Minggu, 29 Desember 2013

Belajar dari Taktik PR yang Dijalankan Miley Cyrus

Penyanyi dan aktris yang terkenal lewat film Hannah Montana ini sering membuat heboh. Ketika tampil guna menerima piala MTV Music Award misalnya, Miley Cyrus merokok di atas panggung.
Gadis berusia 21 tahun yang awalnya dikenal sebagai bintang Disney polos itu kini tampil provokatif dengan berbagai skandal, seperti pengakuannya menggunakan obat terlarang, tariannya yang kontroversial, dan penampilannya tanpa busana dalam video klip.
Penyanyi Miley Cyrus mengklaim bahwa penampilannya di panggung yang kontroversial merupakan karakter buatan semata alias akting. Pelantun Adore You itu mengatakan bahwa "twerking" bersama Robin Thicke yang menggemparkan di VMA beberapa waktu lalu bukanlah dirinya yang sebenarnya.
Ketika berbicara dengan The New York Times, Miley mengatakan, "Hampir selalu ada adegan seks di film, dan orang-orang bilang, 'Yah, itu adalah karakter.' Nah, itu pun merupakan karakter."
Jadi, untuk apakah dia melakukan semua itu?
Menemukan siapa dan cerita tentang Miley sungguh sangat gampang. Coba Anda ketik nama Miley Cyrus di Google News, Anda akan menemukan  lebih dari 85 juta cerita tentang Miley hanya dalam waktu setengah detik.
Pendakian karirnya sebagai penyanyi yang dimulai dari bintang anak-anak Hannah Montana dari Disney dan penyanyi remaja, Miley yang kini penyanyi dewasa muda cukup berbakat memberikan pelajaran penting bagi siapa saja yang mempelajari public relations tentang bagaimana mencoba membujuk media untuk menulis atau berkomentar.
Pelajaran ini tak harus Anda tiru mentah-mentah. Tetapi paling tidak bisa memberikan gambaran tentang bagaimana menciptakan publisitas. Miley – seperti ditulis Robert Wynne, contributor Forbes -- memiliki dua keunggulan utama. Pertama, Miley sekarang memang sudah tenar sejak pada usia dini, dan kedua, dia memiliki platform untuk mengekspresikan dirinya. Dengan kata lain, jejak karir Miley dari dulu memang telah terpetakan.
Ini yang membedakan Miley dengan Britney Spears atau Christina Aguilera saat mereka popular di usia muda. Mereka berdua menapaki karirnya mulai dari bintang anak yang polos bintang anak hingga menjadi penyanyi muda yang membangun sensasi keseksian. Yang lebih penting lagi, kata Wynne, mereka berdua adalah penyanyi yang lebih baik. Dengan demikian, untuk bisa bersaing dengan mereka bukanlah urusan gampang bagi Miley. Ini yang menjadikan alasan bahwa mempelajari pendakian karir Miley jauh lebih penting.
Coba kita mulai dengan pertanyaan, apakah Anda terpesona oleh dia karena lagu, suaranya atau seperti halnya sebagian besar orang Amerika di bawah usia 30? Atau Anda terpesona karena tersihir oleh musik dan stuntsnya seperti yang dia pertontonkan pada acara MTV Video Music Awards, Agsutus lalu? Jawaban Anda sebaiknya disimpan dulu karena sepak terjangnya layak Miley mungkin layak untuk dipelajari. Inti pertanyaannya adalah bagaimana taktik PR yang dijalankan sehingga mencapai popularitas seperti sekarang ini?
Seperti diketahui, Rolling Stone pernah menempatkan dia pada sampul tahunan "Hot List" mereka dan NPR mencatatnya sebagai bintang yang meroket pesat. Album Miley yang mencatat rekor penjualan baru adalah Wrecking Ball.  Ini adalah Hot 100 No 1 pertama selama karir sebagai penyanyinya. Lagu We Can’t Stop berada di No 2 kembali pada bulan Agustus. Oktober lalu, Wrecking Ball melompat ke atas, dari urutan 22 ke nomor 1 hanya dalam satu minggu.
Sejak Februari , Billboard telah memasukkan video semua aliran musik Hot 100 di YouTube dan Vevo, sebuah situs video musik yang juga berfungsi sebagai klip ke YouTube. Banyaknya orang yang melihat video klip Wrecking Ball yang menampilkan Miley telanjang membuktikan bahwa tampilan dia diminati banyak orang.


Apakah semua itu terjadi kebetulan? The New York Daily News melaporkan bahwa kritik yang mengalir atas video klip tersebut mengabaikan sebuah point. "Miley Cyrus mungkin tidak memutar rel. Tapi dia tahu persis apa yang dia lakukan. Itu semua, mulai dari tampil telanjang, twerking dan menggoyang-goyangkan, sengaja dimunculkan untuk menjadi bagian dari taktik yang sudah diperhitungkan untuk mengubur citra dia sebagai penyanyi Disney yang polos dan bersih,” tulis The New York Daily News.
Billboard mencatat kontroversinya itu sebagai sebuah kampanye PR yang terencana, dan bukan kecelakaan.  "Pendakian Miley pada tahun 2013 telah menjadi sebuah pengalaman surealis, tidak satupun dari semua itu merupakan sebuah kecelakaan."
Dalam Miley Cyrus : The Movement, sebuah acara documenter baru MTV pada jam tayang premier Rabu malam ( 2/10/2013), langkah-langkah berani bintang pop itu ditampilkan secara penuh, sebagai peneguhan kembali sebuah visi yang sempat tidak memuaskan meluncurkan album Can’t Be Tamed pada 2010. Dalam acara Rabu malam itu, Miley sengaja memilih We Can’t Stop sebagai upaya dia untuk comeback denagn album yang bergenre hip-hop-centric dan mengingatkan public akan tampilan beraninya pada MTV Video Music Awards,  Agustus 2013.
Selama tayangan video documenter tersebut , Miley seakan ingin memastikan dan menekankan bahwa sajian citra barunya itu lebih dari sekedar detail promosi. "Bagi saya, sebuah perubahan adalah jauh lebih besar dari pada sekedar sebuah rekaman," kata Miley. "Bagi saya, sebuah gerakan perubahan merupakan sesuatu seperti ... mengambil alih dunia."
Sebuah situs, The Opposing Views, bahkan menyebut langkahnya itu sebagai taktik PR jenius. "Miley Cyrus telah meluncurkan album barunya. Seperti kebanyakan rekan-rekan muda Disney, sebenarnya dia itu seorang penyanyi dengan standar rata-rata. Karena itu,  dia mengkompensasi kekurangannya dengan menampilkan sesuatu yang sebisa mungkin menghibur audiensenya.
Jadi rahasia taktik public relations yang dijalankan Miley Cyrus? Berikut ini beberapa taktik Miley guna mencapai tujuan PR nya seperti yang ditulis Robert Wynne. Taktik ini bisa menjadi pelajaran buat kita. Beberapa diantaranya saya modifikasi dengan contoh-contoh lokal sehingga dekat dengan kita.
1. Menjual Kontroversi
Untuk bisnis dan individu tertentu  melakukan sesuatu aksi kontroversi pada waktu yang tepat dapat menghasilkan manfaat yang besar. Jelas, jika Anda menjalankan sebuah restoran atau mengoperasikan sebuah klinik kesehatan , Anda tidak perlu takut kontroversi. Sebuah stunt yang menarik perhatian kadang-kadang dapat menerobos kerumunan.
Belakangan beredar berita tentang kontroversi film Soekarno besutan Hanung Bramantyo. Film tersebut dikritisi Guruh Soekarno Putra dan putra putri Bung Karno lainnya. Terlepas apakah kontroversi itu membuat orang pingin menonton ataukah karena filmnya bagus, realitas menunjukkan bahwa jumlah penonton film Soekarno yang terus bertambah sejak ditayangkan Perdana, 11 Desember lalu. Tercatat, jumlah penonton film Soekarno hingga 23 Desember telah mencapai lebih dari 500 ribu orang.
Namun demikian, Anda harus yakin bahwa kalau sesuatu memang sudah bagus, Anda tak perlu lagi menciptakan kontroversi. Simak kasus pesaing film Soekarno (dilihat dari waktu pemutarannya).  Hanya butuh 1 minggu bagi film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck berhasil mencuri perhatian 570 ribu penonton di bioskop. Torehan tersebut terbilang istimewa mengingat banyaknya film-film besar yang ikut menghiasi layar bioskop mulai dari The Hobbit: The Desolation of Smaug hingga Soekarno.
2. Menjual Seks
Ini jelas  dan efektif . Tak perlu Britney, Miley atau Cristina untuk mengingatkan kita tentang hal ini, kaarena begitu banyak hotel, jeans, makanan dan produk lainnya yang berhasil menggelitik kita dengan menampilkan strategi yang membuat orang terperangah karena shock melihat sesuatu. Namun, sekali lagi, hal ini tidak tepat untuk setiap bisnis, tetapi beberapa bisnis, termasuk di kalangan selebriti, memanfaatkan ini dengan baik. Anda pun tidak terlalu disarankan menggunakan taktik ini kecuali untuk produk atau merek tertentu. Itupun harus sesuai dengan norma.
3. Jadikan Sesuatu yang Layak Dikenang
Anda tentu masih ingat dengan Oreo, yang iklannya di puter..di jilat..di clupin… Waktu itu iklan tersebut booming. Banyak sekali iklan-iklan komersil yang ada di media televisi, namun iklan Oreo “diputar..dijilat..dicelupin” tersebut mampu menerobos kerumuman iklan-iklan biskuit bahkan iklan kategori produk lainnya.
4. Gunakan Media Sosial
Sekarang pengguna sosial media sudah mencapai jutaan bahkan miliaran. Terlepas apakah Anda suka atau tidak suka, ada yang mengatakan bila Anda tak menggunakan media sosial, maka pesaing Anda menggunakannya. Bila Anda tak memiki akun media sosial, kapan Anda mengetahui bahwa erek Anda dibicarakan orang. Ini karena orang ngrasani atau mengeluh misalnya, lebih suka mempostingnya melalui media sosial.
5. Publikasikan Demografi Anda
Seperti diketahui, sebagian besar pengkritik Cyrus adalah orang-orang yang berusia di atas 40 tahun. Mereka menhatakan bahwa tindakan Cyrus tidaklah bermoral, tidak layak, dan menuduh Cyrus berada di bawah pengarug obat-obatan. Apakah Cyrus peduli?  Cyrus tidak menjual albumnya ke mereka. Cyrus justru  lebih mengkhawatirkan suara anak muda yang menjadi target pasar albumnya. Nyatanya, remaja menyukai tampilannya. Miley tahu persis siapa pasarnya, dan dia merancang penampilannya itu memang khusus untuk mereka .
Merek lainnya juga harus melakukan yang sama (maksudnya bukan dengan penampilan seperti Miley). Merek harus mengidentifikasi target pasar mereka dan fokus memberi yang mereka inginkan. Anda masih ingat kontroversi tentang beberapa yang belum memiliki sertifikat halal bulan puasa lalu? Sampai saat ini beberapa restoran yang disebut belum bersertifikat halal tak mempedulikannya. Kenapa? Mereka mungkin merasa bahwa orang yang meributkan sertifikat halal bukan target pasar mereka.
6. Jangan Takut Berinovasi
Cyrus menambahkan tato di tubuhnya, memotong rambutnya, dan mengubah citranya dari anak-anak yang polos menjadi seperti yang sekarang. Tidak semua dari kita perlu melakukan perubahan secara radikal dengan  mengubah penampilan atau membuat kejutan budaya. Tetapi lingkungan bisnis, termasuk selera konsumen selalu berubah. Sebuah produk tentu harus mengikuti perkembangan dan beradaptasi sehingga produknya  pas dengan waktu dan selera konsumen.
Tak seorang pun ingin menjadi Oldsmobile , eToys , computer Wang atau Lehman Brothers yang kini tinggal jadi catatan sejarah. Tapi bagaimana merek atau produk harus menemukan kembali jati dirinya dan beradaptasi. Dalam beberapa tahun atau bulan ke depan -- ketika Miley tidak bisa mendapatkan perhatian orang karena tato atau potongan rambutnya , ketika menari cabul tak lagi diminati dan tak lagi mengejutkan dan dia kehilangan kemampuan untuk mengejutkan kita -- mungkin saja para jurnalis menunggu untuk wawancara atau konferensi pers, akan melihat Miley muncul dalam setelan bisnis.

Kita tunggu apakah dia akan mengatakan bahwa stunts yang selama ini membuatnya terkenal hanyalah sebuah fase, dan sekarang dia berontak dengan mengatakan dia ingin dianggap sebagai seorang seniman serius. Saya yakin karena seperti yang ditulis sebelumnya, Miley Cyrus yang sekarang bukanlah Miley yang sebenarnya. Dia sekarang melakukan itu hanyalah ingin memaksimalkan pencapaian tujuan PR dia.

Bagaimana Penyanyi Britney Spears Memainkan Twitternya?

Dia adalah salah satu bintang pop terbesar di planet ini. Tapi sang bintang, Britney Spears, menderita kecemasan sosial, rasa malu intens, saraf, menyalahkan diri sendiri dan selalu khawatir. Dalam edisi E! documentary terbaru, I Am Britney Jean, megabintang berusia 32 tahun secara terbuka mengungkapkan bagaimana perbedaan antara gemuruh aksi panggungnya dan kehidupan dia sebenarnya.
"Saya selalu agak malu, karena aku adalah seorang gadis kecil. Itulah aku yang sederhana. Jadi saya benar-benar tidak bisa menahannya, " kata penyanyi Gimme More itu sambil meremas-remas tangan dan dengan wajah cemberut menatap langit-langit saat diwawancarai.
Realitasnya, Britney selalu akrab dengan penggemarnya. Melalui media sosialnya Britney selalu meladeni pertanyaan penggemarnya yang disampaikan melalui Twitternya.

Saat konser residensi Britney Spears bertema "Piece of Me" sukses digelar di Las Vegas, Jumat, 27 Desember 2013, Britney memainkan twitternya untuk mengucapkan terima kasih kepada teman-temannya. Malam konser itu begitu spesial bagi Spears karena dia mendapat banyak dukungan dari keluarga dan rekan-rekannya sesama penyanyi yang turut hadir dalam konser tersebut, seperti, Miley Cyrus, Selena Gomez, dan Katy Perry.
Bagi pelantun Toxic itu, dukungan dari rekan-rekannya pada malam itu merupakan hal yang sangat penting bagi hidupnya. Melalui akun Twitternya resminya, @Britneyspears, Spears pun berterima kasih kepada teman-temannya.
Spears menyebutkan Cyrus dalam cuitnya, "@MileyCyrus Sangat sayang padamu! Terima kasih telah datang ke #PieceOfMe! Aku mengagumimu :)". Dan kepada Katy Perry, Spears menulis, "@KatyPerry Sangat senang bisa bertemu dengan Anda lagi! Senang kita bisa membuat tanggal ini terjadi di Vegas :)". 


Tak hanya itu, Spears juga mendapatkan hadiah spesial dari penyanyi legendaris Celine Dion yang juga mendoakan yang terbaik bagi Spears karena telah menyelesaikan konser residensinya. Celine pun mengirimkan seikat besar bunga kepada Spears. "@Britneyspears: Bunga-bunga yang paling indah yang pernah saya lihat. Terima kasih @CelineDion", cuit Spears.
Membawakan 23 lagu anyarnya, Spears berhasil menghibur para fan setianya. Bahkan Spears memberikan penonton rasa nostalgia dengan mengenakan beberapa pakaian yang terkenal dari pertunjukan paling berkesan di masa lalunya. Semua mata yang hadir di Planet Hollywood Resort and Casino pun tertuju pada panggung malam itu.

Konsultan PR di Balik Manuver Putin

Sepanjang tahun 2013, Presiden Rusia Vladimir Putin telah menunjukkan dirinya sebagai seorang master of public relations. Putin yang dijuluki sebagai politisi yang tidak pernah melakukan sesuatu tanpa agenda, mencetak poin politik dunia yang sangat penting setelah pencalonannya untuk menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin diprotes banyak negara termasuk Amerika Serika Serikat dan Perancis.
Sekarang, Putin, yang disebut Forbes sebagai orang paling berpengaruh di dunia politik sejumlah maneuver politik yang bisa jadi membuat dia dilihat sebagai orang yang peduli tentang isu-isu kemanusiaan. Di pengujung tahun ini, Putin mengambil langkah dramatis dengan memberikan amnesti kepada ribuan tahanan politik.
Namun, alih-alih Putin merengkuh nilai positif, tidak sedikit pihak yang justru menyatakan amnesti itu sekadar usaha Presiden Vladimir Putin mencari muka dunia seiring dengan perhelatan Olimpiade Musim Dingin yang berlangsung di Rusia pada Februari 2014. Bebasnya tokoh oposisi populer di Rusia, Mikhail Khodorkovsky, serta dua personel band feminis punk Pussy Riot, yakni Nadezhda Tolokonnikova dan Maria Alyokhina, dari penjara langsung menjadi sorotan dunia tentang masih adanya tahanan politik di negara yang akrab disebut Negeri Beruang Merah tersebut. Meski tidak ada seorang pun di antara ketiganya yang divonis dalam kasus kejahatan politik, aroma politis terasa kuat melatarbelakangi proses hukum mereka.


Bukan hanya dua kasus tersebut, ternyata sejumlah kasus lainnya juga menebarkan aroma politis yang kuat. Misalnya, kasus Alexei Navalny, seorang aktivis antikorupsi yang menjadi pemimpin gerakan oposisi terpopuler anti-Presiden Vladimir Putin. Meski Alexei hanya dipenjara semalam, kasusnya menggambarkan secara jelas sistem hukum Rusia yang politis, tidak dapat dipercaya, dan menjadi boneka eksekutif. ''Semua yang saya tahu tentang kasus ini mengonfirmasi bahwa kita tidak memiliki pengadilan yang independen,'' tegas mantan Pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev setelah vonis terhadap Alexei dibacakan.
Berdasar data Associated Press, otoritas menjatuhkan dakwaan yang mengada-ada dan tidak tepat terhadap Navalny, yang saat itu bekerja sebagai penasihat seorang gubernur tanpa digaji. Dia dituduh merencanakan pencurian kayu senilai USD 500 juta dari sebuah perusahaan milik negara. Tidak ada seorang pun manajer di perusahaan tersebut yang menjadi saksi dalam sidang itu untuk mendukung tuduhan tersebut. Kecuali seorang yang pernah diusulkan Navalny untuk dipecat.
Navalny divonis lima tahun penjara pada Juli lalu. Namun, tidak lama kemudian, dia dibebaskan dari penjara karena jaksa meminta Navalny menunggu proses banding dalam kondisi bebas. Pembebasan tersebut, berdasar analisis pengamat politik, adalah salah satu kiat Putin untuk meredam gejolak. Sebab, ada spekulasi, bila Navalny tetap dipenjara, oposisi akan semakin kuat.
Navalny terdaftar sebagai kandidat wali kota Moskow dan diperbolehkan ikut pemilu sampai masa pengajuan bandingnya berakhir. Meski Navalny kalah dalam pemilu wali Kota Moskow pada September lalu dengan menempati posisi kedua, perolehan suaranya jauh lebih tinggi daripada perkiraan semula. Sepekan setelah pemilu, Badan Penyelidik Rusia mengajukan tuntutan baru kepada Navalny. Kali ini adalah kasus dugaan penipuan terhadap perusahaan kosmetik asal Prancis.
Kasus beraroma politis lain juga menimpa Platon Lebedev. Dia adalah sahabat Khodorkovsky. Sosoknya dikenal sebagai pemimpin Grup Menatep, perusahaan induk yang mengontrol saham perusahaan minyak Grup Yukos milik Khodorkovsky. Lebedev didakwa bersama Khodorkovsky selama sidang pada 2005 dan 2011.
Meski Lebedev tidak terlihat menonjol jika dibandingkan dengan Khodorkovsky sebelum penangkapannya pada 2003, kedekat­an mereka membuat Kremlin yakin bahwa bisnis keduanya merupakan sumber dana utama sejumlah partai oposisi dan para politikus anti-Putin. Amnesti Internasional menjuluki Lebedev sebagai ''tahanan politik mulia''.
''Yang bisa saya perjuangkan saat ini adalah membantu pembebasan para tahanan politik lainnya di Rusia. Ya, tahanan politik masih ada di Rusia,'' ujar Mikhail Khodorkovsky.
Selain itu, kasus Arktik 30 menyedot perhatian dunia tentang cara Rusia menghargai perbedaan pendapat. Sebanyak 30 aktivis Greenpeace ditangkap pada September lalu setelah berdemo menolak pembangunan kilang minyak lepas pantai Rusia di Laut Arktik.
Aroma politisnya bukan pada sisi demonstrasi, namun urusan industri gas dan minyak yang selalu berkaitan erat dengan politik Rusia. Itulah sumber pundi-pundi kekayaan yang membanjiri wilayah-wilayah tertentu di Rusia. Aspek kemakmuran tersebut menjadi alasan utama Putin mempertahankan kekuasaan.
Ditambah lagi, aksi aktivis Grrenpeace itu menantang citra Putin sebagai sosok yang mencintai alam dan peduli dengan ekologi Rusia. Demonstran menyatakan bahwa pengeboran minyak lepas pantai mengancam stabilitas ekologi di Arktik.
Pada Kamis (26/12), Rusia membatalkan dakwaan terhadap aktivis Greenpeace. Keputusan tersebut menyusul dikeluarkannya pengampunan hukum yang didukung Kremlin. Semua aktivis telah dibebaskan selang tiga hari setelah Khodorkovsky dan dua personel Pussy Riot juga diampuni.
Kasus lainnya adalah peristiwa Bolotnaya. Dalam kasus tersebut, sekitar 30 aktivis ditangkap pada Mei 2012 setelah terlibat bentrokan de­ngan polisi di lapangan Bolotnaya, Moskow, di malam pelantikan Putin untuk periode ketiga. Beberapa di antaranya diancam hukuman 10 tahun penjara jika terbukti bersalah. Empat di antara mereka mendapat amnesti pekan lalu. Beberapa menjalani tahanan rumah. Namun, sebagian besar telah dipenjara selama satu setengah tahun.
Pemberian amnesti tersebut menjadi kabar baik bagi mereka, tetapi kabar buruk untuk demokrasi Rusia. Artinya, dalam konteks sistem hukum yang berlaku, keputusan tertinggi tetap berada di tangan presiden.
Sebagaimana penegasan dari Maria Alekhina, obral amnesti yang didukung pemerintahan Putin dianggap tidak terkait dengan masalah kemanusiaan. ''Ini bukan amnesti. Ini hanyalah omong kosong dan upaya memperbaiki citra,'' tandasnya
Selama bertahun-tahun, Putin telah melakukan atrasi public relations mulai dari melintasi Xiberia tanpa kemeja hingga menyelam ke dalam laut - atau menemukan dua bejana kuno. Pria itu mengerti PR dan sangat bagus dalam hal itu.
Siapa Konsultan PR di Balik Putin?
April 2011, Putin pernah mendapat pertanyaan yang setengah menyanjung dia dari seorang jurnalis Amerika. "Apakah Anda seorang lelaki paling keren di politik?" Wawancara itu ditayangkan di situs majalah Outdoor Life yang didirikan oleh Ketchum Inc, perusahaan konsultan PR yang telah bekerja untuk memoles citra Rusia sejak tahun 2006.
Pada hari Kamis, September lalu, Ketchum mencetak rekor PR untuk Putin. Ketchum berhasil mengusahakan penempatan komentar Putin di halaman pendapat The New York Times, saat perwakilan dari Rusia dan Amerika Serikat bertemu di Jenewa guna merundingkan rencana penyerahan senjata kimia Suriah.
Artikel ini membuat gebrakan di Washington. Putin melukis dirinya sebagai pembawa damai dan mengajari Amerika Serikat dengan mengatakan kecenderungan negara itu menggunakan "kekerasan" dalam perselisihan dunia. Ketua DPR AS John Boehner mengatakan bahwa dia merasa “terhina” oleh artikel tersebut, sementara Gedung Putih mencatat bahwa Putin mengambil keuntungan dari kebebasan pers yang tidak pernah ada di Rusia .
Ketchum adalah sebuah sebuah divisi dari Omnicom Group Inc. Perusahaan ini, menurut dokumen Departemen Kehakiman AS seperti dikutip Reuters (13/09/2013) menerima lebih dari $ 25 juta untuk pekerjaan memoles Rusia itu. Rusia juga telah membayar lebih dari $ 26 juta sejak tahun 2007 untuk mempromosikan Gazprom, perusahaan gas milik negara Rusia.
Pada 2007, Ketchum berhasil melobi majalah Time untuk menominasikan Putin sebagai  "Person of the Year." Dokumen Departemen Kehakiman AS itu juga mengungkapkan lobi dengan menjelaskan soal pertemuan antara perwakilan Ketchum dan staf Time. "Dia sudah memperluas jangkauan pengaruhnya pada masalah global," tulis Majalah Time tentang Putin.
Sementara itu, demikian isi lain dari dokumen Departemen Kehakiman tersebut, staf Ketchum mendesak Departemen Luar Negeri untuk melunakkan penilaian atas catatan hak asasi manusia Rusia tahun itu. Ketchum juga telah mengulurkan bantuan kepada wartawan yang telah menulis artikel tentang pelanggaran hak asasi manusia Rusia.
Upaya Rusia untuk meningkatkan citra Rusia  di mata media AS juga dilakukan ketika Rusia menindak aktivis hak asasi manusia di rumahnya. Ketchum juga mendorong wartawan, termasuk yang di Reuters, untuk menulis tentang KTT Perdagangan di Rusia, perusahaan teknologi, golf dan gulat, serta Olimpiade Musim Dingin 2014 di Sochi, Rusia.

Pertanyaan Reuters soal semua itu, dijawab Ketchum dengan pernyataan umum, bahwa kerja dengan pemerintah Rusia lebih difokuskan pada "memfasilitasi hubungan antara wakil-wakil dari Federasi Rusia dan media Barat serta menciptakan dialog yang lebih luas."

Jumat, 27 Desember 2013

Mengapa Pelanggan Mencintai atau Membenci Merek Anda?

Pada akhir Mei 2000, acara reality di televisi, Survivor, mencapai debutnya ketika ditonton oleh 15 juta pemirsa rumah tangga di Amerika. Acara ini menawarkan secara sekilas tentang kehidupan sevuah suku di masa lalu dengan tawaran hadiah $ 1 juta untuk pemenang. Ini diluncurkan segera setelah Memorial Day, pada awal musim panas yang peringkatnya lesu.


Namun, pada saat Survivor mencapai final putaran pertama pada akhir Agustus, pemirsanya melonjak menjadi lebih dari 51.000.000 pemirsa, suatu jumlah pemirsa yang menduduki peringkat kedua di tahun itu setelah Super Bowl. Selama belasan tahun berikutnya, Survivor terbukti masih menjadi salah satu acara yang paling tahan lama peringkatnya untuk jaringan siaran CBS. Survivor juga melahirkan reality show-reality show tiruan lainnya.
Apa yang membuat Survivor menjadi begitu popular? Mungkinkah karena acara itu berhasil membawa pemirsanya memasuki sesuatu yang menghargai perjuangan-manusia purba untuk bertahan hidup dan keterampilan yang luar biasa yang kita miliki untuk memahami, menilai, dan membentuk hubungan yang saling mendukung untuk bertahan hidup? Survivor dan semua penirunya menawarkan kepada kita wawasan ke dalam sesuatu yang abadi yang merupakan esensi manusia dan berakar pada masa prasejarah kita. 
Psikolog sosial menyimpulkan bahwa manusia primitif dipaksa berjuang untuk mempertahankan eksistensi mereka, untuk membangun kemampuan bawah sadar untuk membuat dua jenis penilaian spesifik dengan kecepatan tinggi dan akurasi yang memadai: Apa yang diinginkan orang lain dari saya? Bagaimana mereka mampu melaksanakan niat tersebut? Hari ini kita menilai orang lain melalui dua kategori persepsi sosial secara bersamaan, yang dikenal sebagai kehangatan dan kompetensi.
Ketika Domino Pizza (DPZ) memperkenalkan resep pizza baru pada akhir tahun 2009, Chief Executive Officer Patrick Doyle mengambil langkah yang tidak biasa. Dia muncul di iklan TV untuk menawarkan pelanggan permintaan maaf bahwa  resep Domino yang lama masih belum begitu baik. Pada kuartal pertama 2010,  Domino mencatat peningkatan pendapatan tertinggi dalam sejarah industri makanan cepat saji.
Daya tarik Domino kampanye "Pizza Turnaround" adalah terletak pada tawarannya pada beberapa wawasan esensi menjadi manusia. Riset mengatakan bahwa, berkat perjuangan untuk bertahan hidup nenek moyang kita, kita semua bergantung pada primal, kemampuan bawah sadar untuk cepat sampai ukuran lain menurut dua kategori tertentu dari persepsi, yakni kehangatan dan kompetensi.
Sosial psikolog percaya sebanyak 82 persen dari penilaian sosial kita sehari-hari dapat diprediksi dengan penilaian instan dari dua pertanyaan ini: Apa maksud dari orang lain ini terhadap saya? Bagaimana orang ini mampu melaksanakan niat tersebut? Tanpa disadari, kita menerapkan penilaian seperti kehangatan dan kompetensi dalam semua hubungan kita, termasuk yang melibatkan perusahaan dan merek. Kehangatan dan kompetensi mendefinisikan apa yang disebut "The Human Brand," dan dalam hal ini, Domino memberikan pesan yang menarik dengan meminta maaf untuk masa lalu sekaligus menawarkan sesuatu yang baru, yakni perbaikan produk
Apa yang dapat kita tarik benang merah dari dua ilustrasi diatas adalah gagasan bahwa pada dasarnya perusahaan juga seperti orang juga.  Dimana-mana orang selalu menggambarkan hubungan mereka dengan merek melalui berbagai macam cara. Secara pribadi kita membenci sebuah merek bank kami, mencintai smartphone, dan memikirkan perusahaan TV kabel keluar tentang bagaimana caranya mereka bisa berlangganan. 
Apa yang sebenarnya terjadi di dalam otak kita ketika melakukan penilaian ini? Melalui penelitian, pakar loyalitas pelanggan Chris Malone dan psikolog sosial Susan Fiske menunjukkan bahwa orang berhubungan dengan perusahaan atau merek, dan bahkan produk mati dengan cara yang sama yang merek persepsikan, nilai, dan sikapi satu sama lain .
Itu bisa jadi kabar baik. Kabar buruknya, menurut para psikolog, itu berarti pelanggan menilai perusahaan seperti halnya mereka menilai orang juga. Malone sebagai penulis pendamping buku The Human Brand: How We Relate to People, Products, and Companies mengatakan bahwa pelanggan membuat penilaian mereka langsung terhadap perusahaan dan produk mereka melalui "kehangatan dan kompetensi" yang mereka rasakan - atau tidak merasa – dari sebuah merek. 
Karena orang menilai perusahaan sebagaimana mereka menilai seseorang, maka agar sukses, perusahaan perlu bekerja melalui hubungan pribadi dengan pelanggan mereka. Berdasarkan penelitian yang mereka lakukan, lebih dari 50 persen dari niat pembelian dan loyalitas pelanggan dapat dijelaskan oleh dua persepsi dasar manusia ini, sebelum mempertimbangkan tentang fitur atau manfaat. Sebagai pelanggan, mereka akan berpikir tentang "Saya mendapatkan siapa Anda sebenarnya, dan apa sih Anda itu sebenarnya.” Inilah esensi dari buku ini, kehangatan dan kompetensi.

Data Buku: 
Judul Buku: The Human Brand: How We Relate to People, Products, and Companies
Penulis: Chris Malone, Susan T. Fiske
Penerbit: Jossey-Bass, September 2013
Tebal Buku: 208 halaman

Senin, 23 Desember 2013

Jurus Mengadakan Konferensi Pers - 1

Ada adegium dalam dunia public relations, terutama yang beraitan dengan konferensi pers dan siaran pers. Salah satunya adalah praktisi public relation diajak untuk berpikir dan bertindak seperti halnya Anda seorang wartawan atau berempatilah sebagaimana seorang wartawan.
Kemarin, untuk pertama kali dalam 15 tahun terakhir (saya ingat persis saya ikut jumpa pers terakhir di Indonesia saat pengumuman penutupan beberapa bank oleh pemerintah. Yang mengumumkan saat itu Menteri Keuangan Fuad Bawazier), saya mengikuti konferensi pers. Temanya adalah tentang perubahan nama dan logo sebuah perusahaan. Lama sekali sementara kita tahu perkembangan teknologi telah mengubah secara drastis tool dan praktek public relations, terutama dalam kaitannya dengan konferensi dan siaran pers. 
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perubahan yang terjadi dalam kaitannya dengan siaran pers. Ini terutama dalam beberapa bulan terakhir setelah adanya update algoritma Google. Sementara siaran pers masih hidup dan sehat, bahkan sangat berguna, tidak diragukan lagi bahwa siaran pers memang masih dalam masa transisi. Itulah sebabnya kondisi itu akan menjadi ide yang baik untuk menlihat beberapa pedoman ketika Anda menulis siaran pers.
Kembali ke konferensi pers yang saya ikuti tadi, itu adalah tentang perusahaan besar. Bagaimana tidak besar karena omsetnya sudah triliunan, untungnya miliaran. Jangan lagi bicara soal aset. Acara diselenggarakan di lantai 16 sebuah hotel berbintang lima di jantung kota Jakarta. Penyelengaraanya atau organizing committenya sebuah perusahaan PR agency ternama dinakhodai oleh tokoh PR ternama pula.
Acaranya keren memang, pas jadwal dan tertib. Begitu masuk waktu, sat para eksekutif yang memberi keterangan harus menghadiri acara seremoni di lantai lain gedung yang sama, ada acara makan-makan (meski belum masuk jam makan siang) dan door prize. Saya sendiri percaya diri, begitu konferensi pers selesai langsung cabut sambil menenteng goody bag. Saya yakin isinya materi lengkap sehingga pas menulis laporan saya tak perlu repot-repot lagi.
Namun ketika saya buka, isinya ternyata sebuah siaran pers sebagai bahan diskusi saat konferensi pers, souvenir berupa gantungan kunci, pulpen, dan name card box, plus sebuah kalender meja. “Untuk apa ya barang-barang ini?” tanya saya dalam hati. Apakah tidak bermanfaat kalau isinya flashdisk yang berisi data tentang perusahaan dalam kaitannya dengan corporate action yang akan dijelaskan kepada wartawan plus foto-fotonya.   
Saya akui, saya telat datang sekitar 10 menit sehingga pas datang acara sudah dimulai bahkan sudah sesi jawab. Sepertinya konferensi pers dimulai tepat waktu. Paling tidak hal ini menunjukkan bahwa penyelenggara hormat terhadap tenggat waktu wartawan. Moderator juga mampu menjaga agar diskusi tetap mengalir, tidak terlibat dalam acara perkenalan yang panjang atau mengulang informasi yang ada dalam press kit.
Konferensi pers juga tidak terlalu lama, sekitar 45 menit, termasuk Tanya jawab. Moderator selalu meminta wartawan untuk menyebut identitas diri mereka sebelum mengajukan pertanyaan dan  mengulang pertanyaan bila kurang jelas sehingga semua orang bisa mendengarnya.
Namun saya bisa menangkap suasana tanya jawab yang kurang lengkap acara itu. Sebagai seorang jurnalis sebuah media dengan liputan tentang marketing communications, termasuk di dalamnya tentang public relations, saya merasa penjelasan tentang perubahan nama dan logo perusahaan itu dari sisi marcomm belum banyak dibahas.      
Ketika sang eksekutif menjelaskan tentang target yang ingin dicapai tahun depan, saya memberanikan diri untuk bertanya seputar target tersebut. Kebetulan saya lihat tidak ada lagi wartawan yang bertanya. Pertanyaan saya sederhana, apakah target itu dibuat dengan sumsi perusahaan melakukan ekspansi pasar atau meningkatkan penggunaan per pelanggan yang sudah ada?
Kedua, melihat alasan perubahan nama tersebut terkait upaya perusahaan meningkatkan layanan dan kebutuhan pelanggan, maka saya bertanya apakah hubungan antara perubahan nama dan peningkatan layanan? Soal ini, dijawab sedang dalam proses, termasuk upaya mempercepat layanan yang dibutuhkan pelanggannya. Semua dijawab sedang dalam proses.
Jawaban itu tentu tak memuaskan.Itu sebabnya daya berharap ada bahasan tentang hal itu dalam goody bag yang dibagikan. Nyatanya tak ada. Jadi bayangan saya tentang perubahan pola kerja praktisi public relations hamper meleset. Yang saya alami hari itu tidak ubahnya seperti yang saya alami 15 tahun lalu ketika jaman internet masih baru, belum ada sms, dan email belum lancar benar.
Sementara saat ini teknologi pendukung pengiriman informasi secara cepat tersedia baik melalui tablet atau blackberry. Jadi informasi akan lebih cepat tersaji bila EO menyediakan semacam flasdisk yang isinya selain data tentang perushaaan juga ada semacam pers release yang dalam istilah jurnalis sehari-hari press klar. Tulisan tinggal kirim. Kalaupun ada perubahan tergantung pada selera dan tujuannya.
Bayangan saya bahwa saya bisa upload berita dari lokasi bisa saya lakukan, nyatanya tidak terwujud. Ini karena saya harus mengetik ualng semua informasi baik yang ada di goody bag maupun dari diskusi. Tak ada meja untuk mengetik karena saya masih tradisional dalam menggunakan laptop. Saya lihat wartawan media online memang sudah mengirim beritanya. Namun bayangan saya, informasimya tak akan jauh beda satu sama lain. Saya sendiri ingin tulisan atau laporan tesebut lenbih tematik terutama terkait perubahan nama dan logo dengan bahasan implikasi dari perubahan tersebut. Toh itu belum kesampaian.      
Seperti diketahui, tujuan utama konferensi pers adalah untuk membuat pekerjaan jurnalis lebih mudah. Wartawan mendapat informasi yang bagus dan lengkap, foto dan informasi lainnya sesuai dengan bidang liputannya. Itu sebabnya sebaiknya dalam konferensi pers sebaiknya dibagi menurut kategori wartawan yang diundangnya.
Konferensi pers peluncuran produk baru misalnya. Produk baru itu memiliki dimensi teknologi, bisnis, pemasaran, keuangan dan sebagainya misalnya. Karena itu, undangan konferensi pers untuk menjelaskan soal keuangan sebaiknya yang diundang adalah wartawan untuk keuangan, pemasarn juga demikian. Kalau pun harus disatukan, informasi yang masuk dalam press kit juga harus mencakup semuanya.
Siaran pers memang isinya berupa ringkasan cerita, fakta-fakta penting dan pemain kunci, foto pemain kunci. Namun jangan lupa dalam siaran pers tersebut sebaiknya juga dilampirkan lembar fakta termasuk salinan dari setiap grafik atau diagram yang disajikan selama konferensi pers. Juga ada informasi tentang kontak yang bisa dihubungi bila wartawan ingin mendapatkan informasi lebih lanjut dan permintaan wawancara. Sayangnya, dalam konferesi pers kemarin, yang terakhir ini tidak terjadi. Narasumber menolak ketika dimintai nomor kontaknya.

Semua informasi tersebut seyogyanya pula diberikan dalam bentuk softcopy. Ini karena saat ini banyak wartawan yang sekarang bekerja di lingkungan digital, sehingga sangat membantu jika press kit berupa dokumen dan foto dimasukkan dalam salinan digital. Bisa CD-ROM atau flashdisk yang isinya bisa mencakup materi promosi lainnya seperti iklan TV, video dan file audio, dan logo resmi dan gambar.

Kekuatan dan Kelemahan Beriklan Facebook dan Twitter

Iklan melalui media sosial pada 2014 bisa dipastikan makin marak. Ada adegium yang dianut banyak pemasar, bila Anda tidak ikut, orang lain akan mengambilnya. Nah, kalau memang Anda ingin mengambilnya, maka coba perbandingkan kelebihan antara satu apikasi media sosial dengan yang lainnya yang saya kutip dari Larry Kim is the founder/CTO of WordStream Inc. Berikut sekadar perbandingan singkat kekuatan dan kelemahan Facebook dan Twitter, dua media sosial yang sampai saat ini masih dominan.

1. Twitter vs Facebook: Network Reach (Jangkauan Jejaring)
Dalam hal jangkauan jejaring, Facebook mengalahkan Twitter. Facebook memiliki 1,15 miliar pengguna aktif, sementara Twitter hanya memiliki 232 juta pengguna aktif. Meskipun harus diakui bahwa untuk pengguna aktif Twitter jauh lebih senang berbagi ketimbang Facebook. Setiap hari, pengguna twitter melepas 500 juta tweet per hari. Ini berarti setiap pengguna aktif meluncurkan dua tweet sehari. Akan tetapi, jika diihat secara total postingan, pengguna postingan di Facebook masih jauh lebih banyak ketimbang Twitter. Jumlah postingan di Facebook mencapai 4,75 miliar sehari.


2. Twitter vs Facebook: Kinerja Iklan
Sejatinya sulit melacak data tentang kinerja iklan. Ini karena seringkali data yang dipublikasikan berbeda dengan yang sebenarnya. Namun, sebagai pendekatan data di bawah ini bisa menjadi patokan. Sebagai contoh, cost per click (CPC) iklan di Facebook adalah $ 0,50. Informasi ini sulit diperbandingkan karena Twitter tidak merilis data kinerja iklannya.  
Menurut Adweek, tingkat keterlibatan (engagement, disini termasuk favorit, re-tweet, replies, klik, dll) untuk iklan Twitter bisa mencapai 1-3 %. Ini berarti jauh lebih tinggi ketimbang rata-rata click-through rate (CTR) Facebook yang hanya 0,119 %. CTR dihitung dengan membagi frekuensi iklan Anda ditayangkan (impressions), dengan jumlah frekuensi iklan tersebut diklik orang.
Ini berarti Twitter mengalahkan Facebook. Akan tetapi jangan lupa Facebook memperbaikinya dengan menyediakan fasilitas Sponsored Stories ads. Ini seperti fasilitas Tweets Promoted seperti yang ada di Twitter dan telah diperhitungan sebagai adalah sebagai engagement.
Pengiklan akan melihat cost-per-thousand impressions (CPM) secara signifikan lebih tinggi di Twitter , di $ 3,50, dibandingkan dengan hanya $ 0,59 di Facebook. Data tersebut memperlihatkan bahwa biaya iklan di Twitter masih lebih mahal ketimbang di Facebook. Dengan logika itu, berarti iklan di Twitter biayanya hamper tujuh kali daripada beriklan di Facebook.
Kita juga bisa membuat perbandingan apple-to-apple pada pendapatan per pengunjung (revenue per visitor, RPV). Seperti yang dapat dilihat pada grafik di bawah, pendapatan per pengunjung Facebook mencapai $ 0,93 atau lebih tiggi ketimbang Twitter yang hanya $ 0,44. Namun demikian, Twitter terus memperbaiki diri. Ini dapat dilihat dari pertumbuhan RPV Twitter yang bila dilihat dari tahun ke tahun mencapai 300%, sementara Facebook cuma 39 %.
Facebook juga kehilangan pangsa sosial (share of social) yang dirujuk oleh tingkat kunjungan. Dari tahun ke tahun share of social Facebook turun 20 % sehingga kini tinggal 62 %. Di sisi lain, kunjungan sosial Twitter meski saat ini hanya 6,8 %, namun pertumbuhannya mencapai 258 % tahun ini.


3. Twitter vs. Facebook: Mobile Ad Performance

Untuk kinerja iklan mobile, Twitter memiliki keunggulan. Ini karena Tweets Promoted yang berada di-stream dan karena itu dilihat dan dirasakan secara alami oleh pengguna ponsel. Di sisi lain, Facebook tidak memiliki aplikasi iklan di Facebook mobile tidak seperti di Twitter mobile. Facebook hanya memiliki satu format iklan native di app (App Promosi Ad), sementara iklan di Twitter bisa muncul baik di desktop dan mobile. Ini bisa jadi merupakan keuntungan tersendiri bagi Twitter


Jumat, 20 Desember 2013

Kasus PR Paling Menghebohkan Sepanjang 2013

Sepanjang 2013, terjadi berbagai kasus Public Relatoins (PR) yang mengancam dan bahkan  mencoreng citra perusahaan, individu, dan institusi pemerintah.  

Pada institusi pemerintah,  terungkapnya kasus korupsi yang melibatkan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar merupakan kasus paling menghebohkan yang melanda ranah peradilan di Tanah Air. Kasus ini jelas mencoreng moreng citra MK sebagai lembaga peradilan yang jujur, adil, dan berwibawa.

Kepercayaan masyarakat sekejap sirna setelah Ketua MK dinyatakan tersangka dan kini tengah menjalani proses peradilan. Akil Mochtar ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus sengketa hasil Pemilu Kepala Daerah di Kabupaten Gunung Mas (Kalimantan Tengah) dan Kabupaten Lebak (Banten).

Citra MK kini di ujung tanduk. Perlu ekstra kerja keras untuk mengembalikan  citranya sebagai pilar penegak konstitusi. Jelas butuh waktu panjang untuk merehabilitasi citra instiitusi tersebut lantaran kepercayaan rakyat terlanjur ternodai oleh perbuatan sang ketua MK.

Kasus tersebut hanya satu dari sekian banyak kasus PR yang terjadi sepanjang tahun 2013. MIX mencatat sedikitnya terdapat 13 kasus PR yang mengancam reputasi dan citra perusahaan, individu, dan institusi pemerintah.  Berikut catatannya:  


1.               Kemelut Politik di Partai Demokrat
Pangung politik masih menyita perhatian publik. Fokus perhatian publik  tertuju ke Partai Demokrat dengan mencuatnya kasus perseteruan mantan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum dengan Ketua Dewan Pembina Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono yang juga menjabat presiden. Kemelut tersebut menurunkan citra Demokrat dan menyudutkan Presiden SBY yang dianggap mencampuradukan perannya sebagai presiden dan kepentingan partai. Terlebih lagi, sosok Anas yang “pentolan” Parta Demokrat juga terseret kasus korupsi dana pembangunan fasilitas olahraga Hambalang dan politik bagi-bagi uang kepada kader Demokrat untuk meluruskan jalan Anas ke tampuk pimpinan Demokrat.  Kemelut di tubuh Partai Demokrat akan mempengaruhi perolehan suara menjelang pesta demokrasi Pemilu 2014 mendatang.

2.     Kemenag Tersandung Korupsi  Pengadaan Al Quran
Kementerian Agama (Kemenag) dicitrakan sebagai institusi yang “steril” terhadap segala perbuatan “dosa”. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Kasus terungkapnya korupsi proyek pengadaan kitab suci Al Quran dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBN) sektor Pendidikan tahun anggaran 2011-2012 yang melibatkan tersangka Ahmad Jauhari memupus citra Kemenag tersebut. Tersangka Ahmad Jauhari adalah Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag. Kasusnya memang sudah ditangani oleh pengadilan Tipikor dan menyeret pelaku ke tahanan, namun perbuatan pelaku mencemari citra Kemenag. Perlu effort ekstra untuk merehabilitasi citra Kemenag yang sudah terlanjur dicap publik sebagai instisusi “steril dari dosa” tapi dihuni pejabat yang “berdosa”. 

3.     Naskah Terlambat, Ujian UN Tertunda
Penyelenggaraan Unjian Nasional (UN) tingkat SMA tertunda akibat naskah soal ujian terlambat dikirim ke sekolah. Inilah peristiwa yang paling menghebohkan sekaligus paling menyedihkan yang melanda pendidikan Indonesia. Ini juga yang baru pertama kali terjadi. Akibat keterlambatan tersebut, ribuan siswa SMA di berbagai daerah kecewa karena tidak bisa ikut ujian tepat waktu. Citra dan reputasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan pendidikan di tingkat sekolah menengah atas praktis ternodai. Untuk menebus kesalahan, sejumlah kalangan masyarakat menuntut agar Menteri Dikbud Muhammad Nuh dicopot dari jabatannya.  

4.     BB Diterpa Isu Bangkrut
Gadget keluaran Kanada Blackberry (BB) diterpa isu bangkut. Isu tersebut dipicu oleh angka penjualannya yang mengalami penurunan drastis di pasar internasional. Serta merta isu tersebut berhembus ke Indonesia yang mengakibatkan reputasinya sempat tercoreng. Angka penjualannya  di Indonesia juga sempat anjlok.
Dari sisi persaingan, BB relatif kalah bersaing dengan Samsung yang mengaplikasikan Android. Begitu pun dari sisi harga, pada beberapa seri BB memiliki harga mahal dengan spesifikasi yang relatif biasa. Sementara Samsung dengan Android-nya membanderol harga yang lebih murah dengan spesifikasi yang mumpuni.      
Isu kebangkrutan makin meruncing pada medio 2013 sehingga Research In Motion (RIM) selaku produsen BB  merilis ponsel  terbarunya  untuk menghadang isu tersebut. Perlu effort dari manajemen RIM  untuk mengikis isu BB bangkrut di Indonesia kalau tidak ingin produknya ditinggalkan konsumen dan beralih ke Samsung yang sedang “booming” di Indonesia.
 
5.     PKS dan Kasus Suap Impor Daging
Citra Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terpuruk dengan terungkapnya kasus suap pengurusan kuota impor daging sapi di Kementerian Pertanian yang melibatkan Lutfhi Hasan Ishaaq, tokoh PKS. Pemberitaannya  gencar di media massa dan publik terus mengikuti perkembangna kasusnya. Terlebih dengan kehadiran para wanita cantik, termasuk kalangan artis yang menerima hadiah dari tersangka, membuat kasusnya makin menarik untuk disimak. Kasusnya termasuk terheboh sepanjang tahun 2013 dan citra PKS semakin terpuruk. Kementerian Pertanian pun citranya ikut tercemar dan dinilai publik sebagai institusi yang rawan terjadinya korupsi. Citra PKS yang tercoreng akibat kadernya tersandung kasus suap impor daging tersebut diprediksi akan mempengaruhi perolehan jumlah suara dalam Pemilu 2014.   

6.     AP Didera Kasus Listrik Bandara Soetta Padam
Perusahaan Angkasa Pura (AP) dituding tidak becus mengelola bandara Soekarno Hatta (Soetta). Tudingan tersebut terkait dengan padamnya aliran listrik di bandara sekitar 15 menit. Praktis aktifitas penerbangan terganggu, baik domestik maupun penerbangan  internasional  Peristiwa memalukan tersebut sudah tentu menurunkan citra AP selaku operator bandara internasional. Lebih-lebih, bandara Soetta lebih sekali mengalami listrik padam sepanjang tahun 2013. Media massa cetak, elektronik, hingga social media Facebook, Twitter, dan Blog ramai memberitakan dan membicarakannya sehingga makin memperburuk citra AP.  

7.     Kemacetan Parah di Jakarta
Citra “miring” Gubernur DKI Jakarta Jokowi tercuat manakala dihadapkan pada kemacetan arus lalu lintas di Jakarta yang semakin parah. Harapan warga kepada Jokowi untuk  dapat mengatasi kemacetan, ternyata malah sebaliknya. Kemacetan  terjadi  di semua ruas jala utama Jakarta dan itu terjadi hampir setiap saat. Untuk menepis citra “miring” tersebut, Jokowi sempat menyurati Wapres Boediono agar mengurangi produksi mobil murah, namun usaha tersebut tidak membuahkan hasil dan warga ibukota dilanda kemacetan setiap hari. Citra “miring” ini akan terus melekat pada diri Jokowi sebelum dia berhasi mengatasi kemacetan di Jakarta.

8.     Nikah Lagi, Bupati Garut Dicopot
Perkawinan di lingkungan pejabat pemerintahan menjadi perhatian. Apalagi perkawinan tersebut diduga dilaksanakan secara tidak lumrah alias nikah siri. Seperti yang dialami Bupati Garut Aceng HM Fikri, perkawinan singkatnya dengan Fanny Octora, yang tak lain adalah pengacaranya, membuat Aceng dikecam masyarakat dan kehilangan legitimasinya sebagai pejabat publik.
Kasus Aceng juga menampar “muka” Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Azwar Abubakar selaku intitusi yang berkompeten mengantarkan Aceng ke tampuk bupati.  

9.     Kasus Delay Lion Air
Peristiwa penundaan terbang (delay) pesawat Lion Air mencuatkan image buruk di benak penumpang. Apalagi delay terjadi selama berjam-jam sehingga penumpang sempat mengamuk lantaran seluruh jadwal penerbangan Lion Air tertunda. Seperti dialami penumpang rute Jakarta-Padang dan Jakarta-Pangkal Pinang, Oktober lalu, yang mengalam delay delapan jam.  Sepanjang 2013, kasus delay Lion Air berkali-kali terjadi pada sejumlah destination sehingga maskapai milik Rusdi Kirana tersebut  dijuluki maskapai yang paling sering mengalami delay

10.  Artis Zaskia “Gotik” Versus Vicky Prasetyo
Sepanjang tahun 2013, ulah para artis juga menjadi perhatian khalayak. Salah satunya yang dialami pelantun lagu “Satu Jam Saja” Zaskia si “Goyang Itik” (Gotik) yang membatalkan pertunangan dengan  Vicky Prasetyo hanya dalam waktu kurang dari 24 jam. Kasusnya terungkap setelah calon suami ternyata telah beristri dan banyak memiliki teman wanita. Lebih menghebohkan lagi, Vicky yang dikenal dengan istilah “labil ekonomi, kontroversi hati, dan konspirasi kemakmuran”  itu adalah penipu. Dia tersangka melakukan penipuan terhadap teman bisnisnya dan akhirnya Vicky harus mendekam di tahanan Rutan Babelan Bekasi.

11. Australia Sadap  Telepon SBY
Citra pemerintah semakin buruk. Kali ini Australi yang menjadi “biang kerok” dengan aksinya menyadap pembicaraan telpon Presiden SBY. Terbongkar dan hebohnya kasus penyadapan ini terjadi setelah mantan agen Intelijen AS Edward Snowden membeberkan berbagai dokumen yang isinya tentang aktivitas agen Intelijen Australia melakukan penyadapan telepon terhadap Presiden SBY dan beberapa pejabat penting Indonesia lainnya. Badan Intelijen Negara ( BIN) juga dinilai   gagal dan tidak mampu menghalau penyadapan yang terjadi.
Kasus penyadapan tersebut memperpanjang daftar ketidakmampuan pemerintah menghadapi asing dan sekaligus makin melecehkan citra Indonesia di mata internasional. Kasus dengan negeri jiran Malaysia misalnya, dari kasus pencurian hak paten internasional Reog Ponorogo, batik, hingga tempe mencitrakan pemerintah sebagai pihak yang lemah dan sering “disepelekan” oleh negara lain.

12.  Kemelut Rumahtangga Ayu Ting Ting
Di ranah selebritis, kisah pernikahan Ayu Ting Ting dan suaminya Hendri Baskoro Hendarso alias Enji yang berbuntut berpisah menjadi pentas berita selebritis yang cukup banyak menghebohkan dan menyedot perhatian publik. Pelantun lagu “Alamat Palsu” yang sekarang tengah hamil itu memutuskan pisah dengan Enji dan memilih tinggal bersama orangtua karena dianggap Enji telah menjatuhkan talak kepada Ayu.

13.  KA Versus Truk BBM
Peristiwa kecelakaan kerata api (KA) kembali terulang. KA commuter jurusan Serpong-Tanah Abang menabrak truk yang mengangkut bahan bakar Elpiji di perlintasan KA Ulujami, Jakarta Selatan, medio Desember lalu. Akibat kecelakaan tersebut, truk dan satu gerbong khusus wanita yang berada di rangkaian kereta paling depan meledak dan terbakar. Tujuh penumpang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Peristiwa ini mencerminkan buruknya pelayanan tranportasi massal. Tak ayal. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menjadi sasaran kritik dan kekesalam publik yang dianggap tidak profesional dalam memberikan layanan transportasi kepada masyarakat.
Sehari setelah peritiwa naas tersebut, Menhub ED Mangindaan langsung menyampaikan statement rencana membangun jalan layan (fly over) di tiap perlintaan KA untuk mencegah peristiwa kecelakaan kereta. Langkah tersebut sebagai upaya mengcounter kritik masyarakat, sekaligus memperbaiki citra Kemenhub.

Pertamina pun tak urung ikut jadi sorotan buruk publik karena penyebab peritiwa adalah supir truk BBM milik Pertamina yang nyelonong lintasan rel. Di social media Facebook dan Twitter, masyarakat menuntut agar Pertamina membenahi para sopir armada truk pengangkut BBM karena ini menjadi preseden terulangnya peristiwa serupa akibat kecerobohan para sopir. (Wawan Setiawan)

Rekayasa Sebuah Penampilan

Menjadi karakter manusia, jika diberi pilihan biasanya mereka lebih memilih bersosialisasi. Sejak munculnya Facebook, Twitter, Instagram dan lainnya yang disebut dengan jejaring sosial atau  Web 2.0,  manusia telah belajar untuk bersama, intim, dan spontanitas. Di Web seseorang bisa melakukan apa yangdiinginkan seperti mengedit wajah untuk menunjukkan kepada orang lain dengan cara yang tidak mungkin dalam ruang fisik sebenarnya. Ini yang kemudian memunculkan pertanyaan, apakah yang selama ini kita saksikan di website, media sosial adalah sesuatu yang asli atau tidak.

Alice E. Marwick, seorang pengamat yang mengajar budaya online Amerika di Fordham University melihat bahwa Teknologi media sosial seperti YouTube, Twitter, dan Facebook menjanjikan budaya partisipatif baru melalui online. Namun, melalui buku ini, Marwick berpendapat bahwa Web 2.0  hanya mendorong sebuah keasyikan terhadap suatu status dan perhatian, padahal hal itu belum tentu terjadi.
Penelitiannya yang menggunakan metode wawancara mendalam dengan pengusaha, selebriti internet, dan wartawan Silicon Valley -  mengeksplorasi budaya dan ideologi masyarakat yang akrab dengan teknologi seperti di San Francisco pada periode antara perkemabngan dot.com dan toko App atau ketika kota itu menjadi pusat perkembangan media sosial.
Marwick berpendapat bahwa tujuan awal revolusioner dari penggunaan media sosial  gagal terwujud. Di sisi lain, banyak orang yang masih melihat media sosial sebagai sarana pendemokrasian. Jika tidak mengubah pengguna menjadi pemasar dan promosi diri, perusahaan teknologi membuat pihak lain berkecenderungan untuk melanggar privasi dan memprioritaskan keuntungan dari partisipasinya. Marwick menganalisis cara orang atau lembaga membangun statusnya - seperti self-branding, micro-celebrity, dan life-streaming -  untuk menunjukkan bahwa Web 2.0 tidak memberikan sebuah revolusi budaya, tetapi hanya melanjutkan ketimpangan dan memperkuat tradisi stratifikasi sosial yang dibatasi oleh ras, kelas, dan gender.
Buku ini merupakan hasil studi mendalam yang dilakukan Marwick dengan pendekatan etnografi budaya pada perusahaan-perusahaan di Silicon Valley selama 2006-2010. Update status adalah versi yang lebih mudah dibaca dari disertasi Ph.D Marwick di Yale University. Buku menceritakan tentang gosip, pesta,  budaya startup, dan kemunculan 2.0. Tujuan Marwick melakukan studi ini adalah untuk menjelaskan kepada pembaca seputar cara perusahaan-perusahaan Silicon Valley beroperasi, bukan dari sudut pandang ekonomi, tetapi dari sudut pandang budaya. Pertanyaan utamanya adalah nilai-nilai dan keyakinan apakah yang mengikat kebersamaan dalam budaya Web 2.0, khususnya di Valley?
Dalam buku ini, Marwick menghindari banyak bahasa akademisi sperti yang sering dijumpai di buku fiksi  populer ala Malcolm Gladwell, kecuali dia menggunakan kata-kata seperti "simulacra." Dalam bunya ini, sejak awal dia mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk memberikan gambaran tentang budaya Silicon Valley selama periode dia melakukan pengamatan, terutama pada nilai-nilai sub-budaya tertentu, keyakinan, atau cara bagaimana budaya tersebut bekerja.
Pada awal buku ini  dia mengatakan bahwa meski banyak klaim yang mengatakan bahwa teknologi telah membangun relasi yang egaliter, namun pada kenyataannya Web 2.0 adalah seperti subkultur lain yang terbangun oleh hierarki. Hireraki itu selanjutnya memberikan semacam pedoman atau cara suatu tindakan yang dibentuk dan kemudian mengikat anggota kelompok.
Menurut dia, para insider menggambarkan adanya penapat yang agak berbeda ini dengan sangat rinci. Pengamatan terhadap hampir semua kelompok online mengungkapkan bahwa secara hirearki, status sering berfungsi untuk membatasi partisipasi, yang kadang-kadang mengikuti garis kekuasaan. Jadi pada dasarnya,  perusahaan-perusahaan di lembah Silicon tidaklah beroperasi secara egaliter, melainkan suatu tempat yang penuh dengan kekuasaan dan hierarki yang tidak berbeda dari subkultur Amerika lainnya.
Pandangan Marwick tentang Silicon Valley seakan mengungkapkan sinisme Marwick adalah jauh lebih sinis daripada pandangan saya. Tapi pandangan itu bisa menjadi sumbangan kepada pembaca, janganlah berharap kue jatuh dari langit. Marwick tidak ingin mengatakan bahwa hal itu adalah sesuatu yang memalukan. Betapa tidak, dalam lingkungan dimana pandangan orang luar seakan mengatakan bahwa mereka demokrasi, di dalamnya banyak terjadi perbedaan berdasarkan jenis kelamin, kelas, dan ras Perempuan tidak memiliki akses ke modal, dan orang-orang kulit putih atau orang-orang kaya masih memegang kendali pada pengambilan keputusan akhir. Disini Marwick hanya mengatakan bahwa praktek kerja di Silicon Valley tidak jauh berbeda dari subkultur kapitalis Amerika lainnya.
Status Update memang bukan untuk pengadopsi awal, orang-orang yang aktif di teknologi, atau orang-orang yang memiliki akar budaya Silicon Valley. Disini pembaca tidak akan menemukan banyak hal baru. Bahkan banyak pembaca blog teknologi Engadget atau seperti The Verge akan mengetahui sebagian besar poin yang ada dalam buku ini sehingga terasa usang. Namun demikian, buku ini menarik bagi pengguna baru media sosial, orang-orang media utama, atau pembaca yang baru saja membeli smartphone dan terpesona oleh budaya teknologi .
Meski demikian ada sesuatu yang baru dari fakta yang diungkap buku ini. Bila selama ini beberapa buku yang membahas tentang internet lebih banyak membahas soal ketimbangan dari sisi pengguna internet,  dari buku ini kita dapat melihat akan adanya sebuah rekayasa dari sebuah penampilan atau sesuatu yang tampak. Di Bab 5 misalnya Marwick mengeksplorasi budaya lifestreaming. Disini dia melakukan pengamatan terhadap mereka yang dia sebut mencintai media sosial dan menggunakan program untuk melacak hal-hal kecil dari kehidupan sehari-hari, mulai dari katalog musik ( Last.fm ) untuk pelacakan dan penilaian setiap hubungan seksual (Bedposted). Dia menyebut lifestreaming sebagai sebuah strategi pengeditan simulacrum dimana secara khusus sesuatu dikonfigurasi untuk disaksikan oleh pemirsa.

Marwick melengkapi laporan lapangan ini dengan keluhan tentang kedangkalan budaya internet. Dia berulang kali mengingatkan kita bahwa personas diadopsi oleh "micro-selebriti" melalui Twitter dan di blogosphere penampilan direkayasa secara hati-hati, meskipun pretensi mereka adalah untuk "keaslian." Marwick lalu menunukkan bagaimana sebenarnya sebuah ketenaran dicapai. Menurut dia, ada dua cara untuk mencapai ketenaran melalui internet. Pertama dengan secara sadar mengatur diri untuk mencapai pengakuan, atau melalui pengakuan dari orang lain yang telah mengukir prestasi teretentu. Hal ini berlaku untuk semua yang ingin mencapai ketenaran pada umumny. Ini sudah menjadi tradisi yang mungkin telah ada selama ribuan tahun.

Minggu, 15 Desember 2013

Press Release Di Ambang Kematian. Menurut Anda?

Internet dan sosial media telah mengubah cara beerja public reations. Itu sudah terbukti. Pertanyaannya adalah apakah semua berubah? Misalnya saat ini perusahaan memang telah memiliki website dan sebagainya. Mereka bisa mempublikasikan sendiri cerita-cerita tentang mereknya dan kalau wartawan tertarik boleh mengunduhnya. Jadi kalau sudah demikian, apakah siaran pers masih dibutuhkan?
Adalah Ashley Brown, orang Amerika yang kini memimpin divisi komunikasi digital dan media sosial di Coca - Cola Company, yang ingin menghabisi siaran pers. "Jika ada satu hal yang ingin saya lakukan di Coke," kata Brown dalam konferensi yang diselenggarakan oleh perusahaan penerbit komunikasi Ragan, November 2013 lalu. "Kami memiliki komitmen untuk mengurangi jumlah siaran pers menjadi setengahnya pada tahun ini, dan saya ingin kami tak menggunakannya lagi pada 2015 . Itulah tujuan kami."
Alih-alih siaran pers, Coke ingin bercerita langsung. Coke ingin membuat sesuatu yang bisa dishare, content yang populer, diinformasikan oleh audiens yang tertarik. Ambisi tersebut didorong oleh keberhasilan Coke saat meluncurkan website perusahaan yang sukses tahun lalu.
Itulah titik awal bagaimana Coke percaya akan kehebatan brand journalism. Situs tersebut sekarang mendapatkan lebih banyak pengunjung daripada surat kabar utama. Ibaratnya situs tersebut kini seakan menjadi majalah online - menggunakan data untuk menerbitkan konten kepada audience Coke yang tertarik. Isinya mulai dari resep Coke  hingga wawancara dengan selebriti yang bercerita tentang masa lalu Coke .
Trevor Young, seorang ahli content marketing dari perusahaan public relations Expermedia, memuji strategi Coke tersebut. "Blogging dan saluran media Anda sendiri harus menjadi prioritas pertama sebuah bisnis ketika masuk ke dunia pemasaran," katanya .
Namun demikian, dia tidak yakin semua bisnis harus meninggalkan atau tidak memanfaatkan siaran pers. Menurut Young, yang jadi persoalan bukanlah siaran per situ sendiri. Yang jadi persoalan adaah seringkali siaran pers itu membosankan. "Informasinya tidak relevan. Cara menulisnya juga tidak relevan," katanya .
" Mereka penuh dengan istilah-istilah dan jargon yang susah difahami. Sebagian besar wartawan membuktikan bahwa apa yang mereka terima dalam siaran pers sering kali tidak kreatif. Ceritanya ebih banyak mempertimbangkan kepentingan perusahaan ketimbang kepentingan pembaca. Perlu banyak waktu mencernanya dan seringkali mirip spin."
"Jadi sebenarnya masih ada ruang bagi siaran pers, terutama jika Anda memiliki berita yang relevan.”
Seorang pakar pemasaran Catriona Pollard, dari CP Communications, mengatakan bahwa masih ada masa depan untuk siaran pers. Hanya saja, siaran pers kini tak lagi menjadi alat yang favorit untuk berhubungan dengan wartawan. "Kami sendiri sangat jarang menggunakan siaran media," katanya.
"Mungkin ada saat-saat ketika menggunakan blog adalah cara yang bagus untuk menceritakan kisah-kisah perusahaan dan membangun reputasi. Ada juga saat-saat menghubungi wartawan secara langsung langsung dan pitching cerita unik untuk publikasi yang lebih masuk akal."
“Beberapa hal yang mungkin perlu diperhatikan, terutama untuk usaha kecil adalah memberikan sesuatu yang siap pakai kepada audiencenya. Jika Anda menceritakan kisah-kisah Anda sendiri, Anda perlu membangun penonton itu dengan menunjukkan seberapa penting cerita Anda. Dan itu membutuhkan kerja keras. Bagi Coke itu mudah karena telah memiliki brand awareness dan sumber daya manusia yang tinggi untuk dimasukkannya ke dalam content marketing. Tapi untuk usaha kecil, barangkali hal itu jarang terjadi."

Strategi public relations memiliki lapisan dan taktik yang berbeda, dan cara terbaik menyampaikan cerita yang berbeda adalah dengan cara yang berbeda pula. "Pada akhirnya, Anda memerlukan strategi yang kuat untuk mendorong brand awareness," katanya.

Sabtu, 14 Desember 2013

Kini Era Berlari Dua Kali Lebih Cepat

Lingkungan bisnis berubah dengan sangat cepat. Agar tidak tertendang, untuk beradaptasi dengan perubahan itu, perusahaan kini seakan harus dua kali lebih cepat dari lima tahun lalu. 

Era digital ditandai dengan adanya jaringan yang tersebar, aliran informasi yang bebas, dan bisnis dengan yang dipercepat. Perkembangan ini menuntut perusahaan secepatnya mengubah cara kerja mereka. Rancangan dan proses bisnis juga harus – bukan hanya infrastrukturnya -- juga menjadi tangkas.
Electronic Arts, sebuah publisher game elektronik yang didirikan pada tahun 1982, pernah menjadi pengembang game terkemuka, pemegang lisensi sebuah tim olahraga dan judul film untuk game yang dimainkan di konsol video. Beberapa tahun terakhir, pasar Electronic Arts tergerus.  Zynga – sebuah perusahaan game mobile – yang berjaya pada tahun 2007 dianggap sebagai pihak utama yang bertanggung jawab atas kerugian Electronic Arts selama  Juni 2005 sampai Desember 2012.
Kenapa? Ini karena persoalan perubahan. Zynga mengamati bahwa  kenyamanan konsumen dan jaringan sosial adalah fitur yang paling penting dalam sebuah platform game. Pemain lebih suka berperang melawan teman-teman di ponsel daripada duduk di ruang bawah tanah mereka dengan konsol game. "Model deluxe" pengembangan game adalah sesuatu dari masa lalu, dan Zynga percaya bahwa pasar ingin menikmati game online berbasis data.

Contoh lainnya, Zara berhasil karena kemampuannya dalam memanfaatkan pertukaran informasi di seluruh setiap bagian dari rantai pasok Zara -- dari pelanggan ke manajer toko, dari manajer toko spesialis dan desainer, dari desainer ke staf produksi , dari pembeli ke subkontraktor, dari manajer gudang ke distributor. Zara juga melatih karyawan untuk menggali komentar dari pelanggan.
Ketika pelanggan memberitahu karyawan toko bahwa mereka lebih suka celana tanpa resleting atau mereka menyukai  kerah bulat pada blus mereka , staf penjualan memberikan informasi ini kepada manajer toko yang kemudian melaporkannya ke kantor pusat. Di kantor pusat, tim desainer internal dengan cepat mengembangkan desain baru berdasarkan masukan ini dan mengirimkannya ke pabrik-pabrik Zara di mana mereka diproduksi .
Fenomena tersebut membenarkan argumen bahwa kemampuan beradaptasi menjadi lebih penting daripada kualitas lainnya. Ini karena dalam lingkungan bisnis yang berubah begitu cepat, membuat apa yang akan kita kerjakan seolah tidak relevan. Seringkali kita mendapati bahwa ketika kita ingin mengimplementasikan suatu rencana itu, lingkungan telah berubah lagi.
Dalam Transform. How Leading Companies Are Winning with Disruptive Social Technology, penulisnya, Christopher Morace, mengilustrasikan fenomena tersebut dengan mengambil cerita tentang Alice, tokoh utama dalam karya Lewis Carroll Through the Looking – Glass. Disitu Alice mengalami percepatan yang tiada henti dalam petualangannya.  Suatu saat, Alice bertemu dengan Red Queen yang menantangnya berlomba lari di lapangan berbentuk seperti papan catur.  Dalam permainan itu, Alce menemui bagaimana dirinya harus berlari lebih cepat dan lebih cepat lagi hanya untuk tinggal di tempat yang sama. 
Frustrasi dan terengah-engah, Alice berkata ke Red Queen, "Di negara kami, jika berlari cepat dalam waktu yang lama, kita akan berada di tempat yang berbeda.” Mendengar itu, Red Queen mengatakan bahwa, "Negara yang lambat. Di sini,seperti yang  Anda lihat, Anda harus lari hanya untuk berada di tempat yang sama. Jika Anda ingin mencapai atau berada di tempat lain, Anda harus melakukan (lari) setidaknya dua kali lebih cepat dari yang biasa Anda lakukan.”
Bisnis saat ini juga seperti itu. Para pebisnis menjalankan bisnisnys dua kali lebih cepat tetapi hanya menghasilkan sedikit kemajuan. Ibaratnya kita berlari di treadmill dengan percepatan yang bisa kita buat semakin tinggi namun garis finishnya sulit dipahami. Untungnya, dalam bisnis ada alat yang bisa membantu. Ketika proses bisnis membatasi kecepatannya, perangkat seperti smartphone bisa jadi membuat pekerja lebih produktif. Akan tetapi, sekali lagi, itu berarti Anda mengorbankan istirahat malam, akhir pekan, dan liburan Anda.
Sistem komando dan kontrol yang ketat pernah menjadi gaya manajemen yang dominan dalam perusahaan. Namun dalam lingkungan informasi yang  mengalir begitu cepat, pendekatan ini tidak lagi seefektif sebelumnya. Sebaliknya, seperti militer yang mengganti peleton besar dengan pasukan khusus, perusahaan perlu model organisasi adaptif yang responsif terhadap perubahan yang cepat dalam inovasi produk, selera pelanggan , atau lingkungan peraturan.
Ketika perusahaan tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan baru dan tempo perubahan yang begitu cepat, mereka bengkok atau patah. Suatu perusahaan ibaratnya sebuah mesin yang menjalankan seperangkat proses yang besar. Begitu perubahan sering terjadi, perusahaan harus merespon perubahan ini dengan lebih cepat. Hal ini tentu saja membutuhkan kelincahan dan kemampuan beradaptasi. Ketika Anda meningkatkan tingkatan dari sebuah proses, pengecualian untuk proses standar juga harus meningkat.
Di masa lalu, perusahaan teknologi membantu mengelola dan mengotomatisasi proses. Namun hari ini, bisa jadi perangkat lunak tersebut tidak lagi sesuai dengan lingkungan yang terus berkembang. Dengan kata lain, kerja suatu system dibatasi oleh masa. Suatu sistem bisa bekerja sampai sesuatu dalam lingkungan berubah. Ketika masalah muncul dengan produk, selera pelanggan berubah, atau pesaing baru muncul, kemampuan perusahaan untuk bereaksi dengan cepat menjadi lebih penting daripada konsistensi.

Dalam lingkungan yang dinamis, mekanisasi adalah pendekatan yang salah. Mekanisasi ibaratnya membangun perusahaan sehingga menjadi sebuah mesin namun tidak ada kemudi. Bila Anda berlomba adu balap, yang Anda butuhkan adalah bergerak cepat. Tetapi setiap kali Anda ingin mengubah arah, kemudi menjadi kritis. Banyak perusahaan telah menghabiskan jutaan dolar untuk teknologi informasi, namun mereka tidak dapat menavigasi lingkungan yang berubah dengan cepat. Jadi disini yang diperlukan adalah inovasi. Inovasi yang mendukung kemampuan perusahaan untuk bereaksi dengan cepat.

Kamis, 12 Desember 2013

Selfie dan Peranannya dalam Public Relations

Selasa (10/12/2013) lalu, Presiden AS Barack Obama tertangkap kamera sedang sibuk memotret dirinya secara dadakan dengan menggunakan smartphone. Dia memotret dirinya bersama Perdana Menteri Denmark Helle Thorning-Schmidt dan Perdana Menteri Inggris David Cameron saat upacara peringatan untuk Nelson Mandela.
Gambar yang kemudian tersebar luas di media sosial itu kemudian menimbulkan perdebatan apakah hal itu layak dilakukan oleh seorang kepala negara atau tidak. Apa yang dilakukan Obama, Thorning-Schmidt, dan Cameron mengingatkan public pada kata selfie.
Kata “selfie” masuk dalam kamus bahasa Inggris Oxford baru pada 2013 ini. Menurut warta laman Bangkok Post pada Selasa (19/11/2013), "selfie" adalah kata yang ke-2013 di dalam kamus paling sohor asal Inggris tersebut. Pihak pengelola Kamus Oxford mengatakan, selama 12 bulan terakhir, pengguna kata itu meningkat hingga 17.000 persen.

Menurut Direktur Redaksi Kamus Bahasa Inggris Oxford Judy Pearsall, "selfie" muncul kali pertama di forum media sosial Australia. "Kata itu di-posting pada September 2002," demikian Judy Pearsall.
Menurut sejarah, mengabadikan diri sendiri dengan perangkat elektronik atau dalam bahasa Inggris dinamakan self-portrait atau disingkat selfie dilakukan pertama kali oleh seseorang bernama Robert Cornelius pada tahun 1839. Ketika era kamera polaroid sedang menjadi salah satu tren di tahun 70an, seorang bernama Andy Warhol juga pernah melakukan selfie dan hal tersebut tercatat sebagai selfie kedua dalam sejarah.
Kini, di era teknologi serba maju, perangkat hi-tech beredar di mana-mana sekaligus portable device dengan fitur kamera seperti smartphone, phablet dan tablet menjadi satu hal yang umum, aksi selfie ini amat sering dijumpai.
Bahkan ketika internet dan jejaring sosial meraih popularitasnya dalam beberapa tahun terakhir ini, foto-foto selfie juga sering beredar luas serta dijadikan cover atau profile picture seseorang dalam account jejaring sosial mereka.
Dengan mengambil angle agak tinggi sekitar 45 derajat, mata sedikit dibuat sayu, (terkadang) mengambil pose duck face, mengambil fotonya dengan menggunakan aplikasi seperti Instagram untuk menambah kesan dramatis dan lainnya, membuat aksi selfie menjadi sangat mudah dilakukan, kapan dan di manapun juga.
"Selfie adalah salah satu revolusi bagaimana seorang manusia ingin diakui oleh orang lain dengan memajang atau sengaja memamerkan foto tersebut ke jejaring sosial atau media lainnya," ujar Dr Mariann Hardey, seorang pengajar di Durham University dengan spesialisasi digital social media, seperti dikutip oleh Guardian (14/07/2013).
Hardey juga mengatakan bahwa dengan memamerkan foto-foto selfie tersebut, maka orang yang bersangkutan ingin terlihat 'bernilai' lebih-lebih apabila ada yang berkomentar bagus tentang foto tersebut.
Tak hanya Hardey yang mengatakan bahwa selfie merupakan bentuk dari ingin diakui atau dapat disebut sebagai tanda kurang percaya terhadap diri sendiri. Banyak juga peneliti lain yang juga mengatakan hal serupa. Namun tidak sedikit orang yang membantah bahwa selfie dilakukan hanya sekadar ingin tenar dan tidak percaya diri.
Menurut salah seorang wanita bernama Rebecca Brown (23) mengatakan bahwa dia melakukan selfie hanya karena untuk mengeksplorasi diri sendiri dan melihat tubuhnya sendiri bukan dengan maksud ingin narsis atau sejenisnya.
Bagi selebriti dan tokoh masyarakat lainnya, selfies merupakan bentuk komunikasi yang efektif. Memposting foto diri (diambil sendiri) saat melakukan hal-hal biasa seperti memamerkan potongan rambut baru atau akan melihat Mona Lisa adalah cara bagi selebriti untuk memberitahu penggemarnya  apa yang mereka lakukan tanpa filter dari pihak ketiga seperti yang terjadi di media tradisional. Itu benar-benar manusiawi. .
Tapi selfies bukan hanya dilakukan orang-orang seperti Kim Kardashian. Para pemimpin dunia dan tokoh masyarakat lainnya melakukannya. Meski demikian, ada beberapa tips yang perlu diperhatikan.  baik penggunaan mereka juga. Beberapa kebijaksanaan diperlukan. Berikut adalah beberapa tips untuk bagaimana dan kapan melakukan selfie sehingga tindakan tersebut bisa dianggap sebagai sesuatu yang sah. 


Harus memiliki pesan atau tujuan. Selfies sering dilakukan atau muncul sembrono, tak memiliki tujuan yang serius. Namun demikian, selfie bisa digunakan sebagai alat untuk mendukung keterlibatan suatu kegiatan. Ambil contoh Selfienya Michelle Obama saat pertama kali membawa anjingnya “Dog Bo”,  Agustus lalu di halaman Gedung Putih. Foto itu seakan menyampaikan pesan bahwa Michelle dan Bo berperan dalam gerakan " Great Nature Project"-nya National Geographic yang bertujuan untuk mendorong pendidikan dan kesadaran keanekaragaman hayati.


Hubungkan dengan audiens Anda. Melakukan selfie hendaknya tidak hanya demi Selfie itu sendiri. Gunakan selfie untuk berhubungan dengan orang-orang yang tertarik pada Anda. PR alami yang dilakukan Paus Francis dipercaya sebagai Selfie kepausan pertama, pada Agustus lalu dengan beberapa remaja Italia di Basilika Santo Petrus. Gambar ramai dibicarakan di media sosial dan membangun kesan bahwa Paus berhubungan langsung dengan para audience muda.



Buatlah momen yang manusiawi. Berdasarkan sifatnya, Selfie masih segaris dengan narsisme. Alih-alih menggunakannya untuk pamer, selfie juga bisa digunakan untuk menunjukkan bahwa Anda sama seperti orang lain. Sebagai contoh, Chelsea Clinton berbagi momen humanis ini dengan ibunya, mantan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton, di Twitter pada Juni lalu. Bagi sepasang ibu-anak yang memiliki dampak global yang signifikan, kesan manusiawinya adalah bahwa mereka bahagia.