Minggu, 02 Agustus 2015

Anda Percaya Rumor? Tak Masalah, itu Wajar


Menjelang puasa lalu banyak beredar informasi yang tak sumbernya tentang rencana reshuffle kabinet yang dilakukan Presiden Joko Widodo. Informasi tanpa konfirmasi dari Jokowi itu hingga kini belum terjadi sehigga itu makin memperkuat dugaan bahwa informasi itu sekadar rumor.   
Di dunia kerja, rumor dan gosip merupakan bagian dari kehidupan yang selalu menyertainya. Rumor dan gossip ada yang menghibur, menginformasikan dan seringkali membuat orang menjadi terhubung. Akan tetapi, gosip dan rumor juga dapat merusak reputasi, menghancurkan kepercayaan, menciptakan sikap buruk dan bahkan mengurangi produktivitas.
Artinya, rumor jahat dan fitnah bisa mempengaruhi kinerja organisasi, minimal orang-orang yang objek dalam rumor tersebut, bila mendengar semnagt kerjanya terganggu. Menurut sebuah artikel yang diterbitkan di majalah Fortune, rumor sudah menjadi menu sehari-hari di industri di Amerika. Hamir setahun, ribuan rumor dan firnah beredar (Rowan, 1979).
Survei yang dilakukan Mitroff, Pauchant dan Shrivastava (1988) terhadap 114 perusahaan Fortune 1000  menemukan bahwa fenomena rumor adalah salah satu jenis krisis yang paling berkorelasi dengan fenomena lainnya. Artinya, rumor seringkali hadir memicu atau dipicu oleh sejumlah peristiwa, seperti kerusakan komputer, pelecehan seksual, gangguan, kesalahan operator atau kecelakaan lingkungan.
Peneliti-peneliti tersebut selanjutnya menemukan bahwa, dalam tiga tahun terakhir saat penelitian dilakukan, setiap perusahaan mengalami dan menanggapi dua kasus utama rumor berbahaya. Hasil ini didukung oleh sejumlah contoh krisis yang muncul karena rumor. Misalnya, pada tahun 1981, perusahaan multinasional Amerika, Procter and Gamble (P&G), digoyang rumor bahwa perusahaan  itu secara finansial didukung oleh sebuah sekte setan. Akibat rumor itu, P&G menghabiskan jutaan dolar untuk melawan propaganda berbahaya ini yang mengakibatkan penurunan penjualan di wilayah barat Amerika Serikat.
Secara umum rumor dipahami sebagai pernyataan yang belum diverifikasi mengenai isu-isu penting terkait suatu masalah (DiFonzo & Bordia, 2002a, 2002b; Rosnow & Kimmel, 2000). Mereka dapat dibedakan dari berita karena rumor tidak berdasar suatu fakta, sedangkan berita berdasarkan fakta yang telah diverifikasi. Rumor juga berbeda dari genre lain dari komunikasi informal, seperti gosip, yang cenderung membicarakan tentang orang-orang dan biasanya terkait dengan masalah sosial dan politik (Kurland & Pelled, 2000; Noon & Delbridge, 1993; Rosnow, 2001).
Yang menarik, seperti dikatakan Bovee dan Thill (1999), 75-95 informasi yang mengalir di jalur ini biasanya akurat. Disini tantangannya adalah menentukan apakah gosip dan rumor itu berbahaya atau tidak. Beberaa ahli mengatkan bahwa aakah rumor dan gosi itu berbahaya membedakannya adalah dengan melihat maksud di balik pernyataannya, bagaimana informasi tersebut dirasakan dan diperlakukan, dan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyebarluas.
Persoalan kedua adalah berkaitan dengan isi gossip yang bisa menimbulkan efek psikologi. Gosip dan rumor sering menimbulkan perasaan ketidakadilan dan ketidakseimbangan kekuasaan, atau emosi seperti cemburu, dendam, kebosanan dan bahkan kebencian. Ketika seseorang tidak bisa menghadapi masalah misalnya, orang langsung chatting dengan rekan-rekannya sebagai bentuk pelampiasan rasa frustrasi.
Apakah rumor dan gossip hanya rumor dan gosip? Orang mungkin menduga bahwa rumor yang menyebar selama gejolak segera menghilang tanpa meninggalkan jejak begitu individu mengabaikan, mengingkari, atau setidaknya ada anggaan bahwa informasi tersebut tak tidak dapat diandalkan. Kembali ke hasil penelitian Mitroff, Pauchant dan Shrivastava (1988) bahwa rumor tidak ernah berdiri sendiri, ada yang menyebabkan dan bahkan bisa menyebabkan terjadinya sesuatu.
Dalam kasus rumor tentang reshuffle misalnya, emicunya adalah kondisi ekonomi yang melemah. Target pertumbuhan ekonomi tidak tercapai. Artinya, kalau pemerintah Jokowi bisa mengatasi persoalan ini di semester ini dan hasilnya – ekonomi bergerak lagi – rumor reshuffle meredup. Pengecualiannya, bila peniu rumor memiliki agenda sendiri misalnya, ingin memasukkan orangorangnya ke cabinet. Bila demikian, mereka akan mencari tema baru lagi untuk mencitakan rumor baru lagi.    
Beberapa peristiwa menunjukkan bahwa rumor menjadi senjata efektif dalam memobilisasi warga untuk melakukan tindakan. Kabar tentang keluarga Mubarak yang terbukti salah setelah beberapa saat kemudian, namun kalangan oposisi menjadikannya sebagai bahan kampanye yang menandai fase baru mereka (World-Tribune.com 2011).
Contoh lain yang terkenal adalah Revolusi Velvet di Cekoslowakia, yang digambarkan sebagai "revolusi yang berakar ada desas-desus" (Bilefsky 2009). Pada awal revolusi pada tahun 1989, rumor yang menonjol adalah tentang  seorang mahasiswa berusia 19 tahun yang secara brutal dibunuh oleh polisi. Ini  memicu banyak warga untuk turun ke jalan. Revolusi mendapatkan momentum tepat setelah itu. Sejarah Cina juga menawarkan anekdot di mana rumor berhasil memobilisasi partisipasi massa dalam Revolusi Republik, dan Gerakan 4 Mei. Demikian pula, kerusuhan sering dipicu oleh rumor juga.
Gosip dan rumor bisa meninggikan tensi kegelisahan manakala masyarakat berada dalam situasi  perubahan dan ketidakpastian, seperti ketika perusahaan akan melakukan restrukturisasi, perubahan kepemimpinan atau melakukan merger atau akuisisi. Situasi itu terutama ada pada pimpinan yang khawatir tentang pengaruh dari perubahan tersebut. Siapa yang akan dipromosikan atau diturunkan, yang tugasnya akan hilang atau berubah, dan yang apakah mereka masih akan dipekerjakan atau dibayar meruakan tema-tema yang muncul dalam gossip dan rumor.
Penelitian menunjukkan bahwa rumor adalah sesuatu yang umum terjadi di kebanyakan organisasi (DiFonzo, Bordia, & Rosnow, 1994; Michelson & Mouly, 2002). Sebuah survei yang dilakukan terhadap para profesional public relations dan komunikasi perusahaan mengungkapkan bahwa hampir setiap minggu para manajer selalu dihadapkan pada masalah rumor negatif atau yang merusak atau yang berpotensi merusak (DiFonzo & Bordia, 2000).
Orang bisa mengatakan itu dalam gurauan saat berkumpul atau jalan bersama. Biasanya embicaraan tidak langsung ke toik yang menjadi gosip. Pembicaraan biasanya dimulai dari masalah tempat tinggal, makanan, dan terus meningkat ke masalah yang agak serius seperti masalah pergantian menteri dan sebagainya yang kemudian ditarik ke persoalan kantor atau sebaliknya. Namun, biasanya 80 persen gossip dan rumor temanya adalah bisnis. 
Dengan tidak adanya informasi yang memadai dari manajemen, orang secara alami membuat narasi untuk mengisi kekosongan. Ketika ara eksekutif sedang memertimbangkan untuk membuat keputusan, orang-orang mulai makin cemas dan menjadi rumor yang mengisi kekosongan dan membuat rasa ketidakpastian.
Dalam kehidupan organisasi, rumor atau selentingan ini telah menjadi sumber utama informasi bagi karyawan tertama menyangkut isu seputar perusahaan mereka (Foehrenbach & Rosenberg, 1983; Garnett, 1992; Harcourt, Richerson, & Wattier, 1991). Isi rumor bisa mengenai berbagai fenomena (seperti bencana alam, insiden yang diklaim kejahatan atau kekerasan, masalah keuangan seperti harga saham, atau hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan seperti PHK) dan biasanya bagi orang-orang tertentu isu-isu tersebut sangat penting seperti mengenai keselamatan pribadi atau mata pencaharian.
Ketika perusahaan atau organisasi melakukan perubahan, rumor bisa semakin berkembang (DiFonzo et al, 1994;. Hellweg, 1987; Isabella, 1990). Saat suatu perusahaan melakukan perubahan, rumor-rumor ini sering bertebaran mendahului pengumuman resmi yang dikeluarkan oleh manajemen. Bahkan seringkali isinya ditambahi dengan perkiraan atau spekulasi mengenai sifat dan dampak perubahan, misalnya perusahaan X dan Y akan bergabung. Pembicaraannya bukan sekadar tentang penggabungan itu sendiri melainkan ditambahi dengan perkiraan kemungkinan yang bakal terjadi atau dugaan konsekuensi bagi karyawan misalnya sejumlah besar karyawan akan diberhentikan dan sebagainya (DiFonzo et al, 1994;. Esposito & Rosnow, 1983).
Penelitian yang dilakukan Isabella (1990) mendapati bahwa pada tahap awal perubahan dalam suatu organisasi, rumor biasanya berisi tentang perkiraan tentang kemungkinan arah perubahan. Rumor ini menyebar dengan cepat melalui jaringan informal organisasi (Larkin & Larkin, 1996). Rumor yang dipublikasikan media atau pers bisnis biasanya seputar  merger, pemutusan hubungan kerja (PHK), dan janji-janji atau pengunduran diri CEO (Cringely, 2001; Lingblom, 2001).
Terlepas dari pentingnya rumor dalam pembentukan opini para staf dan pengelola perubahan (Larkin & Larkin, 1994; Smeltzer, 1991), sangat sedikit penelitian tentang rumor selama perubahan organisasi. Beberapa studi tentang kaitan antara menyebarnya rumor dan komunikasi perubahan sudah dilakukan. Setelah mewawancarai karyawan  43 organisasi yang mengalami perubahan, Smeltzer (1991) menyimpulkan bahwa upaya perubahan tidak efektif dengan adanya rumor.
Dalam sebuah studi yang meneliti reaksi pribadi enam manajer selama tahap pra-merger dan akuisisi perusahaan, Burlew et al. (1994) menemukan bahwa rumor aktif dan memiliki konsekuensi negatif, termasuk erosi kepercayaan, makin rendahnya semangat kerja karyawan, emosi negatif, dan penurunan dedikasi karyawan terhadap perusahaan. Studi yang dilakukan Smeltzer dan Zener (1992) terhadap karyawan delapan perusahaan organisasi yang  menghadapi PHK besar menemukan bahwa rumor telah beredar mendahului pengumuman resmi PHK.
Kondisi tersebut semakin menjadi masalah bila perusahaan tidak memiliki pendekatan sistematis untuk mengkomunikasikan PHK yang akan dilakukan. Dari fenomena tersebut, para peneliti berkesimpulan bahwa rumor memiliki dampak yang besar pada iklim dan budaya perusahaan. Mengingat pentingnya peranan rumor dalam perubahaan,  perusahaan harus menyediakan waktu untuk memonitor rumor atau selentingan, dan selama proses  PHK sistem kontrol rumor informal menjadi semakin penting.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa rumor menyebabkan munculnya sikap ketidakpastian (misalnya, Allport & Postman 1947; Prasad 1935; Rosnow, Esposito, & Gibney, 1988). Ketidakpastian disini didefinisikan sebagai keadaan psikologis keraguan tentang sesuatu yang bakal dihadapinya (DiFonzo et al, 1994). Peneliti tentang rumor, Keith Davis (1972, 1975), menyatakan bahwa penyebab utama munculnya rumor adalah kurangnya informasi tentang hal-hal penting untuk karyawan. Esposito (1987) menemukan hubungan langsung antara pola pemogokan sistem angkutan terkait dengan  tingkat ketidakpastian yang muncul karena adanya rumor.
Teori pengurangan ketidakpastian (Berger, 1987) memberikan wawasan tentang keterkaitan antara  rumor, ketidakpastian, dan komunikasi yang buruk. Transformasi organisasi sering menandakan kejadian di masa depan yang tidak dapat diprediksi dan atau disertai dengan kejadian ini yang kurang dijelaskan. Pada kondisi seperti itu, karyawan mengalami ketidakamanan, ketidakpastian, dan hilangnya rasa kontrol diri (Blake & Mouton, 1983; Hunsaker & Coombs, 1988; Mirvis, 1985). Kegiatan komunikasi seperti interaksi antarpribadi sering berguna untuk mengurangi ketidakpastian tersebut, terutama dalam upaya untuk mendapatkan kembali kontrol atas situasi ke depan dan jelas (Berger & Bradac, 1982; Heider, 1958).

Namun demikian, rumor bisa dimanfaatkan sebagai sarana untuk memberikan informasi tentang arti dari suatu peristiwa sehingga bisa memulihkan kesiapan atau pemahaman kepada terlibat dengan  suatu rumor  (DiFonzo & Bordia, 1997; Shibutani, 1966). Karena bagaimanapun, ketika orang dihadapkan pada peristiwa yag menjadi kepedulian mereka -- misalnya, tentang ada tidaknya PHK - -- masih samar-samar perusahaan bisa membangun kesiapan dan memberikan pemahaman mereka dengan mengisi kesenjangan informasi melalui  rumor juga. Singkatnya, rumor adalah gejala ketidakpastian yang sering menyertai perubahan organisasi dan bertahan atau bahkan berkembang ketika strategi komunikasi dijalankan dengan buruk sehingga gagal meredakan ketidakpastian secara memadai.