Senin, 04 Agustus 2014

PSEUDO-EVENTS

Tadi sore, saya iseng browsing internet untuk mencari journal-journal yang memuat penelitian tentang crisis communication. Tiba-tiba saya menemukan tulisan dengan judul Beyond Pseudoevents: Election News as Reality TV karya W Lance Bennett yang dimuat di The American Behavioral Scientist edisi 49 No.3 (Nov 2005) halaman 364-378.
Saya baca sekilas, akhirnya saya tahu bahwa tulisan itu diilhami buku tulisan Daniel Boorstin yang berjudul Reality TV: A guide to pseudo-events in America, terbitan Atheneum, New York tahun 1961. Dalam bukunya itu, Boorstin menjelaskan bahwa pseudo-event adalah penayangan acara yang event-nya sudah direncanakan dan eventnya sengaja dirancang untuk menciptakan liputan media yang menguntungkan dan positif. Jadi, event ini dimaksudkan untuk menciptakan kesan positif dan hubungannya dengan realitas situasi yang mendasarinya relative ambigu.


Pseudo-event juga disebut berita sintetis karena satu-satunya tujuannya adalah publikasi media, meski informasi yang disampaikan memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki manfaat dalam kehidupan nyata. Itu sebabnya pseudo-event biasanya diumumkan sebelumnya sehingga media dapat mempersiapkan diri untuk (biasanya positif) membuat laporan.
Tidak seperti event asli, pseudo-event hampir selalu menampilkan pesan-pesan optimistis dan selalu berbicara tentang kualitas dan teknik kepemimpinan politisi yang menjadi actor dalam event tersebut sebagai tokoh yang baik, juga menampilkan pesan bahwa di tangannya nasib warga negara dan negara bakal baik. Sementara itu, event asli seperti bencana alam atau ekologi atau kejahatan, selalu terkait dengan hal-hal negatif.
Walaupun tidak selalu demikian, secara umum, ada beberapa karakteristik yang dapat menunjukkan apakah suatu tayangan atau berita memiliki tujuan seperti pseudo-event. Pertama-tama, dapat dilihat dari mungkin saja suatu tayangan memiliki nilai berita, akan tetapi tayangan tersebut dibuat menjadi sinetron yang dramatis.
Juga, dapat diulang-ulang dengan demikian dapat membuat kesan yang semakin kuat. Selain – dan ini sulit dibuktikan --  politisi pseudo-event biasanya membayar ratusan juta bahkan miliaran rupiah hanya untuk menyebarkan pesan mereka ke masyarakat. Itu sebabnya mereka diiklankan di muka, dan diulang kembali.
Debat calon presiden pertama yang disiarkan televisi adalah antara Nixon dan Kennedy. Meskipun Nixon dianggap memiliki kepribadian yang lebih baik di radio dan memimpin dalam jajak pendapat sebelum debat pertama, namun tampilan Kennedy dalam debat Capres -- yang disiarkan langsung oleh stasiun televise -- sebagai bintang film cemerlang membuat calon pemilih seakan sudah memutuskan memilih Kennedy. Masyarakat seakan lupa untuk memutuskan dan berpikir kritis tentang siapa yang lebih berkualitas untuk menjadi presiden karena situasinya dibuat sedemikian  dramatis dan ambigu.
Saat ini, seperti ditulis Kleo Nikolaidis di http://asnycnowradio.wordpress.com/2010/04/05/pseudo-events-in-politics/ pada February 2010, pseudo-event makin sering muncul setelah mantan Presiden Bush memperkuat kampanye politiknya dengan berbagai pseudo-event. Misalnya, jadwal Bush wisata domestik yang padat dan luas dalam usahanya mencari dukungan rakyat, dan beberapa diantara  mendapat liputan media sebagai peristiwa lokal, menunjukkan bahwa kunjungan tersebut cenderung memang senagaj dirancang untuk menghasilkan liputan luas dan positif oleh pers lokal.
Bush juga terus menggunakan pseudo-event bahkan setelah dia terpilih sebagai presiden. Setelah bertahun-tahun setelah pilpres tersebut, Bush yang muncul di hampir semua insiden perang melawan Irak adalah penipuan dan acaranya dibuat sedramatis mungkin. Beberapa tahun setelah itu, persisnya pada 28 November 2003 Bush merayakan Thanksgiving dengan melakukan kunjungan mendadak ke pasukan AS di Irak, berpose dengan kalkun untuk menunjukkan betapa berterima kasihnya dia.
Belum tuntas saya membaca buku tersebut, insyaallah saya bisa menuntaskankannya. Siapa tahu bisa jadi inspirasi penelitian nanti…