Selasa, 01 April 2014

Kesederhanaan itu Sukses


Kekurangan bisa jadi suatu kelebihan. Tahun 2000 silam, Seven Cristol dan Peter Sealy menulis buku Simplicity Marketing – End Brand Complexity, Clutter, and Confusion. Dia menulis buku itu karena pada saat itu, pemasar membombardir konsumen dengan banyak dan semakin banyak produk dan jasa. Akibatnya, publik seakan dihinggapi kecemasan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pada dekade pertama 2000an, publik mendapati sangat banyak merek yang kemudian menyederhanakan diri. Bila semula sampo dan conditioner terpisah, digabung menjadi satu sehingga kita mulai kenal sampo 2 in 1. Namun hal itu tidak berlangsung lama karena tak lama kemudian kita mulai diperkenalkan dengan produk obat batuk terpisah antara obat batuk berdahak dengan kering. 


Sekarang kita makin hidup di dunia yang semakin rumit dan mempengaruhi hampir semua orang. Kompleksitasnya seakan tak terbatas. Lihat saja, kalau Anda pengguna iPad atau iPhone, akan akan menjumpai lebih dari 900.000 aplikasi di Apple App Store. Di jalanan, kita bisa menjumpai lebih dari 241 menu pilihan cheesecake factory. Itu belum termasuk menu makan siang. Bahkan di sebuah toko kosmetik. Sementara iTunes memiliki perjanjian lisensi setebal 56 halaman.

Dalam Simple—Conquering the Crisis of Complexity, Alan Siegel dan Irene Etzkorn menulis bahwa kompleksitas mengancam kesehatan dan keselamatan. Kenapa? "konsumen sekarang mulai melawan secara spontan melalui Twitter, Facebook, dan blog ketika mereka merasakan bahwa ada perusahaan yang main mata,” tulis Alan Siegel dalam Simple: Conquering the Crisis of Complexity. Untuk alasan ini, katanya, tahun 2013 harusnya menjadi "momen penting" untuk melakukan penyederhanaan.

Siegel menulis bahwa perusahaan dapat memangkas kekacauan ini dan menawarkan pengalaman konsumen yang lebih baik dengan mengikuti tiga langkah proses berempati. Pertama, harus benar-benar memahami kebutuhan pelanggan. Kedua, menyaring hal-hal paling penting tentang produk atau jasa mereka dan menahan godaan untuk menambahkan fitur tambahan. Ketiga, mengklarifikasi atau memberikan informasi penting dan membuat ringkasan serta mengorganisirnya dalam satu tema.

Pada bab Distill, Siegel dan Etzkorn mengatakan bahwa menyederhanakan adalah mengarahkan, mengedit dan mengurangi opsi dan pilihan yang membanjiri kita. Ketika Google memperkenalkan mesin pencari, Google bukanlah yang pertama yang menawarkan kemampuan pencarian kepada konsumen. Tapi versi Google dengan cepat meninggalkan pesaing di belakang. Seperti yang banyak dikatakan pengamat, kesederhanaan home page Google merupakan daya pikat dan kunci keberhasilannya.

Tapi kenapa hanya Google yang bisa membuat halaman pencarian begitu sederhana dan rapi? Bukankah perusahaan pencari lainnya sejatinya juga bisa melakukan hal yang sama? Dalam kasus ini, jelas bahwa kekurangan itulah yang lebih banyak memberikan penjelasan. Kesederhaannya seakan menampilkan bukan hanya cerdas tetapi juga menjadi pilihan termudah bagi perusahaan yang memproduksi halaman pencarian.

Namun pada kenyataannya menyederhanakan itu menjadi jauh lebih sulit. Jadi bagaimana Google menahan godaan untuk tidak menambahkan dan merepotkan penggunanya? Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan itu, mereka mewawancarai sejumlah eksekutif di perusahaan yang berbasis di Mountain View, California, itu dan mendapatkan beberapa yang hal mengejutkan.

Untuk menjadi yang sederhana itu, Google benar-benar mengembangkan sistem ketat dengan pembatasan yang ketat pula atas apa saja yang bisa dan tidak bisa ditambahkan ke dalam home page. Pimpinan Google tegas terhadap tim kreatifnya. Dalam beberapa kasus mereka bahkan harus menentang keinginan pelanggan. Tugas menjaga agar tetap di jalur yang melawan kompleksitas - yang sering melibatkan keberanian untuk "mengatakan tidak" kepada pihak-pihak atau usulan yang menginginkan fitur tambahan, polesan  desain, dan potensi lain yang berpotensi memunculkan komplikasi - sering dibebankan kepada Marissa Mayer.

Mayer menjelaskan bahwa di setiap fitur baru yang diharapkan menjadi bagian dari home page Google, bakal fitur tersebut harus melalui tahapan semacam "audisi." Pertama fitur tersebut diujicoba pada halaman pencarian lanjutan Google untuk melihat bagaimana kinerjanya. Bahkan jika sebuah ide baru menunjukkan kelayakan di pencarian lanjutan, fitur itu masih harus melalui uji sistem penilaian yang sulit yang dikembangkan oleh Google. Sistem penilaian unjuk kerja tersebut adalah, pertama, mereka menetapkan titik untuk setiap perubahan dalam jenis gaya, jenis ukuran, atau warna. Kedua, mereka menambahkan poin atas perubahan tersebut. Maksimum yang diizinkan untuk promosi adalah tiga poin. Artinya, bila fitur tersebut memiliki kerumitan senilai lebih dari tiga poin, fitur tersebut tidak akan digunakan.

Jadi, hanya bakal fitur yang memiliki jumlah poin paling sedikit yang dipasang di home page. Seperti yang dikatakan Mayer, "fitur yang memiliki poin lebih, itu berarti kurang kesederhanaannya." Google memang konsisten fokus pada kesederhanaan dan menolak untuk disesatkan, termasuk oleh pelanggannya sendiri. Sebagai contoh, ketika Google melakukan survei terhadap penggunanya untuk melihat apakah mereka menginginkan hasil pencarian yang lebih banyak pada setiap halaman, mereka mengatakan ya. Bayangkan siapa yang tidak ingin hasil yang lebih banyak saat memilih? Tapi Google, menurut Mayer, tidak memberikannya.

Google tahu bahwa menawarkan hasil pencarian yang lebih banyak, berarti waktu yang dibutuhkan untuk memuatnya menjadi lebih lama. Akibatnya, hal itu akan memperlambat kinerja dan pada akhirnya mengurangi pengguna pengalaman. Menurut Mater, kebanyakan orang tidak menyadari hal ini. "Pelanggan sering tidak memahami konsekuensi dari pilihan mereka. Tetapi itu adalah tugas kami untuk melakukannya," kata Mayer. "Kami tahu bahwa sepuluh hasil pada setiap halaman adalah jumlah yang tepat. Kami tidak mengubah itu."

Dengan kata lain, Google memiliki keberanian untuk memberikan pelanggan kurang, bahkan ketika mereka meminta lebih. Penyederhanaan berarti upaya mempersempit ruang lingkup yang Anda tawarkan saat  Anda mencoba untuk melayani kebutuhan tersebut. Buku ini membahas beberapa informasi yang bagus, dan isinya diilustrasikan dalam bentuk yang sederhana. Karenanya layak dibaca, khususnya oleh mereka yang menginginkan kesuksesan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar