Sabtu, 25 Juli 2015

Masuk ke Pasar Pedesaan, Kenapa tidak Memanfaatkan Platform Digital?

Pekan lalu, pemain e-commerce raksasa Cina Alibaba Group Holding Ltd secara resmi menandatangani perjanjian kemitraan strategis dengan perusahaan Inggris-Belanda, Unilever. Perjanjiannya, Alibaba  membantu kelompok produk konsumen tersebut menjangkau pasar pembelanja China lebib besar.
Kemitraan antara Alibaba dan Unilever, ditandatangani di Hangzhou pada 20 Juli, memungkinkan Unilever memperluas saluran distribusi guna menjangkau pelanggannya di China pedesaan. Pemilik merek sabun Dove, teh Lipton dan es krim Ben & Jerry itu juga akan menggunakan data dari unit online marketing Alibaba, Alimama, dan cloud bisnis untuk meningkatkan strategi periklanan digital.
"Pengenalan produk baru ke China melalui saluran ritel tradisional seringkali perlu membutuhkan  jangka waktu yang panjang antara review dan pembentukan distribusi, sedangkan dengan platform e-commerce menyajikan alternatif yang lebih murah dan lebih mudah," kata Jeff Zhang, kepala Divisi Retail Marketplaces China Alibaba.
CEO Alibaba Daniel Zhang mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka sangat senang bisa memperkuat kemitraan dengan pemimpin industri seperti Unilever. "Perusahaan akan memperkenalkan merek yang saat ini tidak tersedia di China melalui platform Alibaba," kata presiden Unilever untuk Asia Utara Marijn van Tiggelen dalam sebuah wawancara dengan surat kabar online China.
Unilever pertama kali memasuki pasar Cina pada 1986.  Saat ini, perusahaan barang konsumen global tersebut hanya menawarkan sekitar 20 dari 400 lebih merek yang mereka miliki.
Tahun lalu, Unilever membukukan penurunan penjualan di pasar China sekitar 2,7 persen, setelah mencatat penurunan lebih dari 20 persen dalam tiga bulan terakhir pada 2014. Penurunan tersebut disebabkan oleh perlambatan di China yang memaksa pengecer untuk memotong persediaan
Logikanya, emilik merek di Indonesia juga bisa memanfaatkan platform digital untuk masuk ke pasar pedesaan . Indonesia adalah salah satu pengguna situs jejaring sosial tertinggi di dunia. Kegiatan komersial seperti belanja online dan perbankan online, sebaliknya masih memiliki penetrasi yang rendah. Kepercayaan konsumen Indonesia terhadap sistem belanja online masih belum tinggi. Mereka khawatir tentang keamanan dan keselamatan pembayaran, kurangnya dukungan penjualan dan kualitas produk yang dijual yang masih belum dapat diandalkan.
Namun yang mencengangkan, perkembangan sosial media dan mobile di Indonesia begitu masive. Indonesia adalah negara keempat terbesar pengguna Facebook di seluruh dunia. Jakarta adalah salah satu ibukota negara yang penduduknya paling aktif di Twitter di tingkat secara global.
Tak berlebihan bila ada yang mengatakan bahwa 2015 merupakan tahun sosial, mobile, e-commerce, dan pencarian (search) Indonesia. Hal itu setidaknya didukung fakta betapa aktifnya media sosial dan mobile saat kampanye pemilihan legislative atau presiden beberapa waktu lalu. Juga seperti yang dipertontonkan CEO AirAsia Tony Fernandes ketika musibah hilangnya pesawat AirAsia QZ8501, Desember lalu.
Kenapa media sosial begitu massive? Bila menggunakan patokan data pemilu lalu, data dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) menunjukkan bahwa pada Pemilu 2014, ada 14 juta pemilih di kelompok umur 17-20 tahun, dan 45,6 juta pemilih di kelompok 20-30 tahun. Data lain menunjukkan bahwa hampir setengah dari netizens di Indonesia berusia di bawah 30 atau di bawah umur kelompok yang disebut “Generasi Y”, atau dikenal sebagai generasi milenial (lahir di 1980-2000). Dengan kata lain, generasi milenium negara, yang netizens aktif merupakan 40 persen pemilih.
Dalam pemilu legislatif dan presiden lima tahun tahun mendatang, generasi ini masih mendominasi demografi pemilih Indonesia. Politisi yang bisa mencermati perilaku digital generasi ini diperkirakan menang. Ini karena dengan mengenali karakter media sosial dan penggunanya, politisi faham bahwa metode yang telah bekerja selama 30 tahun terakhir, mungkin tidak seefektif atau bahkan tidak bekerja pada generasi yang teknologi savvy ini. Sebuah studi dari Crowdtap dan Ipsos menunjukkan bahwa generasi milenium lebih percaya pada konten yang diciptakan oleh pengguna media (user-generated content -UGC) dari pada media lain.
UGC adalah media yang dibuat oleh rekan-rekan Anda. Ini termasuk update status, posting blog, atau review film – konten yang non-profesional tanpa motivasi yang jelas selain menambahkan pendapat ke lautan pendapat yang sudah ada. Pada dasarnya itulah yang dilakukan orang pada Facebook, Twitter, Instagram, blog atau update Path. Generasi milenium membutuhkan aktivitas online, membuat taktik dan memiliki penetrasi jejaring sosial tertinggi di setiap generasi.
Hal ini mungkin menjelaskan mengapa beberapa perusahaan tidak fokus pada iklan spread dua halaman, editorial atau iklan di majalah sebanyak generasi tua. Mereka yang berasal dari generasi ini tidak merasa perlu untuk duduk di depan TV menonton kampanye politik satu arah, karena yang dimiliki oleh rekan-rekan mereka melalui media sosial lebih “dapat dipercaya” dalam arti mereka juga dapat secara aktif terlibat dalam percakapan.
Tren ini meningkat dengan cepat di daerah perkotaan di Indonesia, bahkan makin cepat manakala wilayah-wilayah lain di Indonesia terhubung infrastruktur internet. Pilihan terhadap media sosial makin tumbuh dalam beberapa tahun mendatang, terutama ketika situs-situs aggregator seperti blog pribadi dan situs-situs konten lainnya makin terhubung. Fakta-fakta baru ini membuat politisi atau bahkan pemasar makin kewalahan karena akan ada begitu banyak pilihan media baru yang bisa mereka pilih.
Indonesia merupakan salah satu pasar ponsel terbesar di wilayah ini. Menurut International Data Corporation, penetrasi mobile di Indonesia hampir 135 persen. Sekitar 28 persen diantaranya adalah pengguna internet yang mengakses web secara eksklusif melalui perangkat mobile mereka.

Konsumen Indonesia terlibat secara online. Sebagian besar konsumen secara aktif menggunakan situs jejaring sosial, chatting, game, dan melakukan pembelian secara online. Dengan latar belakang masyarakat yang semakin terhubung, ada segudang peluang bagi pemasar ketika Anda hadir untuk membangun hubungan yang bermakna dengan konsumen dengan ponsel, termasuk yang tinggal di daerah pinggiran. Ini mengingat penetrasi mobile yang masuk ke daerah pinggiran juga tinggi sehingga berarti pula peluang perluasan pasar buat Anda makin terbuka.