Rabu, 29 Juli 2015

Bisakah Ekonomi Direkayasa agar Lebih Bergairah?


Selama beberapa waktu, ilmu ekonomi didominasi terutama oleh pembuatan teori dengan berbagai macam permodelan yang canggih dan kadang-kadang rumit. Peneliti ekonomi menggunakan kemampuan intelektualitas mereka mengembangkan model-model abstrak untuk menjelaskan (dan memprediksi) fenomena ekonomi. Dengan kata lain, peneliti ekonomi misalnya, terbiasa menggunakan daya nalarnya untuk menganalisis data dalam upaya mencari hubungan sebab dan akibat.
Namun untuk mengetahui penyebab mengapa orang bereaksi dengan cara yang mereka lakukan, mau tidak mau peneliti harus menyisihkan waktu dan pekerjaan yang lebih besar. Meski demkian, bukan berarti tidak ada peneliti yang melakukan itu. Uri Gneezy dan John List salah satunya. Mereka mengkritik cara tradisional dalam melakukan sesuatu dengan mengatakan bahwa hal itu tidak cukup baik.
Merekapun mempertanyakan kalau dengan menggunakan cara seperti itu apakah bisa mengungkap  kebenaran yang ada di balik fenomena yang terlihat? Dengan menggunakan pendekatan yang lebih nyata dalam melihat ilmu yang remang-remang itu, Gneezy dan List menjadikan semua kehidupan sebagai suatu laboratorium dan mengeluarkan hasilnya untuk melihat dunia nyata.
Melalui penelitiannya – yang kemudian sebagian dituangkan dalam buku The Why Axis: Hidden Motives and the Undiscovered Economics of Everday Life ini, kedua penulis berusaha memahami mengapa seseorang melakukan sesuatu. Ini diawali dengan mempelajari suatu fenomena dan berasumsi bahwa  seseorang melakukan tindakan didasari oleh motif yang telah ada dalam pikirannya.
Lalu, Gneezy dan List mencari tahu "jenis insentif" yang menyebabkan individu melakukan suatu hal yang sifatnya altruistic misalnya. Untuk menguji insentif untuk seseorang agar berperilaku dengan cara tertentu, peneliti memasukkan orang yang tidak diberi insentif yang sama dalam eksperimen mereka. Juga ada kelompok kontrol yang dijadikan acuan ada tidaknya dampak intervensi tersebut.
John List adalah seorang professor ekonomi di University of Chicago, sementara Uri Gneezy adalah professor di bidang ilmu ekonomi dan strategi the Rady School of Management, University of California, San Diego. Buku mereka ini dikatapengantari Steven D. Levitt, Salah satu penulis buku Freakonomics: A Rogue Economist Explores the Hidden Side of Everything.
Dengan menggunakan pendekatan ini, Gneezy dan List termasuk golongan revolusioner. Ide dan metode mereka dalam usaha mengungkapkan faktor yang bekerja dalam menangani masalah sosial, bisnis, dan masalah ekonomi yang besar memberi kita pemahaman yang baru tentang motif yang mendasari perilaku seseorang. Dari situ kita mendapatkan struktur insentif yang dapat membuat orang mengubah perilakunya. 
Padahal, seperi diketahui, menemukan insentif yang tepat ibaratnya mencari jarum di tumpukan jerami. Wajar bila kemudian untuk menemukan itu, Gneezy dan List membenamkan diri di pabrik-pabrik, sekolah, masyarakat, dan kantor di mana orang bekerja, hidup, dan bermain. Kemudian, melalui percobaan lapangan skala besar, Gneezy dan List mengamati orang-orang di lingkungan alami mereka tanpa mereka sadari bahwa mereka diamati .
Berikut adalah beberapa contoh hasil riset yang mereka lakukan :
• Kalangan pebisnis melakukan diskriminasi terhadap penyandang cacat karena mereka tidak diharapkan berbelanja. Dalam tes yang dilakukan di Chicago, para ahli menunjukkannbahwa ketika kursi roda kursi orang cacat tersebut muncul di sebuah bengkel mobil, tagihannya sering lebih tinggi daripada orang non-cacat. Ketika orang cacat tersebut menyatakan bahwa mereka akan membayar tiga kali lipat dari perkiraan harga, maka biaya perbaikan disamakan dengan biaya bengkel untuk untuk yang non-cacat. Kesimpulan disi adalah bahwa diskriminasi tersebut terjadi karena keinginan dari pengusaha  memaksimalkan keuntungan, bukan karena ketidaksukaan terhadap kelompok tertent.
• Perempuan menerima upah yang lebih rendah karena mereka kurang ada usaha untuk menegosisasikan gaji begitu masyarakat tidak mendorong perempuan untuk bersaing. Ketika diberitahu bahwa mereka boleh mengeosiasikan gajinya, perempuan melaukan itu. Untuk menguji dasar budaya kenapa perempuan berkeinginan untuk berkompetisi, peneliti mendatangi sebuah daerah di India yang memiliki budaya di mana wanita menjadi dominan dan belajar mereka berkompetisi sebagaimana lelaki lakukan di tempat lain.
Mereka lalu menarik kesimpulan bahwa di dalam masyarakat matrilineal dimana perempuan bertanggung jawab atas pendapatan rumah tangga, kaum perempuannya tidak kurang kompetitif dibandingkan laki-laki. Dengan demikian, mereka berpendapat bahwa sebagian besar kesenjangan gender penghasilan antara perempuan dan lelaki lebih dikarenakan oleh unsur. 
• Ketika seseorang diberi kesempatan untuk memberikan sumbangan amal, mereka sering memberi lebih banyak. Untuk menguji penggalangan dana yang efektif, List menyarankan agar seseorang diberi kesempatan sekali saja untuk menyumbang dan jangan dihubungi lagi.
• Menetapkan harga yang lebih tinggi untuk botol anggur tertentu dapat meningkatkan penjualan . Dalam sebuah eksperimen yang dilakukan eksperimen Gneezy dan isterinya, Ayelet, keduanya membantu seorang petani anggur menentukan harga cabernet sauvignon. Aslinya, harga anggur tadi adalah US$ 10 per botol. Namun kemudian mereka mematok harga US$ 10, $ 20 dan $ 40 untuk setiap botol untuk berbagai kelompok pengunjung. Dari percobaan ini mereka menemukan bahwa harga terbaik untuk anggur tersebut adalah $ 20 bukan $ 10 per botol. Kenapa? "Orang melihat bahwa harga anggur itu sebagai sinyal kualitas. Karena itu, dengan harga yang tinggi mereka berpikir bahwa anggur itu lebih baik," kata Gneezy .
Dalam the Why Axix, Gneezy dan List seakan membawa berpetualang dengan cerita-cerita menarik penuh warna-warni. Temuan praktis mereka tentang bagaimana insentif bekerja, memberikan gambaran bahwa keduanya revolusioner. Penelitian ini bisa jadi dapat mengubah cara kita baik dalam memikirkan dan mengambil tindakan untuk menangani masalah baik yang besar besar maupun yang kecil.
Yang ditemukan Gneezy dan List tidak mengandalkan pada asumsi, tapi menunjukkan kepada kita suatu  bukti dari insentif yang benar-benar bekerja. Siapa pun yang bekerja dalam bisnis, politik, pendidikan, atau filantropi dapat menggunakan pendekatan Gneezy dan List seperti yang dijelaskan dalam bukunya ini. Tujuannya adalah mendapatkan pemahaman mendalam tentang perilaku manusia, dan pemahaman yang lebih baik tentang mengapa dan apa yang memotivasi sesoarng melakukan berperilaku.
Jadi apakah ekonomi bisa dibuat lebih bergairah? Dalam pikiran Gneezy dan List seyogyanya bisa bila kita mengetahui motif-motif seseorang dalam melakukan tindakan ekonomi. Dengan memberikan insentif yang sesuai – tentu saja setelah kita ketahui dari hasil penelitian – diharapkan orang tersebutv bertindak seperti yang kita perkirakan.   
Disinilah pentingnya ekonomi eksperimental dan hal itu lebih dimungkinkan karena saat ini tersedia data yang besar. Melalui percobaan di lapangan, peneliti bisa mengkaji mengapa orang melakukan apa yang dilakukan, tidak hanya tentang apa yang mereka lakukan.

Karena eksperimen menyentuh begitu banyak aspek kehidupan sehari-hari, buku ini membantu khalayak luas memahami peran ekonomi dalam memahami perilaku manusia. “Buku ini ditulis untuk audiens yang lebih besar di samping para ahli,” kata List. "Kami ingin menulis dengan tujuan agar orang lain mengerti bahwa ekonomi memainkan peran dalam kehidupan mereka, " kata List.