Sabtu, 26 Januari 2013

BUMN Berebut Pasar Retail


Tahun ini tiga BUMN masuk ke bisnis retail. Akankah dibiarkan saling bersaing? Kenapa tidak bersinerga, toh mereka masing-masing punya kompetensi yang berbeda.

Dua minggu lalu (pertengahan Januari 2013), saya mengobrol dengan seorang teman yang kebetulan duduk di Dewan Pengawas LPP (LKBN) Antara. Saya tak langsung bertanya tentang yang dilakukan LPP Antara paska maraknya media sosial dan online. Saya cuma mengatakan bahwa yang harus dilakukan Antara adalah memikirkan bisnisnya karena SDM untuk pemberitaan sangat-sangat luar biasa. Pembicaraan selesai karena acara yang yang hadiri itu dimulai.
Akhir pekan lalu, saya membaca berita bahwa tahun ini PT Pos Indonesia (Persero) menargetkan memperoleh pendapatan hingga Rp4,3 triliun. Wuih… bagaimana bisa? Pertama, bukankah bisnis kirim mengirim apa saja – mulai dari uang hingga barang, apalagi surat – sudah tak membutuhkan jasa PT Pos Indonesia. Surat misalnya, selain ada email, kalau malas buka leqat laptop (karena kelamaan start-up-nya misalnya), bisa pakai handphone. Juga makin cepat lewat sms, atau pesan melalui BB. Bisa pakai foto lagi, bahkan Twitter pun kini menyediakan fasilitas pengiriman video walau 6 detik.
Kedua, Undang-Undang No. 38 tentang Pos. UU yang diluncurkan pada 15 September 2009 itu telah mengubah kompetisi di industri pos. Sejak undang-undang tersebut diberlakukan, pemerintah telah membuka kesempatan seluas-luasnya kepada siapapun, termasuk pihak swasta, untuk bergerak di bidang layanan jasa pos.



Lalu bagaimana model bisnis PT Pos Indonesia sekarang. Menurut Direktur Utama PT Pos Indonesia, I Ketut Mardjana, pihaknya tengah mengembangkan berbagai layanan bisnis. “Tahun ini adalah tahun kick off  PT Pos Indonesia. Sebelumnya selama 2012 banyak yang kami benahi seperti sistem bisnis, infrastruktur bisnis dan mindset [karyawan],” ujarnya seperti dikutip Bisnis.com, akhir pekan (26 Januari 2013) kemarin.
Tahun lalu, menurut Manajer Posmart Kantor Area VII Jatim, PT Pos Indonesia (Persero), Moh Nurbagio, mulai menggarap bisnis retail minimarket guna memanfaatkan ruang dan properti yang dimiliki oleh PT Pos Indonesia. Dengan melihat pasar dan potensi pelanggan maka minimarket bisa meningkatkan utilitas aset.
Bayangkan, saat ini terdapat 3.740 kantor cabang serta 24.000 gerai pos yang tersebar di seantero Indonesia. Sementara, sekitar 62,3%-nya atau 2.330 kantor yang kebanyakan berada di wilayah rural, merugi!  Tentu sangat disayangkan, jika aset sebesar itu harus diabaikan begitu saja. Sebab, belum ada satu perusahaan pun di Tanah Air yang mempunyai jaringan hingga pelosok terpencil laiknya Pos Indonesia. Ini merupakan potensi besar untuk mengembangkan bisnis retail.
Dalam mengembangkan bisnis retail tersebut, PT Pos Indonesia tidak sendirian. Pos Indonesia menggandeng kerjasama dengan pemain bisnis minimarket, salah satunya dengan Indomaret. Menurut Nurbagio, kerja sama dengan Indomaret dalam pengelolaan Post Shop menggunakan pola sharing. Pihak PT Pos Indonesia sifatnya menyediakan ruang saja.
Selain menjual kebutuhan masyarakat layaknya di minimarket Indomaret, layanan di Post Shop disinergikan dengan layanan pos. "Jadi, nantinya masyarakat bisa melakukan pengiriman surat atau lainnya sekaligus berbelanja di Post Shop," paparnya. Post Shop pertama yang hadir di Jatim, adalah di Malang, Batu, dan di Kantor Pos Surabaya Selatan, yang diresmikan pada 28 Desember 2012.
Direktur Utama PT Pos Indonesia, I Ketut Mardjana menjelaskan pada 2012 pihaknya memperoleh pendapatan senilai Rp3,3 triliun dan tahun ini menargetkan memperoleh pendapatan Rp4,3 triliun dari berbagai pengembangan bisnis  yang akan dilakukan perseroan pada 2013.Salah satunya, selain pada Desember 2012,  membuka 15 post shop di berbagai daerah di Jabodetabek, pada 2013 ini mendirikan 300-400 post shop di seluruh Indoensia. Adanya Postshop di beberapa kantor pos di sejumlah daerah, layanan PT Pos Indonesia bisa dinikmati selama 24 jam.
Dia menjelaskan dalam mengembangkan post shop itu pihaknya bekerja sama dengan perusahaan ritel waralaba seperti PT Indomarco Prismatama (Indomaret) dan PT Sumber Alfaria Trijaya, Tbk (Alfamart). Dia menambahkan pihaknya juga menargetkan dapat bekerja sama dengan perusahaan ritel seperti PT Circle K Indonesia Utama (Circle K). Satu gerai post shop, tuturnya, PT Pos Indonesia menargetkan pendapatan Rp250 juta per tahun. Bersama program Post Mall (Post Masuk Mall) dan Post Agent, Post Shop dikembangkan sebagai upaya mendekatkan  kantor pos dengan masyarakat. “Ini adalah salah satu bentuk perwujudan dari 'Pos Sahabat Rakyat'," tambahnya. 
Tahun ini, bisnis minimarket makin ramai. Selain ekspansi yang dilakukan oleh peritel yang ada, tiga BUMN masuk ke bisnis ini. BUMN-BUMN tersebut mulai mengintegrasikan aset produksi yang mereka miliki ke lini distribusi langsung ke konsumen melalui pembukaan outlet minimarket. Tahun ini, selain Pos Indonesia, Bulog yang selama ini menguasai atau setidaknya berpengalaman di bidang distribusi pangan dan PT Rajawali Nusantara Indonesia yang memiliki bisnis perkebunan dan penggilingan tebu, minyak goring dan sebagainya mendirikan minimarket. Bulog Mart ditempatkan minimal di setiap gudang Bulog, yang terdiri atas 1.751 unit di 132 Sub Divre di 26 Divre seluruh Indonesia. Target 1.800 Bulog Mart.
Sementara itu PT RNI, mulai 15 Januari 2013, melalui anak perusahaan  PT Rajawali Mart, menargetkan membuka 150 gerai dengan investasi sekitar Rp 150 miliar. "Kami akan beroperasi di Jakarta, Semarang, Surabaya, Malang, Jogja, Cirebon, Bandung dan Bali," ungkap Dirut RNI, Ismed Hasan Putro saat launching gerai di Kuta, Bali, beberapa waktu lalu. "Raja Gula dan kondom akan jadi andalan kami." Sampai akhir 2013, target RNI adalah membangun 500 gerai Rajawali Mart di Jawa dan Bali dan mulai Semester II-2013, membuka franchise untuk masyarakat.
Rajawali Mart siap menampung pasokan produk dari usaha skala kecil (UMKM), petani dan peternak. Selain itu, memperkuat sinergi produk BUMN seperti garam produksi PT Garam, air mineral dari Perhutani, dan beras dari Bulog. Untuk memenuhi kebutuhan kelas menengah, minimarket ini menggaet 82 item produk seperti Unilever dan Philips. "Kami coba beri kelebihan di layanan, seperti sistem, manajemen, rak, dan produk, tapi yang paling penting, Rajawali Mart itu milik masyarakat dan untuk masyarakat," papar Ismed.
Sebaliknya, Perum Bulog menargetkan membuka 100 Bulog Mart, toko ritel modern sejak 2012. Fokus awal pasarnya bahan pokok, terutama beras, gula, dan minyak goreng. Sekarang sudah mulai menjual sembako lainnya. Di sejumlah lokasi, pembangunan fisik Bulog Mart memanfaatkan kantor divre regional (divre), subdivre. Kebetulan, aset Bulog sebagian besar berada di lokasi strategis, dan gudang.
Direktur Perum Bulog, Soetarto Alimuso menyebutkan, Bulog Mart mulai bergerak dari Bandung, Semarang, Malang, Makassar dan Bandar Lampung. "Kami mengusung konsep stabilisasi harga pangan dalam mengembangkan ritel ini. Beras premium dan beras medium serta gula dan minyak goreng disediakan dalam porsi lebih banyak," jelasnya.
Dengan motto "Menjangkau Kepuasan Anda", Bulog Mart diharapkan sebagai layanan terbaru untuk lebih mendekatkan Bulog kepada masyarakat. Bahkan, nantinya, bisa saja, lewat minimarket ini, Bulog melakukan operasi pasar di Bulog Mart yang lokasinya berada di daerah dan strategis. Semua kelas beras dijual disana.
Sebagai konsumen, tentu saya senang dengan makin banyaknya BUMN yang masuk ke bisnis retail ini. Setidaknya, harapan saya adalah bahwa para pemain ritel dari BUMN bisa memangkas rantai distribusi barang – terutama sembako – yang selama ini berliku-liku. Dengan demikian, konsumen akan diuntungkan setidaknya dari sisi harga. Dari beberapa penelitian yang saya lakukan, di bisnis ritel -- faktor harga menjadi salah satu keunggulan bersaing utama.
Setelah harga baru kemudian layanan dan kelengkapan produk yang dijual. Lokasi? Salah satu yang penting cuma untuk kelas menengah yang rentan terhadap harga, mereka akan membandingkan dengan benefit yang diperoeh. Jadi misalnya kalau seseorang berbelanja di lokasi yang agak jauh, dia akan menghitung potongan harga yang diperoleh dengan biaya yang harus dikeluarkan, plus beneftit lain misalnya dia bisa mengajak anak-anaknya bermain dan sebagainya. Kedua, kelas menengah – terutama usia muda – berbelanja mingguan.  Tapi sekali lagi, ini adalah dalam konteks belanja mingguan.
Untuk belanja harian, selain harga lokasi ikut menentukan. Bayangkan kalau saya di jalan atau mau bepergian dari Jakarta ke Bogor dengan kereta misalnya, saya membutuhkan minuman tentu saya cari minimarket terdekat dan membeli tanpa harus mempertimbangkan harga. Dari sisi seyogyanya – untuk ekspansi – Bulog, RNI atau Posmart bekerjasama dengan BUMN lain, PT KAI? Atau kenapa Bulog, RNI, Posmart dan BUMN lain, termasuk Kimia Farma, Biofarma, dan sebagainya saling bekerjasama untuk mensejahterakan masyarakat Indonesia melalui penjualan produk mereka dengan harga terjangkau?