Jumat, 24 Juli 2015

Perusahaan Perlu Berbicara dengan Cara yang Lebih Baik tentang CSR


Hati-hati, konsumen sekarang memiliki kecenderungan untuk menyalahkan perusahaan sampai mereka yakin bahwa perusahaan terbukti tidak bersalah. Fenomena inilah yang makin memperkuat argumen kenapa perusahaan harus secara proaktif mengkomunikasikan inisiatif CSR mereka.
Sebuah studi yang hasilnya dirilis 27 Mei lalu oleh Cone Comunications menyebutkan lima puluh dua persen dari konsumen menganggap perusahaan tidak bertindak secara bertanggung jawab dalam hal mendukung isu-isu lingkungan dan sosial. Sikap seperti itu terus melekat sampai mereka mendengar sebaliknya.
“Statistik ini mengkhawatirkan sebab fenomena tersebu bisa dimaknai bahwa perusahaan sekarang sudah berada dalam posisi bertahan,” kata Cone EVP Alison DaSilva. “Tapi, fenomena terseut sekaligus merupakan kesempatan bagi perusahaan untuk memastikan mereka berbicara tentang apa yang mereka lakukan dengan cara yang difahami oleh konsumen.”
Studi secara online yang dilakukan bersama dengan analisis spesialis pemasaran Ebiquity juga menemukan bahwa hampir dua pertiga dari konsumen (64%) mengabaikan sama sekali pesan-pesan CSR yang disampaikan perusahaan jika perusahaan menggunakan terminologi yang membingungkan. Namun demikian, kebingungan responden tentang pesan CSR perusahaan turun dari 71% pada 2011 menjadi 65% pada tahun 2015.
“Ini menunjukkan bahwa bagaimana cara perusahaan menyampaikan pesan tentang upaya CSR adalah penting,” jelas DaSilva. “Dalam menyampaikan pesan-pesan tentang CSR, banyak perusahaan ingin menampilkan angka-angka statistik, tapi seringkali data itu tidak dapat diakses dan didekati. Penelitian kami menegaskan kembali bahwa konsumen ingin mengetahui apa yang dilakukan perusahaan dengan cara yang relevan bagi mereka, misalnya dengan menggunakan campuran antara data dan cerita dampaknya secara personal.”
Untuk mempromosikan inisiatif CSR mereka, perusahaan tidak bisa hanya mengandalkan laporan CSR. Ini karena dalam setahun terakhir, konsumen yang membaca laporan CSR hanya seperempatnya. Sebaliknya, merek harus menggunakan kemasan produk, media, dan iklan. Hampir satu dari lima (18%) dari mereka yang disurvei mengatakan media sosial dan saluran mobile platform efektif untuk mengkomunikasikan data tentang CSR.
Konsumen lebih memilih untuk mencerna data tentang CSR dan efeknya dalam bentuk ringkasan singkat tertulis (43%), website interaktif (34%), video (31%), dan infografis (25%). Hampir dua pertiga dari responden (64%) mengatakan bahwa mereka hanya memperhatikan upaya CSR perusahaan jika yang dilakukan suatu organisasi melebihi dari yang dilakukan perusahaan lain. Sekitar 90% memiliki kecenderungan memboikot pembelian berdasarkan praktek yang bertanggung jawab yang dilakukan oleh perusahaan.”
Cone melakukan penelitian pada bulan Februari dan Maret untuk menindaklanjuti survey global tentang sikap, persepsi dan perilaku konsumen pada 2011 dan 2013. Laporan ini mencerminkan sentimen dari hampir 10.000 warga di AS, Kanada, Brasil, Inggris, Jerman, Perancis, Cina, India, dan Jepang. “Konsumen lebih berdaya dari sebelumnya saat mendatangi kegiatan CSR,” kata DaSilva. “Ini adalah kesempatan besar dalam penyediaan ruang CSR secara keseluruhan.”