Jumat, 06 Juli 2012

Pertanian Perkotaan, Gender dan Komunikasi


Saat ini Jakarta memiliki banyak masalah sosial mulai dari kriminalitas, kemiskinan dan pengangguran hingga urbanisasi. Pada 2000, jumlah penduduk DKI Jakarta sekitar 8,4 juta orang, dan meningkat menjadi 9,5 juta pada tahun 2010. Dengan demikian, selama 2000-10, pertumbuhan populasi tahunan kota Jakarta sekitar 1,3 persen, lebih rendah dibandingkan tingkat pertumbuhan penduduk nasional yang mencapai 1,5 persen (BPS Jakarta, 2010).
Sebagai wilayah yang termasuk adalah salah satu kota besar di Asia, Jakarta memiliki kepadatan penduduk tinggi (> 10 000 km2) dan urbanisasi yang cepat dalam dekade terkahir (Jago-on dkk, 2009). Jakarta telah menjadi kota tujuan utama bagi migran dari daerah lain, dan migrasi internal adalah salah satu faktor utama yang menyebabkan pertumbuhan penduduk yang tinggi. Data sensus menunjukkan bahwa DKI Jakarta merupakan daerah penerima migran terbesar di Indonesia (BPS Jakarta, 2010).
Tingkat urbanisasi Jakarta yang relative tinggi berpeluang terjadinya kenaikan jumlah warga miskin dan meningkatnya warga miskin meningkatkan jumlah warga yang memiliki risiko ketidakmampuan dalam mengakses makanan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kondisi ini makin memperparah Jakarta sebagai ibukota negara Indonesia, terutama dalam hal ketahanan pangan. Ini mengingat – karena keterbatasan lahan -- sekitar 98 persen produk hasil tanaman pangan Jakarta masih tergantung dari luar Jakarta. (http://poskota.co.id/berita-terkini/2011/10/08/panen-raya-padi-di-semanan-jakarta-barat diakses 3 Juli 2012)
International Food Policy Research Institute (IFPRI) menunjukkan bahwa kemiskinan dan kekurangan gizi yang sebelumnya terjadi di pedesaan kini bergeser ke perkotaan. Kerawanan pangan di perkotaan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor ketersediaan pangan, ketidakmampuan rumah tangga miskin  di perkotaan  untuk mengakses  pangan yang aman, dan berkualitas dalam jumlah yang cukup. Tren ini membawa implikasi  bagaimana  peneliti dan pembuat keputusan  mencari pendekatan dan model  baru  untuk mengatasi masalah kerawanan pangan dan kurang gizi di perkotaan  (Rocha, 2000).
Berkaitan dengan permasalahan perkotaan dan ketahanan pangan, sejak beberapa tahun silam, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) berinisiatif untuk mendukung dan mempromosikan produksi pangan di daerah perkotaan. Dengan kata lain, FAO menyarankan dikembangkannya model pertanian di daerah perkotaan.
Wikipedia the free encyclopedia mendefinisikan pertanian perkotaan sebagai praktek pertanian (meliputi kegiatan tanaman pangan, peternakan, perikanan, dan kehutanan) di dalam atau di pinggiran kota yang dilakukan di lahan pekarangan, balkon, atau atap-atap bangunan, pinggiran jalan umum, atau tepi sungai dengan tujuan untuk menambah pendapatan atau menghasilkan bahan pangan.
Sedangkan menurut UNDP (1996) pertanian perkotaan adalah suatu kesatuan aktivitas produksi, proses, dan pemasaran makanan dan produk lain -- di air dan di daratan -- yang dilakukan di dalam kota dan di pinggiran kota, menerapkan metode-metode produksi intensive, dan daur ulang (reused) sumber alam dan sisa sampah kota, untuk menghasilkan keanekaragaman peternakan dan tanaman pangan.
Dalam konteks Indonesia, pertanian perkotaan bukanlah fenomena baru. Banyak pertanian skala kecil yang memproduksi bayam, kangkung, selada, sawi, dan sebagainya yang dikelola di lahan wilayah perkotaan. Namun, kegiatan ini meluas setelah penurunan ekonomi umum di akhir 1998, ketika kaum miskin di daerah kota berjuang untuk meningkatkan kehidupan mereka. Pada saat krisis ekonomi, jumlah petani yang mengelola lahan pengembang real estate makin meningkat  (Muchlis dan Sultan, 1998).
Itu terjadi karena adanya permintaan akan sayuran dalam bentuk segar dan berkualitas di daerah perkotaan. Selain itu, dari pada lahannya telantar, para pengembang mengizinkan para pendatang dari daerah untuk menggarap lahan. Ketika krisis ekonomi, lahan pengembang banyak yang menganggur karena permintaan untuk perumahan stagnan. Ini adalah semacam kesempatan kerja bagi buruh migrasi tak bertanah yang datang dari desa ke kota untuk mencari pekerjaan.
Urban Agriculture Network memperkirakan, selama 1993 hingga 2005, pertanian perkotaan dapat meningkatkan pangsa produksi pangan di dunia dari  15% ke 33%,  pangsa untuk buah-buahan, daging, ikan, dan susu  dari 33% menjadi  50%, dan jumlah  petani kota dari 200 menjadi  400 juta (Baumgartner dan Belevi, 2007).
Sejak 2010 lalu, di Jakarta muncul gerakan untuk menanam buah-buahan dan sayuran yang menanamakan dirinya sebagai komunitas Jakarta Berkebun. Komunitas ini mendorong masyarakat  untuk menanam buah-buahan dan sayuran di Jakarta. Secara resmi, komunitas ini diresmikan pada Februari 2011.
Komunitas yang bergerak melalui media jejaring sosial yang bertujuan untuk menyebarkan semangat positif untuk lebih peduli kepada lingkungan dan perkotaan dengan program urban farming, yaitu memanfaatkan lahan tidur di kawasan perkotaan yang dikonversi menjadi lahan pertanian/perkebunan produktif hijau yang dilakukan oleh peran masyarakat dan komunitas sekitar serta memberikan manfaat bagi mereka. (http://www.indonesiaberkebun.org/tentang.html diakses 3 Juli 2012)
Ridwan Kamil, seorang arsitek dari Bandung, memulai gerakan pada Oktober 2010 melalui Twitter hashtag # jakartaberkebun. Idenya segera menyebar dan beberapa orang terinspirasi oleh keprihatinan Ridwan atas kurangnya ruang hijau di Jakarta.  Sekitar 20 orang menghadiri pertemuan pertama kelompok pada Oktober 2010. Pertemuan ini dilakukan setelah ada tawaran mengelola lahan tidur gratis seluas 10.800 meter persegi di kompleks perumahan Springhill, Kemayoran Jakarta selama tiga tahun.
Sekitar 150 orang menghadiri acara pertama di Kemayoran dan setiap peserta diberi sepotong kecil tanah untuk menanam kangkung (kangkung). Pemilihan kangkung dilakukan dengan pertimbangan kangkung mudah tumbuh dan hanya memakan waktu sekitar tiga minggu sebelum siap untuk dipetik.  Santika, et al. (1997) menyatakan bahwa peran pertanian sayuran  di pinggiran kota sangat penting, terutama dalam hal jaminan pasokan berkesinambungan untuk penduduk kota.
Sejak itu, Jakarta Berkebun telah mampu membangkitkan antusiasme di antara banyak orang. Komunitas ini tidak hanya menjadi pelopor bagi gerakan pertanian perkotaan di Jakarta tetapi telah merambah ke kota-kota lain seperti Bandung, Yogyakarta, Semarang, Solo, Surabaya, serta berbagai kota di pulau Sumatera, Kalimantan, Bali dan Sulawesi. Sekarang, komunitas itu dikenal sebagai komunitas Indonesia Berkebun.
Untuk mendukung kampanyenya, Indonesia berkebun memiliki unit yang disebut sebagai Akademi Berkebun. Ini  adalah wadah edukasi dari Indonesia Berkebun, dengan visi dan misi yang sejalan dengan Indonesia Berkebun. Bertujuan untuk mensosialisasikan cara berkebun organik yang benar dan menjadikan kegiatan berkebun organik menjadi satu kebutuhan masyarakat perkotaan. Sesuai konsep urban farming dan home farming, edukasi ditujukan pada masyarakat perkotaan dengan memanfaatkan lahan tidur dan halaman rumah.
Selain menjadikan berkebun organik sebagai kebutuhan, Akademi Berkebun dipersiapkan pula untuk peserta yang berniat menjadikan berkebun organik sebagai kegiatan profesional. Sesuai base knowledge Indonesia Berkebun yaitu ekologi, edukasi dan ekonomi maka team Akademi Berkebun dengan mentornya menjadi pendamping bagi peserta yang menggunakan berkebun organik sebagai sebuah usaha profesional.
Komunikasi yang terjalin diantara anggota komunitas adalah melalui internet, email, dan media sosial lainnya. Ini mengindikasikan bahwa perkembangan media baru memberikan kontribusi bagi ‘gerakan” tersebut.


Identifikasi Masalah
Sebagai sektor strategis yang tahan krisis dan resesi, sampai saat ini pertanian merupakan penyerap tenaga kerja sangat potensial dengan kecenderungan pelaku utamanya adalah perempuan. Potret ini terlihat jelas pada pengembangan komoditas hortikultura (sayuran dan buah-buahan) maupun florikultura (bunga-bungaan) di lahan kering dengan ketersediaan air sebagai kendala utamanya. Kegiatan pengambilan air, penyiraman, penyiangan, pemupukan, pengendalian hama/penyakit, panen dan pemasaran, sebagian besar dilakukan petani perempuan. 
Sementara laki-laki, meskipun partisipasi operasionalnya terbatas, akses dan kontrol terhadap modal, lahan, kredit, peralatan pertanian, harga jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan. Bahkan berdasarkan hasil pemetaan jender di lokasi penelitian lahan kering di Desa Keji dan Kalisidi, Ungaran, Jawa Tengah, terlihat akses dan kontrol perempuan untuk budidaya padi, palawaija, dan hortikultura maksimum hanya mencapai sedang (Irianto, 2003)
Ketidaksetaraan berdasarkan jenis kelamin adalah sebuah fenomena dunia yang diakui muncul di berbagai budaya, agama dan kelas. Sebagian besar, seperti perbedaan antara kedua jenis kelamin muncul dalam tanggung jawab, akses dan kontrol terhadap sumberdaya dan pengambilan keputusan.
Namun, baru akhir-akhir ini saja perbedaan yang berbasis gender ini diakui sebagai faktor penghambat terhadap pembangunan dan pertumbuhan sosial. Akibatnya, berbagai upaya yang didedikasikan untuk memerangi masalah diskriminasi gender mulai dari konferensi, laporan internasional dan penelitian untuk proyek-proyek praktis dan program hanya ditujukan untuk mengubah kebijakan guna mempersempit kesenjangan gender yang ada.
Dalam sepuluh tahun terakhir, makin diakui bahwa sebagian besar petani perkotaan terdiri dari perempuan. Sebelumnya, para peneliti masih melihat bahwa ada keseimbangan antara petani perkotaan dari kalangan perempuan dan lelaki. Namun, literatur terbaru menunjukkan bahwa dominasi perempuan dapat ditemukan di pertanian perkotaan di banyak daerah, termasuk Kenya, Uganda, Tanzania, Mozambik, Zambia, Zimbabwe, Senegal, Polandia dan Thailand (Hovorka, 1998; Maxwell, 1995; UNDP, 1996).
Ada beberapa hal yang menyebabkan meningkatnya dominasi perempuan tersebut. Pertama, masih kuatnya anggapan bahwa perempuan memikul tanggung jawab atas kelangsungan dan kesejahteraan rumah tangga. Kedua, perempuan cenderung memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah dibandingkan lelaki. Karena itu sulir mendapatkan pekerjaan formal (Hovorka, 2001).
Kini, komunikasi sedang mengalami perubahan radikal. Setiap aspek proses komunikasi yang terjadi secara nyata mengalami perubahan sebagai dampak dari revolusi teknologi. Yang paling nyata dari perubahan tersebut adalah cara seseorang dalam menggunakan saluran media. Kini orang tidak lagi bergantung pada media yang selama bertahun-tahun tersedia.
Saat ini, saluran komunikasi yang benar-benar baru tersedia bagi publik. Perkembangan media sosial membuat orang – secara sosial -- dapat mengklaim dirinya sebagai bagian dari sebuah organisasi, kelompok atau perusahaan yang memiliki kesetaraan atau lebih besar dari suara mereka. Ini karena mereka dapat mengembangkan jaringan pendukung yang melintasi struktur hirarki organisasi tradisional (Gossieaux and Moran, 2010:xx)
Internet telah merevolusi cara hidup sebagian besar orang. Internet telah menjadi bagian integral dari kehidupan ekonomi, politik, dan sosial, mengubah cara orang membeli barang, cara orang berhubungan dengan dan bagaimana bank melayani nasabahnya, dan cara orang berkomunikasi satu sama lain. Internet juga mengubah tidak hanya bagaimana orang menyampaikan berita, tetapi juga yang memberikan berita (Ali, 2011).
Internet menggeser perdebatan tentang media dan demokrasi melalui beberapa cara. Sebagai media komunikasi, internet telah menghapus perbedaan produsen-konsumen menjadi setara. Ini karena yang memproduksi pesan bukan lagi hanya perusahaan produsen, konsumen juga bisa bersuara dan menggalang kekuatan. Jika setiap individu konsumen juga dapat menghasilkan dan mendistribusikan informasi, ide dan kemudian image, maka pertanyaan “siapa memiliki apa” menjadi kurang penting atau tidak penting sama sekali.
Dalam banyak tulisan ilmiah maupun populer, internet dipandang secara bersama sebagai jawaban atas teka-teki demokratis yang berkembang di barat. Internet dianggap sebagai solusi aspirasi demokratis rakyat yang hidup di bawah rezim otoriter. Karena itu, komunikasi melalui jaringan internet yang dilakukan oleh komunitas Indonesia Berkebun diperkiarakan mampu menghapus perbedaan dan diskrimasi lelaki dan perempuan.  
Meskipun terdapat perbedaan antara gaya berkomunikasi pria dan perempuan, namun perbedaan tersebut relative kecil. Misalnya, baik perempuan maupun pria memiliki perilaku yang berusaha untuk tetap akrab, agresif, berfokus pada tugas, atau sentimental. Namun, terdapat hal penting dari perbedaan tersebut, yakni perempuan dan pria kadang-kadang memberikan makna yang berbeda ketika melihat pesan yang sama.
Perempuan biasanya lebih mengharapkan hubungan yang didasarkan pada saling ketergantungan (saling ketergantungan) dan kerjasama. Perempuan lebih sering menekankan kesamaan antara dirinya dan orang lain, dan mencoba untuk membuat keputusan yang membuat semua orang bahagia. Sebaliknya, pria berharap hubungan harus didasarkan pada kemerdekaan dan persaingan. Pria lebih sering menekankan perbedaan antara dirinya dan orang lain, dan sering membuat keputusan berdasarkan kebutuhan pribadi mereka atau keinginan (Tannen, 1990; Wood, 2009).
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa laki-laki cenderung lebih menuntut; cenderung mendominasi, otoriter, langsung ke inti masalah, tumpul, kuat, agresif, sombong, militan, dan sering menggunakan kata-kata yang sifatnya memberikan janji dan bahasa gaul. Perempuan diyakini menggunakan tata bahasa yang baik dan mengatakan dengan jelas, berbicara sopan, lembut, cepat, dan emosional; banyak bicara, sering membicarakan hal-hal yang sepele, dan menikmati gosip dan omong kosong (Edelsky, 1976; Kramarae, 1981; Lakoff , 1973; Siegler & Siegler, 1976; Spender, 1979).
Dari perspektif komunikasi yang luas, terdapat perbedaan sistematis dalam komunikasi berdasarkan gender. Perempuan memiliki kecenderungan berusaha keras untuk mempertahankan situasi ketika berlangsung percakapan tatap muka lebih menghargai koneksi dan kerjasama daripada pria (Meyers et al, 1997).
Internet dianggap tidak netral gender (Heimrath dan Goulding, 2001). Dikatakan demikian karena kondisi sosial dan stereotip di masyarakat dan internet itu masih melekat pada karakter laki-laki karena faktor budaya. Namun, jika melihat kesempatan pendidikan hari ini dan kemajuan teknologi, ketidaksembangan akses Internet karena gender tidak signifikan karena pada dasarnya internet terbuka pada siapapun baik laki-laki maupun perempuan. Dengan kata lain, ada ruang demokratis bagi kedua gender memiliki akses yang sama ke Internet. Namun, meskipun memiliki kesempatan yang sama, perbedaan gender masih jelas dalam lingkup dan tujuan penggunaannya.
Perempuan biasanya menggunakan internet lebih pada untuk kepentingan berkomunikasi dan pendidikan (Weiser, 2000), dan menemukan "informasi pribadi" dibandingkan pria. Sebuah studi di Internet Relay Chat (IRC) menunjukkan bahwa pria mengirim pesan lebih banyak dari perempuan, selalu yang memulai dan menutup chatting online, sementara  perempuan biasanya mengirimkan pesan yang lebih pendek dari pria (Stewart, et.all, 1999). Hal ini memberikan indikasi bahwa perempuan lebih cenderung untuk tidak memulai kontak dengan orang yang menggunakan perangkat lunak pesan instan daripada pria.


Fokus Penelitian
Berdasarkan identifikasi pemasalahan tadi, beberapa persoalan penelitian yang muncul antara lain soal pembagian pekerjaan (siapa sebenarnya petani perkotaan, apakah pembagian kerja dalam rumah tangga berkaitan dengan keamanan pangan -- misalnya menanam, mengumpulkan, memperdagangkan, belanja, menyiapkan, dan mendistribusikan makanan, berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk setiap aktivitas, siapa yang bertanggung jawab dalam rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan pangan anggota keluarga, bagaimana peran yang anak-anak laki-laki pria/ perempuan dalam rumah tangga? Berapa banyak waktu mereka dihabiskan untuk mengamankan makanan dan / atau menghasilkan pendapatan, dan sebagainya.
Dalam kaitannya dengan teknologi dan komunikasi, pertanyaan-pertanyaan tentang berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk berkebun, peternakan, pemeliharaan ikan, dll, siapa yang banyak menghabiskan waktu dan melakukan kegiatan apa, apakah ada konflik kegiatan karena kekurangan waktu, kegiatan apa, situasi atau masalah muncul karena konflik tersebut, anak-anak misalnya tidak bersekolah untuk membantu dengan pekerjaan rumah tangga; gangguan kesehatan yang diderita oleh pria / perempuan karena beban kerja yang besar, alternatif yang ada untuk mengatasi konflik tersebut, siapa yang dan memainkan peran apa dalam pengambilan keputusan resolusi konflik proses?
Siapa yang memiliki akses informasi tentang kegiatan pertaniaan perkotaan, seperti pengenalan teknologi baru, metode baru dalam penanaman, apakah koperasi ada, apakah ini jaringan informal atau kelompok formal? Siapa saja anggota? Bagaimana tanggung jawab, kegiatan, proses pengambilan keputusan, pembagian pendapatan antara anggota koperasi pria/perempuan.
Bagaimana dengan keberadaan LSM, apakah mereka membantu petani perkotaan, bagaimana komposisi gender dari staf organisasi dan kepemimpinan LSM tersebut, siapa yang dilayani  (misalnya pria / perempuan, kepala rumah tangga, anak-anak)? Apakah benar ada perlawanan formal/ aktivisme tentang hak-hak petani perkotaan '? Siapa atau tidak terlibat? Apa platform?
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki apakah ada perbedaan dalam komunikasi dan berperilaku antara pria dan perempuan. Isu gender dalam komunikasi terutama yang berkaitan dengan pemahaman tentang strategi, posisi, identitas, peran di tempat kerja dan wacana genre yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh jenis kelamin. Interaksi dari semua faktor ini harus diperhitungkan ketika kita ingin memahami bagaimana perempuan mungkin masih tidak berdaya di tempat kerja dan juga bagaimana mereka dapat mengakses cara-cara baru untuk menjadi dan bertindak sehingga dapat mengurangi mereka dari berbagai hambatan di tempat kerja. Dengan kata lain, pemahaman tentang keberagaman cara berkomunikasi penting sepenting pengetahuan dan pengelolaan gender di tempat kerja.  


Manfaat Penelitian
Adalah sesuatu yang penting memantau dampak positif (keunggulan, potensi) dan negatif (kerugian, risiko) dari kegiatan pertanian perkotaan dalam konteks gender di lokasi dan dalam kondisi tertentu, serta bagaimana hubungan antara gender dan dinamika pertanian perkotaan. Ketika melihat manfaat sebenarnya dari pertanian perkotaan bagi lelaki atau perempuan, perlu dilakukan pembedaan terlebih dulu antara kebutuhan praktis dibandingkan kebutuhan strategis.
Palacios (2003: 2) menggambarkan kebutuhan praktis sebagai "kebutuhan mendesak yang berhubungan dengan kondisi ketidakcukupan kehidupan mereka, seperti penyediaan makanan, perawatan air, kesehatan dan lapangan kerja". Pemenuhan kebutuah ini tidak menyiratkan perubahan dalam kaitannya dengan masalah gender.
Di sisi lain, kebutuhan strategis "terkait dengan pembagian kerja, kekuasaan dan kontrol oleh jenis kelamin, dan isu-isu seperti hak-hak dan kewajiban, pemberantasan kekerasan rumah tangga, dan kesetaraan upah." Memuaskan kebutuhan gender strategis ini membantu perempuan mencapai kesetaraan yang lebih besar dan menjadi titik awal dari pergeseran peran yang ada. Meskipun mereka dapat diidentifikasi dan dikonsep secara individual, persoalan kebutuhan praktis dan strategis biasanya muncul dan harus diatas secara simultan.
Keterlibatan dalam pertanian perkotaan dapat mencukupi baik kebutuhan praktis maupun strategis. Meskipun ide mempromosikan pertanian perkotaan sebagai alat untuk mencapai kemandirian ekonomi dan harga diri perempuan dapat direpresentasikan oleh sebagian besar  atribut untuk kebutuhan strategis mereka.
Tempat kerja merupakan tempat yang representative untuk mengamati interaksi nyata antara pria dan perempuan (Kendall dan Tannen, 1997). Ini karena ketika orang berada dalam ruang yang sama dalam suatu organisasi untuk menyelesaikan sesuatu di tempat kerja, mereka harus berkomunikasi. Dengan kata lain, berkomunikasi adalah nyawa dari semua organisasi (Boden, 1994).
Jadi, pekerjaan yang berhubungan dengan komunikasi memainkan peran penting dalam organisasi. Ada beberapa topik penting yang berkaitan dengan dugaan perbedaan dalam komunikasi dan gaya kerja pria dan perempuan (Gray, 1992). Dalam konteks pertanian perkotaan, isu-isu yang muncul antara lain soal pembagian pekerjaan, faktor ekonomi, akses dan kepemilikan sumber daya,
DAFTAR PUSTAKA
Ali, A. H. (2012) .The Power of Social Media in Developing Nations. Harvard Human Rights Journal Vol. 24

Badan Pusat Statistik Jakarta (2010).  Jakarta dalam angka (Jakarta).

Baumgartner, N, and H. Belevi (2007). A Systematic Overview of Urban Agriculture in
Developing Countries AWAG – Swiss Federal Institute for Environmental Science & Technology.  SANDEC – Dept. of Water & Sanitation in Developing Countries

Boden, D. (1994). The Business of Talk: Organizations in Action, Polity Press, London.

Gossieaux, F. and Moran, KE (2010). The Hyper-social Organization: Eclipse Your
Competition by Leveraging Social Media. New York: The McGraw-Hill Companies, Inc.

Gray, J. (1992).  Men are from Mars and women are from Venus: A practical guide for
improving communication and getting what you want in your relationship. New York: Harper Collins.

Hardy J, Diana M, and Scallerthwaite D (1996). Environmental Problems in Third World
Cities. Earthscan. London.

Heimrath, R., & Goulding, A. (2001). Internet perception and use: a gender perspective,
Program, 35 (2), 119-134.

Hovorka, A. (1998). Gender resources for urban agriculture research: Methodology,
Directory & Annotated Bibliography. In: Cities Feeding People Series, Report 26. Ottawa: IDRC

Hovorka, A. (2001) Gender and urban agriculture: emerging trends and areas for future
research. Graduate School of Geography, Clark University, Worcester MA, USA

International Food Policy Research Institute (IFPRI)(2000); Achieving urban Food and
Nutrition Security in the Development World.

Irianto, G (2003). Perempuan pada Pertanian Lahan Kering. Kompas, 17 Nopember.

Jago-on, K. A. B., Kaneko, S., Fujikura, R., Fujiwara, A., Imai, T., Matsumoto, T.,
Zhang, J., Tanikawa, H., Tanaka, K. & Taniguchi, M. (2009) Urbanization and subsurface environmental issues: an attempt at DPSIR model application in Asian cities. Sci. Total Environ. (in press)

Kramarae, C. (1981). Women and men speaking. Rowley, MA: Newbury House.

Kramer, C. (1977). Perceptions of female and male speech. Language and Speech, 20,
151-161.

Kendall, S. & Tannen, D. (1997). Gender and language in the workplace. In Kotthoff, H.,
Wodak, R. (Eds), Communicating Gender in Context, Benjamins, Amsterdam. 

Lakoff, R. (1975). Language and woman's place. New York: Harper & Row.

Maxwell, D. (1995) Alternative food security strategy: a household analysis of urban
agriculture in Kampala. In: World Development, 23 (10): 1669-1681.

Meyers, R.A., Brashers, D.E., Winston, L. and Grob, L. (1997), "Sex differences and
group argument: a theoretical framework and empirical investigation", Communication Studies, Vol. 48, pp. 19-41.

Muchlis, I dan Sutan Eries Adlin. (1998). Pemanfaatan Lahan Tidur Untuk Pertanian.
Harian Bisnis Indonesia, 10 Mei.

Palacios, P. (2002). Why and how should a gender perspective be included in
participatory processes in urban agriculture. In: Latin American Training Course on urban agriculture, Session 2, Proceedings. Quito: PGU-LAC

Rocha , C (2000). An Integrated Program for Urban Food Security: The Case of Belo
Horizonte, Brazil. Department of Economics. Ryerson Polytechnic University. Toronto

Santika, A., et al., 1997. Perbaikan Sistem Usahatani Sayuran di Daerah Urban dan
Peri-Urban Menuju Sistem Produksi Berkelanjutan. Puslitbang Hortikultura.

Siegler, D. M., & Siegler, R. S. (1976). Stereotypes of males' and females' speech.
Psychological Reports, 39, 167-170.

Smit, J. (1996), "Urban Agriculture - Food, Jobs and  Sustainable Cities",  UNDP 
United Nations Development Program, New York.

Spender, D. (1979). Language and sex differences. In H. Andresen (Ed.), Osnabrucker
Beitrage zur Sprachtheorie: Sprache und Geschlecht II (pp. 38-59). Oldenburg, Germany: Red.

Stewart, C., Shields, S., Monolescu, D., & Taylor, J. (1999). Gender and participation in
synchronous CMC: an IRC case study. Interpersonal Computing and Technology: An Electronic Journal for the 21st Century, 7, 1-41.

Tannen, D. (1990). You just don’t understand: Women and men in conversation. New
York: Ballantine Books.

UNDP (1996). Urban Agriculture; Food, Jobs and Sustainable Cities. UNDP. New York.

Weiser, E. (2000). Gender differences in Internet use patterns and Internet application
preferences: A two-sample comparison. CyberPsychology & Behavior, 3, 167-178.

Wood, J. (2009). Gendered lives: Communication, gender, and culture (8th Edition). 
Belmont, CA: Wadsworth Publishing.