Kamis, 17 Januari 2013

Studi tentang Blogger: Mereka Juga Ingin Diperlakukan Sebagai Pemasar. Minta Bayaran Pula.


Sebuah studi baru tentang agensi PR/Media Pemasaran yang dilakukan Red Jeweled Media mengungkapkan sesuatu yang menurut saya mengejutkan. Lihat saja, sebagian besar (baca mayoritas) responden atau sekitar 77% blogger menganggap blog mereka sebagai sebuah bisnis - apakah itu combo bisnis  atau hobi (46,2%), bisnis penuh-waktu (11,1%) atau bisnis paruh waktu (19,4%). Hanya sekali lagi hanya 20,3% yang melihat blog mereka hanya sebagai hobi atau aktivitas pribadi yang menyenangkan.
Selain itu, masih ada kejutan lagi yang merupakan konsekuensi dari sikap yang mereka ungkap sebelumnya. Dalam survey yang mencoba menyelami lebih jauh jiwa para blogger, menjelajahi jalan seperti mengapa mereka memiliki blog, untuk apa yang mereka memblogging, berapa banyak waktu yang mereka habiskan di blog mereka dan berapa banyak merek yang mereka posting, juga terungkap bahwa  mereka menganggap dirinya sebagai pemasar. Karena itu, untuk setiap pesan yang mereka posting melalui blog-nya tidaklah gratis. Dengan kata lain mereka meminta bayaran terkait dengan merek yang mereka posting (prnewsonline.com  | 1.14.13).


Hasil lainya tidak terlalu mengejutkan kalau tidak bisa dianggap sebagai ungkapan klise. Melalui hasil survey ini terungkap bahwa mayoritas atau lebih dari 90% blogger yang disurvey sangat bergairah untuk menulis sesuatu Tidak begitu mengejutkan, mayoritas (lebih dari 90%) dari blogger yang disurvei bergairah tentang menulis, mereka senang menjadi bagian dari komunitas blogging dan menikmati mengekspresikan diri melalui blogging.
Untuk memperdalam temuan tersebut, PRNews menanyai dua ahli PR terkait dengan blogger relations yang efektif dan tantangan dan praktik terbaik dari manajemen blogger. Menurut Stephanie Doherty (sdoherty@conecomm.com), VP at Cone Communications, salah satu tantangan terbesar dalam bekerja dengan blogger adalah menentukan siapa yang paling cocok akan dijadikan sebagai mitra dalam program atau kampanye suatu produk atau merek. "Mengidentifikasi blogger yang tepat membutuhkan banyak waktu dan penelitian," kata Doherty.
Begitu daftar blogger dimiliki dan blogger yang mempunyai jangkauan sesuai dengan jangkauan yang ingin ditarget merek atau produk, pemesar ahrus benar-benar menggali informasi tentang blog mereka. Lalu blogger tersebut harus dikenali secara pribadi untuk kemudian menggali iformasi tentang pembaca blog, apakah diantara pembaca blog tersebut menyukai isi blog atau malah membencinya ? Di mana mereka tinggal? Apa yang membuat blogger tersebut unik atau berbeda?
Selain itu, ada juga faktor lain yang penting diidentifikasi, pertama, berapa biaya yang dibutuhkan blogger? Kedua, kata Sue Reninger (reninger@rmdadvertising.com), managing partner and strategist at RMD Advertising, menemukan orang-orang yang memiliki sikap bahwa blogger bukan pemasar adalah penting. Sebab, seperti diketahui, sebagian besar merek mengalokasikan anggaran iklan dan PR secara terpisah.
Sebab bagaimanapun fungsi PR dan iklan berbeda. Dalam konteks marketing public relations misalnya, fungsi PR adalah menjalankan proses perencanaan, melaksanakan dan mengevaluasi program-program yang mendorong pembelian dan kepuasan konsumen melalui komunikasi informasi yang kredibel dan kesan bahwa perusahaan dan produk mampu mengenali kebutuhan, keinginan, perhatian, dan kepentingan konsumen. Dengan kata lain, kredibilitas pesan yang dalam hal ini terkait dengan objectivitas isi pesannya dalah fokus kepedulian seorang PR.
Dalam hubungannya dengan blogger, meski kalau melihat hasil survey Red Jewelry kecil, namun sejatinya ada blogger yang menjaga kredibilitas dengan cara membuat ulasan serta editorial objektif. Biasanya merek ini tidak dapat dibeli. "Jadi, kita harus bisa menemukan blogger yang memiliki pendirian bahwa blogger harus berjarak dan membangun sebuah merek membutuhkan waktu lebih dari satu periode waktu, layak dipertimbangkan ketika kita mengalokasikan anggaran komunikasi," kata Reninger.
Menurut Doherty, biaya yang ditetapkan blogger untuk memposting suatu merek sangat bervariasi. Biaya itu tergantung pada pembaca mereka, berikut relasi sosial sosial dan keterlibatan pembacanya. Jenis posting juga mempengaruhi biaya yang dikenakan. Biaya untuk review sebuah merek atau produk misalnya, akan lebih mahal ketimbang informasi yang sifatnya langsung (straight). “Blogger-blogger  yang membutuhkan biaya untuk posting tersebut biasanya memiliki media kit yang tersedia di blog mereka dengan informasinya,” kata Doherty.