Rabu, 15 Mei 2013

Decide - Better ways of making better decisions


Setiap orang harus mengambil keputusan. Dalam perusahaan misalnya, semua orang mulai dari CEO ke bawah dibayar untuk membuat keputusan. Seorang presiden sebagai panglima perang misalnya, ketika menghadapi situasi gawat dia harus memutuskan menyerbu atau bertahan. Di masa dama, dia harus memutuskan apakah berhenti atau meneruskan jabatannya.

Pilihan itu juga dihadapi oleh bawahan, seorang office boy misalnya. Setiap hari dia akan dihadapkan apakah harus memungut sampah yang berceceran ketika bosnya sedang makan atau membiarkannya hingga sang bos selesai makan.

  
Situasi ini memberi gambaran bahwa sebagai individu, sepanjang kehidupannya, seseorang selalu dihadapkan pada persoalan yang memaksa orang tersebut mengambil keputusan. Pemilik dan pengelola perusahaan juga harus mengambil keputusan, bila tidak membuat keputusan, perusahaan akan mati.

Kalimat padanannya adalah setiap orang harus mengambil keputusan. Dalam perusahaan, semua orang mulai dari CEO ke bawah dibayar untuk membuat keputusan. Sebagai individu, sepanjang kehidupannya, seseorang dihadapkan pada persoalan yang memaksa orang tersebut mengambil keputusan dan mendapatkan manfaat atau kerugian dari keputusannya itu. Dengan kata lain, pengambilan keputusan (decision making) dapat diartikan sebagai sebuah proses dimana anggota organisasi memilih mengambil tindakan tertentu sebagai respon terhadap peluang atau masalah yang dihadapi.

Dalam konteks ini pengambilan keputusan bisa dianggap sebagai respon terhadap peluang untuk menghasilkan keuntungan dan manfaat bagi organisasi tersebut. Sedangkan pengambilan keputusan sebagai respon terhadap masalah, tentu saja, bertujuan untuk mengatasi masalah atau hambatan yang mengancam kinerja organisasi.
Konsekuensinya, apabila pemilik dan pengelola bisnis dan perusahaan tidak membuat keputusan, mereka akan mati. David Wethey, penulis Decide, menunjukkan bagaimana hal ini telah dibuktikan melalui naik turunnya perusahaan yang sebelumnya kuat seperti Marconi, Chrysler, Cadbury Schweppes dan Lehman Brothers. Manajemen mereka selalu membanggakan dirinya pada pengambilan keputusan yang kuat. Akan tetapi, ketika mereka memutuskan untuk fokus pada masa depan yang tidak pernah datang dan meninggalkan “emas” yang nyata-nyata ada di tangan dan menguntungkan, mereka tergilas.

Anda masih ingat berapa kali dan berapa banyak wacana yang muncul di pentas politik Indonesia soal pengurangan subsidi bahan bakar minyak? Sejak kenaikan harga minyak dunia yang begitu sulit ditebak, lebih dari tujuh wacana tentang pengurangan subsidi tersebut, mulai dari penjatahan, kenaikan harga hingga yang belakangan muncul yakni dualisme harga bahan bakar minyak. Namun apa yang diputuskan? Sampai kini belum ada sama sekali.

Sebagai sebuah pemikiran Decide -- yang terdiri atas 312 halaman termasuk cover -- bisa dianggap telah memprovokasi pemikiran. Ini karena buku ini banyak menggunakan pendekatan praktis dalam pengambilan keputusan. Seperti yang dikatakan David Wethey, penulis Decide, hidup memberi seseorang tantangan untuk membuat keputusan. Suka atau tidak, setiap orang perlu melatih keterampilan ini setiap hari – baik di tempat kerja, di rumah, bahkan  setiap aspek kehidupan kita.

Namun, yang sering terjadi adalah seseorang membuat keputusan tanpa benar-benar mempertimbangkannya secara kontekstual, mengkaji pilihan dan meikirkan serta memprediksi implikasi dari tindakan kita. Atau lebih buruk lagi, akhirnya mengelola konsekuensi dengan cara menghindari mengambil keputusan yang sulit.

Disini, seperti yang dijanjikan Wethey, jika mengikuti dengan tekun materi yang dipaparkan dalam buku ini benar, kemungkinan pembaca untuk berkontribusi dan membuat keputusan yang efektif bukan sekadar angan-angan.  Ini membuktikan bahwa sebenarnya pengambilan keputusan tidak harus menjadi suatu panjang sehingga tidak sampai memunculkan kegaduhan. Pemikiran dan tips-tips dalam buku ini  membantu pembaca membuat keputusan yang tepat, dan memilih dari pilihan dengan bijaksana, apakah Anda memiliki waktu 60 hari, 60 menit atau hanya 60 detik. Syaratnya, Anda harus mampu menggabungkan pemikiran rasional dan lateral. 

Buku ini cocok untuk praktisi bisnis secara luas dan audience profesional serta pembaca umum. Ini  karena bahasa yang ditampilkan dalam buku ini sederhana dan tidak diisi dengan jargon atau model bisnis yang rumit. Studi kasus yang ditampilkan juga universal dan menarik untuk membangun argumen. Diakui bahwa pengambilan keputusan tidak mudah, ada aturan yang bekerja. 

Dengan contoh-contoh yang diambil dari organisasi atau orang-orang berlatar belakang politik, olahraga, bisnis, militer dan bahkan situs kencan, Decide menekankan pentingnya kedua pemecahan masalah secara kreatif dan mengelola keputusan seluruh.

Menurut Wethey, ada lima aturan dalam pengambilan keputusan.  Pertama, setiap keputusan penting adalah perjalanan (journey), bukan satu langkah. Kedua, Anda harus mengajukan pertanyaan yang tepat di awal untuk memastikan Anda beroperasi dalam bingkai yang benar. Ketiga, plotting skenario adalah bagaimana Anda datang ke keputusan yang tepat, dan untuk itu Anda perlu intelijen yang seterbaik mungkin.

Keempat, eksekusi merupakan satu hal yang sangat penting. Sebuah keputusan besar bila dieksekusi secara buruk akan gagal. Kelima, belajar dan umpan balik sangat penting, karena pengambilan keputusan adalah aktivitas yang terus terus menerus dan setiap keputusan yang Anda ambil akan menginformasikan keputusan lain yang Anda harus buat di masa depan (Halaman 94)



Buku ini terdiri atas 11 bab. Bab pertama buku ini disebut penulisnya sebagai Dreams and Determination. Di bab ini, penulis memaparkan kisah dari beberapa orang yang luar biasa. Kisah-kisah tersebut diperoleh penlis dari berbagai wawancara. Yang diwawancarai adalah individu-individu luar biasa di bidangnya. Para professional tersebut memiliki berbagai latar belakang profesi, mulai dari angkatan bersenjata, politik, hukum, kedokteran, akademisi, amal, olahraga, perjudian dan sebagainya. Dari berbagai wawancara tersebut, penulis yakin bahwa ada korelasi yang jelas antara keberhasilan dan kemampuan pengambilan keputusan.

Bab 2 (Mimpi Buruk) menampilkan hal yang sebaliknya. Bab ini memaparkan tentang hal-hal yang bisa salah, dan mengapa bisa salah. Tidak ada orang yang mengatakan bahwa pengambilan keputusan itu mudah. Beberapa derajat kesalahan seringkali tidak bisa dihindari. Bab ini tidak dimaksudkan untuk membangkitkan rasa takut akan kegagalan, melainkan untuk menunjukkan beberapa perangkap yang mungkin bisa membuat orang terperngkap dalam kegagalan. Melakukan kesalahan baik saat ini maupun di kemudian hari adalah bagian dari menjadi manusia. Akan tetapi menghindari bencana serius adalah sama pentingnya dengan mengejar sukses.

Semua keputusan bukanlah sesuatu yang berjalan dalam satu tahapan. Dalam buku ini, perjalanan keputusan secara efektif dimulai pada Bab 3 yang menekankan pentingnya peluang - mengidentifikasi dan mengeksploitasi mereka. Identifikasi ini juga bermanfaat untuk menemukan kekuatan. Seperti diketahui, kalangan akademisi telah membuat kemajuan besar dalam memahami cara otak bekerja.

Pikiran sadar seseorang hanya bisa mengatasi sebagian kecil dari apa yang kita lihat dan alami. Otak bawah sadar jauh lebih dari pikiran bawah sadar sepertiyang dikatakan Freud dan Jung. Ibarat sebuah system control, otak bawah sadar manusia berperan dalam membentuk sikap, keyakinan, kebiasaan dan persepsi. Otak bawah sadar juga merupakan pabrik komputerisasi yang mengendalikan kemampuan fisik kita, seperti fungsi motorik, detak jantung, pernapasan, pencernaan dan sebagainya.

Konteks ini dibahas penulis di Bab 4 dengan sub tema Pengambilan Keputusan yang cerdas. Menurut penulis, pengambilan keputusan yang cerdas adalah gabungan antara pemikiran dan pemanfaatan kekuatan otak bawah sadar. Akan tetapi, pengambil keputusan biasanya dihadapkan pada kendala waktu. Waktu yang tersedia untuk membuat keputusan adalah titik fokus dari buku ini. Sangat penting untuk mengetahui seberapa banyak rentang waktu yang kita miliki ketika dihadapkan pada keharusan mengambil keputusan.
Bab 5 buku ini membahas masalah waktu dan keajaiban nomor 60. Hipotesis yang diajukan adalah bahwa semakin cepat seserang dalam mengmbil keputusan, semakin naluriah kita harus bertindak. Menurut penulis, pada dasarnya otak bawah sadar dapat mengelola sendiri cukup banyak tantangan. Karena itu. pengambilan keputusan cepat adalah fungsi dari pelatihan dan pengalaman.

Artinya, dalam situasi darurat, orang terlatih dan berpengalaman memiliki rasa percaya diri akan kemampuan mereka dan keputusan yang mereka buat, dan saat yang sama mereka melakukan hal tersebut dengan penuh kehati-hatian. Kalau demikian, apakah hanya orang-orang seperti pilot pesawat tempur, pemadam kebakaran, tentara dan wasit yang bisa membuat keputusan cepat?

Tidak juga, karena kalau diperhatikan, banyak motivasi yang muncul ketika seseorang berada dalam dalam keadaan stress. Ketika seseorang menghadapi suatu tekanan, reaksi alami yang muncul adalah defensive, membantu orang lain, menyelamatkan nyawa, atau menghindari bahaya. Sekarang kita menyadari bahwa kita semua memiliki sejumlah 'keterampilan autopilot' akibat dari pengalaman yang kita dapatkan saat mengemudi mobil, dan menghadapi jalan-jalan padat dan stasiun di jam sibuk, memasak, bermain sepak bola dan menggunakan komputer atau smartphone. Pada situasi seperti itu, tidak banyak waktu untuk melakukan analisis rinci. Keputusan harus segera dibuat karena kalau menggantung, Anda akan kehilangan.

Dalam konteks saat ini, penulis membahas kekuatan media sosial. Selain menyediakan akses ke seluruh area, media sosial memberi semua daerah untuk mengakses kita. Kecepatan komunikasi melalui media sosial membuat suatu pesan menjadi tidak dapat ditarik kembali sehingga mengubah aturan keterlibatan bagi semua orang di mata publik. Ketika dilanda kontroversi atau skandal, pilihan bagi para politisi, pemimpin bisnis dan bahkan manajer sepak bola mau tetap tiarap dan tidak membuat komentar atau terlibat.

Sebelum menutup buku ini dengan berbagai tips yang bisa dipraktekkan ketika seseorang mengabil keputusan, penulis menyisipkan bab keputusan yang berkaitan dengan “cinta.” Agak aneh memang. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, topik itu menjadi relevan karena pada setiap waktu, tahapan, dimanapun, cinta selalu menjadi perhatian utama. 

Meski demikian, analisis yang ditampilkan Wethey dalam bukunya ini tetap didominasi dengan dasar  konteks bisnis. Menurut Wethey, untuk menjadi pembuat keputusan yang baik Anda harus menjadi perencana keputusan yang baik. Perencanaan keputusan dapat secara signifikan ditingkatkan dengan membentuk sebuah tim, dan di perusahaan-perusahaan dan organisasi tidak ada pilihan selain membentuk Tim.

Sebab bagaimanapun seorang individu memiliki kapasitas yang terbatas. Bila dua orang atau lebih bekerjasama output mereka tidak hanya menjadi tidak hanya sekadar penambahan atau penjumlahan dari dua kemampuan individu bersangkutan yang dicapai bila bekerja secara individu. Dengan bekerjasama, mereka mampu meningkatkan kegunaan kekuatan masing-masing dan saling menutupi kekurangan masing-masing.