Rabu, 22 Februari 2012

KAPAN SEBAIKNYA MENGHAPUS TWEET?


Masih ingat saat raja media Rupert Murdoch membuka akun di Twitter, saat pergantian tahun 2011 ke 2012 lalu. Saat itu, tweet yang dilontarkan Murdoch langsung membuat kehebohan karena membuat panas kuping pemerintah dan orang-orang Inggris.
"Maybe Brits have too many holidays for broke country!" demikian tulis tweet Murdoch, yang disebutkan ketika memposting tengah menikmati liburannya.


Kata 'broke country' itulah yang dipermasalahkan. Sebab menyimpan arti sebagai sesuatu yang negatif. Sontak saja, postingan itu merupakan kicauan nyelekit bagi Inggris. Terlebih hal itu dilakukan oleh figur sekaliber Rupert Murdoch yang menjadi salah satu orang terkaya di dunia lewat kerajaan bisnis medianya.
Entah atas kesadaran sendiri atau ada masukan dari orang lain, tak beberapa lama kemudian, tweet sarkastik tersebut langsung dihapus Murdoch. Hanya saja, di Twitter semua informasi dapat terbang dengan begitu cepat. Termasuk tweet yang baru saja di-delete Murdoch. Beberapa dari 40 ribu followernya sudah terlanjur meretweet 'broke country' tersebut.
Adalah seseorang yang memakai nama akun Wendi Deng --  nama istri Murdoch -- sejatinya sudah me-reply dengan cepat tweet kasar Murdoch tersebut. "RUPERT!! delete tweet!!" tulis akun yang belum diverifikasi keasliannya itu.


Kemudian, akun Wendi Deng mencoba menenangkan keadaan dengan menuliskan postingan bahwa apa yang dilakukan Murdoch hanyalah lelucon. "EVERY1 @rupertmurdoch was only having a joke pROMSIE!!!" tulisnya seperti dikutip Sydney Morning Herald, Senin (2/1/2012). "Coba menjelaskan kepada @rupertmurdoch untuk hati-hati dengan humor di online. Karena terkadang itu akan menjadi sesuatu yang kasar!" lanjutnya.
Seringkali, seseorang memang selalu memiliki kesan terhadap sesuatu yang dilihat, didengar atau dirasakan. seringkali muncul keinginan untuk membagi pengalaman tersebut. Twitter merupakan media yang memungkinkan seseorang untuk berbagi dengan cepat, meski dibatasi oleh jumlah karakter yang bisa disampaikan.
Yang juga sering terjadi, ada penyesalan yang muncul ketika seseorang baru saja melepas tweetnya itu. Itu bisa disebabkan oleh respon public yang membacanya, kesadaran yang meuncul dengan sedirinya pada orang tersebut atau karena alasan lainnya. Pada kondisi seperti itu, seseorang tergoda untuk menghapus tweet yang telah dilontarkan.
Pertanyaannya, apakah pas kalau kita menghapus tweet yang telah kita lempar ke publik? Bukankah percuma karena yang kita tweet (terutama bila bikin heboh) sudah diretweet atau dikopi orang lain? Jawabannya memang tidak sederhana. Ini karena sifat publik atas segala sesuatu yang Anda tweet. Anda harus mempertimbangkan kemungkinan munculnya sikap pro dan kontra ketika Anda menghapus tweet sebelum Anda melakukannya.
Katakanlah Anda tweet sesuatu yang "bukan tentang merek" untuk bisnis Anda - seperti gambar yang tidak pantas pada suatu pesat meski diadakan di luar jam kerja Anda. Dalam hal ini, Anda bisa menghapus tweet  ketika Anda sadar bahwa Anda seharusnya tidak mentweet itu. Namun, Anda harus ingat bahwa yang Anda tweet, itu bisa saja sudah di retweet oleh salah satu dari pengikut Anda.
Daripada menghapus ini tweet yang memalukan, Anda mungkin perlu mempertimbangkan alternative lain. Misalnya, Anda bisa meminta maaf untuk foto yang telah Anda posting. Anda bisa melakukan itu sambil mengakui Anda telah melakukan kekhilafan. Namun, jika foto tersebut benar-benar memalukan, Anda boleh menghapusnya.
Namun, bukan hanya menghapus foto tersebut. Menghapus saja tidak cukup. Setelah Anda menghapus tweet, yang perlu dilakukan adalah mengirimkan pesan pengakuan bahwa Anda memang telah menghapus tweet tersebut dan meminta maaf. "Maaf untuk itu tweet (atau foto) yang lalu.” Langkah itu sekaligus menunjukkan kepada orang-orang bahwa Anda menyadari Anda telah melakukan kesalahan, tetapi Anda tidak ingin atau bermaksud jaha dengan tweet tersebut. 

Jadi situasi apa yang memungkinkan suatu tweet dihapus?
  • Apa pun yang bisa memperlemah merek (termasuk personal) Anda
  • Sebuah tweet yang melanggar norma.
  • Foto atau video yang memalukan
  • Sebuah tweet yang memiliki beberapa masalah dalam ejaan atau tanda baca
  • Sebuah tweet yang setengah jadi dan dikirim terlalu dini

Selain dalam konteks di atas, ada pula situasi dimana Anda tidak perlu menghapus tweet “memalukan” . Misalnya, saat Anda kehilangan argumen dengan pengguna lain, atau bila Anda mendapat umpan balik negatif lebih dari satu pendapat yang berasal dari komunitas Anda. Jika Anda menghapus sebuah tweet atau dua dalam satu situasi ini, Anda akan mengirimkan pesan bahwa Anda tidak benar-benar tidak serius mengatakan itu.