch yang menjadi salah satu orang terkaya di dunia lewat kerajaan bisnis medianya.
Entah atas kesadaran sendiri atau ada masukan dari orang lain, tak beberapa lama kemudian, tweet sarkastik tersebut langsung dihapus Murdoch. Hanya saja, di Twitter semua informasi dapat terbang dengan begitu cepat. Termasuk tweet yang baru saja di-delete Murdoch. Beberapa dari 40 ribu followernya sudah terlanjur meretweet 'broke country' tersebut.
Adalah seseorang yang memakai nama akun Wendi Deng --  nama istri Murdoch -- sejatinya sudah me-reply dengan cepat tweet kasar Murdoch tersebut. "RUPERT!! delete tweet!!" tulis akun yang belum diverifikasi keasliannya itu.


Kemudian, akun Wendi Deng mencoba menenangkan keadaan dengan menuliskan postingan bahwa apa yang dilakukan Murdoch hanyalah lelucon. "EVERY1 @rupertmurdoch was only having a joke pROMSIE!!!" tulisnya seperti dikutip Sydney Morning Herald, Senin (2/1/2012). "Coba menjelaskan kepada @rupertmurdoch untuk hati-hati dengan humor di online. Karena terkadang itu akan menjadi sesuatu yang kasar!" lanjutnya.
Seringkali, seseorang memang selalu memiliki kesan terhadap sesuatu yang dilihat, didengar atau dirasakan. seringkali muncul keinginan untuk membagi pengalaman tersebut. Twitter merupakan media yang memungkinkan seseorang untuk berbagi dengan cepat, meski dibatasi oleh jumlah karakter yang bisa disampaikan.
Yang juga sering terjadi, ada penyesalan yang muncul ketika seseorang baru saja melepas tweetnya itu. Itu bisa disebabkan oleh respon public yang membacanya, kesadaran yang meuncul dengan sedirinya pada orang tersebut atau karena alasan lainnya. Pada kondisi seperti itu, seseorang tergoda untuk menghapus tweet yang telah dilontarkan.
Pertanyaannya, apakah pas kalau kita menghapus tweet yang telah kita lempar ke publik? Bukankah percuma karena yang kita tweet (terutama bila bikin heboh) sudah diretweet atau dikopi orang lain? Jawabannya memang tidak sederhana. Ini karena sifat publik atas segala sesuatu yang Anda tweet. Anda harus mempertimbangkan kemungkinan munculnya sikap pro dan kontra ketika Anda menghapus tweet sebelum Anda melakukannya.
Katakanlah Anda tweet sesuatu yang "bukan tentang merek" untuk bisnis Anda - seperti gambar yang tidak pantas pada suatu pesat meski diadakan di luar jam kerja Anda. Dalam hal ini, Anda bisa menghapus tweet  ketika Anda sadar bahwa Anda seharusnya tidak mentweet itu. Namun, Anda harus ingat bahwa yang Anda tweet, itu bisa saja sudah di retweet oleh salah satu dari pengikut Anda.
Daripada menghapus ini tweet yang memalukan, Anda mungkin perlu mempertimbangkan alternative lain. Misalnya, Anda bisa meminta maaf untuk foto yang telah Anda posting. Anda bisa melakukan itu sambil mengakui Anda telah melakukan kekhilafan. Namun, jika foto tersebut benar-benar memalukan, Anda boleh menghapusnya.
Namun, bukan hanya menghapus foto tersebut. Menghapus saja tidak cukup. Setelah Anda menghapus tweet, yang perlu dilakukan adalah mengirimkan pesan pengakuan bahwa Anda memang telah menghapus tweet tersebut dan meminta maaf. "Maaf untuk itu tweet (atau foto) yang lalu.” Langkah itu sekaligus menunjukkan kepada orang-orang bahwa Anda menyadari Anda telah melakukan kesalahan, tetapi Anda tidak ingin atau bermaksud jaha dengan tweet tersebut. 

Jadi situasi apa yang memungkinkan suatu tweet dihapus?
  • Apa pun yang bisa memperlemah merek (termasuk personal) Anda
  • Sebuah tweet yang melanggar norma.
  • Foto atau video yang memalukan
  • Sebuah tweet yang memiliki beberapa masalah dalam ejaan atau tanda baca
  • Sebuah tweet yang setengah jadi dan dikirim terlalu dini

Selain dalam konteks di atas, ada pula situasi dimana Anda tidak perlu menghapus tweet “memalukan” . Misalnya, saat Anda kehilangan argumen dengan pengguna lain, atau bila Anda mendapat umpan balik negatif lebih dari satu pendapat yang berasal dari komunitas Anda. Jika Anda menghapus sebuah tweet atau dua dalam satu situasi ini, Anda akan mengirimkan pesan bahwa Anda tidak benar-benar tidak serius mengatakan itu.

Kamis, 09 Februari 2012

Hanya 2% Pengguna Internet Yang Dapatkan Info Politik Dari Twitter


Biaya kampanye politik pemilu diperkirakan melonjak tajam. Karena itu penting bagi para kandidat untuk mencari peluang agar bisa melakukan kampanye dengan biaya yang tidak selangit. Disini banyak kandidat yang menoleh ke sosial media. Studi yang dilakukan oleh Dr Ciaran McMahon baru-baru ini mengungkapkan bahwa aktivitas kampanye melalui jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook dapat meningkatkan perolehan suara.

The Associated Press pernah membahas tentang calon presiden yang menggunakan Twitter untuk kampanye. Presiden Obama yang saat ini memimpin pooling memiliki lebih dari 10 juta follower. Pastinya, jumlah itu menjadi jauh lebih besar karena pendukung Obama juga memililiki akun Twitter dengan jumlah follower yang besar. \

Saat mencalonkan diri, Herman Cain memiliki hanya di bawah 200.000 follower. Setiap kali Cain mentweet, tweet itu diretweet lebih dari 100 kali. Penting untuk dicatat bahwa pada saat penelitian dilakukan, AP mencatat bahwa Cain saat itu melakukan tweet hanya 579 kali. Dari jumlah itu, 144 tweet diretweet pendukungnya lebih dari 100 kali.

Dari gambaran itu, meskipun jangkauan awalnya mungkin terlihat terbatas, retweets adalah fitur kuat yang dapat mendrive penambahan audience dengan menjangkau public yang tidak sempat menontont TV atau melihat billboard.

Para calon juga bereksperimen dengan strategi pesan berbeda-beda. Kandidat Presiden dari Republik, Mitt Romney misalnya, selalu melempar tweets dengan tone-tone yang relative aman. Sementara tweet Jon Huntsman cenderung mengundang kontroversial. Masih belum ada laporan yang menyebutkan pengaruh dari pesan-pesan tersebut dalam perolehan dukungan.

Jaringan sosial menawarkan jangkauan yang luar biasa. Di sisi lain, tekanan untuk menjangkau  pemilih potensial sebanyak mungkin, penting bagi calon untuk benar-benar mendapatkan manfaat dari peluang dari kehadiran platform media sosial tersebut.



Di Indoneia, banyak politisi yang memiliki akun di twitter, meski mungkin hanya sedikit yang 'benar-benar" aktif. Ini karena ada juga yang akunnya aktif di twitter, tetapi jarang ngetwit. Beberapa waktu lalu, salingsilang.com membuat daftar politisi Indonesia yang memiliki akun dan aktif di Twitter. Mereka memiliki follower yang cukup besar. @SondkhAngelina memiliki follower sebanyak 369.255 akun. Padahal, dia hanya memfollow 768 akun. Yang terbanyak kedua adalah @tifsembiring dengan follower sebanyak 318,316 akun.



Akan tetapi, dari sisi keaktifan, @fadjroel yang memiliki 66,454 adalah bintangnya. Sejak bergabung di Twitter, @fadjroel melepaskan 76,769 tweets. Urutan kedua adalah politisi muda Golkar, @IndraJPiliang. Selama ini kolumnis dari The Indonesian Institute telah melempar sebanyak 63,565. Sementara itu, @SondkhAngelina yang memiliki follower terbesar hanya mengirim sebanyak 3,226 tweets.

Gambaran diatas bisa diinterpretasikan sebagai indikasi bahwa politisi gabung ke dalam Twitter bisa jadi hanya tidak ingin ketingggalan atau sekadar memantau pembicaraan tentang dirinya atau situasi politik pada umumnya. Sebab nyatanya, bila diamati nyata mereka setiap hari melemparkan tweet-nya. Bahkan ada yang sama sekali tidak pernah. Dengan kata lain, mereka hanya mengumpulkan follower tanpa memberi pesan apapun kepada follower-nya. Politisi pasif – terlepas apakah nama itu sebenarnya atau sekadar dipakai -- seperti ini antara lain @JusufKalla yang memiliki 4,652 follower namun tak pernah berucap sekalipun melalui Twitter.

Sampai saat ini di Indonesia belum ada penelitian yang menunjukkan hubungan antara keatifan di Twitter dan perolehan dukungan. Di Amerika Serikat, menurut Pew Research Center for the People and the Presssurveyed, menunjukkan sedikitnya publik yang memanfaatkan Twitter untuk mendapatkan informasi tentang kampanye politik. Survey ini mendapati bahwa 36% audience Amerika Serikat memperoleh informasi tentang kampanye politik melalui TV kabel. Diikuti  TV lokal (34%), TV jaringan (32%) dan internet (25%).



Yang menarik, dari 25 persen ini hanya sebagian kecil yang memperoleh infoemasi kampanye opolitik melalui media sosial. Hanya 5 % responden yang mengatakan bahwa mereka menggunakan Twitter untuk mempelajari kampanye secara teratur atau kadang-kadang, dan hanya 2 % yang menggunakannya secara teratur. Agka itu juga relative jauh lebih kecil dibandingkan yang memperoleh informasi kampanye melalui YouTube (15%) atau Facebook (20%).

3 Februari lalu, Direktur Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) Husen Yazid dalam jumpa pers di Jakarta, menyebutkan bahwa Media yang cepat meningkatkan pencitraan, menurut dia, ialah televisi mencapai 58%, baliho 24%, dan 18% melalui koran, media daring (online), radio, serta jaringan sosial Facebook.


Selasa, 07 Februari 2012

Apakah Akun Pseudonym itu Negatif?


Dalam beberapa hari terakhir, di situs jejaring sosial twitter muncul perdebatan soal pseudonym dan anonym seperti yang terdapat Twitter. Sebagian ada yang 'menyerang' tokoh tertentu atau bahkan sekadar memberi informasi tentang sebuah isu.


Senin (6/2/2012) lalu, Menkominfo Tifatul Sembiring mengatakan bahwa akun-akun itu dipantau oleh Kemenkominfo. "Sejauh ini masih kita pelajari sejauh positif tidak masalah. Kalau miring-miring sedikit yah diperingatkan. Kalau melangar hukum yah dihukum," kata Sembiring di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara. Menurut dia, akun anonim bisa dikejar bila memang terbukti melakukan pelanggaran seperti penipuan, hacking terhadap badan resmi pemerintah atau menyebarkan pornografi. Hal itu semua bisa dijerat dengan pasal-pasal di UU ITE.
Di mesia sosial, akun dengan nama samara (pseudonym) atau anonym jamak dijumpai. Menurut temuan Disqus, 61% dari keseluruhan komentar yang muncul di blog menggunakan nama samaran yang cenderung fiktif (pseudonym) sementara 35 % lainnya menggunakan anonym.  Yag lebih menarik, hanya 4% dari semua komentator yang menggunakan nama asli mereka. Temuan lainnya, komentator yang menggunakan nama samaran kontribusinya 6,5 kali lebih banyak dari komentator anonim dan 4,7 kali lebih dari banyak dari pada yang menggunakan nama asli di Facebook.


Sejatinya, perdebatan soal nama samara dalam akun media sosial muncul di jagad maya sejak tahun lalu. Ketika itu, Google+ mensyaratkan pembukaan akun harus menggunakan nama asli, tidak boleh menngunakan nama samara apalagi anonym. Disqus menemukan bahwa "komentator yang menggunakan nama samaran cenderung menawarkan komentar yang lebih baik." Setelah perdebatan agak lama, terutama di media sosial, akhirnya Google + mengizinkan orang memanfaatkan nama samaran asalkan itu adalah alias dibentuk dan bukan akun yang baru dibuat.
Lalu kenapa orang lebih suka menggunakan nama samaran? Semua tahu bahwa dengan menggunakan nama samara, orang merasa bebas. Mereka bisa menulis dengan terbuka, terutama topic-topik sulit dan ingin identitas aslinya tidak diketahui. Ini berbeda dengan bia seseorang menggunakan nama aslinya. Dia enderung berhati-hati.
Banyak situs dan blog yang memungkinkan seseorang untuk berkomentar dengan mencantumkan nama samara atau bukan anonym. Biasanya, komentar anonim cenderung relative lebih keras, atau bahkan lebih menyakitkan dari pada membantu. Akan tetapi, dengan menggunakan nama samaran memungkinkan orang untuk berbicara secara terbuka - terus terang - melalui cara yang mereka mungkin tidak merasa nyaman bila teman-teman atau anggota keluarga – misalnya – mengetahui siapa dia.
Banyak blogger yang memposting sesuatu tanpa mengungkapkan identitas mereka. Bahkan ini bisa menjadi bisnis yang menarik. Pada akhir 2009 terdapat blog yang sempat membuat berita. Belle de Jour adalah nama samaran untuk seorang blogger yang menulis tentang kegiatannya dalam perdagangan seks. Dia menggunakan penghasilannya dari blog-nya itu untuk membiayai studi PhD-nya. Pada 2003, blog itu mendapat penghargaan  surat kabar The Guardian sebagai blog of the year karena dinilai sebagai blog ditulis dengan sangat baik sehingga sesuai fantasi seksual laki-laki. Banyak wartawan yang berspekulasi bahwa dia sebenarnya seorang pria.
Blognya jujur ​​dan keji diterbitkan sebagai sebuah buku dengan judul, The Intimate Adventures of a London Call Girl. Buku ini kemudian diangkat menjadi sebuah serial TV di Inggris, dibintangi Billie Piper sebagai Belle. Pada bulan November 2009 Belle memutuskan untuk mengungkapkan identitasnya kepada surat kabar kabar di Inggris, Ini dilakukan setelah dia putus dengan sang pacar, dan dia percaya bahwa mantan pacarnya itu akan mengungkapkan identitasnya di pers tabloid. Cukup mengejutkan, ternyata Belle aalah Dr Brooke Magnanti.
Brooke adalah mahasiswa yang mendalami tentang informatika, epidemiologi dan ilmu forensik dan bekerja di Bristol University’s Centre for Nanoscience and Quantum Information. Dengan pengungkapan itu, Brooke menghapus spekulasi bahwa dia adalah seorang laki-laki atau bahwa dia telah dipaksa masuk ke dalam perdagangan seks untuk alasan lain selain yag dia katakana dalam blog-nya itu.
Selain itu, ada beberapa blogger yang menyembunyikan identitas mereka agar mereka bisa jujur lebih jujur ​dalam menilai perusahaan tempatnya bekerja. Salah satu contohnya adalah blogger Microsoft yang menggunakan nama 'Mini MSFT'. Mini telah blogging secara anonim tentang apa yang terjadi di dalam  Microsoft sejak tahun 2004. Dia memiliki jumlah pembaca yang besar. Mini menetapkan kebijakan anonimitas total yang mendorong karyawan untuk melakukan diskusi terbuka tentang perusahaan dan pekerjaannya.
Blog ini dihargai karena berhasil mengubah beberapa proses internal perusahaan, seperti proses peninjauan gaji setiap akhir tahun dan membuat perusahaan menjadi lebih transparan. Blog yang juga menyebut dirinya sebagai Steve Jobs Palsu itu ditulis oleh seseorang yang menyembunyikan identitasnya selama lebih dari setahun. Ternyata penulisnya adalah Daniel Lyons, seorang penulis dan jurnalis Newsweek.

Senin, 06 Februari 2012

PROMOSI MURAH MERIAH GAYA MAICIH


Anda pernah lihat iklan Maicih? Jangan harap. Hanya dengan berkampanye lewat social media twitter, Maicih, merek keripik pedas asal Bandung, berhasil menaklukkan hati para Icihers. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang ingin naik kelas menjadi “Jendral” Maicih. Efeknya, baru satu setengah tahun, omzet Maicih menembus Rp 7 miliar per bulan.  Bagaimana cara Republik Maicih membuat kalangan anak muda urban di Tanah Air bisa “tericih-icih”?
Siapa sih yang gak kenal kenal dengan Maicih? Itu loh, keripik pedas asal Bandung  yang sekarang sedang happening dan tengah “digilai-gilai” kaum muda. “Gak gaul kalau belum tahu dan nyoba Maicih sampai tericih-icih (tergila-gila—red),” demikian diungkapkan para icihers, sebutan untuk para penggemar keripik Maicih. Ruar biasa memang. Dalam seminggu terakhir misalnya, tak kurang 3800 percakapan di Twitter membicarakan Maicih.


Ya, salah satu yang membuat unik dari Maicih adalah sebutan atau istilah yang dilemparkan manajemen Maicih ketika berkomunikasi dengan para calon konsumen dan pelanggannya melalui Twitter. Ada “Emak” (nenek) untuk pembuat keripik Maicih dan “Cucu untuk konsumennya. Kemudian, ada “Jendral untuk reseller-nya, “Icihers sebutan gaul penggemar Maicih, “Republik Maicih” untuk manajemen, hingga  istilah tericih-icih” untuk menggambarkan ketagihan akan pedasnya Maicih.


Sejak diluncurkan akhir Juni 2010 lalu, keripik Maicih memang menjadi salah satu hot isu dan fenomenal di kalangan anak muda urban, terutama para peselancar dunia maya. Maklum saja, cara memasarkan keripik Maicih memang beda dengan keripik pedas lainnya—yang notabene sudah lebih dulu beredar di Bandung. “Awalnya kami memasarkan tiga varian Maicih, keripik, seblak, dan  gurilem, lewat jaringan pertemanan dan kekeluargaan,” cerita Reza Nurhilman, pemilik sekaligus President Keripik Maicih yang akrab disapa Axl (baca: Axel).
Melalui jaringan kekerabatan, Axl mencoba menciptakan isu atau word of mouth (WOM). Salah satunya, dengan tingkat kepedasan keripik. “Keripik yang kami jajakan memiliki tingkat kepedasan yang berbeda. Mulai dari level satu sampai lima, dan langsung ke level 10 yang tingkat pedasnya paling tinggi,” lanjutnya.
Walhasil, dengan diferensiasi seperti itu, produk pun direspon positif oleh lingkar kekerabatan Axl. Mereka pun tak segan-segan meng-endorse keripik Maicih lewat kicauan mereka di akun twitter  masing-masing. Dua bulan berjalan, permintaan untuk level tiga dan lima melonjak tajam. Oleh karena itu, produksi keripik pun lebih diperbanyak untuk dua level tersebut.
Melihat efektivitas kicauan teman-temannya di dunia maya, maka Axl pun memutuskan untuk fokus hanya berkomunikasi lewat twitter @infomaicih, facebook #maicih, dan situs www.maicih.co.id. Diterangkan Axl, jumlah follower Maicih saat ini sudah mencapai lebih dari 354 ribu, sedangkan jumlah fanpage mencapai 49.000-an.
Untuk itu, jangan harap Anda akan menemukan gerai fisik Maicih. “Kami memang sengaja tidak membangun gerai fisik. Dari sisi biaya operasionalnya sangat tinggi. Dan yang terpenting, gerai fisik  tidak mampu menciptakan interaksi antara brand Maicih dengan konsumen,” ungkap Axl beralasan.
Lantas, bagaimana cara Maicih dikomunikasikan dan dijajakan? Rupanya, Maicih punya sederet “jendral”—sebutan untuk pasukan penjual atau reseller Maicih. Jendral tersebutlah yang bertugas berkicau di akun twitter mereka masing-masing tentang lokasi-lokasi mana saja yang bakal disambangi mobil yang membawa keripik Maicih untuk dijajakan. Dan, tiap harinya lokasi yang disambangi berpindah-pindah, alias nomaden.
Konsep jualan nomaden itu rupanya justru menggelitik rasa penasaran sekaligus memicu antusiasme konsumen. Dampaknya, tak sedikit anak-anak muda justru menunggu-nunggu kicauan dari para jendral Maicih plus berharap lokasi kampus atau rumah mereka bisa disambangi mobil Maicih.
Melalui konsep nomaden itu, urai Axl, “Kami ingin mencapai misi pertama kami, yaitu  menciptakan gengsi di dalam diri  konsumen kalau bisa mengkonsumsi Maicih. Bahkan, punya gengsi jika bisa menjadi icihers.” Itu artinya, jika belum tahu dan mencoba Maicih, boleh dibilang mereka belum masuk kategori “bergaul”.
Kini, misi berikut dari Axl dan kawan-kawan adalah menciptakan gengsi profesi seorang jendral. Menjadi seorang jendral Maicih jelas tidak mudah. Seleksi dilakukan sangat ketat. “Ada tiga batch yang kami tawarkan kepada para calon jendral,” imbuhnya. Ketiga batch itu dibedakan berdasarkan pembelanjaan keripik Maicih.
Untuk batch pertama, nilai pembelanjaan para jendral minimal Rp 5 juta per minggunya. Batch dua, nilai pembelanjaan produk Maicih minimal Rp 10 juta per minggunya. Sementara batch tiga, kategori baru, nilai pembelanjaan minimal Rp 100 juta per minggunya. “Para jendral dibebaskan untuk berinovasi dalam memasarkan produk Maicih,” ungkap Axl.
Selain syarat pembelanjaan, yang terpenting adalah calon jendral Maicih harus datang ke Bandung untuk interview dan mengikuti Akademi Jendral Maicih. “Di sana, calon jendral di-training seputar team work, inovasi, character building, dan soft skill lainnya. Pendeknya, para calon jendral harus mampu menjadi Independent Bussiness Owner (IBO),”  tegas Axl.
Jangan heran, jika para jendral Maicih dituntut untuk inovatif memikirkan cara-cara efektif dalam memasarkan keripik Maicih di area mereka masing-masing. “Kami tidak men-support dana sepeser pun untuk para jendral. Mereka sendirilah yang harus mampu membangun brand Maicih dan memasarkannya di wilayahnya masing-masing,” ia menambahkan.
Axl mencontohkan, area Cirebon  memiliki karakteristik yang berbeda dengan wilayah Jakarta. Di Cirebon, komunikasi jauh sangat efektif menggunakan medium radio. Maka, jendral di sana pun bekerja sama dengan sejumlah radio lokal untuk  menggelar talkshow seputar Maicih. Sementara di Jakarta, ketika Axl diundang hadir di salah satu program Metro TV dan Trans7, permintaan Maicih langsung booming. “Beda lagi dengan Bekasi. Pendekatan di sana justru sifatnya harus personal,” tuturnya.           
Kerja keras para jendral—yang merupakan anak-anak muda kelahiran era 80-an—itu tak percuma. Kini, Maicih sudah sampai seantero Indonesia, dari Aceh hingga Papua. Bahkan, Maicih juga sudah menjangkau mancanegara. Sebut saja Jepang dan Singapura. Tak mengherankan, dengan modal awal yang hanya Rp 15 juta, kini omzet Maicih membengkak. Per bulan, omzet Maicih—yang didapat dari pembelanjaan keripik para jendral—sudah menembus Rp 7 miliar.
“Untuk jendral batch dua, tak sedikit pembelanjaan mereka tiap minggunya Rp 200 juta-Rp 300 juta. Kontribusi tertinggi memang masih di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Jogja, dan Semarang,” ia mengaku.
Lantas, berhasilkah Axl pada misi keduanya: membangun gengsi menjadi jendral Maicih? Jawabannya, jelas berhasil. Ini dibuktikan dengan membludaknya anak-anak muda yang ingin menjadi jendral Maicih. “Dalam sehari, lebih dari seribu orang yang ingin mendaftar menjadi jendral Maicih. Dan, ada dari kalangan artis muda yang sudah menjadi jendral Maicih,” terang Axl.
Namun, Axl mengaku tidak bisa sembarangan menerima para jendral. Lantaran, di tangan para jendral-lah reputasi dan nasib brand Maicih digantungkan. Selain reseller, para jendral juga menjadi endorser sekaligus talker brand Maicih. Oleh karena itu, seleksi para jendral dilakukan sangat ketat. “Selain harus memiliki mindset Independent Bussiness Owner dan lulus Akademi Jendral Maicih, kami lebih mendahulukan wilayah-wilayah yang masih kosong pemain dan memiliki potensial market,” jelasnya.
Setelah sukses dibincangkan di jejaring sosial serta  diliput banyak media elektronik, cetak, maupun online, diakui Axl, Maicih mulai kedatangan kompetitor. Di daerah asalnya di Bandung, tak kurang dari 30 brand keripik—dengan jenis varian yang serupa—mulai agresif memasarkan produknya.
Oleh karena itu, Axl mengaku, tidak bisa tinggal diam. Dalam waktu dekat, tepat di awal tahun 2012, diungkapkan Axl, “Kami akan re-packaging dan meluncurkan varian baru, seblak keju.” Jika saat ini kemasan Maicih masih terlihat biasa, bahkan terkesan jadul (jaman dulu—red), tahun depan akan segera berganti. Untuk re-packaging dan peluncuran varian baru itu, saat ini Axl dan tim sedang menggodok konsep event-nya.
Tak cukup, Republik Maicih pun akan jauh lebih agresif menjadi pembicara di acara seminar atau workshop, menjadi narasumber di media elektronik, cetak, maupun online, hingga menggelar program corporate social responsibility. Bahkan, untuk menunjukkan bahwa Maicih adalah sang pionir, tak segan-segan Republik Maicih memasang reklame Maicih di papan bilboard akbar di wilayah Bandung. (Dwi Wulandari – Majalah MIX-MarketingCommunications, Desember 2011)


Sabtu, 04 Februari 2012

BENARKAH TWITTER MAMPU MENGUBAH PERILAKU KONSUMEN?


Pada 2 Januari 2012 lalu, publick bisa melihat perubahan nama akun pseudonim populer @soalCINTA menjadi @DennyJA_CINTA. Ada kabar – seperti ditulis Pitra Satvika (@pitra), 5 Januari lalu, akun tersebut dibeli oleh Denny JA -- Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI), sebuah lembaga penelitian dan konsultan politik pertama berskala nasional yang berada di Indonesia. Sebelum membeli @soalCINTA mempunyai akun@DennyJA_Pantun. Ketika dibeli, akun @soalCINTA memiliki lebih dari 1 juta follower. Ini menjadikan salah satu akun pseudonim paling populer dan langganan bagi para brand untuk berpromosi.
Orang mungkin menganggap aneh akuisisi yang dilakukan oleh Denny.  Ini karena karakteristik follower akun ini kebanyakan para ABG yang kemungkinan besar tak terlalu peduli dengan isu-isu politik. Tetapi, Denny mungkin alasan lain. Misalnya, bahwa melalui akunnya itu ABG yang merupakan pemilih terbesar saat ini dan potensi sebagai pemilih di masa mendatang bisa diedukasi sehingga sikap politiknya berubah.
Dalam beberapa bulan terakhir, jual beli akun atau foloower memang marak. Lihat saja di kaskus (http://www.kaskus.us/showthread.php?t=11500514), Anda menemukan tawaran follower atau akun twitter berfollower ratusan, bahkan ribuan dengan harga yang tidak mahal. Ini berbeda dengan yang dilakukan artis atau tokoh global yang memasang tariff tertentu untuk memberikan jasa mentweet pesan-pesan promosi perusahaan, merek atau Anda.

Ini sebenarnya bukan hal yang aneh. Sebab para penggemar media baru mengatakan Twitter, Facebook, MySpace dan situs jejaring sosial telah  mengubah dunia. Mereka menunjuk kampanye presiden Barack Obama pada 2008, demonstrasi di Iran (2009) dan "Revolusi Twitter" Moldova  di Eropa Timur pada tahun 2009, Revolusi Mesia (2011) dan kawasan lainnya  sebagai bukti bahwa semua tweets dan update status berhasil membuat perubahan.
Karena keberhasilan itu, orang pun ingin percaya dan ingin menjajal kekuatan online. Sebagian terbukti, sebagian lain tidak. Sebab nyatanya, tidak semua rewet atau status – meski disampaikan oleh orang terkenal sekalipun  -- tidak mampu mengubah perilaku seseorang. Hanya dengan cara tertentu perubahan bisa terjadi.
Pada November 2010, Nicholas A. Christakis dan James H. Fowler yang menulis untuk CNN, memberikan ilustrasi kasus aktris Alyssa Milano untuk menjelaskan fenomena tersebut. Menurut mereka, Milano sering melakukan tweet, dan tweeter mencintai Milano. Menurut catatan Twitter, dia memiliki 1,94 juta pengikut yang setiap saat dapat belajar bagaimana dia makan, ketika dia tidur dan apa yang dibaca melalui 19,85 ribu tweetsnya. Pada tanggal 15 September, tanpa sepengetahuan Christakis dan Fowler, Milano mentweeted buku mereka yang berjudul "Connected." Dalam tweet-nya itu Milano juga memasukkan link langsung ke halaman Amazon.com sebagai saluran bila orang ingin membeli buku tersebut.
Apakah serta merta penjualannya buku itu meroket? Ternyata tidak. Pembeli buku memang ada, tetapi penjualan buku itu justru berada di tingkat terendah pada periode 24 jam setelah Milano mentweet-nya. Taka da penjualan ekstra karena tingginya permintaan. Itu tak mengherankan. Karena, jaringan online mungkin bagus untuk penyampaian pesan atau informasi, tetapi saluran ini sulit untuk mengubah perilaku.
Christakis dan Fowler lalu memberikan ilustrasi lain. Meskipun penelitian Christakis dan Fowler menunjukkan bahwa obesitas, kebahagiaan dan bahkan perceraian dapat menyebar dalam jejaringa teman dekat, namun sedikit bukti yang memberikan gambaran bahwa perilaku menyebarkan itu dilakukan secara online oleh mereka yang hubungan merenggang.
Pada 30 September, Christakis dan Fowler membawa pengalaman tweet Milano tersebut dalam suatu konferensi yang diadakan di Washington yang diadakan the American Legacy Foundation. Konferensi itu membahas penggunaan jaringan online untuk mendorong orang berhenti merokok. Ada potensi besar dalam jaringan online karena banyak perokok yang terhubung dan satu sama lain saling memberikan motivasi. 
Tetapi,  menurut Christakis dan Fowler, sangat sulit untuk mengubah perokok untuk berhenti merokok. Mereka lalu memaparkan pengalamannya dengan Milano yang ternyata tak mampu mengubah menubah perilaku orang tersebut.  
Salah satu peserta -- Susannah Fox dari the Pew Research Center's Internet and American Life Project --  berkomentar bahwa yang ada seseuatu yang tak benar yang telah lakukan. Fox berpendapat bahwa jika orang lain -- seseorang yang benar-benar berpengaruh --  seperti Tim O'Reilly mengirimkan tweet, mungkin bisa memberikan hasi yang berbeda.
Christakis dan Fowler lalu menghubungi O'Reilly dan O’Reilley bersedia melakukan percobaan kecil-kecilan. Pada 1 Oktober, O’Reilly mengirimkan sebuah tweet positif tentang "Connected" dan juga menyertakan link ke Amazon.com ke 1,5 juta follower-nya. Kali ini, penjualan buku Connected naik sedikit. Buku itu terjual dengan satu atau dua penjualan esktra. Mengingat jumlah pengikut yang dia miliki, hasil yang dicapai dengan tweet O’Reilly masih lebih baik dari hasil tweet-nya Milano. Itu berarti O’Reilly mengalahkan sang aktris meski tak besar perbedaannya.
Jadi, apakah perlu kita meminta bantuan seorang tokoh yag memiliki banyak follower di Twitter untuk mempromosikan produk, merek, atau pribadi kita? Christakis dan Fowler tak berhenti melakukan penelitiannya. Dia lalu meminta bantuan Fox yang saat itu hanya memiliki 4,345 followers untuk mentweet tentang Connceted.  Hasilnya, terjadi ekstra penjualan sebanyak tiga buku. 
Dari ilustrasi diatas,  dapat diperoleh gambaran bahwa sebuah kelompok – jumlah follower -- yang lebih kecil  ternyata -- mungkin -- lebih influenceable dari pada individu maupun kolektif yang memiliki jutaan orang follower di Twitter.  Beberapa studi yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan beberapa pemikiran ulang tentang pengaruh dalam komunikasi melalui online. Pertama, besaran pengaruh tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah orang yang terhubung dengannya, melainkan juga sifat dan kualitas dari hubungan tersebut.
Malcolm Gladwell, penulis beberapa buku tentang jejaring seperti the Tipping Point, baru-baru ini mengatakan bahwa seyogyanya kita tidak terlalu berharap bahwa jejaring sosial online dapat digunakan untuk perubahan skala besar . Alasannya, ikatan hubungan yang terjalin secara online biasanya lemah, ikatannya tidak kuat seperti untuk keluarga kita, tetangga dekat dan teman-teman dalam dunia nyata.
Tapi perspektif ini berhadapan dengan relatitas yang tidak bisa dipungkiri bahwa meski tidak terlalu kuat, namun jumlah orang atau kelompok yang tergabung dalam jaringan sosial secara online ini sangat besar. Dalam kondisi seperti itu, seringkali, kelemahan kecil bisa ditutupi oleh sesuatunyang besar.  Dalam kasus revolusi Mesir misalnya, isu perubahan merupakan sesuatu yang sangat penting. Puluhan tahun bangsa Mesir terbelenggu oleh suatu pemerintahan yang tiran. Saat itu bangsa Mesir sudah muak dengan pemerintahan yang ada. Mereka ingin berubah. Karena itu, tweet yang dilemparkan – bahkan oleh orang yang tak dikenalpun – bisa mempengaruhi perilaku orang. Disini ada persamaan ide dan tujuan antara penyampai pesan dan penerima pesan untuk melakukan sesuatu. Mereka bekerjasama untuk saling memberitahu, memberi dukungan untuk mencapai tujuan dan kepentingan bersama.
Disinilah pentingnya pemasar atau siapa saja yang memanfaatkan seseorang atau kelompok di Twitter atau jejaring media sosial. Christakis dan Fowler memberikan ilustrasi, pada tahun 2008, seorang insinyur 33 tahun Kolombia mampu memobilisasi 4,8 juta orang untuk menghadiri rapat umum di seluruh dunia guna memprotes penyanderaan oleh kelompok-kelompok revolusioner di negaranya. Insinyur itu memulai dari kelompok kecil. Mulai dari dirinya sendiri, yang diikuti oleh lima orang teman dekatnya.  Kemudian merambah ke orang-orang lain yang memiliki hubungan pribadi dengan para sandera, orang-orang lain yang pernah senasib, orang-orang yang merasa empati, dan seterusnya ke jutaan orang lain yang concerned dengan masalah penyanderaan dan pembelaan hak-hak asasi manusia dan anti kekerasan. Mereka digerakkkan oleh tujuan yang sama, yakni pembebesan sandera.
Pelajaran kedua yang diperoleh dari febomena ini adalah bahwa untuk membuat menciptakan pengaruh, yang diperlukan bukan hanya ketikohannya, tapi juga pengaruhnya atau kemampuan dari sang tokoh untuk menjadi  "influenceables." O'Reilly dan Milano sangat persuasive. Mereka terhubung dengan jutaan orang followernya. Tapi pada akhirnya, Fox yang hanya memiliki ribuan follower yang berhasil mememenangkan penjualan. Ini berarti, untuk membuat sebuah perubahan, yang diperlukan bukan sekadar dombanya, tapi juga penggembalanya.
Akhirnya, yang paling penting bagi upaya untuk memanfaatkan kekuatan internet untuk mengubah perilaku masyarakat adalah, pengelola harus belajar mengolah interaksi online sehingga yang terinteraksi merasa seakan-akan dia berada di dunia nyata. 

Jumat, 03 Februari 2012

Tarifnya Iklannya Antara $2500-8000 per Tweet.


Sekarang selebriti bisa memperoleh ribuan dolar dengan hanya mengetik (atau dialkuakn oleh asistensnya) 140 karakter. Sebut saja Kardashians Kim, Snoop Doggs dan Sheens Charlie, mereka kini menjadi sponsor atau iklan bagi ratusan ribu atau jutaan pengikut mereka.
Snoop Dogg, misalnya, menentukan tariff sekitar $ 8.000 atau lebih per tweet. Ia memiliki 6,4 juta follower menduduki eselon atas dari para elit tweet. Sementara itu Paula Abdul, yang memiliki 2,2 juta follower memasang tariff  $ 5.000 per iklan yang ditweet. Yang paling murah, Whitney Port, memasang tariff $ 2.500 untuk sekali tweet ke 800.000 followernya.
 Adalah Ad.ly yang menjadi agen mereka. Ad.ly merupakan perusahaan sosial media endorsement yang menghubungkan iklan dengan lebih dari 1000 nama besar selebriti di budaya pop. Disini – seperti terlihat pada gambar -- Toyota sepakat untuk meminta Ad.ly untuk mengkomunikasikan mereknya melalu endorser Snoop Doggs. Snoop Doggs lalu mentweet pesan yang ingin disampaikan.
Hasilnya – seperti terlihat pada gambar – iklan dalam tweet tersebut, diklik sebanyak 100 ribu lebih dan diretweet sebanyak 150 kali sehingga menghadilkan CPC (coct per Click) atau biaya iklan dibagi dengan jumlah klik yang terjadi sebesar US$ 1.15. 


Kamis, 02 Februari 2012

PERLUKAH SETIAP KOMENTAR NEGATIF DITANGGAPI?


Bagaimana perusahaan merespon publisitas, komentar atau keluhan negatif merupakan elemen penting yang mempengaruhi sikap konsumen terhadap perusahaan dan merek. Ketika Citibank Indonesia – yang dalam waktu yang berdekatan (kalau tidak mau disebut sebagai bersamaan) – menghadapi ujian yang mempertaruhkan image mereka tadi, response pihak manajemen relative lambat. Ini menimbulkan praduga di masyarakat seakan-akan Citibank  membenarkan isu yang berkembang di masayarakat.

Mei tahun lalu, Citibank menghadapi dua masalah sekaligus. Yang pertama adalah munculnya kasus penggelapan dana nasabah oleh salah seorang eksekutifnya, Inong Malinda Dee. Yang kedua, kasus kematian nasabah kartu kreditnya,  Irzen Octa, yang dikaitkan dengan persoalan cara penagihan dan lokasi meninggalnya yang berada di lingkungan bank tersebut. Dua peristiwatersebut mendapat liputan media yang cukup besar.

Dalam konteks public relations, publisitas negatif merupakan penyebaran informasi yang berpotensi merusak karena menampilkan beberapa gambaran buruk atau negatif tentang produk, layanan, unit bisnis, atau individu di media cetak atau media lainnya termasuk pembicaraan dari mulut ke mulut (Sherrell dan Reidenbachm, 1986). 


Saat ini, tercatat 19.5 juta akun Twitter yang dibuat oleh orang Indonesia. Data November 2011 lalu menunjukkan bahwa terdapat 1,29 juta tweets per hari. Sementara data terbaru yang dirilis Semiocast, Rabu (1 Februari lalu) menunjukkan bahwa 48% pengguna Twitter melakukan tweet setiap hari. Bila dianggap setiap pengguna Twitter melakukan satu tweet, maka setiap hari akan ada lebih dari 9,4 juta tweet.

Ini berarti sesuatu yang luar biasa karena setiap detik akan muncul 109 pesan yang muncul di twitter. Di satu sisi, fenemona bisa menjadi peluang, di sisi lain bisa menjadi ancaman. Salah satu ketakutan terbesar dan kekhawatiran yang sampai muncul di kalangan pengelola dan pemilik perusahaan atau merek adalah komentar negatif yang ditinggalkan oleh pelanggan pada blog perusahaan atau akun twitter.

Ini memang tantangan yang cukup besar bagi para pengelola merek, terutama kalangan praktisi public relations. Meski sebenarnya hal itu bisa jadi cuma persoalan kesalahpahaman sebab pada dasarnya komentar negatif yang muncul di blog atau media sosial lainnya tidak semuanya serta merta menghancurkan reputasi merek atau perusahaan.

Pada dasarnya, seorag praktisi public relations memang harus menanggapi atau menjawab setiap komentar negatif atau pertanyaan yang muncul, termasuk di media sosial.  Disini yang penting adalah bagaimana menghandle komentar negatif tersebut. Bila komentar negatif tersebut bisa ditangani dengan baik, maka kekhawatiran pengelola perusahaan atau merek tidak akan muncul. Sebaliknya, biila tidak ditangani dengan baik, maka bisa berakibat buruk.

Dalam buku Smart Business, Social Business: A Playbook for Social Media in Your Organization, Michael Brito mengidentifikasi enam jenis pelanggan sosial lengkap dengan  berbagai tingkatan pengaruh. Brito – kini Vice President of Social Media Edelman -- tidak membahas pengaruh khusus karena setiap pelanggan, sosial atau tidak, memiliki beberapa tingkatan pengaruh atas orang lain.

Menurut Brito, pelanggan sosial berinteraksi dengan perusahaan dan merek dengan cara yang berbeda berdasarkan emosi mereka dan bagaimana perasaan mereka pada saat-saat  tertentu. Suatu saat mereka mungkin menjadi pelanggan kolaboratif, dan hari berikutnya mereka mungkin bersama pesaing Anda. Kondisi ini sangat tergantung pada reaksi perusahaan. Brito sendiri mengakui sulitnya melakukan pengelompokan jenis-jenis pelanggan ini karena sebetulnya hal ini cenderung merupakan studi tentang perilaku manusia.

Menurut Brito, studi tentang perilaku manusia hanya dapat dilakukan oleh ahli psikologi. Dalam hal studi tentang interaksi seseorang dengan media sosial lebih sulit dilakukan ketika mempelajari tentang motivasi dan perilaku orang meng-klik, pemeringkatan, konten dan perilaku orang di web sosial. Berikut adalah pengelompokan pelanggan yang disusun oleh Brito.

The Venting Customer
Tipe pelanggan ini mungkin mengeluhkan merek atau perusahaan di Twitter atau Facebook. Akan tetapi mereka sebenarnya tidak terlalu membutuhkan respon. Dalam banyak kasus, para pelanggan hanya mencari perhatian dari jaringan mereka dan biasanya membuat pernyataan seperti, "Saya mencintai laptop Dell saya, tapi itu terlalu berat," atau "Saya baru saja mengistall Comcast. Tampilan high definition dari Comcast memang menakjubkan, tapi kotak kabelnya tidak sesuai dengan furnitur saya." Dalam kasus tertentu, perusahaan atau merek dapat memilih untuk memfollow tipe pelanggan ini di Twitter. Jika percakapan seperti itu terjadi, perusahaan atau merek bisa meresponnya dengan mengatakan "Terima kasih, Anda telah memesan produk kami" atau pernyataan lain yang sejenis.

The Passive Customer
Tipe pelanggan ini jelas membutuhkan dukungan pelanggan lainya tetapi tidak begitu aktif mencari jawaban. Biasanya, pelanggan ini tidak begitu vokal dan lebih sabar dibandingkan pelanggan lainnya. Mereka mungkin menceritakan masalahnya dan mencari bantuan orang lain sembari menyebutkan perusahaan secara langsung. Mereka ini seringkali membuat pernyataan seperti, "Laptop Toshiba saya mati terus setelah menit menyala. Tolong!" Sering juga mereka memasukannya ke Twitter hashtag yang gampang dikenali misalnya  #gagal.

Menghadapi situasi seperti ini, adalah penting bagi perusahaan untuk menandai pelanggan tipe ini dan secara langsung mengirimkan teknik atau cara mengatasi atau memperbaiki masalah yang dihadapi pelanggan tersebut. Mengabaikan pelanggan pasif dapat mengubah orang  menjadi “pernah” menjadi pelanggan atau tidak menjadi pelanggan lagi. Ini adalah sesuatu  yang tidak pernah kita harapkan.

The “Used-to-Be” Customer
Pelanggan ini pemarah, vokal dan membutuhkan bantuan segera. Tipe pelanggan memiliki kemungkinan besar menyatakan ketidakpuasan mereka beberapa kali melalui online sampai perusahaan menanggapi atau masalah mereka terselesaikan. Mereka secara konsisten mengatakan kepada orang lain tentang pengalaman negatif mereka. Mereka membuat pernyataan seperti "Internet saya baru saja down lagi. Saya muak pada @Comcast dan akan membatalkannya!" atau "1-800 Flower terlambat mengirimkan bunga untuk ulang tahun ibuku. Ini adalah kali kedua. Saya putus dengan mereka selamanya."

Dalam situasi seperti ini, Tim Customer Support harus segera menaninya sehingga mereka dapat secara proaktif menghubungi mereka dan menawarkan berbagai macam promosi gratis. . Lebih penting lagi, perusahaan harus mulai berpikir tentang bagaimana mengoptimalkan proses bisnis mereka dalam rangka untuk menyelesaikan akar masalahnya.

The Collaborative Customer
Pelanggan ini begitu senang dengan produk, layanan, atau perusahaan. Seringkali pelanggan  ini kesempatan dan ruang untuk menyarankan orang lain untuk menggunakan atau membeli produk baru dari perusahaan tadi. Atau mendorong orang lain untuk menggunakan atau membeli lebih sering atau lebih banyak produk-produk yang sudah ada.

Mereka ini sering membuat pernyataan seperti "Saya pikir El Pollo Loco juga seyogyanya  menyediakan ayam panggang bagi orang yang ingin makan sehat." Kemudian dia mencantumkan cc: nama perusahaan di pesan melalui Twitter tersebut. Seperti "cc: @ ElPolloLocoInc". Dengan cara ini, mereka seakan ingin memastikan bahwa El Pollo Loco mengetahui pesan tersebut melalui @mention di Twitter. Meskipun ini bukan isu tentang dukungan pelanggan, pelanggan seperti ini harus ditandai dan mendapat perhatian khusus. Ini karena mereka berpotensi bisa diubah menjadi advocate. Dalam situasi ini, seorang manajer pemasaran atau communinity harus terlibat secara langsung dan mulai membangun hubungan dengan mereka.

The Customer Advocate
Ini jenis pelanggan selalu membicarakan merek, produk, atau layanan bahkan jika mereka diabaikan sekalipun. Pelanggan jenis ini tidak perlu insentif. Mereka berbicara tentang suatu produk karena mereka senang melakukan itu dan membuat mereka merasa menjadi bagian dari perusahaan atau merek tersebut. Seringkali mereka membuat pernyataan seperti "Anda semua harus membeli TV 3D Sony baru. TV ini begitu sempurna dan mengagumkan bila digunakan untuk bermain game dan menonton film Blue Ray. Kami mencintainya.” Bila mendapati pelanggan seperti ini, departemen pemasaran dan PR harus segera menandainya dan harus berhubungan dengan mereka.

The Future Customer
Pelanggan ini atau juga dikenal sebagai calon pelanggan, merupakan faktor yang menjadi salah satu alasan muncunya praktek CRM. Mereka dapat menjadi pelanggan baru atau pelanggan karena mereka sedang mempertimbangkan untuk mengupgrade produk yang mereka miliki – bisa jadi dari merek lain – ke produk atau jasa baru. Calon pelanggan ini akan mengatakan hal-hal seperti, "Saya berpikir tentang mendapatkan Comcast. Saya lelah karena Dish Network sering bermasalah. Bagaimana menurut Anda?”

Bagi Comcast, mereka ini bisa dianggap sebagai pelanggan masa depan karena berpotensi untuk menjadi pelanggan “a used-to-be” bagi Dish Network. Karena itu, menghadapi pelanggan jenis ini perlu perlu penanganan berbeda karena kasusnya untuk masing-masing merek bisa berbeda. Dalam kasus apapun, tim penjualan Comcast harus segera menandai mereka dan bersiap menawarkan kesepakatan yang benar-benar menguntungkan pelanggan ini agar segera berpindah merek. Dalam lingkungan bisnis ke bisnis (B2B), ini bisa menjadi pelanggan yang berbicara tentang upgrade hardware di pusat data. Karena itu account manager harus segera menghubungi mereka secara langsung sebelum hal yang sama dilakukan oleh pesaing.