Selasa, 04 Agustus 2015

Pada Dasarnya, Semua Orang Bisa Kreatif


Ketika Anda mendengar kata kreativitas, apa yang ada di pikiran Anda? Jika Anda seperti kebanyakan orang, Anda tentu berpikir tentang hal-hal yang berkaitan dengan artistik seperti patung, gambar, musik, atau tari. Itu berarti Anda menyamakan kreatif dengan seni dan  Anda mungkin percaya bahwa arsitek dan desainer dibayar untuk menjadi pemikir kreatif, tetapi tidak untuk CEO, pengacara, atau dokter.
Atau Anda mungkin merasa bahwa menjadi kreatif merupakan sesuatu yang berkaitan dengan faktor keturunan seperti halnya memiliki mata cokelat, atau Anda lahir dengan gen yang kreatif, atau tidak. Pendapat itu memang tak salah karena pada abad ke-20 yang disebut hal-hal yang disebut tipe kreatif itu dekat dengan profesi desainer, art director, penulis – dekat dngan dunia anak-anak atau jauh dari pembicaraan serius. Sementara itu, semua percakapan bisnis penting terjadi antara orang-orang dewasa  di ruang rapat dan ruang pertemuan.
Tom Kelley dan David Kelley, penulis buku Creative Confidence: Unleashing the Creative Potential within Us All, menyebut anggapan itu sebagai suatu kesalahapahaman mitos kreativitas. Mereka yang telah bekerja 30 tahun dengan hal-hal yang berkaitan dengan inovasi, berpendapat bahwa semua orang pada dasarnya memiliki potensi kreativitas. Tinggal bagaimana orang tersebut menyadapnya. Itulah yang mereka sebut sebagai keyakinan kreatif. Tak mengherankan bila dalam buku ini mereka mengatakan  bahwa misi mereka adalah menemukan kembali potensi kreatif orang.
Dilihat lebih jauh, buku ini seakan kompilasi dari pengalaman mereka yang disusun menjadi seuatu metode untuk membuka potensi kreativitas Anda. Pengalaman Tom Kelley dan David Kelley memang luar biasa. Mereka telah membantu ribuan perusahaan membawa ide-ide terobosan ke pasar - dari mouse komputer Apple yang pertama, alat-alat bedah canggih keluaran Medtronic hingga strategi merek baru The North Face di China.
Pengalaman-pengalaman itu diwujudkan dalam suatu metode dan mereka yakin bahwa metode yang mereka miliki tersebut dapat menghasilkan hal-hal baru dan pola pikir kreatif pada orang yang secara dramatis dapat meningkatkan kehidupan mereka, di bidang apapun, apakah mereka bekerja di bidang kedokteran, hukum, bisnis, pendidikan, atau ilmu pengetahuan.
Selama tiga dekade terakhir, mereka membantu banyak orang menumbuhkan dan memanfaatkan kreativitas mereka. Mereka telah menciptakan bagaiamana  perumahan dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan layanan pria dan wanita yang kembali baru kembali dari zona perang. Mereka juga telah membentuk tim ad hoc inovasi perusahaan untuk menghasilkan hal-hal yang bersifat khusus.
Mereka telah mengembangkan sistem skrining dan alat bantu dengar yang pas dan murah untuk para orang tua di desa-desa terpencil di negara-negara berkembang, membantu sebagian dari 360 juta orang di dunia yang menderita gangguan pendengaran. Dengan kata lain, mereka telah mendapatkan kepercayaan kreatif. Pada intinya, kepercayaan kreatif adalah tentang kepercayaan orang lain atas kemampuan Anda untuk membuat perubahan di dunia di sekitar Anda. Ini adalah keyakinan bahwa Anda dapat mencapai apa yang Anda ditetapkan untuk dilakukan.  
Tak berlebihan bila buku ini adalah tentang kebalikan dari mitos kreativitas itu. Seperti yang ditulis dalam buku ini, Kelley bersaudara menilai bahwa kreativitas itu jauh lebih luas dan lebih universal daripada yang selama ini dianggap orang, yakni hanya seputar pada hal-hal yang sifatnya artistik. Padahal, kita semua pada dasarnya berpikir kreatif dengan menggunakan imajinasi kita untuk menciptakan sesuatu yang baru di dunia. Kreativitas datang pada saat Anda memiliki kesempatan untuk menghasilkan ide-ide baru, solusi, atau pendekatan. Intinya, setiap orang memiliki akses ke sumber daya tersebut.
Dari gambaran itu, mereka menyimpulkan bahwa setiap orang -- mulai dari ilmuwan di laboratorium hingga manajer senior di perusahaan Fortune 500 - bisa mendekati hidup mereka dengan cara berbeda, dengan pandangan baru dan perangkat yang lebih besar.
Seorang mantan atlet Olimpiade bekerja di industri penerbangan. Dia mengembangkan rasa percaya dirinya untuk mengatasi masalah krisis manajemen di perusahaannya. Yang pertama dilakukan adalah membangun gugus tugas relawan pilot, dispatcher, kru pengatur jadwal, dan lain-lain untuk mengembangkan prosedur guna mengatasi gangguan penerbangan yang berhubungan dengan cuaca. Nyatanya, dia berhasil memulihkan situasi dan bisa mengatasi gangguan itu.
Seorang kapten angkatan darat yang bertugas di Irak dan Afghanistan mengerahkan lebih dari 1700 orang untuk mengajukan petisi tentang pedestrian di sebuah mal di kotanya. Dia membuktikan bahwa untuk melakukan sebuah gerakan tak harus menjadi jenderal.
Seorang bekas pejabat pemerintah memulai gerakan inovasi akar rumput di Washington, DC yang kemudian anggotanya berkembang menjadi lebih dari seribu orang. Melalui lokakarya dan acara networking, ia menyebar perspektif baru tentang perubahan organisasi kepada para pemimpin lain dan calon pengusaha.
Setelah memiliki pengalaman selama empat decade, seorang guru sekolah dasar merestrukturisasi kurikulum ke dalam rancangan yang menantang. Alih-alih mengajarkan mata pelajaran berhitung, dia menciptakan proyek-proyek menarik yang mencakup topik yang sama tetapi menjauhkan siswa dari meja mereka dan berpikir lebih kritis. Nilai ujian mereka meningkat. Namun yang yang lebih penting, orang tua melihat anak-anak mereka lebih terlibat dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
Namun, kata Kelley yang bersaudara itu, Anda tidak perlu beralih karier atau pindah ke Silicon Valley untuk mengubah pola pikir Anda. Anda tidak perlu menjadi seorang konsultan desain atau keluar dari pekerjaan Anda. Dunia membutuhkan kebijakan, manajer kantor, dan agen real estate yang kreatif. “Apapun profesi Anda, ketika Anda mendekati dengan kreativitas, Anda akan datang dengan solusi baru yang lebih baik dan lebih sukses. Kepercayaan kreatif dapat menginspirasi pekerjaan apapun yang sudah Anda lakukan.”
Dalam dunia bisnis, kreativitas memanifestasikan dirinya sebagai inovasi. Bintang teknologi seperti Google, Facebook, dan Twitter telah mendayagunakan kreativitas karyawan mereka untuk mengubah kehidupan jutaan orang. Hari ini, orang-orang di setiap departemen - mulai dari layanan pelanggan hingga pembiayaan - memiliki kesempatan untuk bereksperimen dengan solusi baru.
Namun upaya-upaya kreatif yang tampaknya aneh atau ekstrakurikuler itu, dalam satu dekade terakhir kini menjadi  mainstream. Orang kini menyadari bahwa kreativitas sama pentingnya dengan pendidikan membaca, dan harus diperlakukan dengan status yang sama. Perusahaan sangat membutuhkan wawasan semua karyawan. Tidak ada eksekutif yang secara individu atau divisi yang memegang monopoli atas ide-ide baru. Semua orang pada dasarnya memiliki potensi berpikir kreatif.
Apakah Anda tinggal di Silicon Valley, Shanghai, Munich atau Mumbai, Anda sudah merasakan efek dari pergeseran pasar seismik. Sebagian besar perusahaan saat menyadari bahwa kunci pertumbuhan - dan bahkan kelangsungan hidup - adalah inovasi. Salah satu survei IBM baru-baru ini terhadap lebih dari 1.500 CEO melaporkan bahwa kreativitas adalah kompetensi kepemimpinan yang paling penting bagi perusahaan dalam menghadapi kompleksitas perdagangan global saat ini. Sebuah jajak pendapat Adobe Systems pada 5.000 orang di tiga benua melaporkan bahwa 80 persen orang melihat potensi kreatif  sebagai kunci untuk pertumbuhan ekonomi.
Namun hanya 25 persen dari mereka yang menyadari bahwa mereka memiliki potensi kreatif mereka. Itu berarti bahwa sejatinya secara keseluruhan banyak potensi dalam hidup dan karier mereka yang terbuang. Lalu bagaimana kita bisa menggeser proporsi itu? Bagaimana kita bisa membantu kelompok  75 persen membebaskan potensi kreatif mereka yang selama itu terkunci?
Pada tahun 2005, David mendirikan d.school (secara resmi dikenal sebagai Hasso Plattner Institute of Design) untuk mengajar tentang design thinking -- metodologi untuk berinovasi -- secara rutin bagi calon pengusaha lulusan Stanford. Awalnya, mereka berpikir bahwa tantangan utama yang mereka hadapi dalam proses pengajaran kreativitas adalah bahwa orang-orang yang mereka ajar itu orang dengan tipe analitis. Namun, setelah berinteraksi, mereka menyadari bahwa semua mereka memiliki kreativitas.  “Karena itu, tugas kami hanyalah membantu mereka merebut kembali kreatif yang belum muncul itu  dengan berbagi keterampilan dan pola pikir baru.”

Buku yang terdiri atas delapan bab ini seakan menjungkirbalikan mitos kreativitas itu. Buku ini banyak memaparkan tentang kepercayaan kreatif, suatu cara melihat bahwa potensi dan tempat yang Anda miliki secara lebih jelas, dan bebas dari  kecemasan dan keraguan. Melalui buku ini, mereka seakan mengajak Anda bersama-sama melakukan pencarian kepercayaan kreatif itu untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Sebuah buku yang enak dibaca karena gaya narasi sederhana. Kisah-kisahnya benar menginspirasi, terutama bagi mereka yang rindu kreativitas.