Jumat, 20 Juli 2012

Handphone, Social Media dan Sinetron Putih Abu-abu


Dunia media anak-anak berubah dramatis. Penetrasi TV di kalangan anak-anak mencapai 98%. Namun, penetrasi media baru seperti handphone dan internet juga tinggi. Apa implikasinya?

Ketika Sesame Street tayang pertama kali di media televisi pada 10 November 1969, landscape  media untuk anak-anak usia pra-sekolah sangat terbatas. Saat itu, media yang tersedia – yang kemudian oleh anak-anak sekarang disebut sebagai "media teknologi lama" hanya televisi, radio, dan media cetak.
Design program acara yang inovatif, animasi yang terintegrasi, adegan live action di jalanan, dan segmen yang menampilkan Muppets, ditampilkan stasiun TV untuk mendorong akuisisi awal bahasa, matematika, dan keterampilan sosial. Sesame Street juga ditujukan untuk – salah satunya -- gerakan melek media pada 1970-an. Target yang ingin dicapai adalah mendorong anak untuk lebih aktif menggunakan dan beriteraksi dengan media.
Ketika landsape media masih berpola lama, interaktivitas seperti bagaimana anak-anak merespon karakter yang muncul di layar pada layar karakter dan pengalaman mereka, dimediasi secara  televisual. Agar lebih akrab, secara bersamaan, para “tokoh” berinteraksi dengan audiensenya di toko, teras, atau bahkan pinggiran jalan.
Sejak kemunculan Sesame Street, dunia media anak-anak berubah dramatis, dan menghasilkan formulasi ulang tentang bagaimana anak-anak sebagai konsumen media mempersepsikannya  dan engage. Contoh paling menarik dari transformasi ini adalah program TV sangat populer untuk anak-anak prasekolah, Dora the Explorer. Dora yang dilaunch pada 1999 dan menjadi program dasar dari jaringan kabel televisi Nickelodeon pada 2000.
Acara ini muncul dalam bentuk yang biasanya disebut sebagai lanskap "media baru". Bentangannya meliputi digital, informasi terkomputerisasi, atau jaringan dan teknologi komunikasi yang memuncukan mode baru dalam pengiriman konten. Disini anak-anak bisa mendownload dan sharing, memperoleh pengalaman media melalui iPod atau DVD interaktif, dan memproduksi media melalui video dan blog.
Teori mengatakan bahwa sumber utama pembelajaran anak-anak dalam berperilaku sebagai konsumen adalah orangtua. Setelah itu, baru ada agen pembelajar lainnya, yakni teman sebaya, teman sekolah, toko, produk itu sendiri dan kemasan, dan sudah tentu media massa (Moschis, 1987).
Pengaruh media terhadap anak-anak terutama karena dua dimensi, yakni iklan dan editorial/program content (O'Guinn dan Shrum, 1997). Secara khusus, iklan ditujukan untuk menginformasikan produk kepada konsumen dan mendorong mereka untuk membeli. Sedangkan program TV mungkin memiliki niat bersayap, mungkin mendidik tapi bisa juga membujuk, dan mungkin pula tidak berniat membujuk tapi cukup mempengaruhi (Moschis, 1987).
Penelitian yang dilakukan James Sargent dari Geisel School of Medicine Darthmouth, New Hampshire, AS,  baru-baru memberikan gambaran tentang dampak anak-anak yang sering  menonton film dengan karakter orang merokok. Anak-anak itu cenderung merokok bukan karena bujukan orang lain, melainkan atas dorongan sendiri. Ini menunjukkan bahwa meski secara langsung tak ditujukan kepada anak-anak, namun pesan yang disampaikan melalui adegan merokok secara langsung mempengaruhi anak-anak untuk merokok. 
Diakui atau tidak, selain mempengaruhi perilaku konsumsi anak-anak, baik iklan maupun editorial/isi program media massa, informasi yang bersifat pengetahuan dan bimbingan sejatinya dapat pula membimbing perilaku anak dalam mengkonsumsi. Namun, dua hal tersebut sulit dipisahkan.
Tapi yang pasti, interaksi anak dengan media berhubungan positif dengan proses pembelajaran anak berperilaku konsumen. Artinya, semakin banyak seorang anak berinteraksi dengan media massa, sosialisasi konsumen makin terjadi (Moschis, 1987). Ini berarti, melalui media massa anak-anak belajar tentang produk, merek mereka, dan gerai ritel di mana konsumen dapat membeli produk tersebut (Ward, 1974).
Itu sebabnya, kata Medina Latief Harjani -- President Director Pasaraya – dalam hal fashion misalnya, karena banyaknya saluran TV asing yang channelnya mudah diakses dan murah, banyak anak-anak yang mengikuti trend fashion dunia. “Anak-anak modern sekarang sudah tidak perlu dipilihkan baju-bajunya lagi oleh orangtua, mereka bisa memilihnya sendiri.  Begitu pula dengan tempat berkumpul atau entertainment, mereka tahu kemana dan kapan harus pergi. Mereka tahu tempat yang nyaman untuk mereka ‘hang out’ bagi remaja dan bermain,” kata Medina.
Anak-anak Indonesia usia 10-14 tahun, menurut Yudi Suryanata, Executive Director untuk Consumer Research di Nielsen, mengkonsumsi media khususnya  televisi dan internet, lebih tinggi daripada populasi pada umumnya. Riset yang dilakukan Nielsen menunjukkan bahwa penetrasi TV di kalangan anak-anak mencapai 98%. Penetrasi TV pada umumnya (95%). Penonton TV anak laki-laki sedikit lebih banyak daripada perempuan (51% vs 49%). Berepa lama mereka menonton TV, anak-anak menonton TV rata-rata 4 jam setiap hari. Dilihat dari jenis kelaminnya, anak perempuan menonton TV lebih lama daripada anak laki-laki (4,75 jam vs. 4,2 jam).
Acara TV yang paling banyak ditonton oleh anak-anak juga berbeda menurut usia dan jenis kelamin. Anak-anak usia 5-9 misalnya, berbeda dengan anak usia 10-14, dan antara anak laki-laki juga berbeda dengan perempuan. Dalam sebulan terakhir, acara TV yang paling banyak ditonton anak-anak usia 5-9 tahun baik laki-laki mapun perempuan adalah sinetron Aladdin. Meski demikian, anak laki-laki cenderung menonton kartun anak, seperti Chaplin and Co., atau Minuscule,  dan anak perempuan cenderung menonton sinetron, seperti Putih Abu-abu atau Dewi Bintari, atau acara mencari bakat, seperti Cherrybelle Cari Chibi.
Sekadar mengingatkan sinetron PUTIH ABU-ABU (PAA) yang tayangan perdananya pada 12 Februari 2012 menuai protes pemirsa di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Diprotes karena ceritanya dinilai sarat muatan kekerasan dan penggambaran kehidupan pelajar sekolah yang tidak pantas.
Dalam hal media baru, tidak seperti pada awal-awal pertumbuhannya saat internet dicurigai, kini internet seakan menjadi bagian “kehidupan” anak-anak. Hal ini terlihat dari tingkat konsumsi internet di kalangan anak-anak yang mencapai 43% atau  jauh lebih tinggi daripada konsumsi pada umumnya (25%). Apalagi bila dilihat dari jenis kelaminnya. Internet cenderung lebih banyak dikonsumsi oleh anak-anak laki-laki (54%) dibandingkan perempuan (46%) dengan frekuensi akses internet lebih sering di kelompok anak laki-laki daripada perempuan. Sementara  penggunaan radio, suratkabar dan majalah di kalangan anak-anak relatif lebih rendah daripada konsumen pada umumnya dengan Radio 19%, Suratkabar 6% dan Majalah 10%.


Tahun lalu, AXA merilis sebuah studi menarik mengenai bagaimana anak-anak menggunakan media sosial untuk membangun online brand pribadi mereka. Ini memberikan gambaran makin sadarnya anak-anak terhadap kekuatan media sosial guna membentuk image. Hasil studi tadi menunjukkan bahwa 86% anak berusia 11, percaya pada kekuatan media sosial untuk membuat diri mereka terlihat baik kepada orang lain.
Ini merupakan perkembangan yang dramatis karena sejatinya, konsep personal brand di kalangan orang dewasa baru mulai mendapatkan perhatian. Akan tetapi, bagi generasi muda tersebut, konsep ini terbentuk lebih awal karena mereka menjadi sadar akan kekuatan penciptaan image dan bagaimana Anda dapat mengontrol teknologi sosial untuk mempengaruhi cara di mana mereka dipersepsikan.


Yang tak kalah menariknya adalah 48% anak-anak usia 10-14 tahun di 9 kota survey Nielsen memiliki handphone, dengan anak-anak perempuan yang memiliki handphone lebih banyak daripada anak-anak laki-laki (54% vs. 46%). Ipsos melaporkan bahwa 12% anak-anak usia 12-16 tahun telah memiliki akun Twitter. Pada musim panas lalu, The Pew Research Center's Internet & American Life Project melaporkan bahwa terdapat 16% anak-anak usia 12 sampai 17 yang yang menggunakan handphone mereka untuk mengakses Twitter. Ini berarti jumlah mereka naik dua kali lipat jumlah dari dua tahun sebelumnya.


Kepemilikian handphone di kalangan anak-anak telah tumbuh dari 34% di tahun 2010. Alasan utamanya, supaya dapat berkomunikasi dengan atau dihubungi oleh orang lain (41%) dan untuk keperluan yang penting dan mendesak (28%). Alasan berikutnya berbeda antara anak laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki cenderung memiliki handphone untuk alasan mendengarkan musik, modelnya bagus dan untuk bermain games. Sementara anak perempuan memiliki handphone karena teman-temannya mempunyai handphone, untuk mendengarkan musik dan mendapatkan informasi terbaru secara cepat.
Feature handphone yang paling sering digunakan oleh anak laki-laki dan perempuan juga berbeda, meskipun feature utama yang mereka gunakan sama-sama Layanan Pesan Singkat (SMS). Namun feature lainnya yang paling banyak digunakan oleh anak laki-laki, berturut-turut adalah games dan MP3 player. Sementara di kalangan anak perempuan, MP3 player dan kamera.  Inilah era yang ditandai dengan pergeseran pola komunikasi di kalangan anak-anak. Mereka memang tetap menyintai komunikasi langsung. Namun kalau itu bisa dilakukan dengan komunikasi melalui teks, mereka lebih memilih komunikasi dengan teks (seperti sms, BBMessanger, email, dan sebagainya).
Akhirnya, bagi anak-anak, pengalaman mengkonsumsi media ibaratnya tidak seperti ruang hampa. Beberapa penelitian tentang dampak media televisi menjelaskan bahwa keluarga dekat, seperti orang tua dan saudara kandung, sangat mempengaruhi pencerapan pengalaman anak dalam menyaksikan acara televisi.
Lingkungan keluarga juga menentukan pengalaman anak-anak dalam menggunakan computer. Suatu studi terbaru menemukan bahwa persepsi orang tua mereka sangat menentukan anak-anak dalam mempelajari dan menggunakan komputer. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa anak-anak sulit membedakan kenyataan dari fantasi, dan program reguler dengan advertising  (Furger, 1995). Ini mengharuskan peran orang tua mendampingi anak-anak mereka saat menonton TV.

Sabtu, 14 Juli 2012

Kids: Shifting Role to Decision Maker?

Dalam sepuluh tahun belakangan terjadi pergeseran peran anak-anak dalam keputusan pembelian keluarga. Anak-anak kini cenderung menjadi penentu sendiri. Apa implikasinya bagi komunikasi pemasaran?

Anda mungkin sering menyaksikan pernah iklan kartu debit yang selalu diputar menjelang pemutaran film utama di cinema XXI atau 21? Disitu ada pasangan suami isteri dengan dua anaknya, lelaki dan perempuan. Sampai disitu taka da yang istimewa. Yang menarik kemudian, usai membeli tiket, mereka masing-masing memutuskan acaranya sendiri sambil menunggu pemutaran jadwal masuk pemutaran film yang mereka tonton.
Disitu sang anak perempuan jalan-jalan ke tempat snack dan minuman, sementara sang anak lelaki ke tempat games. Sementara bapak ibunya makan bersama di sebuah resto di studio. Keceriahan dan kebahagian terpancar di wajah mereka. Menjelang masuk jadwal, mereka sama-sama memasuki gedung studio.
Selain pesan kemudahan, keceriahan dan kebahagiaan yang cukup kena, ada pesan lain yang dikemukakan oleh iklan tersebut, yakni kebebasan yang diberikan kedua orangtua kepada anak-anak untuk memilih kegiatan yang mereka sukai. Yang dimaksud dengan “mereka” disini, bisa jadi bapak dan ibunya, serta anak-anak mereka.
Dulu, fenomena ini bisa bisa ditafsirkan lain. Saya mencoba menganalogkan kegiatan orangtua dan kedua anaknya itu dengan belanja di mall. Menurut Jones (1999), ketika seseorang berbelanja bersama dengan orang lain di sebuah mall -- bila orang lain itu memiliki kepentingan yang berbeda -- bagi orang tadi situasi tersebut bisa jadi merupakan suatu hal yang dipersepsikan negatif.
Bayangkan misalnya, Anda ke mall bersama seorang teman. Anda dan teman Anda tadi memang ingin meluangkan waktu bersama di sebuah di mall. Sampai di suatu departemen store mungkin Anda masih ada kesefahaman dengan teman Anda tadi. Bisa jadi karena ada kesamaan kepentingan, yakni ketika melihat sebuah iklan sale  sebuah departemen store, Anda dan teman Anda memutuskan masuk ke department store itu.
Tapi apa yang terjadi sesampai di dalam departemen store? Disini perbedaan kepentingan mulai mencuat. Bisa jadi kepentingan Anda berbeda dengan kepentingan teman Anda. Anda ingin mengejar sepatu yang Anda incar sejak lama, sedangkan teman Anda ingin busana bawahan yang memang tengah dia butuhkan. Kemana Anda dan teman Anda memutuskan? Apakah mengikuti teman dan bersama-sama ke koridor busana, teman Anda mengikuti Anda ke koridor sepatu, atau Anda berdua ke salah satu koridor giliran?
Dalam konteks dunia anak, kebutuhan seorang anak seringkali sangat berbeda dengan orang tua. Kebutuhan anak sebagian besar adalah hedonistik sedangkan kebutuhan orang tua lebih utilitarian. Simak iklan kartu debit dan XXI tadi.
Bila kondisinya demikian, kebutuhan anak bisa bertindak sebagai penghalang untuk pemenuhan orang tua mereka. Seperti dikemukakan di awal, tujuan utama orang tua adalah dengan membeli semua kebutuhan belanja mereka, suasana hati dan perilaku anak mereka akan berdampak pada pencapaian tujuan dan persepsi pengalaman mereka. Jika seorang anak tidak menikmati pengalaman berbelanja, mereka kecewa dan mengganggu orangtua yang mengejar tujuan utilitarian mereka. Ini yang seringkali membuat orangtua menjadi kesal karena keasyikannya melihat dan memilih-milih barang terganggu.
Bila konsep ini diterima, maka memenuhi kebutuhan anak sangatlah penting artinya. Ini karena dengan memenuhi kebutuhan anak secara tidak langsung akan memenuhi kebutuhan orang tua dengan menghapus potensi konflik kepentingan. Itu sebabnya di toko-toko mainan dan busana misalnya, secara eksplisit pengecer menempatkan kebutuhan anak-anak sebagai fokus utama dari lingkungan berbelanja. Ini  karena mereka menyadari bahwa orang tua membawa anak-anak mereka sebagai "penentu sebelum memilih produk lainnya.” Sebaliknya, toko grosir menempatkan kebutuhan orang tua di barisan pertama, dengan fokus pada desain toko cocok untuk pembeli dewasa (Nicholls & Cullen, 2004).
Dalam dua dekade terakhir terjadi banyak perubahan dalam keluarga. Kini makin banyak dijumpai keluarga berpendapatan ganda – suami isteri bekerja atau memperoleh pendapatan. Implikasinya, meningkatnya kekuatan ekonomi orang tua yang siap memanjakan anak-anak mereka. Akan tetapi, dengan semakin banyak perempuan mengambil untuk bekerja, sementara pendapatan meningkat, waktu yang dihabiskan orangtua untuk anak-anak mereka menurun. Pembagian pekerjaan dan peran masing-masing anggota rumah tangga menjadi masalah negosiasi dan karenanya peran anak dalam pengambilan keputusan telah meningkat.
Dengan kata lain, kini terjadi pergeseran peran anak dalam proses pembelian. “Saat ini anak-anak sudah semakin pintar dan mandiri. Bahkan di kelompok usia sekolah dasar,  mereka sudah bisa memutuskan produk yang akan mereka beli. Biasanya di toko kami anak-anak berbelanja di temani oleh orangtuanya, dan beberapa ada juga yang sudah mandiri berbelanja sendiri atau berbelanja bersama teman-temannya saat pulang sekolah. Biasanya kalau datang sendiri, produk yang dibeli terbatas pada produk snack, candy dan beverages,” kata Velina Yulianti, Marketing Director PT Sumber Alfaria Trijaya, Tbk – pemilik merek minimarket Alfamart, seperti dikutip Majalah MIX, Juli 2012.


Anak merupakan pasar yang unik dan sangat potensial. Unik karena uang yang mereka belanjakan sering kali bukan uang mereka sendiri, tetapi mereka memiliki kekuatan beli yang besar. Potensial karena dari sisi jumlah anak dan besarnya pengeluaran, mereka merupakan pasar yang besar dan menjanjikan.  Anak-anak juga memiliki pengaruh yang kuat pada keputusan alokasi anggaran dan pilihan pembelian yang dibuat keluarga. Peran itu sejak lama diketahui. Yang belum banyak tergambar saat ini adalah perubahan besar yang terjadi pada peran anak dalam proses pembelian tersebut.
“Seirig degan banyaknya saluran TV asing yang channelnya mudah diakses dan murah, anak-anak sekarang banyak yang mengikuti trend fashion dunia. Anak-anak modern sekarang sudah tidak perlu dipilihkan baju-bajunya lagi oleh orangtua, mereka bisa memilihnya sendiri.  Begitupun dengan tempat berkumpul atau entertainment, mereka tahu kemana dan kapan harus pergi,” kata Medina Latief Harjani, President Director Pasaraya. 
Dalam beberapa tahun terakhir, pasar pada segmen anak di Indonesia makin menunjukkan perkembangan yang menakjubkan. Bisa jadi hal ini merupakan dampak dari perkembangan teknologi yang memungkinkan anak-anak mengakses media massa dengan mudah. Dalam beberapa tahun terakhir, anak-anak Indonesia telah menjadi pengguna internet dan media digital lainnya, termasuk handphone, bahkan ke sosial media.
Anak-anak Indonesia usia 10-14 tahun, menurut Yudi Suryanata, Executive Director untuk Consumer Research di Nielsen, mengkonsumsi media khususnya televisi dan internet, lebih tinggi daripada populasi pada umumnya. Konsumsi internet di kalangan anak-anak (43%) juga jauh lebih tinggi daripada konsumsi pada umumnya (25%). Bila dilihat dari jenis kelaminnya, internet cenderung lebih banyak dikonsumsi oleh anak-anak laki-laki (54%) dibandingkan perempuan (46%) dengan frekuensi akses internet lebih sering di kelompok anak laki-laki daripada perempuan. Sementara  penggunaan radio, suratkabar dan majalah di kalangan anak-anak relatif lebih rendah daripada konsumen pada umumnya dengan Radio 19%, Suratkabar 6% dan Majalah 10%.
Yang tak kalah menariknya adalah 48% anak-anak usia 10-14 tahun di 9 kota survey Nielsen memiliki handphone, dengan anak-anak perempuan yang memiliki handphone lebih banyak daripada anak-anak laki-laki (54% vs. 46%). Kepemilikian handphone di kalangan anak-anak telah tumbuh dari 34% di tahun 2010. Karena itu, “Kami percaya bahwa anak-anak nantinya akan berperan sebagai decision maker dan  menjadi pelanggan setia kami. Untuk itu sejak 3 tahun terakhir ini kami rutin menjalankan program “Shopping Experience for Kids”. Program ini bertujuan untuk mengedukasi anak-anak sejak usia dini untuk melakukan smart shopping, yaitu berlatih shopping dengan dana terbatas. Kami berikan knowledge kepada anak-anak ini saat memilih barang, hal apa saja yang perlu diperhatikan, seperti kondisi kemasan barang masih baik atau tidak dan  batas kadaluwarsanya,” kata Velina Yulianti.
Kini banyak perusahaan makanan dan minuman yang memanfaatkan trend tersebut untuk mendapatkan keuntungan melalui perluasan dengan menjadi anak-anak sebagaitarget pemasaran. Mereka memasang iklan di situs web komersial, Internet (yaitu penempatan iklan banner di situs Web perusahaan lain), video online, media sosial, atau advergames. Pada tahun 2006, perusahaan makanan di AS menghabiskan $ 76,6 juta untuk iklan Internet yang diarahkan untuk anak dan remaja (FTC, 2008).
Setiap tahun, situs perusahaan makanan dan minuman diperkirakan mampu menyedot 49 juta anak pengunjung setiap tahu, dengan pengguna menghabiskan sebanyak 1 jam atau lebih di situs tersebut (Moore & Rideout, 2007).
Website makanan anak bertarget perusahaan umum fitur Advergames, atau online game yang dirancang untuk memasarkan sebuah merek dengan cara yang menyenangkan dan menarik dan untuk meningkatkan eksposur dan asosiasi positif  merek (Winkler & Buckner, 2006). Mereka biasanya menyertakan fitur yang bisa mendorong anak untuk kembali ke situs web dan main game beberapa kali (Santos, Gonzalo, & Gisbert, 2007).
Pada tahun 2009, perusahaan menghabiskan $ 676.000.000 diproyeksikan untuk menghasilkan Advergames (Lee, Choi, Quilliam, & Cole, 2009). Lebih dari 540 Advergames ditemukan di situs Web perusahaan makanan, dan beberapa website yang terdapat sebanyak enam puluh tujuh game (Moore & Rideout, 2007). Lebih dari 97% Advergames makanan dan minuman tersebut memuat setidaknya satu identifier merek, seperti gambar makanan atau paket, karakter merek, atau logo perusahaan / merek (Culp et al, 2010;. Moore, 2006).
Sekarang banyak produsen yang memproduksi produk splash cologne untuk anak, baik untuk anak laki-laki dan perempuan. PT Citra Nusa Insan Cemerlang (CNI) memperluas penguasaan pasar dengan menambah varian produk yang menyasar segmen anak-anak. Head of Branch CNI Surabaya Yudi Setiawan mengatakan, saat ini pihaknya berupaya memperbanyak varian produk untuk anak dalam bentuk food supplement. "Selama ini pasar anak-anak memang sudah tergarap, tapi belum optimal. Untuk market anak, CNI sudah ada produk seperti vitamin C anak dan food supplement lain untuk keseimbangan gizi dan peningkatan daya konsentrasi anak," katanya saat dihubungi Surya, Senin (21/5/2012).
Di pasar pasta gigi, Unilever harus bersaing ketat dengan merek lain seerti Kodomo yang diproduksi oleh Lion Indonesia dan Enzim Anak-Anak produksi PT. Enzym Bioteknologi Internusa. Merek lain yang juga memasuki segmen anak-anak adalah Zwitsal, Cussons Kids, Dee Dee, Formula Junior, Chicco, dan Total Care Junior. Selain iklannya yang masif, produsen juga mengembangkan gimmick, in-store promo dan berbagai bentuk kemasan yang menarik bagi anak-anak.
Perusahaan berusaha memanfaatkan semua contact point untuk berkomunikasi dengan anak-anak. Time Book Store misalnya, memanfaatkan media sosial, Facebook Time Indonesia, dan Twitter @TimeIndonesia, untuk berkomunikasi dengan orangtua. Juga ada event lomab. “Lomba untuk mendekatkan anak dengan keluarga,” kata Fernando Repi, Corporate Communication Manager, PT Matahari Putra Prima, Tbk.
Pemasaran yang membidik anak-anak merupakan pekerjaan yang sulit, terutama ketika perusahaan atau merek menawarkan kepada mereka sesuatu yang menyehatkan, seperti susu. Namun pemasar tak perlu terlalu khawatir karena ada seseuatu yang bisa membantu mengatasi persoalan itu. Dalam banyak kasus, grafis pada kemasan,  rasa dan mengemasnya dalam satu botol bisa membantu.
Ini menjungkirbalikkan asumsi yang selama ini hampir menjadi dogma bahwa ketika pasar berbicara tentang kemasan, fokusnya pada ukuran kemasan. Sebuah studi yang dilakukan pada 300 siswa sekolah di St Louis, mengungkapkan bahwa ketika ditawari susu dengan berbagai rasa seperti vanilla dan strawberry, kemasan yang berwarna-warni, kemasan yang kid-friendly, dan promosi yang berfokus pada anak-anak, mereka semakin sering mengkonsumsi susu. "Siswa yang diuji di St. Louis memilih susu karena grafis dan kemasan baru, selain rasa dan varian baru,”  kata Tom Nagle, vice president of marketing for the International Dairy Foods Association (IDFA). Bagaimana dengan merek Anda?

Minggu, 08 Juli 2012

Kapan Perusahaan Non-Rokok Melakukan CSR Seperti ini?

Dua minggu lalu, saya melakukan kegiatan penjurian oulet yang tergabung dalam Sampoerna Retail Community (SRC). Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini – sejalan dengan pemekaran area – pesertanya dinilai berdasarkan area masing-masing. Jadi seperti dua minggu lalu misalnya, saya melakukan penjurian untuk area Jakarta Selatan dan minggu lalu untuk Jakarta Pusat. Di luar itu – seperti kriteria penjurian -- tak banyak perubahan.

Dilakukan penjurian karena program ini seperti lomba outlet. Peserta berusaha mempercantik outletnya sedemikian rupa sehingga menampilkan dirinya bak minimarket. Begitulah cara mereka guna menghadapi persaingan dengan outlet mini modern yang banyak bermunculan di kampung-kampung dan di kompleks perumahan terutama di daerah perkotaan. Mereka berusaha untuk bangkit.

Program ini merupakan pengembangan dari program Great Walls – lomba branding outlet – yang berlangsung sejak 2005. Namun berbeda dengan Great walls yang diikuti juga oleh pedagang besar (wholesaler), SRC diikuti oleh pedagang peritel kecil yang ada di kampung-kampung.

 Sebelum make-over

Sevelum make-over

Sesudah make-over

Sesudah make-over

Sesudah make-over
Sungguh, selama proses penjurian, dalam pikiran saya muncul pertanyaan, “kapan perusahan non-rokok melakukan kerja seperti ini. Coba kalau semua perusahaan terutama yang berhubungan dengan peritel kecil menjalankan proyek seperti ini. Pedagang di Indonesia pasti sejahtera.”

Meski dari sisi kriteria tak banyak perubahan, namun dilihat dari pesertanya sungguh luar biasa. Kelihatan sekali bahwa mereka dengan antuasias mengikuti program ini. Padahal tak banyak bantuan yang diberikan Sampoerna kepada outlet yang mengikuti  program ini. Dari sisi hadiah juga relative tak besar.

Namun demikian, seperti pengakuan seorang peserta di daerah Lebak Bulus, banyak manfaat yang dia dapat setelah mengikuti program ini. “Outlet saya makin tertata. Kita juga tidak melayani, pembeli bias memilih sendiri barang yang ereka inginkan. Mereka tak tanya dimana produk bias didapat karena kami beri petunjuk. Juga tak tanya harga lagi karena setiap produk kami tempeli harganya,” katanya.

Dengan jumlah anggota mencapai lebih 3.000 pengecer (data per 2010), komunitas ini terkesan besar. Namun sejatinya, keanggotaan mereka di komunitas ini merupakan buah prestasi, hasil seleksi yang ketat. Bagaimana tidak, untuk tercatat sebagai anggota Sampoerna Retail Community (SRC), seorang pengecer harus memiliki performa berdasarkan rekaman database dari manajemen HM Sampoerna (HMS) di Jakarta.

Parameternya antara lain dilihat dari lokasi yang strategis, aliran pelanggannya ramai–yang mengindikasikan bisnis mereka berjalan lancar dengan size yang cukup besar—serta dalam catatan manajemen selama beberapa tahun pengecer ini telah menunjukkan sikap yang kooperatif terhadap perusahaan. “Intinya adalah seberapa antusias dan seberapa besar mereka bisa mendorong komunikasi kita,” ujar Herminwi, Manager Sales Planing & Bussines Development seperti dikutip Majalah MIX, Otober 2010.

Sampoerna Retail Community adalah suatu program pembinaan terhadap outlet retail potensial yang terpilih sebagai partner bagi Sampoerna yang digabungkan dalam suatu komunitas yang bertujuan untuk melakukan aktivitas promosi dan distribusi produk A Mild secara lebih agresif dan exclusive.

Konsep program ini sendiri adalah membuat outlet retail menjadi semi modern outlet plus entertainment corner. Disini outlet dipasok Sampoerna dengan seperangkat meja dan empat kursi yang disediakan outlet bagi pelanggannya bila ingin ngobrol. Biasanya di depan meja tadi tersedia pesawat televisi atau papan catur atau permainan lainnya yang membuat pelanggan betah lama-lama di outlet.




Sejak 2010 lalu, kriteria tersebut ditambah satu yaitu 18+ alias ketepatan dalam menyasar segmen usia di atas 18 tahun. Syarat tersebut untuk memastikan bahwa mayoritas konsumen yang mereka garap benar perokok dewasa seusai dengan ketentuan  Pemerintah. Guna memantau persyaratan ini, tenaga lapangan Sampoerna–mulai dari canvasser, supervisor sampai area manager—difungsigandakan  untuk melakukan pengawasan bersamaan dengan kunjungan rutin mereka.

Dimulai pada 2008, pembentukan SRC berawal dari program A Mild Retail Community yang diselenggarakan di Medan. Trade program tersebut merupakan program make over outlet para peritel dengan jumlah peserta 60 toko sebagai pilot project. Program usai dalam waktu beberapa bulan, namun tak dinyana, menurut Rudy Yuliana, Manager Sales Promo -- seperti dikutip MIX, Oktober 2010 --  antusiasme peserta masih berlanjut.


Para peserta mengaku program tersebut ternyata berimplikasi terhadap pertumbuhan omset bisnis mereka secara keseluruhan. Toko yang sudah di-make over ternyata mampu mengundang pelanggan jauh lebih banyak, dan secara tidak langsung juga berpengaruh pada kelengkapan tokonya lantaran bertambahnya varian produk yang dipajang.



Merespon antusiasme tersebut, manajemen HMS memutuskan memperluas skala program tersebut secara nasional. Apalagi sangat disadari, kelangsungan bisnis rokok tidak bisa lepas dari distribusi di level peritel. Kendati secara volume tarikan sales produk paling besar terjadi di level wholesaler, namun menurut Herminwi, sejatinya volume, serapan serta pemerataan pasar tercipta lebih dahulu di periteler. “Karena kepentingan itu kita masuk dan mengambil moment ini dengan membentuk program SRC,” tandasnya.

Dalam pelaksanaannya kemudian, program SRC dikembangkan menjadi program CSR berkelanjutan. Jadi bukan lagi sekadar program jangka pendek seperti A Mild Community yang hanya berdurasi beberapa bulan. “Program ini diadakan setiap tahun dan diharapkan bisa memberikan keuntungan jangka panjang bagi pesertanya,” tambah Rudy.

Sejarah HMS mencatat, jaringan pengecer tradisional ini sangat berjasa sebagai ujung tombak distribusi produk-produk Sampoerna kepada target marketnya. Maka dengan program ini juga, diharapkan terjalin hubungan yang semakin baik antara corporate dengan para pengecernya yang selama ini telah berperan sebagai business builder HMS.

Mirip dengan A Mild Community, aplikasi program diawali dengan pemilihan peserta lomba make over toko bagi outlet yang terpilih. Untuk keperluan tersebut, perusahaan memberi dukungan dalam bentuk hardware semacam dispenser rokok, rak-rak pajangan serta shop-sign untuk nama toko. Selain itu mereka dibantu untuk melakukan make over secara keseluruhan. “Dan itu bukan hanya untuk pemajangan rokok, namun juga space-space yang disediakan untuk produk-produk lainnya semacam snack, permen dan lain-lain. Dengan demikian kalau dilihat dari depan, outlet ini sama menariknya dengan modern outlet,” ujar Rudy lagi. 


Yang sering terjadi, outlet menampilkan kreativitas sendiri. Mereka berusaha tampil berbeda dengan menonjolkan atmospher yang berbeda dengan peserta lainnya. Seperti yang ditamilkan pemilik outlet di Kebayoran Lama ini. Dengan antusiasme mereka mengikuti program. dengan modal sendiri mereka membuat tas khusus SRC dan pegawainya diberi seragam sehingga nuansa SRC-nya sangat menonjol.



Secara tidak langsung, kerjasama ini merupakan proses edukasi seputar strategi memajang barang di toko (merchandising). Para pemilik toko itu diajarkan bagaimana caranya menimbulkan awareness konsumen, cara menyusun barang berdasarkan kategori, bagaimana layout berdasarkan jenis barang yang paling sering dicari konsumen. Dengan demikian, konsumen akan dimudahkan menemukan barang yang mereka perlukan sehingga awareness mereka pun makin meningkat.

Intinya, ujarnya Herminwi, Sampoerna mengajak para peritel untuk berbisnis dengan lebih baik sesuai yang diharapkan pelanggan. Atau dengan kata lain, program ini membawa pesan bahwa HMS peduli dengan bisnis outlet, bukan sekadar peduli pada omset rokok yang dihasilkan dari outlet yang bersangkutan. “Jika Sampoerna peduli dengan mereka, mereka pasti juga akan peduli kepada kita. Kami yakin dengan membesarkan outlet, suatu saat pasti kami juga akan kebagian (hasilnya),” ujarnya.

Sebagai program jangka panjang, SRC tidak berhenti sampai lomba berakhir. Pasca lomba, SRC  ditegaskan sebagai wadah komunitas para peserta outlet panel dalam program longterm partnership. Dengan demikian hubungan itu tidak putus begitu saja setelah program berakhir. “Kalau hanya mengandalkan trade profram yang sifatnya tiga bulanan dengan hadiah uang Rp5 juta, motor atau barang elektronik, loyalitas mereka tidak terjamin. Jadi ini murni investasi karena kita peduli dengan bisnis mereka,” tambah Herminwi.

Secara rutin, komunitas ini diundang gathering oleh pemilik merek. Tidak sekadar kumpul-kumpul, dalam acara tersebut para member selalu disegarkan kembali ingatannya dengan edukasi mengenai penataan produk. Selain itu antar member juga diberi kesempatan untuk berbagi cerita tentang pengalaman masing-masing dalam membesarkan omsetnya. Dalam gathering di Makasar pada 2009 lalu misalnya, Ikbal, salah seorang anggota SRC yg memiliki toko di JL Tentara Pelajar, mengatakan komunitas tersebut telah mereka manfaatkan sebagai ajang tukar menukar informasi peluang bisnis dengan peserta lain.

Di luar acara gathering, masih ujar Rudy, biasanya mereka juga berinisiatif sendiri untuk saling berkunjung sehingga dari hari ke hari komunitas ini semakin solid. Karena rata-rata para member itu merupakan mantan peserta lomba yang diambil dari wilayah berbeda, nuansa persaingan di antara mereka juga tidak terlalu terasa. Karena itu mereka lebih nyaman untuk berbagi pengalaman dalam mengubah tokonya sehingga menjadi lebih kompetitif dalam bersaing dengan modern trade. Kesolidan ini bertambah pekat dengan kesadaran adanya persamaan nasib dan tantangan yang mereka hadapi. Apalagi jika bukan seputar keterbatasan modal kerja yang menjadi kendali untuk berekspansi dibandingkan kekuatan modern trade.

Dua tahun berjalan, menurut Herminwi, evaluasi HMS menunjukkan program ini memberi kontribusi yang signifikan, baik bagi pemilik brand maupun peritel. Bagi peritel, hal itu ditunjukkan dengan perumbuhan bisnis mereka yang meningkat signifikan. Sementara bagi pemilik brand (HMS), dengan program ini, visibility produk mereka di outlet menjadi lebih terjamin. Di luar itu loyalitas para peritel juga terindikasi makin tinggi. ”Indikatornya, kalau kita mengeluarkan brand baru, mereka langsung minta. Padahal dulu untuk memasukkan dua pack saja, salesman kita butuh waktu 15 menit sampai setengah jam, bahkan tak jarang gagal dalam satu hari untuk meyakinkan mereka. Sekarang mereka lebih ikhlas memajangnya,” ujar Herminwi panjang lebar.

Untuk menjaga loyalitas mereka, dari pihak corporate—para canvasser, supervisor dan area manager—juga intense melakukan komunikasi dengan para peritel. Bahkan dalam gathering nasional yang diadakan bersamaan dengan Ultah HMS di Yogyakarta tahun lalu, para peritel pilihan ini diberi kesempatan untuk bertemu langsung dengan para top management HMS.
Dalam kerangka tersebut, Herminwi menargetkan 3-4 tahun ke depan mereka bisa menerapkan IT system bagi para member SRC.

Jumat, 06 Juli 2012

Benarkah Perguruan Tinggi itu Industri Jasa?


Dalam beberapa tahun terkahir terjadi perubahan paradigma target market perguruan tinggi. Ada yang melihat mahasiswa sebagai pelanggan. Ini mengasumsikan bahwa pendidikan tinggi sama dengan industri jasa lainnya. Namun di sisi lain lain ada yang melihat mahasiswa sebagai produk. Benarkah mahasiswa itu pelanggan? Apa konsekuensinya? 

Praktek manajemen lembaga pendidikan tinggi kini mengalami perubahan paradigma mendasar dengan makin pentingnya manajemen kualitas (total quality management) untuk memastikan bahwa  “pelanggan”nya puas. Dengan kata lain, sebagian besar perguruan tinggi belakangan mengadopsi konsep mahasiswa sebagai pelanggan. Mereka harus dipuaskan sehingga mereka bisa menyuarakan kepuasannya kepada yang lain sehingga perguruan tinggi tersebut menjadi pilihan bagi “adik-adik” mereka atau calon peserta didik lainnya.

Namun demikian, banyak pihak yang memperdebatkan konsep tersebut. Pendidikan tinggi bisa jadi merupakan lembaga penyedia layanan, namun tidak sepenuhnya mengikuti hukum-hukum industri jasa. Benar bahwa semua konsumen, mahasiswa, pasien, klien, dan sebagainya adalah pelanggan. Akan tetapi, agar suatu jasa memenuhi harapan, pelanggan harus ikut memikul tanggung jawab yang berbeda tergantung pada produk atau jasa yang dibeli. Artinya, janji yang diberikan oleh pemasar tidak akan terpenuhi bila kondisi tertentu yang harus terjadi tidak terpenuhi.

Sebagai contoh, seseorang yang membeli mobil memiliki tanggung jawab seperti harus memastikan bahwa minyak pelumasnya diganti secara periodik, melakukan pemeliharaan rutin, dan mobil dioperasikan dengan cara yang aman. Kegagalan untuk memenuhi tanggung jawab ini dapat memperpendek masa manfaat mobil yang dibelinya.

Mahasiswa juga memiliki tanggung jawab untuk menghadiri kelas, penelitian, menyelesaikan proyek, ujian atau tes, dan sebagainya. Seperti diketahui, ada dua jenis produk yang ditawarkan perguruan tinggi. Pertama adalah produk nyata dari pendidikan tinggi adalah sertifikat atau ijazah yang diterima mahasiswa sesuai dengan tingkatannya. Kedua, produk tidak berwujud pendidikan tinggi adalah proses belajar mengajar dimana terjadi interaksi nyata dalam bentuk gagasan (inteletual) maupun fisik (Felix dan Gibbs, 2009; 34). Hasil dari proses interaksi ini berupa lulusan yang berkualitas kemudian ditawarkan kepada industri atau masyarakat. Seperti halnya di dunia industri lainnya, kegagalan dalam memenuhi tanggung jawab ini berakbiat pada rendahnya kualitas atau bahkan kegagalan akademis.

Dengan kata lain, seberapa baik seorang mahasiswa memenuhi tanggung jawab ini akan berdampak secara signifikan terhadap kualitas pencapaiannya. Besar kecilnya tanggung jawab itu sangat bervariasi, misalnya bervariasi dari kelas ke kelas lainnya. Satu kelas mungkin membutuhkan sebuah proyek khusus, sementara kelas lainnya tidak. Variasi tanggung jawab dapat pula terjadi sebagai persyaratan seseorang bisa lulus atau tidak. Misalnya, mahasiswa dinyatakan lulus untuk suatu mata kuliah atau tugas tertentu bila mendapatkan nilai C. Atau tanggungjawab mahasiswa untuk mencapai nilai C bisa berbeda dengan tangungjawab yang dibutuhkan untuk mendapatkan nilai B.

Dalam konteks pengguna, ada beberapa perbedaan mendasar antara pendidikan tinggi dan industri jasa lainnya. Pertama, pada industri jasa, semua orang yang membayar untuk mendapatkan layanan adalah pelanggan. Sedangkan pada pendidikan tinggi tidak ada pelanggan spesifik yang harus dilayani. Ini karena sebenarnya, yang termasuk “pelanggan” perguruan tinggi menurut Bay dan Daniel (2001) adalah mahasiswa, orang tua, lembaga pemerintah, pengusaha dan masyarakat pada umumnya.

Di dalam pendidikan tinggi, masing-masing jenis pelanggan memiliki kebutuhan dan peran sendiri. Karena itu, persoalan pilihan kelompok yang ditarget membuat lembaga pendidikan pada umumnya kurang bisa mengembangkan strategi yang fokus untuk pelanggan yang spesifik secara efektif (Sirvanci, 1996).

Selain itu, pelanggan juga dianggap sebagai mitra karena keterlibatannya di setiap titik layanan. Dalam konteks ini masing-masing mitra berpartisipasi dalam pengembangan, peningkatan penyediaan, dan perubahan layanan. Misalnya, bila dalam bisnis jasa, kinerja pelayanan umumnya dinilai oleh konsumen eksternal sementara karya mahasiswa dinilai oleh dosen internal. Karya mahasiswa – ujian atau test misalnya -- disini bisa jadi merupakan hasil dari proses interaksi kemitraan antara dosen dan mahasiswa.

Meski benar bahwa mahasiswa menentukan pilihannya atas pendidikan tinggi dan membayar untuk mendapatkan kesempatan pendidikan, akan tetapi mereka tidak sepenuhnya bisa dianggap pelanggan biasa. Yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa tugas pendidikan tidak semata menyenangkan para mahasiswa - setidaknya tidak dalam jangka pendek. Pendidikan tinggi memerlukan lebih dari sekadar kemasan dan memberikan pengetahuan kepada konsumen yang pasif. Dalam pendidikan, mahasiswa menjadi bagian integral dan berperan aktif dalam proses pendidikan.  

Mahasiswa memiliki berbagai peran dalam proses pembelajaran. Proses ini  berbeda dari industri jasa lainnya, dan peran siswa tidak dapat disederhanakan dengan menyamakan mereka sebagaimana pelanggan industri jasa lainnya. Mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk adalah belajar. Dalam konteks ini, belajar merupakan konsekuensi dari pilihan mahasiswa, bukan layanan yang dibeli. Di sisi lain, perguruan tinggi tidak menjual sebuah komoditas yang disebut belajar, melainkan memberikan mahasiswa suatu lingkungan yang memungkinkan mahasiswa bisa belajar dengan baik (Groccia, 1997).

Namun demikian, perguruan tinggi bukanlah sebuah organisasi yang berada di atas masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi perubahan yang memungkinkan mahasiswa yang tidak puas diam dan sekadar bertanya, "Apa yang bisa saya dapatkan?" (Lomas, 2007; 43). Mereka kini tak takut untuk bertanya, "Apa yang harus saya lakukan?" Dan ketika jawabanya tidak memuaskan, mereka akan melakukan sesuatu.

Pada industri jasa, dalam rangka mempertahankan atau meningkatkan pangsa pasar dan keuntungan, perusahaan memfokuskan pada pemenuhan kebutuhan pelanggan sesuai dengan keinginan mereka. Pada pendidikan tinggi, pengelola perguruan tinggi ingin memenuhi kebutuhan pelanggannya, namun di sisi lain kebutuhan mahasiswa seringkali tidak simetris dengan keinginannya.

Dalam bisnis, ada adegium bahwa pelanggan selalu benar. Sementara itu perguruan tinggi, layanan ditujukan lebih pada pemenuhan kebutuhan kebutuhan ketimbang keinginan. Disini, program pendidikan ditentukan sesuai dengan tuntutan pada kebutuhan lapangan pekerjaan atau lembaga pemerintahan misalnya, yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan mahasiswa.

Dalam bisnis layanan, benefit dari layanan biasanya dirasakan pelanggan dalam jangka pendek begitu mereka membayar. Di lingkungan perguruan tinggi, mahasiswa mendapatkan benefit dalam waktu yang relative lama karena benefit dari layanan tersebut diterima setelah mahasiswa selesai menjalani proses pendidikan yang biasanya berangsung lebih dari tiga tahun. Degan kata lain, manfaat dari jasa yang diterima berupa ilmu baru dirasakan mahassiwa setelah masuk ke dunia kerja. Pendidikan tinggi merupakan investasi jangka panjang dengan manfaat ganda. Mahasiswa sebagai penerima manfaat utama akan menyadari manfaat dari pendidikan mereka di kemudian hari. Disini, kepuasan yang sebenarnya dapat diukur. (Sirvanci, 1996).

Dari sisi model pembayaran, antara bisnis bisnis jasa dan perguruan tinggi juga dapat dibedakan. Bila dalam bisnis jasa pelanggan membayar penuh dengan dana sendiri. Sementara untuk mendapatkan layanan, mahasiswa dapat membayar sebagian karena sebagian lainnya dibayar melalui beasiswa atau subsidi dari pemerintah atau lembaga swasta. Ini karena pada kenyataannya, terutama untuk perguruan tinggi, biayayang dibayar mahasiswa umumnya di bawah biaya yang dikeluarkan perguruan tinggi.

Dalam hal-hal tertentu, ketika mahasiswa menghadapi kenyataan bahwa perguruan tinggi tidak memberikan layanan seestinya atau karena alasan akademis, mahasiiswa harus pindah ke perguruan tinggi lainnya, mahasiswa kehilangan dana yang telah dibayarkan. Karena ketentuan, mahasiswa juga hars menunggu semester berikutnya untuk mendapatkan perguruan tinggi bila gagal. Di bisnis layanan, bisa saja, konsumen mendapatkan kembali uangnya begitu menghadapi kenyataan bahwa layanannya tak sesuai dengan yang dijanjikan. Pelangggan bisnis jasa juga dapat dengan mudah mengubah atau mengganti penyedia jasa layanan.

Pertanyaannya, jika mahasiswa bukan pelanggan, lalu siapa “pelanggan” perguruan tinggi?  Apakah orang tua yang membayar pendidikan anak-anak mereka, pemodal yang mempekerjakan lulusan perguruan tinggi, ataukah lembaga internal atau eksternal yang mengawasi perguruan tinggi? Dalam konteks inilah, ada yang menyarankan bahwa pelanggan perguruan tinggi itu sebenarnya adalah masyarakat.

Seperti diketahui, tugas pendidikan adalah untuk membekali peserta didik untuk menjadi peserta efektif dalam dinamika masyarakat. Jika pendidikan berjalan baik, kebutuhan seluruh pemangku kepentingan  dipenuhi. Jika pendidikan tidak mencapai tujuan ini, tidak satupun dari para pemangku kepentingan akan puas. Tapi ini adalah tujuan jangka panjang. Tak ada yang mengetahui, apakah suatu perguruan tinggi mencapai tujuan tersebut.

Sebagian orang berpendapat bahwa mahasiswa bukanlah pelanggan melainkan produk. Ibaratnya, mereka masuk ke perguruan tinggi bahan baku yang penuh potensi, membutuhkan pembentukan dan pemolesan sehingga menjadi sesuatu yang berguna. Dalam konteks ini pendidikan dimaknai sebagai upaya mengembangkan peserta didik menjadi dewasa, terampil dan efektif. Terampil memerlukan spesialisasi dan atau keahlian. Efektif berarti kompetensi pribadi dan interpersonal untuk mencapai tujuan seseorang, sementara dewasa memiliki konotasi jatuh tempo, yang tidak ada hubungannya dengan usia.

Menjadi dewasa berarti memiliki kematangan jiwa dan memiliki rasa tanggung jawab pribadi, sadar diri, dan memahami secara baik kemerdekaan seseorang serta saling ketergantungan dengan sesama seseorang. Kematangan memerlukan seperangkat nilai dan perlengapan yang diartikulasikan dengan baik ketika diperlukan untuk hidup mereka. Singkatnya, pendidikan adalah tentang pengembangan karakter.

Implikasinya, calon peserta didik dipilih sesuai dengan standar kelulusan. Hanya calon peserta yang memenuhi syarat bisa hadir dalam pekuliahan. Kuliah-kuliah diberikan sesuai dengan prosedur pengajaran lembaga itu sendiri. Persoalannya, suatu perguruan tinggi harus tetap eksis. Karena itu, ia harus terus mengembangkan diri antara lain dengan merekrut mahasiswa baik dilihat sebagai “bahan baku” maupun sebagai mitra pembiayaan. Disinilah pentingnya marketing dan branding. Ketika keduanya dilakukan, perguruan tinggi mau tak mau harus memilih siapa pelanggan yang dibidik.

Disinilah dibutuhkan upaya untuk mengidentifikasi dan mendefinikan siapa pelanggan. Mengidentifikasi dan mendefinisikan pelanggan adalah dua hal yang berbeda. Mengidentifikasi menghasilkan suatu gambaran tentang siapa yang bersedia membayar jasa, sementara mendefinisikan akan menghasilkan gambaran tentang siapa dan apa tanggung jawab pelanggan.

Pertanian Perkotaan, Gender dan Komunikasi


Saat ini Jakarta memiliki banyak masalah sosial mulai dari kriminalitas, kemiskinan dan pengangguran hingga urbanisasi. Pada 2000, jumlah penduduk DKI Jakarta sekitar 8,4 juta orang, dan meningkat menjadi 9,5 juta pada tahun 2010. Dengan demikian, selama 2000-10, pertumbuhan populasi tahunan kota Jakarta sekitar 1,3 persen, lebih rendah dibandingkan tingkat pertumbuhan penduduk nasional yang mencapai 1,5 persen (BPS Jakarta, 2010).
Sebagai wilayah yang termasuk adalah salah satu kota besar di Asia, Jakarta memiliki kepadatan penduduk tinggi (> 10 000 km2) dan urbanisasi yang cepat dalam dekade terkahir (Jago-on dkk, 2009). Jakarta telah menjadi kota tujuan utama bagi migran dari daerah lain, dan migrasi internal adalah salah satu faktor utama yang menyebabkan pertumbuhan penduduk yang tinggi. Data sensus menunjukkan bahwa DKI Jakarta merupakan daerah penerima migran terbesar di Indonesia (BPS Jakarta, 2010).
Tingkat urbanisasi Jakarta yang relative tinggi berpeluang terjadinya kenaikan jumlah warga miskin dan meningkatnya warga miskin meningkatkan jumlah warga yang memiliki risiko ketidakmampuan dalam mengakses makanan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kondisi ini makin memperparah Jakarta sebagai ibukota negara Indonesia, terutama dalam hal ketahanan pangan. Ini mengingat – karena keterbatasan lahan -- sekitar 98 persen produk hasil tanaman pangan Jakarta masih tergantung dari luar Jakarta. (http://poskota.co.id/berita-terkini/2011/10/08/panen-raya-padi-di-semanan-jakarta-barat diakses 3 Juli 2012)
International Food Policy Research Institute (IFPRI) menunjukkan bahwa kemiskinan dan kekurangan gizi yang sebelumnya terjadi di pedesaan kini bergeser ke perkotaan. Kerawanan pangan di perkotaan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor ketersediaan pangan, ketidakmampuan rumah tangga miskin  di perkotaan  untuk mengakses  pangan yang aman, dan berkualitas dalam jumlah yang cukup. Tren ini membawa implikasi  bagaimana  peneliti dan pembuat keputusan  mencari pendekatan dan model  baru  untuk mengatasi masalah kerawanan pangan dan kurang gizi di perkotaan  (Rocha, 2000).
Berkaitan dengan permasalahan perkotaan dan ketahanan pangan, sejak beberapa tahun silam, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) berinisiatif untuk mendukung dan mempromosikan produksi pangan di daerah perkotaan. Dengan kata lain, FAO menyarankan dikembangkannya model pertanian di daerah perkotaan.
Wikipedia the free encyclopedia mendefinisikan pertanian perkotaan sebagai praktek pertanian (meliputi kegiatan tanaman pangan, peternakan, perikanan, dan kehutanan) di dalam atau di pinggiran kota yang dilakukan di lahan pekarangan, balkon, atau atap-atap bangunan, pinggiran jalan umum, atau tepi sungai dengan tujuan untuk menambah pendapatan atau menghasilkan bahan pangan.
Sedangkan menurut UNDP (1996) pertanian perkotaan adalah suatu kesatuan aktivitas produksi, proses, dan pemasaran makanan dan produk lain -- di air dan di daratan -- yang dilakukan di dalam kota dan di pinggiran kota, menerapkan metode-metode produksi intensive, dan daur ulang (reused) sumber alam dan sisa sampah kota, untuk menghasilkan keanekaragaman peternakan dan tanaman pangan.
Dalam konteks Indonesia, pertanian perkotaan bukanlah fenomena baru. Banyak pertanian skala kecil yang memproduksi bayam, kangkung, selada, sawi, dan sebagainya yang dikelola di lahan wilayah perkotaan. Namun, kegiatan ini meluas setelah penurunan ekonomi umum di akhir 1998, ketika kaum miskin di daerah kota berjuang untuk meningkatkan kehidupan mereka. Pada saat krisis ekonomi, jumlah petani yang mengelola lahan pengembang real estate makin meningkat  (Muchlis dan Sultan, 1998).
Itu terjadi karena adanya permintaan akan sayuran dalam bentuk segar dan berkualitas di daerah perkotaan. Selain itu, dari pada lahannya telantar, para pengembang mengizinkan para pendatang dari daerah untuk menggarap lahan. Ketika krisis ekonomi, lahan pengembang banyak yang menganggur karena permintaan untuk perumahan stagnan. Ini adalah semacam kesempatan kerja bagi buruh migrasi tak bertanah yang datang dari desa ke kota untuk mencari pekerjaan.
Urban Agriculture Network memperkirakan, selama 1993 hingga 2005, pertanian perkotaan dapat meningkatkan pangsa produksi pangan di dunia dari  15% ke 33%,  pangsa untuk buah-buahan, daging, ikan, dan susu  dari 33% menjadi  50%, dan jumlah  petani kota dari 200 menjadi  400 juta (Baumgartner dan Belevi, 2007).
Sejak 2010 lalu, di Jakarta muncul gerakan untuk menanam buah-buahan dan sayuran yang menanamakan dirinya sebagai komunitas Jakarta Berkebun. Komunitas ini mendorong masyarakat  untuk menanam buah-buahan dan sayuran di Jakarta. Secara resmi, komunitas ini diresmikan pada Februari 2011.
Komunitas yang bergerak melalui media jejaring sosial yang bertujuan untuk menyebarkan semangat positif untuk lebih peduli kepada lingkungan dan perkotaan dengan program urban farming, yaitu memanfaatkan lahan tidur di kawasan perkotaan yang dikonversi menjadi lahan pertanian/perkebunan produktif hijau yang dilakukan oleh peran masyarakat dan komunitas sekitar serta memberikan manfaat bagi mereka. (http://www.indonesiaberkebun.org/tentang.html diakses 3 Juli 2012)
Ridwan Kamil, seorang arsitek dari Bandung, memulai gerakan pada Oktober 2010 melalui Twitter hashtag # jakartaberkebun. Idenya segera menyebar dan beberapa orang terinspirasi oleh keprihatinan Ridwan atas kurangnya ruang hijau di Jakarta.  Sekitar 20 orang menghadiri pertemuan pertama kelompok pada Oktober 2010. Pertemuan ini dilakukan setelah ada tawaran mengelola lahan tidur gratis seluas 10.800 meter persegi di kompleks perumahan Springhill, Kemayoran Jakarta selama tiga tahun.
Sekitar 150 orang menghadiri acara pertama di Kemayoran dan setiap peserta diberi sepotong kecil tanah untuk menanam kangkung (kangkung). Pemilihan kangkung dilakukan dengan pertimbangan kangkung mudah tumbuh dan hanya memakan waktu sekitar tiga minggu sebelum siap untuk dipetik.  Santika, et al. (1997) menyatakan bahwa peran pertanian sayuran  di pinggiran kota sangat penting, terutama dalam hal jaminan pasokan berkesinambungan untuk penduduk kota.
Sejak itu, Jakarta Berkebun telah mampu membangkitkan antusiasme di antara banyak orang. Komunitas ini tidak hanya menjadi pelopor bagi gerakan pertanian perkotaan di Jakarta tetapi telah merambah ke kota-kota lain seperti Bandung, Yogyakarta, Semarang, Solo, Surabaya, serta berbagai kota di pulau Sumatera, Kalimantan, Bali dan Sulawesi. Sekarang, komunitas itu dikenal sebagai komunitas Indonesia Berkebun.
Untuk mendukung kampanyenya, Indonesia berkebun memiliki unit yang disebut sebagai Akademi Berkebun. Ini  adalah wadah edukasi dari Indonesia Berkebun, dengan visi dan misi yang sejalan dengan Indonesia Berkebun. Bertujuan untuk mensosialisasikan cara berkebun organik yang benar dan menjadikan kegiatan berkebun organik menjadi satu kebutuhan masyarakat perkotaan. Sesuai konsep urban farming dan home farming, edukasi ditujukan pada masyarakat perkotaan dengan memanfaatkan lahan tidur dan halaman rumah.
Selain menjadikan berkebun organik sebagai kebutuhan, Akademi Berkebun dipersiapkan pula untuk peserta yang berniat menjadikan berkebun organik sebagai kegiatan profesional. Sesuai base knowledge Indonesia Berkebun yaitu ekologi, edukasi dan ekonomi maka team Akademi Berkebun dengan mentornya menjadi pendamping bagi peserta yang menggunakan berkebun organik sebagai sebuah usaha profesional.
Komunikasi yang terjalin diantara anggota komunitas adalah melalui internet, email, dan media sosial lainnya. Ini mengindikasikan bahwa perkembangan media baru memberikan kontribusi bagi ‘gerakan” tersebut.


Identifikasi Masalah
Sebagai sektor strategis yang tahan krisis dan resesi, sampai saat ini pertanian merupakan penyerap tenaga kerja sangat potensial dengan kecenderungan pelaku utamanya adalah perempuan. Potret ini terlihat jelas pada pengembangan komoditas hortikultura (sayuran dan buah-buahan) maupun florikultura (bunga-bungaan) di lahan kering dengan ketersediaan air sebagai kendala utamanya. Kegiatan pengambilan air, penyiraman, penyiangan, pemupukan, pengendalian hama/penyakit, panen dan pemasaran, sebagian besar dilakukan petani perempuan. 
Sementara laki-laki, meskipun partisipasi operasionalnya terbatas, akses dan kontrol terhadap modal, lahan, kredit, peralatan pertanian, harga jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan. Bahkan berdasarkan hasil pemetaan jender di lokasi penelitian lahan kering di Desa Keji dan Kalisidi, Ungaran, Jawa Tengah, terlihat akses dan kontrol perempuan untuk budidaya padi, palawaija, dan hortikultura maksimum hanya mencapai sedang (Irianto, 2003)
Ketidaksetaraan berdasarkan jenis kelamin adalah sebuah fenomena dunia yang diakui muncul di berbagai budaya, agama dan kelas. Sebagian besar, seperti perbedaan antara kedua jenis kelamin muncul dalam tanggung jawab, akses dan kontrol terhadap sumberdaya dan pengambilan keputusan.
Namun, baru akhir-akhir ini saja perbedaan yang berbasis gender ini diakui sebagai faktor penghambat terhadap pembangunan dan pertumbuhan sosial. Akibatnya, berbagai upaya yang didedikasikan untuk memerangi masalah diskriminasi gender mulai dari konferensi, laporan internasional dan penelitian untuk proyek-proyek praktis dan program hanya ditujukan untuk mengubah kebijakan guna mempersempit kesenjangan gender yang ada.
Dalam sepuluh tahun terakhir, makin diakui bahwa sebagian besar petani perkotaan terdiri dari perempuan. Sebelumnya, para peneliti masih melihat bahwa ada keseimbangan antara petani perkotaan dari kalangan perempuan dan lelaki. Namun, literatur terbaru menunjukkan bahwa dominasi perempuan dapat ditemukan di pertanian perkotaan di banyak daerah, termasuk Kenya, Uganda, Tanzania, Mozambik, Zambia, Zimbabwe, Senegal, Polandia dan Thailand (Hovorka, 1998; Maxwell, 1995; UNDP, 1996).
Ada beberapa hal yang menyebabkan meningkatnya dominasi perempuan tersebut. Pertama, masih kuatnya anggapan bahwa perempuan memikul tanggung jawab atas kelangsungan dan kesejahteraan rumah tangga. Kedua, perempuan cenderung memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah dibandingkan lelaki. Karena itu sulir mendapatkan pekerjaan formal (Hovorka, 2001).
Kini, komunikasi sedang mengalami perubahan radikal. Setiap aspek proses komunikasi yang terjadi secara nyata mengalami perubahan sebagai dampak dari revolusi teknologi. Yang paling nyata dari perubahan tersebut adalah cara seseorang dalam menggunakan saluran media. Kini orang tidak lagi bergantung pada media yang selama bertahun-tahun tersedia.
Saat ini, saluran komunikasi yang benar-benar baru tersedia bagi publik. Perkembangan media sosial membuat orang – secara sosial -- dapat mengklaim dirinya sebagai bagian dari sebuah organisasi, kelompok atau perusahaan yang memiliki kesetaraan atau lebih besar dari suara mereka. Ini karena mereka dapat mengembangkan jaringan pendukung yang melintasi struktur hirarki organisasi tradisional (Gossieaux and Moran, 2010:xx)
Internet telah merevolusi cara hidup sebagian besar orang. Internet telah menjadi bagian integral dari kehidupan ekonomi, politik, dan sosial, mengubah cara orang membeli barang, cara orang berhubungan dengan dan bagaimana bank melayani nasabahnya, dan cara orang berkomunikasi satu sama lain. Internet juga mengubah tidak hanya bagaimana orang menyampaikan berita, tetapi juga yang memberikan berita (Ali, 2011).
Internet menggeser perdebatan tentang media dan demokrasi melalui beberapa cara. Sebagai media komunikasi, internet telah menghapus perbedaan produsen-konsumen menjadi setara. Ini karena yang memproduksi pesan bukan lagi hanya perusahaan produsen, konsumen juga bisa bersuara dan menggalang kekuatan. Jika setiap individu konsumen juga dapat menghasilkan dan mendistribusikan informasi, ide dan kemudian image, maka pertanyaan “siapa memiliki apa” menjadi kurang penting atau tidak penting sama sekali.
Dalam banyak tulisan ilmiah maupun populer, internet dipandang secara bersama sebagai jawaban atas teka-teki demokratis yang berkembang di barat. Internet dianggap sebagai solusi aspirasi demokratis rakyat yang hidup di bawah rezim otoriter. Karena itu, komunikasi melalui jaringan internet yang dilakukan oleh komunitas Indonesia Berkebun diperkiarakan mampu menghapus perbedaan dan diskrimasi lelaki dan perempuan.  
Meskipun terdapat perbedaan antara gaya berkomunikasi pria dan perempuan, namun perbedaan tersebut relative kecil. Misalnya, baik perempuan maupun pria memiliki perilaku yang berusaha untuk tetap akrab, agresif, berfokus pada tugas, atau sentimental. Namun, terdapat hal penting dari perbedaan tersebut, yakni perempuan dan pria kadang-kadang memberikan makna yang berbeda ketika melihat pesan yang sama.
Perempuan biasanya lebih mengharapkan hubungan yang didasarkan pada saling ketergantungan (saling ketergantungan) dan kerjasama. Perempuan lebih sering menekankan kesamaan antara dirinya dan orang lain, dan mencoba untuk membuat keputusan yang membuat semua orang bahagia. Sebaliknya, pria berharap hubungan harus didasarkan pada kemerdekaan dan persaingan. Pria lebih sering menekankan perbedaan antara dirinya dan orang lain, dan sering membuat keputusan berdasarkan kebutuhan pribadi mereka atau keinginan (Tannen, 1990; Wood, 2009).
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa laki-laki cenderung lebih menuntut; cenderung mendominasi, otoriter, langsung ke inti masalah, tumpul, kuat, agresif, sombong, militan, dan sering menggunakan kata-kata yang sifatnya memberikan janji dan bahasa gaul. Perempuan diyakini menggunakan tata bahasa yang baik dan mengatakan dengan jelas, berbicara sopan, lembut, cepat, dan emosional; banyak bicara, sering membicarakan hal-hal yang sepele, dan menikmati gosip dan omong kosong (Edelsky, 1976; Kramarae, 1981; Lakoff , 1973; Siegler & Siegler, 1976; Spender, 1979).
Dari perspektif komunikasi yang luas, terdapat perbedaan sistematis dalam komunikasi berdasarkan gender. Perempuan memiliki kecenderungan berusaha keras untuk mempertahankan situasi ketika berlangsung percakapan tatap muka lebih menghargai koneksi dan kerjasama daripada pria (Meyers et al, 1997).
Internet dianggap tidak netral gender (Heimrath dan Goulding, 2001). Dikatakan demikian karena kondisi sosial dan stereotip di masyarakat dan internet itu masih melekat pada karakter laki-laki karena faktor budaya. Namun, jika melihat kesempatan pendidikan hari ini dan kemajuan teknologi, ketidaksembangan akses Internet karena gender tidak signifikan karena pada dasarnya internet terbuka pada siapapun baik laki-laki maupun perempuan. Dengan kata lain, ada ruang demokratis bagi kedua gender memiliki akses yang sama ke Internet. Namun, meskipun memiliki kesempatan yang sama, perbedaan gender masih jelas dalam lingkup dan tujuan penggunaannya.
Perempuan biasanya menggunakan internet lebih pada untuk kepentingan berkomunikasi dan pendidikan (Weiser, 2000), dan menemukan "informasi pribadi" dibandingkan pria. Sebuah studi di Internet Relay Chat (IRC) menunjukkan bahwa pria mengirim pesan lebih banyak dari perempuan, selalu yang memulai dan menutup chatting online, sementara  perempuan biasanya mengirimkan pesan yang lebih pendek dari pria (Stewart, et.all, 1999). Hal ini memberikan indikasi bahwa perempuan lebih cenderung untuk tidak memulai kontak dengan orang yang menggunakan perangkat lunak pesan instan daripada pria.


Fokus Penelitian
Berdasarkan identifikasi pemasalahan tadi, beberapa persoalan penelitian yang muncul antara lain soal pembagian pekerjaan (siapa sebenarnya petani perkotaan, apakah pembagian kerja dalam rumah tangga berkaitan dengan keamanan pangan -- misalnya menanam, mengumpulkan, memperdagangkan, belanja, menyiapkan, dan mendistribusikan makanan, berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk setiap aktivitas, siapa yang bertanggung jawab dalam rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan pangan anggota keluarga, bagaimana peran yang anak-anak laki-laki pria/ perempuan dalam rumah tangga? Berapa banyak waktu mereka dihabiskan untuk mengamankan makanan dan / atau menghasilkan pendapatan, dan sebagainya.
Dalam kaitannya dengan teknologi dan komunikasi, pertanyaan-pertanyaan tentang berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk berkebun, peternakan, pemeliharaan ikan, dll, siapa yang banyak menghabiskan waktu dan melakukan kegiatan apa, apakah ada konflik kegiatan karena kekurangan waktu, kegiatan apa, situasi atau masalah muncul karena konflik tersebut, anak-anak misalnya tidak bersekolah untuk membantu dengan pekerjaan rumah tangga; gangguan kesehatan yang diderita oleh pria / perempuan karena beban kerja yang besar, alternatif yang ada untuk mengatasi konflik tersebut, siapa yang dan memainkan peran apa dalam pengambilan keputusan resolusi konflik proses?
Siapa yang memiliki akses informasi tentang kegiatan pertaniaan perkotaan, seperti pengenalan teknologi baru, metode baru dalam penanaman, apakah koperasi ada, apakah ini jaringan informal atau kelompok formal? Siapa saja anggota? Bagaimana tanggung jawab, kegiatan, proses pengambilan keputusan, pembagian pendapatan antara anggota koperasi pria/perempuan.
Bagaimana dengan keberadaan LSM, apakah mereka membantu petani perkotaan, bagaimana komposisi gender dari staf organisasi dan kepemimpinan LSM tersebut, siapa yang dilayani  (misalnya pria / perempuan, kepala rumah tangga, anak-anak)? Apakah benar ada perlawanan formal/ aktivisme tentang hak-hak petani perkotaan '? Siapa atau tidak terlibat? Apa platform?
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki apakah ada perbedaan dalam komunikasi dan berperilaku antara pria dan perempuan. Isu gender dalam komunikasi terutama yang berkaitan dengan pemahaman tentang strategi, posisi, identitas, peran di tempat kerja dan wacana genre yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh jenis kelamin. Interaksi dari semua faktor ini harus diperhitungkan ketika kita ingin memahami bagaimana perempuan mungkin masih tidak berdaya di tempat kerja dan juga bagaimana mereka dapat mengakses cara-cara baru untuk menjadi dan bertindak sehingga dapat mengurangi mereka dari berbagai hambatan di tempat kerja. Dengan kata lain, pemahaman tentang keberagaman cara berkomunikasi penting sepenting pengetahuan dan pengelolaan gender di tempat kerja.  


Manfaat Penelitian
Adalah sesuatu yang penting memantau dampak positif (keunggulan, potensi) dan negatif (kerugian, risiko) dari kegiatan pertanian perkotaan dalam konteks gender di lokasi dan dalam kondisi tertentu, serta bagaimana hubungan antara gender dan dinamika pertanian perkotaan. Ketika melihat manfaat sebenarnya dari pertanian perkotaan bagi lelaki atau perempuan, perlu dilakukan pembedaan terlebih dulu antara kebutuhan praktis dibandingkan kebutuhan strategis.
Palacios (2003: 2) menggambarkan kebutuhan praktis sebagai "kebutuhan mendesak yang berhubungan dengan kondisi ketidakcukupan kehidupan mereka, seperti penyediaan makanan, perawatan air, kesehatan dan lapangan kerja". Pemenuhan kebutuah ini tidak menyiratkan perubahan dalam kaitannya dengan masalah gender.
Di sisi lain, kebutuhan strategis "terkait dengan pembagian kerja, kekuasaan dan kontrol oleh jenis kelamin, dan isu-isu seperti hak-hak dan kewajiban, pemberantasan kekerasan rumah tangga, dan kesetaraan upah." Memuaskan kebutuhan gender strategis ini membantu perempuan mencapai kesetaraan yang lebih besar dan menjadi titik awal dari pergeseran peran yang ada. Meskipun mereka dapat diidentifikasi dan dikonsep secara individual, persoalan kebutuhan praktis dan strategis biasanya muncul dan harus diatas secara simultan.
Keterlibatan dalam pertanian perkotaan dapat mencukupi baik kebutuhan praktis maupun strategis. Meskipun ide mempromosikan pertanian perkotaan sebagai alat untuk mencapai kemandirian ekonomi dan harga diri perempuan dapat direpresentasikan oleh sebagian besar  atribut untuk kebutuhan strategis mereka.
Tempat kerja merupakan tempat yang representative untuk mengamati interaksi nyata antara pria dan perempuan (Kendall dan Tannen, 1997). Ini karena ketika orang berada dalam ruang yang sama dalam suatu organisasi untuk menyelesaikan sesuatu di tempat kerja, mereka harus berkomunikasi. Dengan kata lain, berkomunikasi adalah nyawa dari semua organisasi (Boden, 1994).
Jadi, pekerjaan yang berhubungan dengan komunikasi memainkan peran penting dalam organisasi. Ada beberapa topik penting yang berkaitan dengan dugaan perbedaan dalam komunikasi dan gaya kerja pria dan perempuan (Gray, 1992). Dalam konteks pertanian perkotaan, isu-isu yang muncul antara lain soal pembagian pekerjaan, faktor ekonomi, akses dan kepemilikan sumber daya,
DAFTAR PUSTAKA
Ali, A. H. (2012) .The Power of Social Media in Developing Nations. Harvard Human Rights Journal Vol. 24

Badan Pusat Statistik Jakarta (2010).  Jakarta dalam angka (Jakarta).

Baumgartner, N, and H. Belevi (2007). A Systematic Overview of Urban Agriculture in
Developing Countries AWAG – Swiss Federal Institute for Environmental Science & Technology.  SANDEC – Dept. of Water & Sanitation in Developing Countries

Boden, D. (1994). The Business of Talk: Organizations in Action, Polity Press, London.

Gossieaux, F. and Moran, KE (2010). The Hyper-social Organization: Eclipse Your
Competition by Leveraging Social Media. New York: The McGraw-Hill Companies, Inc.

Gray, J. (1992).  Men are from Mars and women are from Venus: A practical guide for
improving communication and getting what you want in your relationship. New York: Harper Collins.

Hardy J, Diana M, and Scallerthwaite D (1996). Environmental Problems in Third World
Cities. Earthscan. London.

Heimrath, R., & Goulding, A. (2001). Internet perception and use: a gender perspective,
Program, 35 (2), 119-134.

Hovorka, A. (1998). Gender resources for urban agriculture research: Methodology,
Directory & Annotated Bibliography. In: Cities Feeding People Series, Report 26. Ottawa: IDRC

Hovorka, A. (2001) Gender and urban agriculture: emerging trends and areas for future
research. Graduate School of Geography, Clark University, Worcester MA, USA

International Food Policy Research Institute (IFPRI)(2000); Achieving urban Food and
Nutrition Security in the Development World.

Irianto, G (2003). Perempuan pada Pertanian Lahan Kering. Kompas, 17 Nopember.

Jago-on, K. A. B., Kaneko, S., Fujikura, R., Fujiwara, A., Imai, T., Matsumoto, T.,
Zhang, J., Tanikawa, H., Tanaka, K. & Taniguchi, M. (2009) Urbanization and subsurface environmental issues: an attempt at DPSIR model application in Asian cities. Sci. Total Environ. (in press)

Kramarae, C. (1981). Women and men speaking. Rowley, MA: Newbury House.

Kramer, C. (1977). Perceptions of female and male speech. Language and Speech, 20,
151-161.

Kendall, S. & Tannen, D. (1997). Gender and language in the workplace. In Kotthoff, H.,
Wodak, R. (Eds), Communicating Gender in Context, Benjamins, Amsterdam. 

Lakoff, R. (1975). Language and woman's place. New York: Harper & Row.

Maxwell, D. (1995) Alternative food security strategy: a household analysis of urban
agriculture in Kampala. In: World Development, 23 (10): 1669-1681.

Meyers, R.A., Brashers, D.E., Winston, L. and Grob, L. (1997), "Sex differences and
group argument: a theoretical framework and empirical investigation", Communication Studies, Vol. 48, pp. 19-41.

Muchlis, I dan Sutan Eries Adlin. (1998). Pemanfaatan Lahan Tidur Untuk Pertanian.
Harian Bisnis Indonesia, 10 Mei.

Palacios, P. (2002). Why and how should a gender perspective be included in
participatory processes in urban agriculture. In: Latin American Training Course on urban agriculture, Session 2, Proceedings. Quito: PGU-LAC

Rocha , C (2000). An Integrated Program for Urban Food Security: The Case of Belo
Horizonte, Brazil. Department of Economics. Ryerson Polytechnic University. Toronto

Santika, A., et al., 1997. Perbaikan Sistem Usahatani Sayuran di Daerah Urban dan
Peri-Urban Menuju Sistem Produksi Berkelanjutan. Puslitbang Hortikultura.

Siegler, D. M., & Siegler, R. S. (1976). Stereotypes of males' and females' speech.
Psychological Reports, 39, 167-170.

Smit, J. (1996), "Urban Agriculture - Food, Jobs and  Sustainable Cities",  UNDP 
United Nations Development Program, New York.

Spender, D. (1979). Language and sex differences. In H. Andresen (Ed.), Osnabrucker
Beitrage zur Sprachtheorie: Sprache und Geschlecht II (pp. 38-59). Oldenburg, Germany: Red.

Stewart, C., Shields, S., Monolescu, D., & Taylor, J. (1999). Gender and participation in
synchronous CMC: an IRC case study. Interpersonal Computing and Technology: An Electronic Journal for the 21st Century, 7, 1-41.

Tannen, D. (1990). You just don’t understand: Women and men in conversation. New
York: Ballantine Books.

UNDP (1996). Urban Agriculture; Food, Jobs and Sustainable Cities. UNDP. New York.

Weiser, E. (2000). Gender differences in Internet use patterns and Internet application
preferences: A two-sample comparison. CyberPsychology & Behavior, 3, 167-178.

Wood, J. (2009). Gendered lives: Communication, gender, and culture (8th Edition). 
Belmont, CA: Wadsworth Publishing.