Senin, 29 September 2014

Heritage Brand

Mereka memiliki sejarah panjang yang kisahnya masih dinikmati konsumen secara turun temurun. Mereka juga sukses mempertahankan core values dari generasi ke generasi, namun tidak kehilangan cara untuk selalu relevan dengan dinamika pasar.
Andai H Sadjim melakukan branding, maka Rumah Makan Sate-nya yang ada di Bendeungan Hilir Jakarta Pusat akan menjadi brand yang bukan hanya kebanggan warga sekitar, melainkan bisa menjadi kebanggan nasional.
Bayangkan, ketika Anda memasuki Rumah Makan Sate Tegal H Sadjim yang selalu ramai di Jalan Tondano, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, tepat di perempatan kali mati menuju Penjaringan, aroma daging kambing yang sedang dibakar tercium. Artinya, tanpa bertanya ke tetangga sekitarnya, Anda sudah mengenal rumah itu sebagai tempat untuk menikmati sate kambing.

Sajian nasi panas dan sate daging kambing muda yang empuk dengan campuran bumbu kacang halus, kecap, bawang merah, tomat dan jeruk kesturi selalu berhasil menarik orang untuk mendatangi rumah makan yang mulai dirintis tahun 1975 itu.
Warung makan pinggir jalan ini sudah ada sejak 1973. Menariknya, warung sate H. Sadjim satu di antara lima warung sate yang mendapat predikat Legenda Kuliner Kambing se-Jakarta oleh Kecap Bango. Para penikmat kuliner menyukai olahan sate kambing HM Sadjim, pemilik rumah makan itu karena dagingnya empuk dan tidak berbau prengus. “Enak, bumbunya pas, ada rasa gurih di lidah,” kata Yolanda, mahasiswi akademi keperawatan yang makan di rumah makan itu, Senin.
Sayangnya, H Sadjim hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut (WOM) yang bisa jadi promosi itu tidak dirancang sedemikian rumah sehingga efeknya menjadi lebih ruar biasa. Bagaimana tidak, tanpa dirancang secara professional pun, rasa dan aroma itu membuat pembeli terus berdatangan.
Orang-orang terkenal seperti Andi Mallarangeng (mantan Menteri Pemuda dan Olahraga), Anas Urbaningrum (mantan Ketua Umum Partai Demokrat), dan Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar juga pernah makan sate HM Sadjim.
HM Sadjim yang semula hanya berjualan menggunakan gerobak pun kini bisa menyewa tempat untuk membuka kedai sate. “Awalnya saya jualan pakai gerobak di lokasi ini juga, sejak 2000 mulai menyewa kedai sampai sekarang,” kata dia.
Ia lantas bercerita bahwa rahasia olahan sate kambing khas Tegal di warungnya terletak pada keterampilan mengolah kambing muda, membuat kuah dan bumbu. “Yang membedakan dengan masakan sate lainnya cabai yang ada dalam bumbu diulek sehingga aromanya juga beda,” katanya.
Setiap hari Sadjim mengolah daging dari tiga sampai lima kambing muda dan menjual tak kurang dari 1.200 tusuk sate setiap hari di warungnya yang buka dari pukul 10.00 WIB sampai 24.00 WIB pada hari biasa dan 01.00 WIB pada akhir pekan.
Selain menyediakan sate, warung itu juga menyediakan gulai kambing, tonseng, sop dan nasi goreng kambing. Satu porsi sate kambing yang terdiri atas 10 tusuk sate dijual dengan harga Rp38.500 dan satu porsi sate kambing polos tanpa lemak seharga Rp44.000.
Sadjim mengatakan omzet penjualan sate di warung mencapai Rp6 juta per orang dan kini dia mempekerjakan lima karyawan untuk membantu pekerjaannya.
Cukup banyak cerita tentang wirausaha seperti H Sadjim. Cukup banyak juga orang-orang seperti H Sadjim yang membranding produknya sehingga menjadi brand luar biasa. Dalam buku-buku teks pemasaran dan brand, publik banyak dikenalkan dengan heritage brand level dunia yang kisahnya menjadi legenda dari generasi ke generasi.
Anda pasti paham mengapa ayah Anda begitu menyayangi koleksi celana Levi’s yang dikoleksi sejak masa mudanya. Pemahaman itu timbul karena Anda juga sangat menyayangi celana Levi’s model terbaru yang Anda simpan cermat di lemari.
Di Indonesia, siapa yang tidak akrab dengan Teh Botol Sosro, Mobil Kijang, Asuransi Bumiputera, Kapal Api, Kecap Bango, Dji Sam Soe, Indomie dan segelintir lainnya. Inilah yang disebut sebagai heritage brand. Merek-merek itu sudah berumur puluhan, bahkan ratusan tahun, namun masih tetap dinikmati oleh konsumen era sekarang. Pola konsumsi mereka diturunkan dari generasi ke generasi. Ini menunjukkan bahwa brand yang langgeng adalah asset yang sangat berharga bagi pemiliknya.
Padahal faktanya, para pemasar pasti sangat paham, tidak mudah mempertahankan ketertarikan konsumen terhadap suatu produk/servis tanpa pemeliharaan. Tak heran kalau heritage brand menjadi sangat langka di Indonesia. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari.
Jadi, sangat mengagumkan kalau Bumiputera, misalnya, mampu menuliskan sejarahnya selama satu abad. Atau Kapal Api masuk dalam hitungan umur 85 tahun.
Tidak hanya berjaya di pasar dalam negeri, beberapa Indonesia heritage brands bahkan mampu menembus batas negara. Katakanlah seperti merek-merek Indofood yang memiliki basis kuat di pasar Afrika Utara. Merek B-29 juga sangat kuat di pasar Ethiopia. Sementara biskuit Khong Guan diekspor ke manca negara.
Bukan sekadar sebagai produk kebanggaan, menurut Agus W Suhadi, pengamat pemasaran dari Prasetiya Mulya Business School, heritage brand sangat penting sebagai penggerak roda perekonomian. Terutama terkait dengan gempuran berbagai merek global dan internasional di pasar Indonesia. Ia kemudian memberikan contoh Matahari dan Yogja Departement Store yang masih bisa bertahan sampai sekarang, kendati retail asing leluasa membanjiri pasar Indonesia.
Simak juga kedigdayaan Teh Botol Sosro yang mampu menahan gempuran raksasa Coca-Cola dan Pepsi. Sekalipun kedua merek asing itu berperang mati-matian merebut pasar soft drink Indonesia. Kenyataannya posisi Sosro belum terpatahkan sampai sekarang. Fakta ini sekaligus mematahkan mitos bahwa kita tidak memiliki tradisi industri dalam berbisnis.
Apa sejatinya heritage brand? Menurut Agus, heritage brand menawarkan value proposition atau brand identity atas dasar heritage. “Setiap brand punya sejarah, tapi hanya sebagian yang memiliki heritage (unggul di masanya), dan hanya sebagian kecil yang masih relevan baik di masa sekarang maupun yang akan datang,” paparnya. Jelas, kuncinya adalah relevansi dengan masa sekarang dan ke depan.
Profesor Urde dan teman-teman (2007), seperti dikutip Agus, mengkaji potensi heritage yang dimiliki suatu brand melalui identifikasi heritage quotient (HQ). Ada lima elemen yang dia gunakan yaitu track record, longevity, core values, use of symbols and history important to idenity.
Track record: dalam pengertian bahwa brand tersebut terbukti mampu memiliki kinerja yang unggul dan berkontribusi positif ke perusahaan selama mereka mempertahankan core values dan promise-nya. Sebagai contoh, Volvo yang secara berkesinambungan menawarkan komitmen terhadap safety, quality, environment dan design. Legacy tersebut tidak dibatasi oleh waktu.
Longevity: brand dapat dikualifikasikan sebagai heritage brand jika core value dari brand tersebut dapat bertahan dalam satu atau dua generasi. Core Values: kontinuitas dan konsistensi dalam menjalankan aktivitas berdasarkan core values yang tidak berubah merupakan bagian penting dari heritage brand. Sebagai contoh, LM Ericsson memiliki tiga core values yaitu: professionalism, respect dan perseverance. Komentar CEO-nya terkait dengan perseverance adalah “dalam 129 tahun (Ericsson) tidak meninggalkan pelanggannya, dan juga tidak meninggalkan pasar.”
Use of Symbols: brand masa lalu kadang direfleksikan atau dieksperesikan dalam komunikasinya melalui penggunaan simbol. Arti yang terdapat dalam simbol tersebut yang mengikat relasi jangka panjang pelanggan atau pasar dan brand. Sebagai contoh pengunaan ‘star’ dalam Mercedes atau ‘leaper’ untuk Jaguar. Dan history important to identity: history dari brand penting sebagai identitas “apa dan siapa mereka” dan digunakan sebagai basis bagaimana mereka beroperasi sekarang dan ke depan.
“Jika brand yang dikelola memiliki nilai yang tinggi untuk kelima elemen tersebut maka brand tersebut mempunyai potensi sebagai heritage brand,” tegas Agus. Pertanyaan berikutnya, apa bedanya heritage brand dengan legend brand. Agus mendefinisikan legend brand sebagai pengalaman yang dirasakan konsumen ketika mengonsumsi produk secara berkesinambungan jauh lebih tinggi dibanding apa yang dijanjikan atau yang dapat di-deliver oleh produsen.
“Legend brand mungkin menjadi sumber dari heritage brand, tetapi tidak semua legend brand menjadi heritage brand karena tidak memiliki unsur history atau heritage,” tambah Agus. Ia kemudian memberikan contoh Google. Merek search engine yang sangat popular ini memang dapat dikategorisasi sebagai legend brand. Namun dari elemen longevity dan history, menurutnya, belum begitu kuat.
Secara umum, menurut Agus, tantangan terbesar bagi heritage brand di Indonesia adalah dalam menghadapi perubahan perilaku konsumen. Dulu, perilaku konsumen di Indonesia cenderung pasif dan hanya menjadi obyek dari produsen dalam arti tidak terlibat dalam produksi ‘value’.
Kondisi ini sekarang berubah karena mereka sekarang menjadi lebih aktif dan ikut berpartisipasi dalam memproduksi value. Perubahan perilaku ini sudah tentu akan berdampak terhadap strategi yang perlu dikembangkan dalam membangun brand.

Senin, 22 September 2014

Mengapa Public Relations dan Media Relations Kini Makin Jelas Bedanya?

Ada kalimat yang mungkin berharga untuk praktisi public relations. “Jangan terpaku masa lalu.” Artinya, menghadapi situasi sekranag yang berubah luar biasa, praktisi public relations perlu menggeluti dan bergelut dengan dunia digital bila ingin tetap dianggap relevan. Kok?

Dalam konteks public relations untuk membangun relationship dan kesepahaman yang dibutuhkan adalah tersebut. Dalam konteks membangun reputasi, yang dibutuhkan adalah kredibilitas. Baik trust dan kredibilitas membutuhkan pihak ketiga. Orang akan lebih percaya bila orang lain mengatakan sebuah perusahaan memiliki kualitas sumber daya yang humanis ketimbang perusahaan itu sendiri yang mengatakannya.    
Persoalannya sekarang adalah bagaimana mengkreasikan trust dan atau kredibilitas melalui pihak ketiga tadi. Kita balik ke belakang. Pada awal-awal pertumbuhan public relations, para praktisi public relations hampir selalu berusaha agar mendapatkan perhatian secara eksklusif dari media massa untuk organisasi mereka (publisitas). Karena asuumsi ini, berkembang paradigm bahwa membangun hubungan dengan media adalah tugas yang sulit dan mempertahankannya lebih sulit.
Dengan kata lain, membangun media relations yang baik merupakan jalan terbaik untuk bisa menciptakan kesan positif di mata publik strategis. Karena itu, perusahaan atau organisasi perlu memiliki seseorang yang terlatih dan berpengalaman yang selalu siap dan dapat diakses pihak luar.; seseorang yang bijaksana dapat menyebarkan informasi dan memahami keinginan dan kebutuhan jurnalis atau wartawan.
Jika ada masalah yang muncul, juru bicara yang berasal level manajemen senior itu (Wells dan Spinks, 1998) yang berurusan dengan media untuk menyampaikan informasi yang lengkap dan tepat. Ini karena hal tersebut menyangkut persoalan kredibilitas dan keandalan konten yang disampaikan suatu organisasi kepada publiknya
Namun fenomenanya sekarang berubah drastis. Dalam perkembangannya, public relations bergerak cepat bahkan melebihi kecepatan berlari teori ilmiah sendiri sehingga terkesan out-of-control. Banyak perusahaan PR yang terjebak era masa lalu. Mereka masih berpikir bahwa PR hanya sebagai hubungan media dengan mungkin sedikit tambahan media sosial plus taburan konten bermerek dengan segala bumbunya.
Kok begitu? Jangan salah paham! Hubungan media tetap harus menjadi bagian yang layak dari public relations. Tapi itu hanya sebagian yang secara professional harus dikerjakan oleh praktisi public relations. Yang dipersoalkan disini adalah bahwa saat ini masih ada perusahaan yang tidak menyadari bahwa mereka kehilangan kesempatan besar.
"PR sekarang kan sudah mencakup semua hal, mulai dari media sosial hingga pemasaran konten dan dalam beberapa kasus native advertising,” kata Ribka Iliff, chief strategy officer ofAirPR, konsultan PR dan platform teknologi, seperti dikutip fastcompany.com.
Diakui atau tidak, dalam beberapa kasus, kegiatan PR sekarang sebenarnya dapat kinerja iklan berkat kemampuannya dalam mengubah lebih banyak jalur. Dalam diskusi dengan mahasiswa Kamis lalu, ada pertanyaan, siapa yang sebaiknya mengkreasikan word of mouth marketing. Orang marketing yang biasa bermain dengan iklan atau orang PR yang biasa bermain dengan publistas?
Data yang direlease AirPR menunjukkan bahwa PR menghasilkan tingkat konversi 10 sampai 50 kali dari konversi iklan. Sebuah studi Nielsen terbaru menunjukkan bahwa earned media – sebuah frase yang bisa berarti kemewahan bagi PR - lebih efektif daripada konten bermerek pada semua tahap keputusan pembelian. Yang dimaksud dengan earned media adalah pesan apa saja yang dikatakan oleh orang-orang mengenai produk dan brand kita di social media, bukan akun social media yang kita miliki.
Ini bukan untuk membuat PR menjadi overdosis. Tapi hal itu semata karena paradigm bahwa tujuan PR adalah untuk meningkatkan kredibilitas melalui dukungan pihak ketiga. Bila kita sepakat dengan paradigm tersebut, adalah sebuah kesalahan bila perusahaan atau siapa saja memiliki pikiran bahwa untuk memvalidasi pihak ketiga berarti hanya berhubungan dengan media dan mungkin beberapa selebriti.
"Banyak orang hanya menganggap tokoh-tokoh industri dan 'bintang rock' saat dalam pikiran mereka muncul tentang influencer," kata Sarah Skerik, wakil presiden komunikasi strategis dan konten di PR Newswire. Padahal, nama-nama influencer bisa siapa saja dan darimana saja datang, termasuk yang ada di LinkedIn misalnya. Bahkan seringkali terjadi, sebuah program lebih berhasil hanya dengan mengandalkan retweet oleh nama-nama besar di Twitter. Gap
Pertenyaannya adalah, untuk membangun publisitas apakah influencer tadi kita anggap sebagai media, dalam hal ini adalah perluasan dari fungsi saluran komunikasi? Berpijak ada pertanyaan itu, apapun jawabannya, tantangan praktisi public relations saat ini adalah menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi pada konsep berita dari media sosial dan mobile. Tidak ada lagi episode kesuksesan yang menggambarkan bahwa anggaran kampanye yang besar adalah tiket menuju sukses.
Sebaliknya, merek harus memperluas jejaring yang bersinggungan langsung dengan audience dan selalu aktif mempertahankan kehadiran mereka di benak pikiran audience. Ini berarti mereka harus menggunakan kombinasi validasi pihak ketiga, bersama dengan konten bermerek dan jejaring sosial.
Kini tidak ada peluru perak. Artinya, penyebutan merek kita oleh surat kabar harian besar tidak jaminan bahwa sebutan itu bisa mencapai seluruh audiens Anda. Audiense Anda saat ini berinteraksi dengan banyak media dan touch point lainnya. Memori mereka juga terbatas dan terseleksi.
Karena itu peran public relations saat ini berubah secara signifikan menjadi pekerjaan yang jauh lebih besar karena opini orang tentang merek kita terjadi dalam 24 jam sehari dan tujuh hari dalam seminggu. Untungnya, teknologi membantu mengubah PR menjadi sesuatu yang yang memungkin Anda dapat menjalankan dan mengukur hasilnya dengan cepat.  
Perusahaan kini tak lagi harus mengandalkan penempatan media sebagai satu-satunya bukti keberhasilan PR; hari ini dipersenjatai dengan alat yang tepat, mereka dapat memahami dampak dari PR sebagai gerbang ketertarikan audience dan akhirnya mengarahkan ke penjualan.

Kok sampai penjjualan? Kita balik lagi kesepakatan Barcelona yang telah mendesakralisasi AVE sebagai tolok ukur keberhasilan program public relations. Dalam satupoint tolok ukur keberhasilan suatu program PR adalah pengukuran tentang outcome. Isinya apa? Salah satunya adalah efek ekonomi yang bisa dirasakan persuahaan karena kegiatan PR tadi. 

Minggu, 21 September 2014

DARI AIDA KE AISAS (3) – Smartphone ini Terjual Ribuan Unit dalam Hitungan Menit


Ini memang spektakuler. Untuk pertama kalinya, penjualan perdana sebuah smartphone tidak dilakukan melalui outlet melainkan online. Adalah Smartphone Xiaomi yang melakukan penjualan dengan sistem adu cepat dalam transaksi online (flash sale).
Sebetunya, penjualan melalui flash sale ini adalah kali ketiga untuk merek Xiaomi. Akan tetapi kali pertama untuk smartphone baru. Pada 18 September 2014, Lazada membuka penjualan online (Flash Sale) bagi smartphone pertama Xiaomi yang masuk ke Indonesia, Redmi 1S.
Ini adalah kali ketiga website e-commerce itu melakukan Flash Sale, dengan tingkat penjualan yang semakin baik. Di sesi pertama, walau sempat terkendala kerusakan sistem, Lazada berhasil menjual 5.000 device Redmi 1S dalam waktu 7 menit. Di sesi kedua, masalah sistem sudah bisa teratasi, dan 10.000 device Redmi 1S habis dalam waktu 12 menit. Kemarin, di sesi ketiga, 10.000 Redmi 1S langsung habis hanya dalam waktu 6 menit, Wow!
“Periode pertama lima ribu unit dalam enam menit, periode kedua 10 ribu unit dalam 12 menit, dan terakhir 18 September kami jual 10 ribu dalam 12 menit,” kata Senior Vice President Marketing and Bussiness Development Lazada, Andry Huzain, Sabtu (20 September 2014 ) di Jakarta.

Berdasarkan data penjualan berbagai merek ponsel di Lazada, kata Andry, ponsel berharga murah dan memiliki spesifikasi tinggi merupakan yang paling banyak dicari oleh pembeli. “Trennya sekarang orang cari ponsel low-cost, tapi spesifikasinya tinggi. Orang beli Xiaomi karena murah, tapi spesifikasinya setara dengan ponsel Rp5 jutaan,” kata Andry.
Andry juga menambahkan, ponsel berharga murah dan berspesifikasi tinggi lainnya seperti Motorola Moto G juga banyak diminati oleh pembeli. Salah satu pembeli ponsel Xiaomi di Lazada, Septi Ambarwati, mengaku tertarik membeli ponsel asal Tiongkok itu karena alasan tersebut. “Harganya murah, spesifikasinya sudah tinggi,” ujar Septi.
Di tempat terpisah, pengamat teknologi Teguh Prasetya mengatakan masyarakat Indonesia lebih tertarik dengan produk berharga murah. “Ini karena value for money, yang kedua spesifikasi Xiaomi sudah tinggi, dan produk itu lagi tren di luar negeri,” ujar Teguh ketika dihubungi.
Namun, Teguh mengemukakan, jumlah penjualan Xiaomi di Lazada bukanlah penjualan yang sebenarnya. “Ini bukan real demand, yang beli bukan pengguna saja, tapi juga orang yang beli untuk dijual lagi,” ujar dia.
Perusahaan “mobile internet” asal Tiongkok yang baru berdiri sekitar empat tahun lalu, Xiaomi, memang menerapkan strategi pemasaran melalui media sosial. “Soal strategi pemasaran, kami menggunakan media sosial,” ujar Vice- President Xiaomi Global, Hugo Barra, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (27 Agustus 2014).
xiaomi-copying-appleEntah sengaja atau tidak, dari awal, Xiaomi memang telah menjadi pembicaraan publik. Ini karena desainnya dan speknya yang dianggap menjiplak iPhone. Namun menurut salah seorang pembelanya, Xiaomi dan iPhone berbeda. Bila bahan iPhone semua terbuat dari kaca dan logam; Xiaomi terbuat dari plastik murni.
“Sebagai seseorang yang memiliki iPhone, kemudian beralih ke Xiaomi, dan baru-baru ini pindah kembali ke iPhone, saya merasa cukup percaya diri mengatakan bahwa ponsel memiliki tampilan keseluruhan yang sangat berbeda dan berasa. Jika Xiaomi sedang mencoba untuk membuat smartphone dengan menyalin desain iPhone, seperti Barboza yang menyarankan di sini, itu benar-benar mengerikan di penyalinan,” tulisnya (http://www.techinasia.com/york-times-xiaomi-wrong/)
Hugo mengungkapkan, media sosial merupakan sarana yang bagus untuk memperkenalkan produk-produk Xiaomi. Tak hanya itu, melalui media sosial, menurut dia, berbagai keluhan, pertanyaan para pengguna seputar produk pun dapat segera dicarikan solusinya.
Di samping media sosial, lanjut Hugo, Xiaomi juga akan memasarkan produk melalui acara-acara yang mereka gelar, seperti yang mereka terapkan sebelumnya di India.
Hugo mengatakan, di samping fokus memasarkan produk, ia juga berniat membuat merek lokal di negara-negara yang menjadi target pasarnya, termasuk di Indonesia. “Kami tak hanya berniat menjual produk,…Kami juga ingin membangun merek lokal, termasuk di Indonesia,” katanya.
Xiaomi kini resmi memasuki pasar Indonesia. Pada 4 September lalu, Xiaomi merilis smartphone nya, Redmi 1S, di pasaran di Indonesia dengan sistem penjualan online.
Sejumlah toko di pusat perbelanjaan elektronik ITC Roxy Mas, Jakarta Barat menjual smartphone Xiaomi. “Kami sudah menjualnya sekitar seminggu terakhir karena banyak pengunjung yang ingin beli, atau sekadar bertanya,” kata karyawan Sahara Celullar Ira Kosasih, Kamis (11 September 2014).
Ia mengatakan bahwa dalam sehari smartphone Xiaomi terjual dua atau tiga unit. “Walaupun enggak sebanyak Android lain seperti Samsung, tapi handphone Xiaomi ada aja yang terjual setiap harinya,” katanya.
Ia mengatakan bahwa kebanyakan konsumen belum mengetahui bahwa smartphone asal Tiongkok tersebut tidak hanya dijual secara online, tetapi juga sudah tersedia di pusat perbelanjaan. “Kami mendapatkan barangnya dari supplier, tapi ada juga beberapa pemilik toko yang membelinya dari Lazada kemudian menjualnya lagi,” ujar wanita yang bekerja di toko tersebut sejak 2010.
Sementara supervisor toko Neocom Celullar Triana mengatakan hal yang sama, bahwa Xiaomi memang sudah dapat dibeli langsung oleh masyarakat. “Sudah ada yang beli, tapi belum terlalu banyak, karena belum banyak yang tahu,” katanya.
Meskipun tidak menyediakan Xiaomi di tokonya, Triana tetap melayani pembeli dengan mendapatkannya dari supplier.
Ia mengatakan bahwa harga smartphone Xiaomi di ITC Roxy Mas tidak terlalu jauh berbeda jika dibandingkan dengan harga secara online. “Lebih mahal sekitar Rp25 ribu hingga Rp50 ribu dengan yang di Lazada, karena kan tidak ada ongkos kirim juga,” katanya.
Namun hal berbeda disampaikan karyawan Central Celullar Indra Saharja, yang mengatakan bahwa di tokonya tidak menyediakan smartphone Xiaomi. “Saya belum melihat produknya, mungkin karena masih sangat baru,” katanya.

Beda Public Relations dan Media Relations

Orang sering mempertukarkan istilah media relations dan public relations secara bergantian. Berbeda dengan pandangan umum, dua istilah tersebut tidak sama. Media relations menyelesaikan satu tujuan, sedangkan public relations menangani yang lain. 
Hubungan Masyarakat
Tugas PR berhubungan dan berkomunikasi dengan semua elemen publik relations untuk membangun relationship dengan perusahaan atau organisasi.  Publik tersebut mencakup karyawan, pelanggan, industri, lembaga pemerintah, investor, badan amal, pemasok dan media.
Dalam menjalankan tugasnya, public relations selalu melihat gambaran yang lebih besar tentang bagaimana sebuah organisasi dirasakan pada umumnya. Karena itu sangatlah penting bagi perusahaan  untuk menjalankan operasinya dengan cara yang paling etis dan otentik. PR yang baik dapat membantu perusahaan untuk memahami pelanggan dan memberikan solusi yang berarti. PR profesional sering bekerja dengan manajemen senior untuk berhubungan langsung dengan internal dan eksternal penting perusahaan. Mereka menggunakan baik media tradisional dan internet yang digunakan. Para praktisi PR memiliki kemampuan untuk melakukan penelitian, menulis dan berbicara.
Media Relations  
Media Relations melibatkan interaksi perusahaan dengan editor, reporter dan wartawan. Media bisa  berupa surat kabar, radio, televisi dan online. Tujuannya adalah untuk mengkomunikasikan pesan berita, cerita atau informasi dari klien atau perusahaan. Dalam media relations, sebuah perusahaan mungkin hanya perlu satu orang untuk bekerja dengan media. Sebuah perusahaan juga dapat memilih menyewa sebuah tim atau bekerja dengan perusahaan luar untuk mengisi peran itu.
Media relations spesialis biasanya berhubungan dengan media setiap hari. Profesionalnya bekerja untuk mengembangkan dan merancang rencana media yang dapat menjadi cetak biru yang ingin dicapai perusahaan di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Strategi bisnis yang dirancang untuk mengelola dan menciptakan persepsi positif terhadap perusahaan.
Sebagai seorang media relations spesialis adalah penting untuk bekerja dengan -- dan tidak bertentangan --  media. Hubungan yang kuat dapat memberikan kepada wartawan, blogger dan penulis konten yang mungkin ingin mendengar tentang yang Anda katakan.
Sementara garis tak kasat mata yang ditarik antara PR dan hubungan media, agar berhasil profesional di kedua bidang haruslah ahli dalam komunikasi massa. Tren informasi harus diantisipasi dengan baik dan harus bisa dengan cepat diakses.

Semuanya harus dilakukan dengan cara menempatkan perusahaan Anda dalam cahaya yang positif. Individu harus memiliki setidaknya gelar sarjana dalam jurnalisme atau komunikasi. Pengetahuan luas tentang Internet dan media sosial adalah keterampilan tambahan yang penting. 

Selasa, 16 September 2014

No Sign of Slowdown in Turnover of Marketers

Dalam sepuluh tahun terakhir, perpindahan eksekutif di bidang pemasaran begitu tinggi. Makin sedikit eksekutif pemasaran yang menduduki posisinya di perusahaan lebih dari tiga tahun. Bagaimana fenomena itu terjadi? 

Sepuluh tahun lalu, Fibriyani Elastria adalah seorang trainer di PT. Astra international. Kini, mulai 1 Mei 2012, lulusan teknik arsitektur ITB tahun 1996 itu mengisi posisi Direktur Marketing di AXA-Mandiri, sebuah perusahaan yang memimpin pasar bancassurance di Indonesia. Ini berarti, dalam karirnya di dunia marketing selama sepuluh atau sebelas tahun, kelahiran 10 Januari 1979 mengalami lompatan karir luar biasa. 


Sebelum bergabung dengan Axa-Mandiri, Fibri sempat bekerja sebagai Senior New Product Development Manager Coca-Cola Bottling Indonesia (kini Coca-Cola Amatil Indonesia, red). Di Coca Cola, Fibri tidak sampai setahun. Ini karena belum lama bergabung dengan Coca Cola, Fibri dihubungi head hunter dan ditawari posisi sebagai Vice President of Corporate Branding, Marketing & Communication PT. A.J Sequis Life.

“Pada awalnya saya tidak mau karena saya baru beberapa bulan di Coca-Cola. Akan tetapi, untuk menjaga hubungan baik, saya mau datang untuk bertukar pikiran. Setelah beberapa kali bertukar pikiran, saya tertarik untuk men-set up marketing dari awal dan menerima tawaran itu,” ujar wanita kelahiran Pangkal Pinang yang bergabung dengan Sequis Life sejak Juni 2008 ini.
Tahun lalu total perolehan premi Sequis Life mencapai Rp 1,65 triliun atau tumbuh 15% dibanding tahun 2010. Perolehan premi baru Rp 600 miliar, tumbuh 34,7% dari tahun sebelumnya. Kontribusi premi 90% unitlink dan 10% tradisional. Dengan tambahan produk baru, penjualan produk tradisional tumbuh 20%.

Itu pengalaman Fibri. Lain lagi dengan Febriati Nadira. Akhir tahun 2011, kabar kepindahan Febriati Nadira (@FNadira), Head of Corporate Communication PT XL Axiata (XL) ke Mandiri Sekuritas sebagai Executive VP Corporate Communication Mandiri Sekuritas sempat mengejutkan para jurnalis, terutama jurnalis telekomunikasi. Dimaklumi, peraih penghargaan PR People of the Year 2011 itu sangat dekat dengan para pencari berita.

Perempuan cantik kelahiran Situbondo ini bergabung ke XL Axiata sejak 2007 sebagai Manager Public Relations XL Axiata. Pada 2009, Ira – panggilan akrab F Nadira, menjabat Head of Corporate Communications XL Axiata sejak 2009 setelah pejabat sebelumnya, Mira Junor, mengundurkan diri karena mendampingi suaminya yang bertugas di luar negeri. 

Ira memang piawai dalam berkomunikasi dengan para influencer dan buxxer di dunia maya maupun konvesional. Ketika menjadi pembicara tamu dalam workshop tentang public relations yang diselenggarakan Majalah MIX, Ira banyak bercerita tentang pengalamannya dalam berhubungan dengan para inluencer di dunia maya. “Bila kita akrab dengan mereka, kita juga dapat manfaat karena mereka bisa sekaligus sebagai sumber informasi,” kata Ira yang kini menjabat Head of Corporate Communication Adaro. Sebelum bergabung dengan XL, Ira yang menempuh pendidikannya di jurusan Akuntansi Universitas Wijaya Kusuma Surabaya itu adalah Corporate Communications PT Telkomsel dari 1996 hingga 2007. Ira mengawali karirnya di Telkomsel sebagai customer service pada 1995.

Febri dan Ira hanyalah sekian dari puluhan hingga ratusan marketer yang bisa dengan mudahnya mendapatkan posisi-posisi baru. Lihat saja Toni Darusman. Usianya baru 36 tahun. Namun, sejak lulus sebagai sarjana teknik  tahun lalu, kelahiran Padang yang kini menjabat Marketing Director untuk brand Bir Bintang, Heineken, GreenSands, dan Bintang Zero, telah singgah di beberapa perusahaan. Dia pernah di HM Sampoerna, Coca Cola Indonesia, dan Unilever Indonesia. Di Sampoerna, Toni singgah agak lama, dari 2001 sampai 2008. Namun setelah itu, tercatat dia pindah perusahaan tiga kali. 

Bukan rahasia lagi bahwa di tingkat global, chief marketing officer (CMO) adalah posisi paling sedikit aman diantara jajaran puncak. Tingkat perputaran (turn over) CMO ini relative cepat di hamper semua bidang, kecuali di perusahaan restoran siap saja. Menurut Greg Welch, seorang pimpinan perusahaan produk konsumen global – seperti yang ditulis Forbes, lama masa jabatan CMO rata-rata meningkat dari 28 bulan pada tahun 2008, menjadi 32 bulan pada tahun 2004. Namun, angka itu masih lebih rendah dibandingkan rata-rata lama posisi CIO yang mencapai 38 bulan. Sementara itu, posisi lainnya tidak ada yang berada di bawah 46 bulan.

Menurut Simon Bassett, Direktur EMR– sebuah perusahaan yang mengkhususkan pada rekrutmen eksekutif – seperti dikutip MarketingWeek (27/3/2012) -- belakangan ada fenomena yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Saat ini, begitu banyak kegiatan pemasaran bergerak semakin ke dalam ruang digital, ada keyakinan bahwa orang yang lebih muda lebih mampu menggunakan alat-alat baru yang ditawarkan. Itu sebabnya, banyak posisi manajemen marketing tang diisi tenaga muda dan menggeser tenaga yang lebih tua.

Kini, kata Welch, lebih dari sepertiga CMO yang bertahan di posisinya kurang dari tiga tahun. Yang bisa menjelaskan kenapa para CMO itu susah untuk bertahan lama, salah satunya adalah karena persoalan yang disebut dengan "Dilema Marketer."  Disini, seperti yang kita tahu, seorang CMO selalu dituntut bahwa pada hasil hari ini, mengerjakan sesuatu yang sama, dan selalu berharap-harap untuk segera keluar dari persaingan sebagai pemenang.

Yang jadi persoalan adalah fokus yang pendeknya. Ini menjadi suatu keharusan karena bila terlalu berfokus pada inovasi jangka panjang, itu berarti mengabaikan pencapaian hari ini, berarti pesaing masuk. Melupakan pencapaian hari ini berarti kehilangan peluang dan pesaing telah mengambilnya. Sehingga,  apa yang dicapai hari ini akan sangat menentukan apa yang akan dicapai dalam masa mendatang.

Dalam situasi tersebut, seorang marketer dituntut untuk terus berinnovasi. Ketika beberapa inovasi besar yang gagal, maka dia kehilangan kredibilitasnya. Di sisi lain, pemasaran yang efektif bukan ilmu roket. Untuk membangun suatu merek, butuh strategi dan waktu jangka panjang. Dan apa yang dilakukan marketer, public merasakannya.

Namun, menurut Hasnul Suhaimi -- Presiden Direktur PT. XL Axiata Tbk. – perpindahan itu lebih diakibatkan oleh ketidakmampuan perusahaan dalam mengantisipasi perubahan pelanggannya. Menurut Hasnul, seorang marketer biasanya lebih loyal ke konsumennya daripada ke perusahaannya.  Jadi biasanya apabila perusahaan mereka tidak mampu mengikuti perkembangan/trend yang terjadi dipasar atau konsumennya, mereka akan pindah ke perusahaan lain yang lebih mampu mengakomodasi perubahan trend ini.  “Di XL kita selalu memastikan bahwa kita bukan hanya tidak boleh ketinggalan trend di pasar komunikasi, tapi kita harus membuat gebrakan-gebrakan atau terobosan baru yang  innovatif dan menciptakan trend baru,” katanya.

Makin banyaknya perpindahan itu, tentu bukan sesuatu yang baik bagi siapa pun yang peduli dengan pemasaran. Menurut O'Connell dan Kung (2007), biaya yang muncul akibat perindahan karyawan itu mahal. Selain perusahaan harus mengeluarkan biaya pengganti, ada biaya tersembunyi seperti kehilangan produktivitas, masalah keselamatan kerja, dan kerusakan moral. Dalam konteks pemasaran, masalah yang muncul akibat perindahan karyawan – terutama jika yang pindah adalah seorang pengambil keputusan – adalah absennya sebuah mercusuar yang bisa menuntun arah pengembangan merek jangka panjang. Ini berakibat terjadinya ketidaksesuaian message yang harus disampaikan sebuah merek dan realitas yang ada. Kedua, terjadinya ketidakkonsistenan message yang disampaikan antara satu program dengan program lainnya.

Seperti yang dikemukakan Hasnul, peran marketer adalah untuk menciptakan differentiation tidak hanya melalui produk, tapi juga melalui positioning sebuah merk. Kedua, yang tujuannya menciptakan loyalty para konsumen mereka. Dan ketiga, menciptakan business value creation dalam jangka menengah dan yang lebih panjang. Nah, ketika marketer berpindah, yang dikhawatirkan adalah terjadinya ketidakpastian.  

Di sisi lain, kondisi eksternal memungkinkan terjadinya perpindahan itu. Sebab seperti kita ketahui,  kondisi pasar selalu dan terus berubah. Ini menuntut kemampuan daya adaptasi pengelola merek terhadap perubahan itu. Menurut Ruby Chandra Lionardi -- Head of Marketing Nojorono Group – terdapat kelemahan di kalangan marketer di Indonesia. Pertama, paradigma berpikir deduksi marketing yang keliru. Contohnya, kalau sudah rutin dikerjakan sebelumnya, mengapa tidak diteruskan. Kedua, paradigma berkarya marketing yang tidak tuntas. Misalnya, perencanaan yang bagus, lemah di eksekusi, atau kompromi terlalu banyak ketika menghadapi kesulitan.

Ketiga, paradigma fokus yang terlalu banyak. Gejala umumnya adalah melakukan spending besar untuk terlalu banyak program marketing.  “Padahal, fokus marketer seharusnya cuma satu, yaitu menciptakan dan menyampaikan value yang superior, yang secara unik bisa dimiliki oleh company atau brand,” tambahnya.

Dalam kondisi seperti itu, untuk mendapatkan perspective yang baru dan segar, biasanya perusahaan membutuhkan marketer dari industri yang berbeda. Ini karena kebanyakan marketer menderita ‘marketing myopia‘ atau rabun marketing bila seorang marketer terlalu lama bergerak di satu bidang industry saja. “Karena itu, dibutuhkan marketer dari industri yang berbeda dengan pemikiran pemikiran baru untuk melihat tantangan yang sama sehingga melahirkan solusi yang berbeda,” kata Hasnul.

EVALUATING PR EFFECTIVENESS – PENTINGNYA PERUMUSAN TUJUAN

Praktek public relations telah mengalami pertumbuhan dan evolusi yang luar biasa selama 30 tahun terakhir. Perubahan lingkungan bisnis menyebabkan peningkatan kebutuhan untuk komunikasi dengan publik. Makin sering terdengar suara-suara yang menginginkan para praktisi public relations (PR) mengembangkan metode pengukuran yang bisa digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan dari suatu kegiatan PR.
"Iklim saat ini menuntut perhatian pada penelitian evaluasi atau prosedur untuk menentukan keberhasilan rencana public relations – mulai dari awal.  Dengan makin besarnya tuntutan akuntablitas yang dihadapi oleh praktisi PR, setiap rencana public relations harus ditunjukkan dengan pencapaian dampak yang dapat diukur "(Guth dan Marsh, 2003, hal. 204).
Dalam 10 tahun terakhir, tulisan-tulisan yang membahas tentang evaluasi berkembang pesat. Linda Childers Hon misalnya, telah menulis beberapa artikel tentang pengembangan dan memperluas penelitian tentang evaluasi di beberapa jurnal. Dalam kaitannya dengan evaluasi, tema yang sering dingan masalah penetapan tujuan tujuan public relations. Dalam konteks ini sudah tentu harus diturunkan dari tujuan organisasi.
Meskipun definisi efektivitas dalam public relations berlimpah, kata Linda, tema yang paling menonjol dalam literatur ilmiah dan pers perdagangan adalah bahwa public relations yang efektif terjadi ketika kegiatan komunikasi mencapai tujuan komunikasi (dengan cara yang efisien biaya). Implisit dalam model ini adalah bahwa tujuan hubungan masyarakat berasal dari keseluruhan misi, tujuan, dan sasaran organisasi. Jadi, melalui evaluasi public relations, praktisi dapat ditunjukkan peran public relations -- baik langsung atau tidak langsung --  dalam pencapaian tujuan organisasi "(Hon, 1998, hal. 104).
Penentuan tujuan merupakan salah satu dari empat bagian model komunikasi strategis. Setelah nilai-nilai organisasi atau perusahaan diketahui, tujuan komunikasi dapat ditentukan dengan tepat. Tidak cukup hanya menentukan tujuan yang kedengarannya positif, misalnya departemennya menjadi lebih baik ketimbang sebelumnya.
Riset menunjukkan bahwa tujuan harus ditentukan dengan kriteria tertentu. Pada saat perusahaan atau organisasi berkomunikasi untuk mencapai tujuannya, akan lebih baik bila tujuan tersebut ditetapkan secara spesifik. Ini karena tujuan yang spesifik memampukan komunikator untuk memetakan kondisi yang harus dipenuhi untuk mencapai tujuan tersebut.
Selain itu, organisasi atau perusahaan menyadari bahwa kinerja adalah lebih baik jika tujuannya ditetapkan dengan baik. Karena itu, menentukan tujuan yang spesifik dan baik harus menjadi pertimbangan penting dalam menyusun sebuah perencanaan PR. Ini karena tujuan membantu mengarahkan perhaian dan tindakan selama komunikasi karena tujuan memberi Anda target untuk dibidik. 
Tujuan berguna dalam memobilisasi usaha-usaha yang Anda butuhkan untuk melakukan tugas dengan sebaik-baiknya. Penentuan tujuan membuat Anggunakan energy da menyadarikebutuhan energy mental, emosi dan fisik dalam elakukan tugas komunikasi dan mendorong Anda  untuk menghemat dan menggunakan energy secara cermat
Karena penetapan tujuan merupakan faktor pentiong dalam sebuah perencanaan komunikasi yang matang, perlu memastikan bahwa tujuan dibuat dengan mengidentifikasi dan disepakati di awal proyek. Dalam kaitan itu, tujuan disusun dengan menggunakan beberapa tolok ukur. Pertama, tujuan harus kongkret. Tujuan harus spesifik dan dapat diketahui, tidak samar-samar atau bentuk bebas. Tujuan  tersebut tidak seperti amuba, organisme mikroskopis yang terus-menerus mengubah bentuknya. Tujuan komunikasi memiliki ketetapan dan definisi mereka yang meminjamkan kejelasan dan pelaksanaan.
Kedua, harus terkait dengan tujuan bisnis. Tujuan komunikasi harus jelas, ketat hubungan antara bisnis dan posisi tujuan menyeluruh organisasi, dan tujuan dari rencana komunikasi. Jika hal ini tidak sinkron, semua upaya kelanjutan dari rencana akan lewat dan sebagian besar sia-sia.
Ketiga, dapat dilaksanakan. Apakah tujuan rencana menyatakan sesuatu realistis? Apakah bisa dicapai mengingat sumber daya yang ada? Jika tidak, tujuan akan harus disajikan kembali, dibumikan dan dipraktiskan. Penentuan tujuan tidak boleh untuk mencapai hal yang mustahil.
Keempat, action-oriented. Adalah salah satu tujuan yang menggugah orang untuk cepat, tindakan tajam? Tempo hati dari lingkungan bisnis saat ini, yang tampaknya berubah dengan kecepatan garis, menuntut agar rencana komunikasi mewujudkan tujuan yang maksimal - ke tingkat maksimum yang mungkin - semua peserta 'kegesitan, bakat dan drive. Tujuan Rencana harus memindahkan orang, dan harus memindahkan mereka ke arah yang benar. Ini semua tentang pemberdayaan.
* Hasil-driven. Tujuan harus diartikulasikan sedemikian rupa bahwa mereka yang bertanggung jawab untuk eksekusi rencana itu mampu mengetahui -- pada setiap titik di sepanjang garis waktu proyek -- bahwa mereka berkontribusi pada hasil yang diinginkan. Dengan demikian, jika tidak diukur dari tujuan pencapaian dapat diandalkan diverifikasi secara terukur, maka tidak ada seorang pun yang terlibat bisa yakin mereka telah melakukan hal yang benar atau apakah mereka mencapai sesuatu yang telah mereka tetapkan untuk dilakukan.

CONTOH KASUS – FESTIVAL JAJANAN BANGO


Sejak kecap bermerek Bango diakuisisi di tahun 2001 oleh Unilever Indonesia, perusahaan asal Belanda itu tampaknya sudah tahu apa yang harus dilakukan terhadap brand legendaris ini. Sederet acara rutin dilakukan, namun tidak ada yang sanggup mengungguli event sebesar “Festival Jajanan Bango (FJB)” baik dalam hal pengumpulan jumlah pengunjung hingga brand awareness, termasuk acara yang digelar di bulan April 2013 lalu.
Diklaim sebagai event terbesar Bango, acara ini bahkan menyedot jumlah pengunjung hingga lebih dari 400.000 orang di penyelenggaraan tahun 2013 yang tersebar di lima kota besar Indonesia yaitu Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung, Malang. Menariknya, ungkap pihak Mariska Widhiana, Senior Brand Manager Bango, setiap tahun jumlah pengunjung FJB selalu bertambah.
Festival Jajanan Bango tahun 2013 dimulai dari Kota Bandung pada Sabtu (9/2/2013), dan diakhiri di Jakarta pada Sabtu, (13/4/2013) di area Parkir Timur Senayan. Target dari festival ini menyasar audience masyarakat umum pencinta kuliner, pemerintah setempat, dan media lokal maupun nasional. Tak pelak, banyak keluarga yang datang di tiap kota.
Digagas sejak tahun 2005 lalu, festival ini menurut Unilever Indonesia memang mengkhususkan diri untuk menyajikan, menggali, sekaligus mempopulerkan makanan tradisional khas Indonesia. Sesuai dengan core brand sebagai pendamping makanan, ungkap Mariska, produk Bango melihat bahwa lewat makanan akan semakin mendekatkan konsumen kepada brand, karena itu acara FJB tiap tahun rutin di gelar.
Diungkapkan Mariska, lewat tema “Legenda Kuliner Indonesia” FJB tahun ini (2013) merupakan bentuk penghargaan akan dedikasi komitmen para pedagang makanan yang konsisten dalam upaya pelestarian kuliner Indonesia.  Karena itu, strategi Bango di gelaran tahun ini adalah sengaja mengundang para praktisi kuliner senior, pakar kuliner seperti Bondan Winarno, komunitas penggemar kuliner yang memiliki basis lebih dari 4.900 orang, hingga para food blogger ternama.
Menggunakan pendekatan yang konsisten tiap tahun dengan memanfaatkan TV Commercial (TVC), print ad, ad-lips di radio, serta digital ads untuk awareness acara. Berdasarkan media coverage per 7 Juni 2013 yang didapat FJB dan kecap Bango, tercatat sekitar 281 artikel dari media cetak dan online berhasil dihimpun selama kurun waktu kegiatan berlangsung dengan total communication value yang mencapai angka sekitar Rp 32 miliar.
Maka tak salah jika akhirnya, Festival Jajanan Bango didaulat menjadi pemenang kedua dalam PR Program of The Year 2013 untuk kategori Marketing PR yang digelar oleh Majalah MIX MarComm setiap tahun dengan total nilai 482. Menurut Felix Jebarus, salah satu Juri PR Program of The Year 2013, “program ini cukup menarik dan lengkap sebagai aktivitas Marketing Public Relation (MPR),” katanya.
Namun bagi Elvera N Makki, salah satu Juri dalam PR Program of The Year 2013 mengatakan, “justru tantangan Bango kini adalah bagaimana melakukan program tahunan yang tidak terkesan pengulangan. Saatnya aktifkan social media secara komprehensif,” ungkapnya.
Pada penyelenggaraan ketiga festival ini pada 2007, Unilever menetapkan tiga tujuan dari penyelenggaraan festival tersebut. Pertama, meningkatkan brand awareness Bango, kedua, meningkatkan penggunaan Bango oleh konsumen, dan ketiga, mendorong penggantian merk kecap yang digunakan menjadi Bango.
Kenapa Unilever perlu meningkatkan awareness Bango? Dari reseach yang dilakukan menunjukkan bahwa saat itu brand awareness Bango dibanding kompetitor lainnya masih relatif berimbang. Dengan kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan brand awareness Bango, tidak hanya lewat event FJB di lapangannya sendiri tapi juga aktivitas yang berhubungan dengan FJB seperti promosi event, berita peliputan dan juga word of mouth diantara konsumen dan pedagang makanan yang terlibat.
Hal kedua, melalui event ini konsumen dapat merasakan bahwa Bango cocok untuk berbagai masakan dan menjadikannya lebih nikmat. Di sini terjadi proses trial yang kemudian diharapkan berkembang menjadi pelanggan setia.
Selain dari sisi fungsional, diharapkan dapat ditimbulkan persepsi bahwa Bango adalah brand yang peduli atas makanan tradisional, sehingga menambahkan nilai yang ditawarkan kepada para konsumen. Selain itu dengan fakta bahwa Bango dapat digunakan untuk berbagai masakan, maka diharapkan frekuensi penggunaannya makin sering, serta makin melebar ke berbagai makanan, yang pada akhirnya akan meningkatkan penggunaan Bango, baik oleh pengguna setianya maupun oleh pengguna baru.

Setelah fase trial seperti yang dipaparkan diatas, diharapkan mereka akan menjadi pelanggan setia Bango, selain karena alasan fungsional (membuat jadi enak) juga karena alasan emosional (keperdulian atas makanan tradisional).