Kamis, 23 Juli 2015

Nyatanya, Diskriminasi Gender dalam Bisnis juga Masih Ada



Perempuan memiliki potensi kewirausahaan yang sama seperti laki-laki. Mereka juga mampu berkontribusi dalam menciptaan kekayaan dan pekerjaan dengan memulai dan mengembangkan usaha mereka sendiri.
Banyak saran dan literatur tentang faktor-faktor kunci yang membuat bisnis menjadi sukses. Tanyakan setiap ahli, dan mereka mungkin akan memberikan daftar panjang yang mencakup produk yang memiliki karakteristik yang memenuhi kebutuhan pasar, waktu yang tepat dan pasar yang besar, sebuah tim yang dapat mengeksekusi bersama-sama, dan banyak lainnya.
Tapi sampai saat ini, ada salah satu faktor terbaik yang masih dirahasiakan dalam bisnis ... Itu juga yang kemungkinan besar tidak Anda pikirkan. Itu adalah perempuan. Investor miliarder, Warren Buffet, adalah pendukung vokal kepemimpinan perempuan.
Sampai-sampai dia berani mengumumkan secara terbuka bahwa wartawan/redaktur ternama, Carol Loomis dan mantan penerbit Washington Post, Katharine Graham sebagai model perannya. Dalam salah satu esai yang pada 2013  yang muncul di majalah Fortune, Buffet juga menyatakan keinginannya untuk memperluas peluang bisnis bagi perempuan.
Tapi mungkinkah itu hanya sebuah utopi? Baru-baru ini, dalam pertemuan tahunan keenam Dell Women’s Entrepreneur Network (#DWEN), ada kesimpulan yang bisa jadi memutarbalikkan harapan. Riset Dell menunjukkan masih adanya perbedaan berbasis gender yang mengekang pertumbuhan bisnis yang dimiliki wirausaha wanita di 31 negara. Hal itu terungkap dari hasil survei Global Women Entrepreneur Leaders Scorecard. Hasil survei tersebut baru-baru ini, diumumkan dalam
Lebih dari 70 persen dari 31 negara yang diteliti memiliki skor kurang dari 50 persen dalam hal kesenjangan pertumbuhan signikan antara bisnis yang dimiliki pengusaha pria dan wanita di seluruh dunia (riset ini meneliti 76 persen dari GDP global).
Meski Amerika Serikat menempati peringkat pertama Scorecard karena lingkungan bisnis yang secara umum mendukung dan mobilitas pekerja wanita di sektor swasta, negara ini hanya mencatat skor 71 persen untuk seluruh kategori.  
"Untuk menjawab tantangan-tantangan spesifik yang dihadapi wirausaha wanita yang memiliki pengaruh besar di negara dan wilayah berbeda diperlukan pendekatan holistik," ujar Dr. Ruta Aidis, Direktur Proyek Global Women Entrepreneur Leaders Scorecard.  "Karena itulah penelitian seperti Scorecar ini sangat penting untuk memahami tindakan-tindakan apa yang perlu dilakukan untuk menciptakan perubahan." tambahnya.
Hasil survei 2015 ini memberikan masukan komprehensif tentang kondisi yang dihadapi para wirausaha wanita di seluruh dunia, menyajikan contoh-contoh usaha sukses terbaik, dan mengidentifikasi kekurangan data yang ada dan memberikan rekomendasi tindakan yang dapat diambil semua negara untuk memperbaiki kondisi yang ada saat ini.
Scorecard yang disponsori Dell ini adalah analisis pertama di dunia yang khusus meneliti berbagai tantangan dan kesempatan bagi wirausaha wanita untuk mendirikan, mengembangkan, menciptakan lapangan kerja dan membuat terobosan-terobosan di industri mereka.
Tujuan dari Scorecard ini adalah sebagai sebuah alat diagnosa yang dapat dipakai sebagai referensi saran bagi para pemimpin, pembuat kebijakan, dan pembuat regulasi tentang cara meningkatkan kondisi di negara masing-masing dan mendukung perkembangan bisnis yang didirikan para wirausaha wanita.
Melanjutkan penelitian yang disponsori Dell tahun 2013 dan 2014, Scorecard 2015 ini mengevaluasi lima kategori besar di 31 negara: lingkungan bisnis, akses sumber daya, kepemimpinan dan hak, kesempatan bagi wirausaha wanita dan potensi pertumbuhan tinggi untuk bisnis yang dimiliki wanita.
Scorecard terbaru ini juga meneliti faktor-faktor penting yang terbukti mendukung wirausaha wanita yang memiliki pengaruh besar dan memberikan perkiraan jumlah lapangan kerja yang diciptakan oleh berbagai bisnis yang dimiliki wanitaketika bisnis tersebut berhasil mencapai potensi pertumbuhannya.
"Kesuksesan para wirausaha dan usaha kecil sangat penting bagi perkembangan ekonomi global, dan di Dell kami percaya bahwa wirausaha wanita harus memainkan peran signifikan dalam bisnis dan kepemimpinan di masa depan," jelas Karen Quintos, senior vice president dan chief marketing officer Dell.
"Dell Women’s Entrepreneur Network bertujuan untuk memastikan para wirausaha wanita memiliki akses teknologi, modal, dan jaringan untuk pertumbuhan bisnis mereka. Scorecar dini menyajikan informasi berbasis data yang dibutuhkan mengarahkan diskusi dari tingkat kesadaran ke tindakan dan membantu wirausaha wanita di seluruh dunia meraih potensi terbaik mereka.”
Ada satu teori di balik lambatnya kaum perempuan meraih posisi management puncak. Teori itu mengatakan bahwa sebagian besar perempuan memiliki kualitas dan karakteristik yang lebih rendah dibandingkan pria. Padahal, kedua hal itu  -- beberapa penelitian membuktikan – memberikan kontribusi positif bagi bagus kinerja perusahaan.

Itu sebabnya seperti kata Tharenou (1998) -- saat ingin mengetahui kenapa perempuan yang ingin mencapai posisi puncak di management seringkali gagal – penghambat itu sendiri sebenarnya ada, tapi tak kelihatan. Penghalang itu ibarat langit-langit kaca (glass ceiling). Inilah yang menghambat perempuan menuju posisi puncak. Dalam tradisi gender kita, perempuan juga diberi sebutan wanita. Konotasi dari kata ini adalah wani dithatha atau berani ditata sehingga perempuan jarang diposisikan sebagai sosok yang berada atas. Ia selalu di bawah untuk siap menerima perintah.

Tidak gampang untuk bisa mengalami pergerakan ke atas. Selain karena persepsi yang sudah menjadi tradisi (mitos?) -- bahwa perempuan itu lemah, halus perasaan sehingga sulit untuk bertindak tegas, kurang trengginas, dan lain-lain karakter yang menjadi lawan dari pria yang tegas, tegar, kokoh, cepat, dan lebih mengandalkan pikiran dari pada perasaan – hambatan juga muncul dari lingkungan sekeliling seperti keluarga, masyarakat, dan tempat perempuan berinteraksi termasuk di lingkungan kerja mereka.

Perempuan juga memiliki tingkat kekuatan ego yang lebih rendah di banding pria. Makanya, perempuan tak bisa bermuka tebal dan menghalalkan segala cara demi memuaskan ego pribadi. Dalam konteks marketing, beberapa penelitian menunjukkan bahwa karakter seperti ini tidak mendukung. Apalagi bila perasaan perempuan itu sensitif sehingga tidak tahan bila mendapatkan kritik dan kerap down ketika mendapat penolakan. Meski begitu, tingkat keberanian, empati, keluwesan dan keramahan yang tinggi membuat perempuan cepat pulih dari rasa sakit, belajar dari kesalahan, dan bergerak maju dengan sikap positif. Semangat ini yang membuat kaum perempuan cepat bangkit setelah mengalami peristiwa yang membut mereka ”jatuh”..
Membahas semua hal yang kurang mendukung perempuan di marketing, menghasilkan prasangka bahwa perempuan mempunyai peluang yang gagal di bidang marketing lebih besar dari pria. Di sisi lain, sangat jarang diskusi tentang kelemahan pria. Inilah yang lalu menenggelamkan pertanyaan, apakah pria memiliki kelebihan lebih banyak dari perempuan. Sangat sedikit diskusi tentang keterkaitan antara karakteristik yang seringkali melekat pada kaum pria dan hal-hal yang seringkali negatif pada manager pria dalam memberikan kontribusi pada kinerja perusahaan. Misalnya, seperti yang ditemukan Caliperr bahwa ternyata pria lebih individualis bila bekerja. Mereka mempunyai keinginan besar untuk menyelesaikan persoalan seorang diri.
Dalam bukunya, Counterintuitive Marketing: Achieve Great Results Using Uncommon Sense (Free Press), Kevin Clancy dan Peter Krieg -- masing-masing chairman dan CEO, dan president dan COO Copernicus Marketing Consulting and Research – menulis tentang pengambilan keputusan yang dikendalikan oleh hormon testosterone. Menurut mereka, keputusan yang dikendalikan oleh hormon seks jantan utama dan berfungsi antara lain meningkatkan libido dan energi itu dicirikan oleh kecenderungan pengambilan keputusan secara cepat, intuitif, dan bahkan meremehkan.

Pernyataan mereka itu didukung oleh data hasil riset pada tahun 1998 yang dilakukan oleh Copernicus. Penelitian itu menemukan bahwa sebagian besar keputusan, diambil secara buru-buru, sedikit sekali didasarkan pada data hasil riset, dan fokus pda hasil jangka pendek. Penelitian yang dilakukan dengan mewawancarai 293 orang marketing manager di Amerika Serikat itu juga menemukan bahwa pola pengambilan keputusan model ini secara signifikan lebih banyak dilakukan oleh para eksekutif marketing senior pria.