Rabu, 15 Mei 2013

Taktik Ultra Jaya Memanfaatkan Sosial Media

Media sosial bisa menjadi sarana perusahaan untuk berkontak sosial dengan pelanggan mereka. Dengan kata lain, media sosial menyediakan ruang pertemuan antara perusahaan dengan pelanggan maupun antarpelanggan sendiri.

Di sisi lain, pertemuan adalah sesuatu yang paling berharga bagi manusia. Ini mempunyai makna bahwa media sosial tidak hanya dipandang sebagai saluran baru untuk mencapai dan berinteraksi dengan pelanggan, melainkan juga secara fundamental mengubah cara perusahaan dalam mengidentifikasi, mengembangkan, mengedukasi, dan mendukung pelanggan.


Sebagai media kampanye, media sosial memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan dengan interaksi langsung gaya lama. Saat ini, di mana-mana orang memperbincangkannya, entah itu pelayan, sopir taksi, pemilik toko, penjual, maupun orang yang duduk di samping meja makan Anda. Bahkan media sosial kini menjadi trend setter sehingga ketika seseorang tidak memiliki satu akun merasa tertinggal. Karena itu, wajar setiap muncul satu bentuk media sosial baru orang, termasuk perusahaan,  berbondong-bondong mengaplikasinya. Salah satu alasannya adalah kita takut didahului oleh orang lain. 

Media sosial adalah sarana, bukan tujuan. Dalam konteks ini, media sosial seringkali disalahkan ketika tujuan yang diharapkan tidak tercapai. Orang atau perusahaan sering membuat akun di setiap situs media sosial yang baru muncul, menghabiskan sedikit waktu berharga yang mereka miliki, tetapi kemudian meninggalkannya sampai mati sendiri jika tidak ada hasil yang segera dinikmati.

Manajemen PT Ultrajaya termasuk pemilik brand yang menyadari peran penting social media dalam meraih segmen ‘melek’ internet. Sejak 2010, dua brand utama yang mereka miliki—Ultra Milk dan Teh Kotak, mulai  membina komunikasi dengan target consumer-nya melalui social media. MIX mengamati, akun Thanks to Nature milik Teh Kotak mendapatkan lebih dari 10 ribu fans yang me-“like” Facebook-nya, sedangkan di Twitter ia  di-follow oleh lebih dari 8 ribu akun.  Mymilk_id milik Ultra juga memiliki hampir 8.500 follower di mikrobloging Twitter. Sementara di Facebook interaksinya lebih spektakuler lagi. Ada lebih dari 48 ribu akun memberikan “like” pada komunitas yang  diperkenalkan untuk memopulerkan budaya minum susu cair segar tersebut.

Website kedua akun juga terbilang interaktif.  Head of Marketing PT Ultrajaya Siska Suryaman kepada Nurur Bintari dari Majalah MIX  mengungkapkan, Website kedua brand utama itu sudah mulai dibangun setahun sebelumnya, dan kemudian diintegrasikan dengan digital media, termasuk dalam membina komunitas.   Masuknya Ultra Group ke dalam pusaran social media ini tentu bukan sekadar mengikuti tren.

Siska menilai digital media memiliki beberapa keunggulan dibandingkan media konvensional sepanjang dirawat secara konsisten. Yang paling penting adalah kecepatannya dalam men-deliver pesan dengan cukup baik melalui kemampuan blast-nya.

Bukan cuma untuk menginformasikan kegiatan. Secara terintegrasi media sosial mereka manfaatkan untuk mengirimkan pesan-pesan terkait dengan campaign yang mereka miliki. Seperti sudah disinggung di atas, akun Mymilk di Facebook dan Twitter bertujuan untuk mempopulerkan budaya minum susu cair, sementara Thanks to Nature (TTN)-nya Teh Kotak menyampaikan pesan mengenai kepedulian terhadap alam.

Agar tidak menjadi generik, TTN tidak sekadar mengampanyekan green living, namun juga menyerukan ajakan perubahan kebiasaan hidup. “Kami melihat Facebook dan Twitter punya kekuatan untuk menyampaikan fakta-fakta yang belum terungkap namun tidak bisa disampaikan melalui media biasa,” ujar Siska dalam sebuah perjalanan di Jawa Timur.

Salah satu hal yang menjadi indikasi efektivitas media sosial mereka adalah banyaknya percakapan yang terjadi. Jumlah percakapan yang tinggi memberikan indikasi bahwa digital marketing memberikan peran signifikan terhadap kinerja brand tersebut, dan pada saatnya nanti mungkin juga bisa untuk menentukan kekuatan dan kelemahan merek bersangkutan.

Tujuan inilah yang membuat Siska dan kawan-kawan selalu mengaitkan percakapan dengan kegiatan atau kampanye brand. Pemilihan akun mymilk id dan Thanks to Nature merupakan upaya konsistensi agar konsumen tidak bingung  terhadap program yang mereka miliki. Konten percakapan sudah mereka persiapkan untuk beberapa periode, dengan jadwal penayangan yang terencana. Karena menyangkut interaksi selama 24 jam sehari, Siska mengakui mereka butuh administrator tersendiri yang dialihdayakan kepada pihak ketiga. Namun begitu, pemilik brand tetap mengontrol konten yang akan di-blast. “Bisa dibilang 75% konten dan message dari kami,” tambahnya.

Untuk memancing percakapan agar lebih hit, mereka sering mengadakan quiz dengan pancingan hadiah yang menarik disesuaikan dengan brand-nya. Mereka juga tidak menafikan keberadaan buzzer/blogger/praktisi media sosial untuk membantu melipatgandakan tersampaikannya pesan. Sudah tentu yang dipilih adalah tokoh-tokoh yang memiliki kekuatan retweet dengan banyaknya jumlah follower. Beberapa waktu lalu mereka sempat menggandeng presenter dan komedian Desta dan Vincent  khusus untuk kampanye Ultra bertajuk ‘Make Your Move’.

Berdasarkan pengalaman, kebanyakan jumlah follower Twitter tiba-tiba menjadi naik kalau ada activation. Jadi mayoritas follower adalah mereka yang  interest dengan event-nya itu sendiri. Namun untuk  brand-nya sendiri, lanjut Siska, mereka  masih mencari figure yang tepat. Yang jelas, ia justru menghindari pemilihan selebriti  media sosial yang menyediakan jasa twit berbayar—kendati mereka memiliki follower seabrek. Alasannya, sekali lagi, adalah demi kredibilitas brand. Karena publik bisa menyimpulkan semua pesan yang disampaikan selebriti tersebut melalui tweet berbayarnya adalah selayaknya iklan, bukan sesuatu yang tulus disampaikan dari hati sang seleb.