Jumat, 07 Agustus 2015

Confession of A Male Shopaholic


Kini, kaum pria “mengancam” status wanita sebagai shopaholic. Studi dari InsightExpress menyebut kehadiran smartphones membuat pria lebih rajin menyambangi toko sambil membawa handphone dan berusaha mendapatkan beragam penawaran menarik. Apa implikasinya bagi peritel?

Mobile Shopper dalam Mobile Shopping Insight yang dirilis MobileMarketer.com ini, dimaknai sebagai para pembelanja yang datang ke toko sambil membawa handphone (HP) mereka. Menurut Joy Liuzzo, Senior Director of Marketing and Mobile Research InsightExpress, New York menyebutkan bahwa karakter Mobile Shopper berbeda dengan karakter shopper biasa. Temuan ini juga menyebutkan bahwa aktivitas shopping, terutama bagi laki-laki, tidak bisa dilepaskan dari HP—studi terdahulu bahkan menyebutkan bahwa empat dari lima pembelanja mengaku menggunakan HP mereka, ketika sedang belanja.
            
Menurut Liuzzo, peritel harus memahami siapa yang sedang mereka jangkau saat ini. “Mereka juga harus menyesuaikan pola pikir dan strategi mereka untuk memenuhi kebutuhan golongan konsumen tersebut,” kata Liuzzo. Liuzzo menambahkan bahwa pria berusia 25-34 tahun adalah pengguna utama HP sebagai piranti pendukung ketika mereka belanja di toko. “Mereka menggunakan HP untuk perbandingan harga, membaca review produk, mencari dan menggunakan kupon—hal-hal yang identik dengan perilaku wanita belanja, tiga kali lebih banyak dibandingkan segmen lain,” jelas Liuzzo.
            
Hal ini tentu saja berkaitan dengan fakta bahwa pria adalah pengadopsi paling awal dari smartphones. “Kami yakin bahwa kapabilitas dari smartphones sangat mempengaruhi perilaku belanja karena hanya dengan ujung jari konsumen bisa mendapatkan semua informasi yang dibutuhkan,” tambah Liuzzo.
            Lebih jauh Liuzzo mengatakan bahwa kehadiran mobile technology telah mempertajam evolusi dari perilaku belanja. Dulu, orang berbondong-bondong mendatangi bazaar untuk menawar harga serendah mungkin, tapi kini banyak dari pembelanja yang melakukan browsing toko-toko online sambil masih mengenakna piyama. Meski telah terjadi pergeseran sedemikian rupa, menurut Liuzzo ada beberapa hal yang masih sama. “Yang utama konsumen tetap ingin mendapatkan harga terbaik,” kata Liuzzo.
           
“Best Deal”, menurut Liuzzo bisa didapatkan konsumen dari kupon, membandingkan harga antara satu toko dengan toko lainnya, sampai menunggu kesempatan sale. Selain itu, Luizzo menggarisbawahi bahwa kegiatan belanja selalu bersifat sosial. “Bahkan jika dilakukan sendiri, pembelanja terpengaruh oleh apa yang sedang dibeli orang lain. Mereka bahkan bisa mengintip ke keranjang belanja shopper lain, atau meminta pendapat salesperson mengenai sebuah produk tertentu,” kata Liuzzo.
            
Ketika internet shopping muncul, konsumen turut menggunakannya untuk mendapatkan kupon online, melihat situs review, dan rekomendasi getok tular. Dalam lansekap digital yang berkembang seperti ini, lanjut Liuzzo, tantangan terhadap toko dan brand sedang meningkat sementara peritel di sisi lain, masih tampak membutuhkan waktu untuk mencari cara terbaik dalam mempertahankan konsumen. “Meski sebenarnya mereka sudah siap untuk menyesuaikan diri dengan evolusi cara belanja ini,” tambah Liuzzo.
            
Penggunaan mobile coupon, lanjut Liuzzo adalah salah satu antisipasi yang sudah disiapkan peritel dalam menghadapi perubahan ini. “Dengan cara ini mereka berusaha untuk membuat lebih banyak orang ke toko dan meningkatkan penjualan,” kata Liuzzo. Cara ini telah menarik 10% responden mendatangi toko setelah mendapatkan kupon di HP mereka—berdasarkan hasil riset tersebut. Dari jumlah tersebut, responden berusia 18-34 tahun adalah yang paling bersemangat untuk mendatangi toko, dimana 20% dari mereka mengaku sudah mempraktekkan hal ini.
            
Berdasarkan riset tersebut, pada umumnya konsumen lebih menyukai untuk mendapatkan kupon yang dikirimkan langsung ke HP mereka melalui sms—sebesar 45% responden, meski ada juga yang segmen yang lebih suka untuk mencari kupon sendiri melalui aplikasi—28%, dan ada sebesar 27% yang lebih memilih untuk menerima kupon ketika mereka berada di sekitar toko.
            
Seperti sudah disebutkan diatas, kaum pria berusia 25-34 tahun adalah mereka yang paling banyak menggunakan  HP untuk membantu mereka dalam belanja. Para pria ini menggunakan HP untuk memutuskan jadi atau tidak membeli sesuatu, memperoleh review, mengecek harga yang lebih baik, mencari kupon dan menggunakan kupon yang sudah mereka peroleh. “Mereka juga menggunakannya untuk mencari resep dan membandingkan informasi gizi,” demikian disebutkan dalam penelitian tersebut.
            
Sementara itu, disebutkan juga bahwa 53% pembelanja laki-laki memiliki smartphones dan dibeberapa jenis toko, penggunaan kupon mereka melebihi angka rata-rata yang ditemukan. Pada umumnya kupon digunakan di toko elekronik (30%), toko pakaian 33%, department store 30%, dan toko yang menjual jasa, 16 persen. Angka penggunaan kupon rata-rata untuk lokasi-lokasi tersebut berturut-turut adalah 10%, 15%, 15% dan 7%.
            
Sementara itu khusus untuk pembelanja laki-laki, pada umumnya 51% dari mereka lebih suka mendapatkan kupon melalui aplikasi dan 39% lebih suka menerimanya ketika sedang berada di toko. Artinya lebih sedikit yang bersedia menerima kupon yang dikirimkan langsung ke HP mereka melalui sms.
            
Kupon memang cara termudah untuk menjangkau mereka, tapi lebih banyak lagi konsumen yang melakukan pencarian sendiri untuk mendapatkan review dan informasi produk. Dalam hal ini, peritel perlu membuat proses pencarian konsumen menjadi lebih mudah. “Aisle locaters, an easy way to save images to show a sales rep, the possibilities can keep snowballing,” kata Liuzzo memberi sebuah saran.
            
Dengan penelitian ini, brand dan peritel bisa mendapatkan wawasan yang relevan dan sederhana mengenai cara untuk terhubung dengan konsumen ketika mereka sedang memiliki niat membeli—baik pada konsumen pria maupun wanita. “Konsumen akan lebih banyak lagi menggunakan HP mereka selama mereka belanja, karena itu peritel dan merchants harus mulai merumuskan strategi terbaik untuk berinteraksi dengan mereka,” kata Liuzzo.
            
Menurut Liuzzo, Mobile Shopping sudah siap untuk pertumbuhan yang mengesankan di masa depan dengan adanya lebih banyak smartphones di pasar, lebih banyak aplikasi untuk shopping dan lebih banyak peritel memaksimalkan teknologi ini. “The growth is going to hockey stick shortly,” tutup Liuzzo. (Iski)