Kamis, 14 Mei 2015

Beda Antara Strategi dan Taktik

Cukup sering, orang dibingungkan oleh istilah strategi dan taktik. Seringkali orang mempertukarkan penggunaan dua istilah tersebut dalam perencanaan. Padahal sebenarnya, kedua istilah itu berbeda. Ambil contoh strategi bersaing. Menurut pakar strategi Michael Porter, strategi bersaing itu berbicara tentang bagaimana sesuatu menjadi berbeda. Ini berarti tentang pilihan seperangkat kegiatan yang berbeda untuk memberikan campuran nilai yang unik.

Jauch dan Glueck (1996) mendefinisikan strategi sebagai rencana yang disatukan, menyeluruh dan terpadu yang mengkaitkan keunggulan perusahaan dengan tantangan lingkungan lingkungan dan yang dirancang untuk memastikan tujuan utama perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh perusahaan.

Sementara Fred Nickols (2000) menunjukkan bahwa strategi adalah jembatan antara kebijakan atau tujuan di satu sisi dan taktik atau tindakan nyata di sisi lain. Pengambilan keputusan taktis, di sisi lain, lebih memfokuskan pada tindakan sehari-hari dan karena itu cenderung lebih berorientasi respon. Tanpa sstrategi, keputusan taktis bisa membuat program dan kampanye public relations misalnya berjalan tanpa tujuan, kurang arah atau tidak mengetahui apa yang ingin dicapai.

Gamabarn itu memberikan acuan bahwa strategi adalah tentang “apa" yang merupakan bagian dari suatu persamaan yang membantu Anda menjawab pertanyaan tentang "apa yang kita capai?" Namun desain bisnis Anda mungkin tidak berlaku selama. Sebab dalam perjalannya, bisnis mungkin mengalami  trade-off, misalnya pada sisi bagaimana Anda memposisikan bisnis Anda dengan pelanggan dan pesaing.

Realitasnya, setiap bisnis memiliki sumber daya yang terbatas, tapi di sisi lain perusahaan harus dan menyesuaikan dirinya dengan lanskap persaingan. Semakin Anda fokus ke satu hal, semakin sedikit yang bisa Anda lakukan untuk yang lain. Konsep ini mengarah pada taktik, atau bagian tentang "bagaimana" dari persamaan. Taktik membantu Anda menjawab pertanyaan, "Bagaimana kita akan mencapai tujuan kita?"

Dalam tulisannya di Advertising Age , 3 Mar 2008, Al Ries menyatakan bahwa inovasi harus dilihat sebagai taktik, bukan strategi bisnis. Setiap perusahaan yang sukses membutuhkan strategi branding. Namun demikian, kesuksesan itu mungkin memasukkan inovasi. Dalam posisi ini innovasi dilihat sebagai  taktik yang harus digunakan untuk mendukung strategi branding perusahaan.

Pada akhirnya, cara yang baik untuk berpikir tentang perbedaan antara keduanya adalah bahwa strategi sebagai panduan bagi serangkaian tindakan yang dilakukan berbagai departemen atau tim akan melakukannya. Dalam kaitan ini, gagasannya adalah  untuk menyamakan apa yang tidak akan dilakukan dengan apa yang akan dilakukan. Sebagai contoh, sebuah perusahaan memutuskan akan menargetkan kelompok boomer bayi, sehingga membuat keputusan untuk tidak menargetkan generasi lain.



Mengambil ilustrasi yang diberikan Cutlip, Center, dan Broom (2000), strategi melibatkan keputusan kritis dalam perang atau kampanye, seperti apakah akan menggunakan mengandalkan misil atau bom udara. Strategi mewakili keseluruhan rencana kerja. Taktik merupakan keputusan yang dibuat selama pertempuran.

Dalam praktek public relations, strategi mengacu pada keseluruhan konsep, pendekatan, atau rencana umum untuk program yang dirancang guna mencapai tujuan. Sementara taktik mengacu pada tingkat operasional, yaitu kejadian actual, media, dan metode yang dipakai utuk mengimplementasikan strategi.

Sebagai contoh, Cutlip dkk mengilustrasikan keberhasilan Wisconsin Milk Marketing Board (WMMB) yang berhasil lolos dari referendum. Ceritanya, WMMB ingin memenangkan dukungan perusahaan  produsen susu untuk meningkatkan promosi dari lima menjadi 10 persen dari setiap 100 pon susu yang dihasilkan.

Kongres mengharuskan para peternak diseluruh negeri agar menyumbangkan 15 sen dari setiap 100 pon susu yang mereka jual untuk penelitian dan promosi produk susu. Pembgiannya, 5 sen untuk National Diary Promotion and Research Board, dan 5 sen masuk ke organisasi-organisasi negara bagian atau regional. Sisanya yang disebut sebagai middle nickel, keputusannya diserahkan ke peternak untuk memilih organisasi lainnya.

WMMB ingin agar peternak memilih WMMB untuk mendapatkan 5 sen sisanya tadi. Untuk itu, WMMB melancarkan strategi meningkatkan kepercayaan produsen bahwa WMMB mampu membangun pasar produk susu Wisconsin, berhasil dalam pemasaran, penelian, dan pendidikan serta memperoleh dukungan dari pihak ketiga yang berpengaruh.

Taktiknya antara lain memeriksa stuffer, newletter, rapat informal, layanan informasi nomor telepon 800, menyebarkan laporan tahunan, dan stan pameran di Farm Progress Days dan World Diary Expo. Hasilnya, 93 perrsen produsen yang memberikan suaranya dalam referendum tersebut setuju untuk menunjuk WMMB sebagai penerima middle nickel.     

Ilustrasi tersebut menunjukkan bahwa dimensi dari strategi menyangkut tindakan mensegmentasikan publik (segmentasi), memilih publik yang bakal menjadi fokus alokasi sumber daya WMMB (targeting) dan pesan yang ingin disampaikan kepada publik sasaran (posititioning).

Seringkali, dalam proses perencanaan bisnis digunakan tiga tingkat strategi untuk membantu mereka agar tumbuh dan menjadi berkelanjutan. Pertama, strategi tingkat korporasi. Tingkatan ini menjawab pertanyaan mendasar tentang apa yang ingin Anda capai. Apakah pertumbuhan, stabilitas, atau penghematan?

Kedua, strategi tingkat unit. Tingkatan ini berfokus pada bagaimana Anda akan bersaing. Apakah akan bersaing dengan membangun keintiman pelanggan, produk atau layanan kepemimpinan, atau total biaya terendah? Ataukah berdasarkan pada diferensiasi?


Ketiga, strategi tingkat pasar. Tingkat Strategi ini berfokus pada bagaimana Anda akan tumbuh. Apakah akan melalui penetrasi pasar, pengembangan pasar, produk atau layanan pengembangan, atau diversifikasi?