Selasa, 04 Agustus 2015

Kenapa harus Content Marketing?


Apakah Anda pernah mengambil brosur atau flyer yang dikeluarkan oleh perusahaan atau merek? Juga membuka-buka newsletter perusahaan, membaca komik yang terdapat di dalam bungkus permen karet? Semua ini adalah beberapa cara yang dimanfaatkan oleh perusahaan dalam menggunakan konten untuk memasarkan produk atau layanan mereka kepada pelanggan dan calon pembeli.

Menurut penulis buku ini Rebecca Lieb, content marketing bukanlah hal baru. Sejak bertahun-tahun lalu perusahaan telah menciptakan dan mendistribusikan konten untuk menarik bisnis (pelanggan) baru dan mempertahankan pelanggan yang ada. Inilah yang membedakan antara content marketing dan bentuk-bentuk pemasaran dan iklan tradisional. Di sini perusahaan atau merek tidak menggunakan konten untuk menjual. Isi pesan yang biasa dimunculkan dalam bungkus permen tadi misalnya, lebih banyak mengandung informasi yang saat itu relevan dengan kebutuhan konsumen, bersifat mendidik, menarik, dan kadang-kadang menghibur.

Kenapa harus content marketing? Dalam media, konten adalah umpan yang ditangkap bola mata, didengar telinga, mendapatkan perhatian, dan menciptakan keterlibatan. Itu bagian dari kontrak waktu yang kini sangat diperhitungkan konsumen. “Kami memberikan konten, Anda memberikan perhatian,” begitulah harapannya.
            
Content marketing, kata Lieb, berarti mengembangkan konten di seluruh bisnis Anda, termasuk produk barang dan layanan Anda. Tapi konten tidak seharusnya berada di luar area yang harus dihindari. Konten harus berorientasi eksternal, yakni ditujukan untuk pelanggan, calon pelanggan, pembeli, pendukung merek, blogger, media, orang yang terlibat dalam jejaring sosial, dan orang-orang yang berpotensi sebagai karyawan.
            
Seperti diketahui, model pemasaran melalui media tradisional adalah interruptive. Ia tidak membangun dialog, sementara publik sekarang menginginkan dialog. Model interupsi ini mungkin masih berlaku, dan perusahaan atau pengelola merek akan terus melakukannya. Namun pamornya menurun. Koran, televisi, radio, dan majalah menghadapi persoalan pembaca yang jumlahnya terus berkurang. Di sinilah peran content marketing makin penting. Content is king.
            
Saat ini, content marketing telah dilakukan oleh perusahaan besar dan kecil. Apalagi sangat dimungkinkan mereka menjadi penerbit sendiri melalui situs web, blog, YouTube, Twitter, Facebook, dan sejumlah media online lainnya. Akan tetapi, menciptakan, menyebarluaskan, mengevaluasi konten, tidak akan terjadi begitu saja tanpa suatu strategi.
            
Meskipun content marketing mungkin lebih murah dan lebih mudah karena inovasi digital, namun menciptakan konten berkualitas, konsisten dan sesuai dengan kebutuhan target pelanggan membutuhkan pikiran, kerja, orisinalitas, strategi, eksperimentasi, dan ketekunan. Untuk itu dibutuhkan penanggung jawab yang benar-benar memahami pekerjaan yang harus dilakukan.
            
Ini karena lingkup kerja content marketing officer relatif besar. Retail online Zappos misalnya, pada 2008 harus menghasilkan 60-100 video per hari yang dipertontonkan melalui berbagai saluran. Akhir tahun ini, targetnya memproduksi 50.000 video. Untuk itu, perusahaan ini merekrut 40 orang pekerja full-time. Itu belum termasuk puluhan karyawan yang terlibat di lokasi demonstrasi. Banyak perusahaan merekrut blogger, praktisi sosial media, copywriter, editor naskah atau public relations (PR) professional.
            
Yang harus dipertimbangkan, PR kini tidak bisa bekerja seperti dulu. Di satu sisi, PR melaksanakan salah satu bentuk asli dari content marketing, yakni fungsi pemasaran. Di sisi lain, PR harus melakukan banyak hal yang berkaitan dengan publisitas, manajemen reputasi, dan media. Jantung PR selalu menanamkan cerita di media seperti koran, majalah, televisi, dan radio. Di sini PR ditantang untuk membuat cerita dalam bentuk dokumen pers rilis satu atau dua halaman singkat, mempersuasi dan meyakinkan wartawan bahwa topik yang dibuat itu bernilai dan menarik.
            
Yang juga perlu dilakukan adalah audit konten. Langkah ini tidak hanya penting untuk menilai apa yang kita miliki. Jika kita melakukannya dengan benar, audit akan menghasilkan evaluasi seberapa baik konten telah bekerja dan bagaimana konten itu bekerja pada beberapa tingkat. Jadi Anda tidak hanya melihat konten dari yang kita miliki, tetapi juga apakah konten diproduksi secara profesional, apakah dieja dengan benar, apakah gayanya konsisten? Apakah isinya menarik orang? Dan sebagainya.

            
Sejatinya buku ini sangat sederhana. Namun kesederhanaan itulah yang menjadi kelebihan. Buku ini memberikan panduan langkah demi langkah tentang bagaimana merencanakan, memproduksi, mempromosikan, dan mengukur content marketing. Bahkan yang lebih penting, buku ini menguraikan bagaimana mengintegrasikan content marketing ke dalam fungsi-fungsi pemasaran yang ada seperti iklan, dan media sosial.