Kamis, 09 Februari 2012

Hanya 2% Pengguna Internet Yang Dapatkan Info Politik Dari Twitter


Biaya kampanye politik pemilu diperkirakan melonjak tajam. Karena itu penting bagi para kandidat untuk mencari peluang agar bisa melakukan kampanye dengan biaya yang tidak selangit. Disini banyak kandidat yang menoleh ke sosial media. Studi yang dilakukan oleh Dr Ciaran McMahon baru-baru ini mengungkapkan bahwa aktivitas kampanye melalui jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook dapat meningkatkan perolehan suara.

The Associated Press pernah membahas tentang calon presiden yang menggunakan Twitter untuk kampanye. Presiden Obama yang saat ini memimpin pooling memiliki lebih dari 10 juta follower. Pastinya, jumlah itu menjadi jauh lebih besar karena pendukung Obama juga memililiki akun Twitter dengan jumlah follower yang besar. \

Saat mencalonkan diri, Herman Cain memiliki hanya di bawah 200.000 follower. Setiap kali Cain mentweet, tweet itu diretweet lebih dari 100 kali. Penting untuk dicatat bahwa pada saat penelitian dilakukan, AP mencatat bahwa Cain saat itu melakukan tweet hanya 579 kali. Dari jumlah itu, 144 tweet diretweet pendukungnya lebih dari 100 kali.

Dari gambaran itu, meskipun jangkauan awalnya mungkin terlihat terbatas, retweets adalah fitur kuat yang dapat mendrive penambahan audience dengan menjangkau public yang tidak sempat menontont TV atau melihat billboard.

Para calon juga bereksperimen dengan strategi pesan berbeda-beda. Kandidat Presiden dari Republik, Mitt Romney misalnya, selalu melempar tweets dengan tone-tone yang relative aman. Sementara tweet Jon Huntsman cenderung mengundang kontroversial. Masih belum ada laporan yang menyebutkan pengaruh dari pesan-pesan tersebut dalam perolehan dukungan.

Jaringan sosial menawarkan jangkauan yang luar biasa. Di sisi lain, tekanan untuk menjangkau  pemilih potensial sebanyak mungkin, penting bagi calon untuk benar-benar mendapatkan manfaat dari peluang dari kehadiran platform media sosial tersebut.



Di Indoneia, banyak politisi yang memiliki akun di twitter, meski mungkin hanya sedikit yang 'benar-benar" aktif. Ini karena ada juga yang akunnya aktif di twitter, tetapi jarang ngetwit. Beberapa waktu lalu, salingsilang.com membuat daftar politisi Indonesia yang memiliki akun dan aktif di Twitter. Mereka memiliki follower yang cukup besar. @SondkhAngelina memiliki follower sebanyak 369.255 akun. Padahal, dia hanya memfollow 768 akun. Yang terbanyak kedua adalah @tifsembiring dengan follower sebanyak 318,316 akun.



Akan tetapi, dari sisi keaktifan, @fadjroel yang memiliki 66,454 adalah bintangnya. Sejak bergabung di Twitter, @fadjroel melepaskan 76,769 tweets. Urutan kedua adalah politisi muda Golkar, @IndraJPiliang. Selama ini kolumnis dari The Indonesian Institute telah melempar sebanyak 63,565. Sementara itu, @SondkhAngelina yang memiliki follower terbesar hanya mengirim sebanyak 3,226 tweets.

Gambaran diatas bisa diinterpretasikan sebagai indikasi bahwa politisi gabung ke dalam Twitter bisa jadi hanya tidak ingin ketingggalan atau sekadar memantau pembicaraan tentang dirinya atau situasi politik pada umumnya. Sebab nyatanya, bila diamati nyata mereka setiap hari melemparkan tweet-nya. Bahkan ada yang sama sekali tidak pernah. Dengan kata lain, mereka hanya mengumpulkan follower tanpa memberi pesan apapun kepada follower-nya. Politisi pasif – terlepas apakah nama itu sebenarnya atau sekadar dipakai -- seperti ini antara lain @JusufKalla yang memiliki 4,652 follower namun tak pernah berucap sekalipun melalui Twitter.

Sampai saat ini di Indonesia belum ada penelitian yang menunjukkan hubungan antara keatifan di Twitter dan perolehan dukungan. Di Amerika Serikat, menurut Pew Research Center for the People and the Presssurveyed, menunjukkan sedikitnya publik yang memanfaatkan Twitter untuk mendapatkan informasi tentang kampanye politik. Survey ini mendapati bahwa 36% audience Amerika Serikat memperoleh informasi tentang kampanye politik melalui TV kabel. Diikuti  TV lokal (34%), TV jaringan (32%) dan internet (25%).



Yang menarik, dari 25 persen ini hanya sebagian kecil yang memperoleh infoemasi kampanye opolitik melalui media sosial. Hanya 5 % responden yang mengatakan bahwa mereka menggunakan Twitter untuk mempelajari kampanye secara teratur atau kadang-kadang, dan hanya 2 % yang menggunakannya secara teratur. Agka itu juga relative jauh lebih kecil dibandingkan yang memperoleh informasi kampanye melalui YouTube (15%) atau Facebook (20%).

3 Februari lalu, Direktur Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) Husen Yazid dalam jumpa pers di Jakarta, menyebutkan bahwa Media yang cepat meningkatkan pencitraan, menurut dia, ialah televisi mencapai 58%, baliho 24%, dan 18% melalui koran, media daring (online), radio, serta jaringan sosial Facebook.