Rabu, 26 Agustus 2015

Apa Hubungan Destinasi Wisata dan Makan?


Penelitian menunjukkan bahwa wisatawan menghabiskan hampir 40% dari anggaran mereka pada makanan saat bepergian (Boyne, Williams, & Hall, 2002). Ada juga yang mengatakan bahwa 50% dari pendapatan restoran ‘dihasilkan oleh wisatawan (Graziani, 2003). Karena itulah, salah besar bila kuliner diabaikan
Banyak negara mulai menyadari potensi kuliner bagi kesejahteraan masyarakat dan pengembangan destinasi wisata. Skotlandia dan Wales misalnya, memanfaatkan makanan sebagai sarana untuk membangun hubungan antara perusahaan dan masyarakat. Inisiatif kampanye pemasaran A Taste of Scotland menciptakan sebuah skema baru dalam hubungan antara perusahaan dan penduduk setempat. Disini perusahaan yang berpartisipasi setuju menyediakan hidangan ‘tradisional’ atau menggunakan produk yang dikenali dan bisa didapatkan di Skotlandia. (Hughes 1995: 114).
Hughes berpendapat bahwa skema Taste of Skotlandia berhasil membangun sebuah legenda makanan untuk Skotlandia. Legenda ini kemudian dapat digunakan sebagai alat pemasaran. Skema serupa juga dapat dijumpai di daerah lain.
Di Alto Minho, sebuah wilayah di Portugal, misalnya, badan pariwisata wilayah itu mencetak buku resep untuk memberikan pengunjung kesempatan untuk ‘membuat memori tentang makanan yang dinikmati di wilayah itu menjadi abadi. Edwards et al. (2000: 294) berpendapat bahwa kuliner merupakan elemen penting dari citra merek Alto Minho.
Ini menunjukkan bahwa ada hubungan simbiosis antara makanan dan industri pariwisata. Lebih penting lagi, makanan diakui sebagai alat promosi dan positioning destinasi yang efektif (Hjalager & Richards, 2002). Kenapa, makanan memiliki kekhasan suatu daerah yang memebdakan satu daerah dengan daerah lainnya. Demikian pula, dengan meningkatnya minat dalam masakan lokal, beberapa negara menetapkan fokus pada makanan sebagai produk wisata inti mereka. Sebagai contoh, Perancis, Italia, dan Thailand, popular dengan masakannya.
Pentingnya hubungan antara makanan dan pariwisata tidak dapat diabaikan. Setiap destinasi memiliki berbagai tingkat daya tarik tersendiri yang dapat menarik wisatawan dari berbagai negara (Au & Hukum, 2002). Selain makanan, otentisitas memang dapat menarik pengunjung ke tujuan. Di sisi lain, destinasi menggunakan makanan sebagai daya tarik utama.
Itu sebabnya, beberapa negara mengembangkan strategi pemasaran destinasinya dengan berfokus makanan. Karena itu, pnting bagi pemasar destinasi kuliner unuk mengetahui persepsi target konsumen tentang kuliner destinasi dan bagaimana mempengaruhi niat mereka untuk mengunjungi melalui strategi pemasaran yang efektif.
Frochot (2003) usul menggunakan citra makanan dimanfaatkan untuk menunjukkan aspek budaya suatu negara. Dengan demikian, destinasi dapat menggunakan makanan untuk mewakili “pengalaman budaya, status, identitas budaya, mengkomunikasikannya.”
Selanjutnya, Hobsbawm dan Ranger (1983) berpendapat bahwa masakan yang sangat dikenal karena rasa dan kualitas mereka dapat dikembangkan menjadi produk wisata. Misalnya, masakan Italia dan anggur telah mendorong industri pariwisata Italia (Hjalager & Corigliano, 2000). Jadi, Riley (2000), citra masakan nasional dan pariwisata dapat menciptakan identitas nasional.
Indonesia mengarah kesitu. Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan Indonesia sedang menuju destinasi wisata kuliner terfavorit di dunia yang berdaya saing. Untuk itu, promosi ke luar negeri dan di dalam negeri terus dilakukan untuk meningkatkan rasa cinta dan minat masyarakat terhadap kuliner tradisional nusantara.
“Untuk menuju ke target itu, kami menyelenggarakan Pekan Wisata Kuliner Tradisional Nusantara (PWKTN) yang dilaksanakan dalam rangka Program 100 Hari (Quick Wins) Kabinet Kerja 2014 – 2019, pada 12 sampai 14 Desember 2014 di Plasa Barat Monumen Nasional (MONAS),” kata Menpar Arief Yahya saat membuka Pekan Wisata Kuliner Tradisional Nusantara 2014 di Jakarta, Jumat.
Ia mengatakan acara ini bertujuan mendorong Pemerintah Daerah bersama dengan stakeholder terkait untuk membangun Destinasi Wisata Kuliner Indonesia yang berdaya saing.
Selain itu juga menjadi upaya untuk meningkatkan rasa cinta dan minat masyarakat terhadap kuliner tradisional nusantara. “Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk memperkenalkan makanan tradisional nusantara kepada masyarakat luas serta memperkenalkan potensi kekayaan kuliner provinsi di Indonesia,” katanya.
Menurut dia, kuliner Indonesia terbukti memiliki daya tarik yang besar, apalagi dengan dinobatkannya rendang sebagai salah satu makanan terlezat di dunia.
Hal ini membuktikan bahwa kuliner Indonesia disukai serta siap menjadi salah satu faktor penggerak ekonomi masyarakat, khususnya dalam hal bisnis skala kecil.
Ia mencatat pada 2013 sektor kuliner memberikan kontribusi nilai tambah bruto sebesar Rp208,6 triliun dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 4,5 persen dari tahun 2012-2013.
Sektor kuliner juga menyerap tenaga kerja sebesar 3,7 juta orang dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 0,26 persen.
Unit usaha yang tercipta dari sektor kuliner tercatat sebesar 3,0 juta dengan rata-rata pertumbuhan 0,9 persen. “Saat ini wisata kuliner bukan fenomena sesaat namun telah menjadi daya tarik dan tujuan utama berwisata ke suatu destinasi,” katanya.
Oleh karena itu wisata kuliner diyakini mampu menjadi unsur utama yang berfungsi sebagai perekat terhadap rangkaian berwisata, mengingat kepariwisataan merupakan sektor yang multi-atribut dan prospektif sebagai pintu gerbang sekaligus citra pariwisata Indonesia, tambah Arief Yahya.
Sebagai ajang promosi kuliner nusantara, acara PWKTN terdiri atas beberapa kegiatan, yakni Festival kuliner nusantara yang menampilkan makanan khas dari 34 provinsi di Indonesia dan Lomba Masak makanan tradisional Indonesia (bekerja sama dengan Djarum Foundation).
Selain itu ada Talkshow bertemakan pengembangan kuliner tradisional Indonesia yang diinisiasi oleh asosiasi dan komunitas kuliner seperti Asosiasi Kuliner Indonesia, Akademi Gastronomi Indonesia, Aku Cinta Masakan Indonesia, Omar Niode Foundation, dan Young Chef Club Indonesia.
Acara juga dirangkai dengan Demo Masak yang menampilkan Masterchef Junior Indonesia yang memasak makanan tradisional Indonesia.
“Diharapkan, acara ini dapat memberikan semangat masyarakat untuk semakin mencintai budaya Indonesia melalui makanan serta mampu mendorong pemerintah daerah untuk ikut aktif dalam mengembangkan potensi wisata kuliner daerahnya masing-masing,” katanya.