Kamis, 12 Desember 2013

Selfie dan Peranannya dalam Public Relations

Selasa (10/12/2013) lalu, Presiden AS Barack Obama tertangkap kamera sedang sibuk memotret dirinya secara dadakan dengan menggunakan smartphone. Dia memotret dirinya bersama Perdana Menteri Denmark Helle Thorning-Schmidt dan Perdana Menteri Inggris David Cameron saat upacara peringatan untuk Nelson Mandela.
Gambar yang kemudian tersebar luas di media sosial itu kemudian menimbulkan perdebatan apakah hal itu layak dilakukan oleh seorang kepala negara atau tidak. Apa yang dilakukan Obama, Thorning-Schmidt, dan Cameron mengingatkan public pada kata selfie.
Kata “selfie” masuk dalam kamus bahasa Inggris Oxford baru pada 2013 ini. Menurut warta laman Bangkok Post pada Selasa (19/11/2013), "selfie" adalah kata yang ke-2013 di dalam kamus paling sohor asal Inggris tersebut. Pihak pengelola Kamus Oxford mengatakan, selama 12 bulan terakhir, pengguna kata itu meningkat hingga 17.000 persen.

Menurut Direktur Redaksi Kamus Bahasa Inggris Oxford Judy Pearsall, "selfie" muncul kali pertama di forum media sosial Australia. "Kata itu di-posting pada September 2002," demikian Judy Pearsall.
Menurut sejarah, mengabadikan diri sendiri dengan perangkat elektronik atau dalam bahasa Inggris dinamakan self-portrait atau disingkat selfie dilakukan pertama kali oleh seseorang bernama Robert Cornelius pada tahun 1839. Ketika era kamera polaroid sedang menjadi salah satu tren di tahun 70an, seorang bernama Andy Warhol juga pernah melakukan selfie dan hal tersebut tercatat sebagai selfie kedua dalam sejarah.
Kini, di era teknologi serba maju, perangkat hi-tech beredar di mana-mana sekaligus portable device dengan fitur kamera seperti smartphone, phablet dan tablet menjadi satu hal yang umum, aksi selfie ini amat sering dijumpai.
Bahkan ketika internet dan jejaring sosial meraih popularitasnya dalam beberapa tahun terakhir ini, foto-foto selfie juga sering beredar luas serta dijadikan cover atau profile picture seseorang dalam account jejaring sosial mereka.
Dengan mengambil angle agak tinggi sekitar 45 derajat, mata sedikit dibuat sayu, (terkadang) mengambil pose duck face, mengambil fotonya dengan menggunakan aplikasi seperti Instagram untuk menambah kesan dramatis dan lainnya, membuat aksi selfie menjadi sangat mudah dilakukan, kapan dan di manapun juga.
"Selfie adalah salah satu revolusi bagaimana seorang manusia ingin diakui oleh orang lain dengan memajang atau sengaja memamerkan foto tersebut ke jejaring sosial atau media lainnya," ujar Dr Mariann Hardey, seorang pengajar di Durham University dengan spesialisasi digital social media, seperti dikutip oleh Guardian (14/07/2013).
Hardey juga mengatakan bahwa dengan memamerkan foto-foto selfie tersebut, maka orang yang bersangkutan ingin terlihat 'bernilai' lebih-lebih apabila ada yang berkomentar bagus tentang foto tersebut.
Tak hanya Hardey yang mengatakan bahwa selfie merupakan bentuk dari ingin diakui atau dapat disebut sebagai tanda kurang percaya terhadap diri sendiri. Banyak juga peneliti lain yang juga mengatakan hal serupa. Namun tidak sedikit orang yang membantah bahwa selfie dilakukan hanya sekadar ingin tenar dan tidak percaya diri.
Menurut salah seorang wanita bernama Rebecca Brown (23) mengatakan bahwa dia melakukan selfie hanya karena untuk mengeksplorasi diri sendiri dan melihat tubuhnya sendiri bukan dengan maksud ingin narsis atau sejenisnya.
Bagi selebriti dan tokoh masyarakat lainnya, selfies merupakan bentuk komunikasi yang efektif. Memposting foto diri (diambil sendiri) saat melakukan hal-hal biasa seperti memamerkan potongan rambut baru atau akan melihat Mona Lisa adalah cara bagi selebriti untuk memberitahu penggemarnya  apa yang mereka lakukan tanpa filter dari pihak ketiga seperti yang terjadi di media tradisional. Itu benar-benar manusiawi. .
Tapi selfies bukan hanya dilakukan orang-orang seperti Kim Kardashian. Para pemimpin dunia dan tokoh masyarakat lainnya melakukannya. Meski demikian, ada beberapa tips yang perlu diperhatikan.  baik penggunaan mereka juga. Beberapa kebijaksanaan diperlukan. Berikut adalah beberapa tips untuk bagaimana dan kapan melakukan selfie sehingga tindakan tersebut bisa dianggap sebagai sesuatu yang sah. 


Harus memiliki pesan atau tujuan. Selfies sering dilakukan atau muncul sembrono, tak memiliki tujuan yang serius. Namun demikian, selfie bisa digunakan sebagai alat untuk mendukung keterlibatan suatu kegiatan. Ambil contoh Selfienya Michelle Obama saat pertama kali membawa anjingnya “Dog Bo”,  Agustus lalu di halaman Gedung Putih. Foto itu seakan menyampaikan pesan bahwa Michelle dan Bo berperan dalam gerakan " Great Nature Project"-nya National Geographic yang bertujuan untuk mendorong pendidikan dan kesadaran keanekaragaman hayati.


Hubungkan dengan audiens Anda. Melakukan selfie hendaknya tidak hanya demi Selfie itu sendiri. Gunakan selfie untuk berhubungan dengan orang-orang yang tertarik pada Anda. PR alami yang dilakukan Paus Francis dipercaya sebagai Selfie kepausan pertama, pada Agustus lalu dengan beberapa remaja Italia di Basilika Santo Petrus. Gambar ramai dibicarakan di media sosial dan membangun kesan bahwa Paus berhubungan langsung dengan para audience muda.



Buatlah momen yang manusiawi. Berdasarkan sifatnya, Selfie masih segaris dengan narsisme. Alih-alih menggunakannya untuk pamer, selfie juga bisa digunakan untuk menunjukkan bahwa Anda sama seperti orang lain. Sebagai contoh, Chelsea Clinton berbagi momen humanis ini dengan ibunya, mantan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton, di Twitter pada Juni lalu. Bagi sepasang ibu-anak yang memiliki dampak global yang signifikan, kesan manusiawinya adalah bahwa mereka bahagia.