Jumat, 14 November 2014

Pemasaran Tradisional Vs Modern

Persaingan dan perkembangan teknologi telah mempercepat evolusi pemasaran yang berfokus produk ke layanan yang juga berevolusi. Dalam beberapa dekade terakhir, terjadi pergeseran fokus manajemen produk dan merek untuk membangun hubungan pelanggan pemasaran dan akhirnya menciptakan pengalaman pelanggan yang menarik melalui strategi experiential marketing.
Dalam bahasa Kotler (2003), saat ini terdapat dua jenis pemasaran, pemasaran tradisional dan pemasaran modern. Pemasaran modern telah mengambil alih pemasaran tradisional karena menekankan pada konsep pengalaman pelanggan dan experiential marketing.
Kotler (2003) juga menyebutkan bahwa saat ini semakin banyak merek atau perusahaan yang mengembangkan citra non rasional ini. Mereka meminta masukan dari psikolog dan antropolog untuk membuat dan memperbaiki pesan untuk membuat sentuhan jiwa yang mendalam bagi konsumen. Holbrook (2000) percaya bahwa ketika pasar memasuki periode pemasaran pengalaman, fokus utama akan berubah dari kinerja produk untuk pengalaman hiburan.


Dengan kata lain, perbedaan utama antara pemasaran tradisional dan pemasaran modern terletak pada fokusnya. Bila pemasaran tadisional tradional berfokus pada fitur produk dan benefitnya, pemasaran modern berfokus pada pengalaman pelanggan secara menyeluruh.
Cakupannya juga berbeda. Bila pemasaran tradisional cakupannya sempit karena berfokus pada produk dan konsumsi, pemasaran modern menekankan pada situasi sdan suasana mengkonsumsi secara lebih luas dalam konteks sosial budaya. Ini karena pemasar modern melihat bahwa model keputusan pembelian konsumen sekarang lebih bersifat emosial – dala arti mempertimbangkan masalah perasaan, fun, dan fantasi – ketimbang rasional.
Inilah yang membuat pendekatan pemasarannya menjadi berbeda. Bila dalam pemsaran tradisional pendekatannya lebih pada hal-hal yang bersifat analitis, verbal dan kuantitatif, maka pendekatan pemasaran modern lebih pada hal-hal yang sifatnya visual intuitif meski tetap memperhatikan hal-hal yang verbal dan elektik.
Sabtu lalu misalnya, Domino’s Pizza membuka gerai barunya di Tangerang City. Berbeda dengan konsep gerai-gerai sebelumnya, kali ini menghadirkan konsep gerai Teater Pizza, yang menyajikan kepada konsumen sebuah experiential.
Desain storenya ‘lebih mengundang’ dan memberikan suasana yang lebih kondusif bagi pengunjung. Sekarang, staf dan kru store seakan berinteraksi dengan pelanggan. Posisi kru yang menghadap ke luar dan pintu saat membuat pizza seakan mengucapkan selamat datang dan menyambut pelanggan.


"Ini pengalaman yang jauh lebih menarik," kata Merrill Pereyra, Chief Executive Officer Domino’s Pizza Indonesia. Pelanggan dapat melihat pizza mereka dibuat secara langsung di depan mata mereka sendiri, sekaligus mencium aroma pizza yang baru saja keluar dari oven, dan dapat menikmatinya selagi hangat. "Pelanggan bisa duduk, bersantai dan menonton pizza mereka yang dibuat, dan ada papan tulis untuk anak-anak bahwa mereka telah benar-benar datang untuk menikmati."
Gerai di Tangerang City, Jakarta ini menjadi gerai Domino’s Pizza ke-58 di Indonesia. Sejak Domino’s Pizza dibuka untuk pertama kalinya enam tahun lalu di Indonesia, Domino’s Pizza terus menjalin hubungan emosional yang mendalam dengan menawarkan pizza lezat dengan harga terjangkau.
Gerai baru Domino’s Pizza ini juga siap menghadirkan para seniman pembuat pizza yang menampilkan proses pembuatan pizza termasuk atraksi pelemparan adonan ke udara hingga meracik bumbu dan bahan-bahan berkualitas tinggi. Konsep ini telah diterapkan di beberapa negara dan mendapatkan antusiasme tinggi dari konsumen. Kini, konsumen di Indonesia juga dapat menikmati pengalaman menarik ini di gerai-gerai Domino’s Pizza.
Ritch Allison, Presiden Domino’s Pizza Internasional, dalam seremoni pembukaan gerai terbaru di Tangerang City tersebut, menegaskan pentingnya pasar Indonesia bagi Domino’s secara global. “Dengan jumlah populasi 250 juta orang dan terus bertumbuhnya kelas menengah ke atas yang mendorong tingginya konsumsi di dalam negeri dan perekonomian yang sehat, Indonesia akan menjadi pusat pertumbuhan Domino’s di Asia Pacifik dan dunia.”
Merrill Pereyra, Chief Executive Officer Domino’s Pizza Indonesia mengatakan bahwa pertumbuhan Domino’s di Indonesia sangat baik. “Kami mengalami pertumbuhan dua digit selama dua tahun berturut-turut di gerai yang sama. Sebagai salah satu pasar Domino’s yang terus berkembang, kami akan melanjutkan pertumbuhan ini selama tiga tahun ke depan termasuk dengan membuka gerai-gerai baru.”
Di luar itu, Domino’s telah meluncurkan platform Online Ordering untuk memfasilitasi konsumen yang ingin memesan Domino’s di mana pun, kapan pun, baik lewat internet maupun telepon seluler. “Domino’s Pizza terdepan di bidang digital untuk industri pizza di dunia,” kata Pereyra.
Dengan meningkatnya pemakaian internet dan jumlah ponsel di Indonesia, platform ini akan menawarkan kemudahan dan kenyamanan pada konsumen hanya dengan satu klik di mouse komputer atau satu sentuhan di layar. “Hari ini, dengan bangga kami mengumumkan peluncuran aplikasi iPhone yang merupakan pertama kalinya di Indonesia, sementara aplikasi untuk Android akan dapat diunduh akhir tahun nanti.”

Domino’s Pizza menawarkan 30% diskon spesial untuk pilihan Specialty di setiap pembukaan gerai. Sebagai tambahan, Domino’s Pizza juga menawarkan serangkaian pilihan menarik melalui Value Deals, Pizza of the Day, dan Cheaper 2 Days yang sudah sangat populer.