Kamis, 30 Juli 2015

Menggeser Cara Berpikir Web 2.0 ke Web 3.0 Marketing


Selamat datang Web 3.0 Marketing. Masa hidup produk teknologi memang begitu pendek. Belum sempat kita mengekploitasi secara penuh teknologi Web 2.0, kini ada tanda-tanda Web 2.0 tergeser oleh produk lainya yang jauh lebih maju. Secara cepat, paradigmanya kini bergeser menjadi apa yang disebut Web 3.0.

Melalui buku ini,  Michael Tasner melihat bahwa bagi banyak orang, Web 2.0 seakan segalanya. Namun di balik itu, ada beberapa hal yang membuat merasa betapa menyebalkannya. Web 2.0. bagi Tasner masih terdapat celah yang bisa memberi peluang segar bagi metamorfosa lebih lanjut—karena orang kini merasa Web 2.0 mengalami kejenuhan, kesalahpemahaman, penurunan kualitas interaksi, dan keterbukaan yang terkotak.

Tasner lalu membawa pembaca ke awal berkembangnya Web 2.0. Menurut Tasner, Web 2.0 dimulai ketika pengguna Web mulai mengubah secara drastis cara mereka dalam menggunakan Web sehari-hari. Ini ditandai dengan munculnya keinginan orang untuk  berbagi ide, kreativitas, munculnya komponen dan tersegmentasinya masyarakat menurut kebiasaan dalam mengunakan dan memanfaatkan teknologi dan internet, merupakan trend penting dalam pembentukan Web 2.0.

Beberapa fungsi yang membedakan dengan Web sebelumnya adalah ditambahkannya fasilitas bagi orang untuk berbagi file secara peer-to-peer, komunikasi lebih mudah dan membentuk dan memperluas jejaringan melalui berbagai situs sosial di marketing,  berbagi video, dan blogging. Sejak itu direktori Web berevolusi menjadi penandaan sosial, situs Web pribadi bergeser ke blog, dan ensiklopedi versi online bermetamorfosis menjadi Wikipedia.

Efek Web 2.0, yakni kolaborasi antara jaringan sosial dan berbagi informasi turut membentuk perubahan dalam praktek dan paradigma marketing. Menurut Tasner, empat komponen kunci dari Web 2.0 yang membuat marketing diuntungkan. Pertama, keberadaan jejaring sosial seperti Facebook, LinkedIn, dan MySpace memungkinkan orang hadir bersama dan berbagi ide, pikiran, dan komentar. Ini mengubah padigma periklanan misalnya, dari yang bersifat satu arah menjadi dua arah, karena publik tidak akan begitu saja memahami apa yang disampaikan merek kepada mereka.

Kedua, sosial media seperti YouTube, Scribd, dan Flickr telah menjadi tempat di mana orang dapat berbagi konten dengan dunia disertai dengan harapan bisa membangun dan menyebarkan awareness. Ketiga, konten yang dibuat oleh pengguna (User-generated content) di mana pengguna dapat membuat, mengelola, dan memperbarui informasi yang memicu kelahiran berbagai macam bentuk diskusi melalui Web 2.0. Ini ditandai dengan munculnya Squidoo, blog, dan Wikipedia. Keempat, kelahiran berita sosial dan bookmarking telah memungkinkan pengguna untuk mengorganisasaikan Web pengalaman mereka sendiri. Contohnya adalah Digg, Delicious, dan StumbleUpon.

Namun di balik itu, Tasner melihat bahwa Web 2.0 mengalami kejenuhan. Buktinya, menurut Tasner, karena semua orang bisa berada dalam kendaraan Web 2.0, terjadi kebisingan yang tidak perlu. Bayangkan, bagaimana marketing bisa efektif kalau misalnya, seorang anak usia delapan tahun bisa memposting video ke YouTube. Flickr juga terlanda tanda-tanda kejenuhan, sampai-sampai foto-foto ulang tahun anak pun di-share ke seluruh dunia.

Banyak orang – kata Tasner, mungkin berargumen bahwa – dilihat dari hasilnya – situs-situs menikmati traffic yang bagus karena semua orang bisa log on. Pertanyaannya, Namun, bagaimana Anda bisa mentarget dalam kondisi lalu lintas yang padat? Media yang semula dibangun sedemikian rupa sehingga kita bisa mengenali karakternya anggotanya, kini menjadi kabur. Facebook bisa menjadi kendaraan yang sangat baik bagi kita untuk masuk ke jaringan, bertemu orang baru, dan melakukan bisnis. Tapi Facebook baru bisa menjadi alat pemasaran yang kuat hanya bila Anda tahu cara menggunakannya untuk menjangkau orang-orang tertentu atau kelompok orang.

Yang kedua atau kesalahpahaman. Cek berapa kali Anda mendengar bahwa MySpace hanya untuk remaja dan berbicara atau menyampaikan halhal yang berbau porno? Pernyataan itu tak ada yang mendekati kebenaran, meski ada jutaan orang menganggap pernyataan yang benar.

Keterbatasannya lainnya adalah waktu. Ketika kita menjadi lebih dan lebih
terhubung, kita mendapatkan lebih banyak. Namun kondisi tersebut sekaligus berarti menjerumuskan kita pada kebisingan. Cek apa yang Anda merasakan dengan komentar yang dibuat pada blog kita, pertanyaan tentang foto kami di Flickr, atau pembaruan di Wikipedia.

Menurut Tasner, salah satu tren yang sepertinya tidak pernah berubah adalah bahwa orang-orang terus mendapatkan kesibukan dan memiliki sedikit waktu untuk interaksi.
Di satu sisi, baik konsumen dan bisnis tetap menuntut informasi lebih, dan mereka ingin lebih cepat, sehingga sangat menantang untuk mengikutinya. Namun di sisi lainnya, begitu mereka berpikir bahwa mereka telah menemukan pilihan metode komunikasi (e-mail) yang lebih baik, tiba-tiba muncul metode yang bisa jadi jauh lebih cepat.

Probem lainnya adalah menurunnya kualitas sentuhan manusiawi dalam berinteraksi. Dalam bayangan Tasner, tujuan Web 2.0 adalah menciptakan cara-cara baru dalam mode berinteraksi. Tasner mendefinisini mode interaksi sebagai tempat dan perangkat berbeda yang digunakan orang untuk mengumpulkan, mencari, jaringan, dan bertukar informasi. Maksudnya, orang-orang akan berkumpul di tempat yang berbeda sekitar Web dan berinteraksi dengan cara yang berbeda satu sama lain. Tapi mode interaksi ini telah menurunkan sentuhan manusia. Misalnya, ketika Anda memiliki pertanyaan, Anda akan mencari jawabannya melalui Wikipedia.

Terakhir, keterbukaan Web 2.0 sekaligus telah menjadi keterbatasan yang mencolok. Sebagian besar orang kini telah menjadi pribadi secara alami. Bila Anda memiliki account Facebook, account MySpace, dan halaman Flickr, privasi Anda menurun dengan cepat. Jika Anda adalah pengguna setia Facebook atau membaca sebuah berita, Anda seakan diingatkan ketika Facebook mengubah kebijakan mereka untuk menyatakan bahwa merekalah pemilik konten sebenarnya. Ini berarti mereka punya hak untuk mengubah, dan memperlakukan apa saja konten yang Anda masukkan ke Facebook, bahkan setelah Anda membatalkan account Anda sekalipun.

Keterbatasan itulah yang melahirkan Web 3.0 Marketing. Ini merupakan gambaran gelombang tsunami ide marketing yang segera menggeser model pemasaran Web 2.0. Penggeraknya adalah konsumen sendiri. Kebiasaan mereka melakukan browsing, teknik browsing, makin cerdasnya mereka, pengalaman kita dalam mencari sesuatu, membuat pergeseran itu makin cepat. Sederhananya: marketing Web 3.0 merupakan konvergensi dari teknologi baru dan perubahan cepat trend pola pembelian konsumen. 

Menurut Tasner, kelahiran Web 3.0 Marketing ini ditandai oleh lima komponen kunci. Pertama, kelahiran dan pertumbuhan microblogging yang kemampuan untuk berbagi pemikiran Anda dengan seperangkat karakter yang singkat. Ini sangat sesuai dengan kondisi dimana orang-orang kini sangat sibuk dan memiliki waktu terbatas. Pada situasi, menurut Tasner, kabar atau informasi yang tidak lebih dari 140 karakter menjadi relevan. Contohnya termasuk Twitter, Plurk, dan Jaiku.

Kedua, kelahiran dunia realitas virtual. Ini adalah tempat pengguna mengunjungi dan berinteraksi dengan orang lain dari seluruh dunia dalam setting 3-D. Kelahirannya itu membuat rapat yang biasanya dilakukan di ruang-ruang, dan pameran dagang digantikan dengan virtual reality show. Contohnya termasuk Second Life dan Funsites.

Ketiga, kustomisasi/personalisasi yang memungkinkan pengunjung membuat sebuah pengalaman yang lebih personal. Harapan agar nama mereka muncul di bagian atas situs Web, dan e-mail pribadi sesuai dengan kebiasaan membeli mereka, kini menjadi kenyataan. Ketika Web menjadi lebih dan lebih cerdas, personalisasi akan menjadi semacam norma. Contohnya termasuk SendOutCards, Google, dan Amazon.

Keempat, perangkat mobile yang makin banyak penggunanya. Saat ini ada miliaran pengguna ponsel di seluruh dunia. Jumlah ini jauh lebih besar daripada mereka yang menggunakan PC. Konsumen berselancar di Web dan melakukan pembelian produk yang tepat melalui ponsel mereka. Mereka juga menggunakan ponsel mereka dan menjadi wartawan dadakan dengan menembakkan kamera handphone mereka dan mengapload-nya untuk disare ke sahabat-sahabatnya. Contoh mencakup iPhone dan BlackBerrys.

Kelima, kolaborasi on-demand yang memungkinkan pengguna untuk berinteraksi dalam
waktu senyata. Mereka memeriksa dokumen-dokumen dan mengubahnya (bila perlu)  secara real time. Software sebagai sebuah layanan juga sesuai dalam kolaborasi on demand karena memungkinkan pengguna hanya memanfaatkan solusi berbasis Web. Contohnya termasuk Google Docs, www.Salesforce.com, www.Slideshare.net,
dan www.Box.net.

Tak mudah memang memahami pikiran Tarnes seperti yang dia unkapkan dalam buku ini. Hebatnya, Tarnes sendiri menyadari hal itu. Itu sebabnya, harapan Tarnes tak terlalu muluk-muluk. ”Saya ingin buku ini bisa menjadi referensi menuju ke Web 3.0 marketing. Baca buku ini mulai dari cove depan hingga cover nelakang minimal dua kali,” kata Tarnes.