Jumat, 20 Juli 2012

Handphone, Social Media dan Sinetron Putih Abu-abu


Dunia media anak-anak berubah dramatis. Penetrasi TV di kalangan anak-anak mencapai 98%. Namun, penetrasi media baru seperti handphone dan internet juga tinggi. Apa implikasinya?

Ketika Sesame Street tayang pertama kali di media televisi pada 10 November 1969, landscape  media untuk anak-anak usia pra-sekolah sangat terbatas. Saat itu, media yang tersedia – yang kemudian oleh anak-anak sekarang disebut sebagai "media teknologi lama" hanya televisi, radio, dan media cetak.
Design program acara yang inovatif, animasi yang terintegrasi, adegan live action di jalanan, dan segmen yang menampilkan Muppets, ditampilkan stasiun TV untuk mendorong akuisisi awal bahasa, matematika, dan keterampilan sosial. Sesame Street juga ditujukan untuk – salah satunya -- gerakan melek media pada 1970-an. Target yang ingin dicapai adalah mendorong anak untuk lebih aktif menggunakan dan beriteraksi dengan media.
Ketika landsape media masih berpola lama, interaktivitas seperti bagaimana anak-anak merespon karakter yang muncul di layar pada layar karakter dan pengalaman mereka, dimediasi secara  televisual. Agar lebih akrab, secara bersamaan, para “tokoh” berinteraksi dengan audiensenya di toko, teras, atau bahkan pinggiran jalan.
Sejak kemunculan Sesame Street, dunia media anak-anak berubah dramatis, dan menghasilkan formulasi ulang tentang bagaimana anak-anak sebagai konsumen media mempersepsikannya  dan engage. Contoh paling menarik dari transformasi ini adalah program TV sangat populer untuk anak-anak prasekolah, Dora the Explorer. Dora yang dilaunch pada 1999 dan menjadi program dasar dari jaringan kabel televisi Nickelodeon pada 2000.
Acara ini muncul dalam bentuk yang biasanya disebut sebagai lanskap "media baru". Bentangannya meliputi digital, informasi terkomputerisasi, atau jaringan dan teknologi komunikasi yang memuncukan mode baru dalam pengiriman konten. Disini anak-anak bisa mendownload dan sharing, memperoleh pengalaman media melalui iPod atau DVD interaktif, dan memproduksi media melalui video dan blog.
Teori mengatakan bahwa sumber utama pembelajaran anak-anak dalam berperilaku sebagai konsumen adalah orangtua. Setelah itu, baru ada agen pembelajar lainnya, yakni teman sebaya, teman sekolah, toko, produk itu sendiri dan kemasan, dan sudah tentu media massa (Moschis, 1987).
Pengaruh media terhadap anak-anak terutama karena dua dimensi, yakni iklan dan editorial/program content (O'Guinn dan Shrum, 1997). Secara khusus, iklan ditujukan untuk menginformasikan produk kepada konsumen dan mendorong mereka untuk membeli. Sedangkan program TV mungkin memiliki niat bersayap, mungkin mendidik tapi bisa juga membujuk, dan mungkin pula tidak berniat membujuk tapi cukup mempengaruhi (Moschis, 1987).
Penelitian yang dilakukan James Sargent dari Geisel School of Medicine Darthmouth, New Hampshire, AS,  baru-baru memberikan gambaran tentang dampak anak-anak yang sering  menonton film dengan karakter orang merokok. Anak-anak itu cenderung merokok bukan karena bujukan orang lain, melainkan atas dorongan sendiri. Ini menunjukkan bahwa meski secara langsung tak ditujukan kepada anak-anak, namun pesan yang disampaikan melalui adegan merokok secara langsung mempengaruhi anak-anak untuk merokok. 
Diakui atau tidak, selain mempengaruhi perilaku konsumsi anak-anak, baik iklan maupun editorial/isi program media massa, informasi yang bersifat pengetahuan dan bimbingan sejatinya dapat pula membimbing perilaku anak dalam mengkonsumsi. Namun, dua hal tersebut sulit dipisahkan.
Tapi yang pasti, interaksi anak dengan media berhubungan positif dengan proses pembelajaran anak berperilaku konsumen. Artinya, semakin banyak seorang anak berinteraksi dengan media massa, sosialisasi konsumen makin terjadi (Moschis, 1987). Ini berarti, melalui media massa anak-anak belajar tentang produk, merek mereka, dan gerai ritel di mana konsumen dapat membeli produk tersebut (Ward, 1974).
Itu sebabnya, kata Medina Latief Harjani -- President Director Pasaraya – dalam hal fashion misalnya, karena banyaknya saluran TV asing yang channelnya mudah diakses dan murah, banyak anak-anak yang mengikuti trend fashion dunia. “Anak-anak modern sekarang sudah tidak perlu dipilihkan baju-bajunya lagi oleh orangtua, mereka bisa memilihnya sendiri.  Begitu pula dengan tempat berkumpul atau entertainment, mereka tahu kemana dan kapan harus pergi. Mereka tahu tempat yang nyaman untuk mereka ‘hang out’ bagi remaja dan bermain,” kata Medina.
Anak-anak Indonesia usia 10-14 tahun, menurut Yudi Suryanata, Executive Director untuk Consumer Research di Nielsen, mengkonsumsi media khususnya  televisi dan internet, lebih tinggi daripada populasi pada umumnya. Riset yang dilakukan Nielsen menunjukkan bahwa penetrasi TV di kalangan anak-anak mencapai 98%. Penetrasi TV pada umumnya (95%). Penonton TV anak laki-laki sedikit lebih banyak daripada perempuan (51% vs 49%). Berepa lama mereka menonton TV, anak-anak menonton TV rata-rata 4 jam setiap hari. Dilihat dari jenis kelaminnya, anak perempuan menonton TV lebih lama daripada anak laki-laki (4,75 jam vs. 4,2 jam).
Acara TV yang paling banyak ditonton oleh anak-anak juga berbeda menurut usia dan jenis kelamin. Anak-anak usia 5-9 misalnya, berbeda dengan anak usia 10-14, dan antara anak laki-laki juga berbeda dengan perempuan. Dalam sebulan terakhir, acara TV yang paling banyak ditonton anak-anak usia 5-9 tahun baik laki-laki mapun perempuan adalah sinetron Aladdin. Meski demikian, anak laki-laki cenderung menonton kartun anak, seperti Chaplin and Co., atau Minuscule,  dan anak perempuan cenderung menonton sinetron, seperti Putih Abu-abu atau Dewi Bintari, atau acara mencari bakat, seperti Cherrybelle Cari Chibi.
Sekadar mengingatkan sinetron PUTIH ABU-ABU (PAA) yang tayangan perdananya pada 12 Februari 2012 menuai protes pemirsa di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Diprotes karena ceritanya dinilai sarat muatan kekerasan dan penggambaran kehidupan pelajar sekolah yang tidak pantas.
Dalam hal media baru, tidak seperti pada awal-awal pertumbuhannya saat internet dicurigai, kini internet seakan menjadi bagian “kehidupan” anak-anak. Hal ini terlihat dari tingkat konsumsi internet di kalangan anak-anak yang mencapai 43% atau  jauh lebih tinggi daripada konsumsi pada umumnya (25%). Apalagi bila dilihat dari jenis kelaminnya. Internet cenderung lebih banyak dikonsumsi oleh anak-anak laki-laki (54%) dibandingkan perempuan (46%) dengan frekuensi akses internet lebih sering di kelompok anak laki-laki daripada perempuan. Sementara  penggunaan radio, suratkabar dan majalah di kalangan anak-anak relatif lebih rendah daripada konsumen pada umumnya dengan Radio 19%, Suratkabar 6% dan Majalah 10%.


Tahun lalu, AXA merilis sebuah studi menarik mengenai bagaimana anak-anak menggunakan media sosial untuk membangun online brand pribadi mereka. Ini memberikan gambaran makin sadarnya anak-anak terhadap kekuatan media sosial guna membentuk image. Hasil studi tadi menunjukkan bahwa 86% anak berusia 11, percaya pada kekuatan media sosial untuk membuat diri mereka terlihat baik kepada orang lain.
Ini merupakan perkembangan yang dramatis karena sejatinya, konsep personal brand di kalangan orang dewasa baru mulai mendapatkan perhatian. Akan tetapi, bagi generasi muda tersebut, konsep ini terbentuk lebih awal karena mereka menjadi sadar akan kekuatan penciptaan image dan bagaimana Anda dapat mengontrol teknologi sosial untuk mempengaruhi cara di mana mereka dipersepsikan.


Yang tak kalah menariknya adalah 48% anak-anak usia 10-14 tahun di 9 kota survey Nielsen memiliki handphone, dengan anak-anak perempuan yang memiliki handphone lebih banyak daripada anak-anak laki-laki (54% vs. 46%). Ipsos melaporkan bahwa 12% anak-anak usia 12-16 tahun telah memiliki akun Twitter. Pada musim panas lalu, The Pew Research Center's Internet & American Life Project melaporkan bahwa terdapat 16% anak-anak usia 12 sampai 17 yang yang menggunakan handphone mereka untuk mengakses Twitter. Ini berarti jumlah mereka naik dua kali lipat jumlah dari dua tahun sebelumnya.


Kepemilikian handphone di kalangan anak-anak telah tumbuh dari 34% di tahun 2010. Alasan utamanya, supaya dapat berkomunikasi dengan atau dihubungi oleh orang lain (41%) dan untuk keperluan yang penting dan mendesak (28%). Alasan berikutnya berbeda antara anak laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki cenderung memiliki handphone untuk alasan mendengarkan musik, modelnya bagus dan untuk bermain games. Sementara anak perempuan memiliki handphone karena teman-temannya mempunyai handphone, untuk mendengarkan musik dan mendapatkan informasi terbaru secara cepat.
Feature handphone yang paling sering digunakan oleh anak laki-laki dan perempuan juga berbeda, meskipun feature utama yang mereka gunakan sama-sama Layanan Pesan Singkat (SMS). Namun feature lainnya yang paling banyak digunakan oleh anak laki-laki, berturut-turut adalah games dan MP3 player. Sementara di kalangan anak perempuan, MP3 player dan kamera.  Inilah era yang ditandai dengan pergeseran pola komunikasi di kalangan anak-anak. Mereka memang tetap menyintai komunikasi langsung. Namun kalau itu bisa dilakukan dengan komunikasi melalui teks, mereka lebih memilih komunikasi dengan teks (seperti sms, BBMessanger, email, dan sebagainya).
Akhirnya, bagi anak-anak, pengalaman mengkonsumsi media ibaratnya tidak seperti ruang hampa. Beberapa penelitian tentang dampak media televisi menjelaskan bahwa keluarga dekat, seperti orang tua dan saudara kandung, sangat mempengaruhi pencerapan pengalaman anak dalam menyaksikan acara televisi.
Lingkungan keluarga juga menentukan pengalaman anak-anak dalam menggunakan computer. Suatu studi terbaru menemukan bahwa persepsi orang tua mereka sangat menentukan anak-anak dalam mempelajari dan menggunakan komputer. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa anak-anak sulit membedakan kenyataan dari fantasi, dan program reguler dengan advertising  (Furger, 1995). Ini mengharuskan peran orang tua mendampingi anak-anak mereka saat menonton TV.