Sabtu, 25 Juli 2015

Ekonomi Melemah, Kenapa tidak Menggarap Pasar Rural ?



Sekarang ekonomi masih melemah. Namun, seperti yang ditegaskan pemerintah dalam beberapa kesempatan, kuartal kedua ini diharapkan ekonomi mulai bergerak maju. Ini karena pemerintah menegaskan bahwa stimulus ekononomi segera digulirkan melalui penyaluran dana APBN yang tidak terlambat.
Kedua, stimulus itu akan lebih difokuskan pada upaya menggerakkan pasar yang mempunyai implikasi besar pada masyarakat kelas bawah dan pedesaan. Pemerintah menggalakkan kegiatan-kegiatan padat karya sehingga masyarakat kelas bawah secara ekonomi bergerak maju.
Ketiga, makin banyak penduduk kelas menengah yang tinggal di cluster-cluster pedesaan dekat kota-kota besar. Konsumen ini menunjukkan sikap yang sama dengan rekan-rekan perkotaan mereka karena mereka terhubung melalui jejaring internet dan media sosial.
Pada 2013, McKinsey and Company melakukan studi terhadap lebih dari 5.500 konsumen di 44 kota dan pusat-pusat pedesaan di Indonesia. Komposisi penduduk yang masih muda, berkembang pesat dan urbanisasi, membuat Indonesia menjadi salah satu pasar konsumen yang tumbuh paling cepat di dunia.
Penelitian McKinsey and Company terhadap penduduk perkotaan dan pedesaan menemukan kelompok konsumen, yang jumlahnya sekitar 70 juta, yang optimistis dengan masa depan mereka. Mereka menjadi semakin canggih dalam kebiasaan belanja mereka dan pilihan produk. Itu sebabnya, memahami kebutuhan dan munculnya sikap kelas baru ini dalam mengkonsumsi yang berkembang pesat, akan menjadi penting bagi perusahaan berpikir untuk memperluas pasar mereka di Indonesia.
Jadi bila Anda selama ini fokus di perkotaan, maka cepat-cepat ambil langkah memperluas pasar Anda ke pedesaan, sambil tetap menggarap pasar perkotaan. Ini karena seperti yang ditemukan dalam penelitian McKinsey and Company, segmen pasar di pedesaan tumbuh secara signikan dan ditaksir mencapai 15 juta (dilihat dari yang optimistis terhadap masa depan mereka).
Mereka umumnya tinggal di cluster-cluster pedesaan dekat kota-kota besar. Bila Anda berkunjung ke Palopo misalnya, akan jauh berbeda bila Anda mengunjunginya lima tahun lalu. Konsumen ini menunjukkan sikap yang sama dengan rekan-rekan perkotaan mereka. Artinya untuk memperluas pasar tadi Anda tidak perlu terlalu banyak mengubah strategi taktik Anda. Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana memanfaatkan channel makin banyak pilihannya.
Saluran ritel tradisional, termasuk toko warung, toko kelontong dan pasar becek, masih mendominasi lanskap ritel di Indonesia. Namun demikian, pangsa pasar modern terus meningkat yang diakibatkan oleh makin tingginya pertumbuhan toko-toko modern. Ritel modern modern ini semakin terfragmentasi begitu konsumen – karena bombardier iklan — bergantung pada beberapa saluran – toko-toko, hypermarket, supermarket, department store, dan lain-lain.
Fenomena menarik lainnya adalah, di sebagian besar kategori produk, konsumen Indonesia tidak hanya setia pada merek, tetapi juga menunjukkan preferensi yang kuat terhadap merek lokal. Penelitian McKinsey and Company tadi juga menemukan bahwa 75 % dari mereka yang disurvei, rata-rata, mengatakan sudah ada merek pilihan dalam pikiran ketika mereka pergi ke toko untuk membeli produk perawatan rumah dan perawatan pribadi. Sementara itu, lebih dari dua pertiga mengatakan hal yang sama untuk produk makanan dan minuman.

Konsumen Indonesia masih percaya pada perusahaan Indonesia, bangga menggunakan merek lokal, dan percaya bahwa perusahaan lokal benar-benar memahami konsumen Indonesia, memberikan nilai yang lebih baik atas uang yang mereka bayarkan dibandingkan dengan merek asing. Namun, menarik untuk dicatat bahwa itu semua hanyalah persepsi. Nyatanya, banyak perusahaan asing yang berhasil menangkap pasar melalui lokalisasi atau strategi akuisisi. Itu yang antara lain dilakukan Unilever dengan mengakuisisi teh Sariwagi atau Buavita.