Selasa, 30 Desember 2014

Pelajaran Dari Tony Fernandes tentang Social Media in Crisis


Sejak penerbangan AirAsia 8501 dinyatakan hilang pada Minggu lalu, secara konstan CEO AirAsia Tony Fernandes hadir - baik secara fisik dan maupu digital – di tengah krisis. Dia melakukan perjalanan ke Surabaya -- tempat keluarga korban berkumpul dan pesawat itu berangkat -- beberapa jam setelah berita bahwa pesawat hilang.

Di sana, dia melepas atribut topi bisbol merahnya dan menemui kerabat dan keluarga penumpang. Pada hari Selasa lalu, ketika ada konfirmasi puing-puing pesawat ditemukan di Laut Jawa, lewat Twitter-nya, Tony mentweet, "Bergegas ke Surabaya."

Setiap hari, Tony memposting rata-rata 20 tweet sejak pertama kali mengumumkan berita tentang hilangnya pesawat itu. Tony terus mengupdate keberadaannya, memberikan informasi baru perkembangan pencarian, dan menegaskan kembali fokus pada keluarga penumpang.

Logo maskapai di media sosial juga berubah menjadi abu-abu yang lebih muram dan hanya putih. Sebelumnya logo itu berwarna merah cerah. Selasa kemarin, Fernandes juga mengeluarkan permintaan maaf dan beban tanggung jawab di kakinya.

"Saya minta maaf sebesar-besarnya atas apa yang mereka alami," katanya pada konferensi pers, menurut laporan di Wall Street Journal. "Saya pemimpin perusahaan ini,... Saya bertanggung jawab. Itu sebabnya saya di sini. Saya tidak lari dari kewajiban saya meskipun kita tidak tahu apa yang salah [dalam menyebabkan kecelakaan]. Para penumpang berada di pesawat saya , dan saya harus bertanggung jawab untuk itu. "

Harus diakui bahwa Tony memang berbeda. Betapa tidak, menurut laporan tahunan CEO.com tentang social media engagement di kalangan para pemimpin bisnis, lebih dari dua pertiga (68 persen) dari Fortune 500 CEO sama sekali tidak hadir di media sosial jejaring  utama, seperti Twitter, Facebook, Instagram, Google+ dan bahkan LinkedIn.

Survei juga menemukan bahwa sementara dari tahun ke tahun platform social media menunjukkan manfaatnya, namun sebagian besar CEO masih belum memanfaatkan media sosial. Dengan menggunakan kriteria kehadiran mereka di platform sosial media atau tidak dilihat dari apakah mereka mengirimkan psan dalam 100 hari terakhir, diperoleh gambaran bahwa dari mereka yang aktif hanya pada satu jaringan, 73 persen memilih LinkedIn. Kemudian, 69 persen yang menggunakan Twitter. Sementara itu hanya 8,3 persen CEO yang memiliki akun Facebook, atau naik sedikit dari tahun 2013.

Laporan ini juga mencatat bahwa lebih CEO berada di Instagram dari Google+.

Kondisi tersebut memang masih lebih baik dibandingkan tahun lalu. Berdasarkan survey tahun lalu diperoleh gambaran sekitar 70 persen CEO tidak hadir di jaringan sosial. Dari 38 CEO -- perusahaan yang masuk Fortune 500 – yang hadir di Facebook, Michael Rapino dari Live Nation Entertainment memiliki teman paling banyak, 1723.

Sdmentara itu, di antara 20 CEO perusahaan Fortune 500 yang memiliki akun Twitter, 5 tidak pernah tweeted. Rata-rata jumlah pengikut untuk CEO Fortune 500 yang memiliki akun Twitter adalah 33.250.
Rupert Murdoch News Corp memiliki pengikut terbanyak dengan 249,000 pengikut, menyalip CEO HP Meg Whitman yang sebelumnya berada di nomor satu.

Temuan lain menunjukkan, 10 dari CEO Fortune 500 memiliki lebih dari 500 koneksi LinkedIn, sementara 36 CEO memiliki 1 koneksi LinkedIn atau tidak. Enam CEO Fortune 500 berkontribusi ke blog, dan hanya satu dari enam CEO, John Mackey dari Whole Foods, yang memantaun blognya sendiri. Tahun kemarin, tidak ada CEO Fortune 500 yang muncul di Pinterest.