Kamis, 23 Juli 2015

Krisis? Katakan Semua dan Sesegara Mungkin


Karena keahliannya, tak seorang yang menelepon Lanny Davis memberi kabar baik. Mereka selalu menyampaikan masalah.  Sebagai manajer krisis hukum, Davis ibarat public figure seperti orang-orang yang pernah dibantunya -- seperti halnya Bill Clinton, Martha Stewart, utusan khusus AS Charlie Rangel, dan perusahaan-perusahaan seperti Whole Foods. Tangan dinginnya menyelamatkan orang-orang itu saat mereka tersangkut skandal public, pulih dengan reputasi yang masih utuh.
Dalam buku Crisis Tales: Five Rules for Coping with Crises in Business, Politics, and Life ini, Lanny J. Davis banyak menceritakan kisah nyata di balik skandal klien-klien terkenalnya. Dia menjelaskan apa yang dia dan timnya lakukan dengan benar, apa yang mereka lakukan salah, dan bagaimana mereka belajar dari kesalahan dan keberhasilan mereka. Tak dapat dipungkiri banyak praktisi public relations yang masih mengandalkan penyangkalan seperti yang dilakukan Presiden Nixon. Taktik ini sangat merugikan tidak hanya dialami Presiden Nixon tetapi, misalnya, dialami pula oleh Exxon dan BP (bukan klien Davis).
Sebaliknya, Davis berpendapat, penting untuk menceritakan peristiwa secara penuh, bahkan jika perlu ceritakan peristiwanya secara rinci, sebelum mereka membocor informasinya sendiri. Dengan cerita yang terus berlanjut, Anda memiliki kontrol atas bagaimana suatu informasi dilaporkan dan dipersepsikan media. Kebohongan yang merusak bisa menjadi viral dalam sekejap, tapi spin doctor politik bangsa akan mengajarkan Anda bagaimana melawan ancaman reputasi tersebut.
Mr Davis menyebutkan bahwa manajer krisis Presiden Nixon membuat "semua kesalahan mendasar yang membuat krisis makin buruk." Di antara kesalahan itu, mereka berulangkali membantah. Bagi kebanyakan orang seperti kita, langkah tersebut pasti tidak lebih merusak daripada berbohong dengan mengatakan, "Saya tidak melakukan hubungan seksual dengan wanita, Miss Lewinsky." Dan itu disiarkan televisi secara nasional.  Hasilnya memang luar biasa, public lebih mempercayai Clinton ketimbang yang diceritakan Lewinsky.
Dari pengalaman-pengalaman tersebut, Davis seakan hafal betul, bila telepon berdering pada larut malam, hal itu bisa jadi seseorang seperti Martha Stewart dan sebagainya. Mereka meminta bantuan Davis karena ada masalah, menyangkut reputasi mereka. Menghadapi persoalan tersebut, Davis selalu punya dua alternative, masalah persepsi tersebut diselesaikan dengan berfokus pada kampanye public relations, atau hanya memanfaatkan kata-kata persuasif yang tepat kepada orang yang tepat.
Saat ini, memenangkan perkara di ruang sidang  – bukan di media -- tidak lagi menjadi pilihan yang layak. Hari-hari ini, setiap skandal disidang di pengadilan opini public, dan menolak tuduhan dengan seperangkat jawaban adalah alasan untuk menghindari deraan pers, namun hal itu bisa berakibat fatal.
Namun, dalam semua kasus, Mr Davis, salah satu manajer krisis profesional yang paling banyak dimintai konsultasi – dengan berkembangnya media seakan memberikan jaminan bahwa setiap kebohongan atau rumor jika cukup diberi amunisi akan langsung dibicarakan orang. Sebagai insider politik, Davis telah bertahun-tahun membantu politisi, tokoh olahraga, eksekutif bisnis, dan perusahaan-perusahaan melewati krisis reputasi mereka yang bisa jadi merupakan skandal terbesar zaman ini. Setiap kasus yang dia bantu selalu mengikuti lima aturan berharga yang yang mungkin dapat digunakan orang lain untuk melindungi diri dari desas-desus yang merusak baik online maupun offline.
Tidak peduli apakah krisis itu bersifat publik atau siapa orang yang terlibat, ada lima aturan dasar untuk mengendalikannya: 1) Keluarkan semua fakta; 2) Sampaikan fakta-fakta tersebut dalam pesan yang sederhana; 3) Teruslah bercerita; 4) Perjuangkan kebenaran dengan menggunakan jalur hukum, media dan politik; dan 5) Jangan pernah mewakilkan diri Anda dalam krisis. Prinsip-prinsip ini, Mr Davis menulis, tumbuh dari satu membimbing prinsip: "Katakan semuanya, sampaikan sesegera mungkin, dan katakan sendiri."
Mr Davis mengembangkan prinsip-prinsip tersebut setelah selama 25 tahun terlibat dalam pengalaman yang semakin kompleks sebagai litigator federal. Pada 1996, Davis sebagai penasihat khusus Presiden Clinton. Lanny J. Davis adalah seorang pengacara, manajer krisis, konsultan, penulis, dan komentator televisi yang banyak memberikan konsultansi untuk individu, perusahaan, dan lain-lain terutama dalam masalah  manajemen krisis dan hukum.
Lanny pernah menjabat penasihat khusus Presiden Bill Clinton dan juru bicara Presiden dan Gedung Putih mengenai hal-hal yang menyangkut penyelidikan dana kampanye dan masalah hukum lainnya. Pada tahun 2005 Presiden George W. Bush menunjuk Lanny untuk menjadi salah satu dari lima anggota Privacy and Civil Liberties Oversight Board yang dibentuk Kongres AS sebagai bagian dari Intelligence Reform Act tahun 2005.
Itu berarti baik Demokrat dan Republik memanfaatkan jasanya. Lulusan sekolah hukum Yalee, pemenang penghargaan bergengsi Thurman Arnold Moot Court dan bekerja di Yale Law Journal ini sering muncul di Fox News Channel dan jaringan televisi lain sebagai komentator. Dia telah banyak menulis opini di berbagai jurnal dan surat kabar, termasuk The Washington Times.

“Perusahaan kami beralih ke Lanny Davis ketika menghadapi masalah hukum di Washington. Dia menemukan cara menggabungkan kemampuan dia di bidang hukum, media, dan keterampilan politik untuk menemukan solusi yang memuaskan semua pihak. Buku ini menunjukkan efektivitas pendekatan  multi-disiplin dalam manajemen krisis," kata John P. Mackey, co-founder dan co-CEO, Whole Foods Market.